
Bruk
Celine melempar gaun yang telah susah payah Nayna buat dengan begitu kasar. Kemarahan yang dia pendam saat mengetahui Daniel menemui Nayna hari itu membuat dia menumpahkannya hari ini.
"Apa ini Nayna? Gaun ini lebih cocok di pakai oleh tong sampah. Aku tidak mau menggunakannya, ternyata benar dugaanku. Kau sama sekali tidak becus melakukan pekerjaan." ucap Celine ketus.
Byuuurrrr .....
Sassy menyiramkan minumannya ke wajah Celine. Sudah sejak tadi Sassy menahan kekesalannya pada wanita ini. Kali ini dia tidak akan menahannya lagi. Celine harus tahu dia sedang berhadapan dengan siapa. Nayna sendiri bahkan tidak menahan perbuatan Sassy.
"Yang pantas berada di tong sampah itu seharusnya dirimu ! Sampah sepertimu tidaklah pantas menggunakan gaun hasil rancangan Nayna." bentak Sassy menunjuk wajah Celine.
Celine bertambah geram dan amarahnya semakin memuncak. Baru saja dia ingin menampar Sassy, namun dengan sigap Sassy menahan tangannya dan menghempaskannya mentah-mentah. "Bahkan tangan kotormu ini tidaklah pantas menyentuhku." ujarnya dengan nada dingin beserta tatapan tajam.
"Ada apa ini?" tanya Daniel yang tiba-tiba muncul, mendengar suara keributan.
Celine yang melihat kehadiran Daniel langsung mengubah ekspresinya bagai orang yang teraniaya. "Daniel ... Mereka menyerangku ! Lihatlah pakaianku basah akibat ulah mereka." ucap Celine dengan nada sedih yang dibuat-buat. Bukannya prihatin Daniel malah muak mendengarnya.
"Memangnya apa yang kau lakukan sampai mereka menyirammu." ucap Daniel datar. Menyadari Celine yang mulai merangkai kata-kata agar Nayna dan Sassy yang terkesan salah.
"Aku hanya ..."
"CUKUP CELINE !" sela Daniel sebelum Celine menyelesaikan ucapannya. "Kau benar, lebih baik kau cari saja perancang lain." sambungnya lagi. Membuat Celine berdecak kesal. Dan mengepal kuat genggamannya. Celine keluar dengan langkah cepat sambil menghentakan kakinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Daniel lembut dengan memegang pipi Nayna, seolah ditempat itu hanya ada mereka berdua. Sassy yang sadar berada didalam situasi yang salah melangkah malas meninggalkan mereka berdua.
"Aku baik-baik saja. Kau seharusnya tidak perlu begitu ! Bagaimana pun juga dia sahabatmu." ujar Nayna lembut.
"Aku juga tidak ingin melakukan itu. Hanya saja tingkahnya membuatku muak, sehingga aku tidak bisa mengontrol emosiku." jawab Daniel jujur. "Sudahlah. Jangan pikirkan dia, lebih baik kau selesaikan saja desainmu." ucapnya lagi. Nayna mengangguk cepat, namun sedikit bingung.
"Kalau begitu lepaskan tanganmu dari wajahku !"
"Memangnya kenapa? Kau kerjakan saja tugasmu. Aku akan tetap pada posisiku seperti ini." ucap Daniel tersenyum jahil.
"Bagaimana caraku melakukannya Daniel. Bahkan dengan kehadiranmu saja membuatku kehilangan konsentrasi. Apalagi dengan posisi seperti ini." ucap Nayna kesal, namun tidak bisa menutupi kegelian nya.
"Heheh ... Baiklah lanjutkan pekerjaanmu, kita akan melanjutkannya lagi nanti." ucap Daniel dengan mengecup Nayna sekilas dan segera melangkah keluar. Nayna hanya menggeleng melihat tingkah Daniel.
***
Saina mengerjapkan matanya dan membukanya secara perlahan. Tubuhnya terasa sakit dan ngilu dimana-mana. Bahkan untuk beranjak saja sangat sulit baginya.
Saina menggerakan kepalanya kesamping, mendapati Frans yang masih setia menutup rapat matanya. Seketika bayangan yang terjadi padanya semalam terlintas dipikirannya. Membuatnya mengumpat kesal.
Saina berusaha bangkit meski sedikit sulit, dan menggulung tubuhnya yang polos dengan selimut yang dia pakai. Baru saja berjalan satu langkah.
"Aauuhh ...," ringis Saina merasakan nyeri di area sensitifnya. Namun ia tetap berusaha berjalan menuju kamar mandi dengan tersaruk-saruk.
Saina menatap tubuhnya di cermin, terlihat begitu banyak noda merah yang sedikit membiru di sekitar leher dan dadanya. Seolah sebagai jejak tanda bekas percintaan mereka semalam.
Saina keluar dari kamar mandi, melihat Frans yang masih tertidur dengan lelap. Saina segera memungut pakaiannya dan pergi dari Apartemen Frans. Meninggalkannya seorang diri yang masih setia menutup matanya.
Mendengar suara pintu kamar yang tertutup membuat Frans tiba-tiba membuka matanya. Melihat ke arah sebelahnya, menyadari tidak adanya Saina disana. ("Dimana Saina? Apa dia sudah pergi?") pikirnya. Frans segera beranjak untuk membersihkan dirinya. Tidak sengaja menatap noda merah pada spreinya yang membuatnya terhenyak dan membulatkan matanya. ("Apa ini? Bukankah Saina sudah sering melakukannya ! Lalu ini apa? Sial ... Pantas saja begitu sulit memasukinya semalam.") gumam Frans mengumpati kebodohannya.
Frans bergegas membersihkan diri dan mencari Saina. Entah dikantor atau dirumahnya, dia harus bertemu dengan Saina dan berbicara padanya.
Frans mengendarai mobilnya dengan begitu cepat hingga tidak membutuhkan waktu lama, ia telah sampai di kantor Saina. Frans membuka semua ruangan tidak mendapati keberadaan Saina disana. Dan bertanya pada karyawannya disana tapi mereka bilang Saina belum datang. Itu artinya Saina pasti berada dirumahnya, pikirnya.
Tanpa pikir panjang Frans segera menuju rumah kediaman Saina. Dan melihat Saina yang baru saja keluar dari rumahnya. Frans mencoba memanggil nya, namun terlambat, Saina telah masuk kedalam mobilnya dan segera pergi. Frans mencoba mengejarnya, mengikuti kemana Saina pergi. Sampai akhirnya Saina berhenti di sebuah tebing yang begitu tinggi, Saina keluar dari mobilnya dan berjalan perlahan.
("Apa yang ingin dilakukannya !!") batin Frans kaget melihat Saina yang berjalan menuju jurang. Frans langsung menyusulnya dengan langkah lebar dan menarik tangan Saina untuk masuk kedalam dekapannya. Saina meronta, tidak terima dengan perbuatan Frans.
"LEPASKAN AKU !! APA YANG KAU LAKUKAN BERENGSEK !!"
PLAK
Teriak Saina melepaskan diri dari pelukan Frans dan menamparnya keras. Dengan nafas yang memburu serta tatapan kebencian melihat Frans.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu Saina, kenapa kau ingin mengakhiri hidupmu?" ucap Frans menatap nanar kearah Saina. Saina mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dikatakan Frans barusan.
"Memangnya siapa yang ingin bunuh diri? Aku tidak sebodoh itu Frans !" jawabnya dengan nada keras.
"Apa !! Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanyanya bingung.
"Memangnya siapa kau hingga aku harus meminta izinmu dulu untuk pergi kemanapun. Dengar ya, kau tidak bisa bertindak semau mu padaku. Karena kau bukan apa-apa bagiku." ucap Saina yang membuat dirinya sendiri merasa tidak enak mendengarnya, namun akibat amarahnya Membuat dia jadi berbicara asal sampai tidak menyadari ucapannya sendiri.
"Setelah apa yang kita lakukan. Bukankah itu yang pertama bagimu, dan kau masih berkata bahwa aku bukan apa-apa bagimu?" ucap Frans lemah, Dan terdengar begitu pahit. Saina menatap lurus kearah Frans. Meski dia juga merasa ceroboh. Bisa terlena dengan buaian Frans, tapi hatinya begitu sakit saat Frans tidak mempercayainya bahkan menuduhkan hal yang tidak benar padanya.
***
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH "