MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 20



Setelah kejadian kemarin, pagi ini Alista jalani seperti biasa. Dia tidak ingin berlarut dalam kemarahannya. Meski menyakitkan, mengapa Azri tidak mengatakan soal masa lalunya sebelum mereka menikah, bagi Alista hal tersebut sudah tidak penting lagi. Toh semua orang pasti mempunyai masa lalu. Meski pada akhirnya memang diharuskan untuk disimpan rapat-rapat, pasti dia mempunyai alasannya sendiri.



Alista mengelus lembut pelipis suaminya itu dengan punggung jemari tangan mungilnya. Pandangannya kini tertuju pada bibir tebal dihadapannya. Ia kecup lembut bibir itu lama. Seperti tak ingin jauh dari si pemiliknya.



Wanita itu segera beranjak dari tempat tidur meninggalkan suaminya yang masih terlelap dibalik selimut. Menyiapkan sarapan untuk suaminya tercintanya.



Alista ingat kemarin suaminya mendapatkan telvon dari bos tempat Azri bekerja meminta ia mengantar orderan dari Jakarta hari ini juga. Kemungkinan malam ini ia tidak pulang. Karena Ayah dan Ibunya Alista masih belum kembali dari Sumatera, Azri memutuskan untuk mengantar istrinya ke rumah kakak iparnya terlebih dahulu untuk menginap disana selama Azri tidak ada.



"Mas berapa hari perginya?" tanya Alista kepada suaminya setelah berada di pelataran rumah Sarah.


"Kayaknya dua hari baru sampai rumah lis" jawab Azri


"Kok lama sih" Alista mengerucutkan bibirnya.


Azri tersenyum geli. Ingin rasanya ia lahap bibir Alista itu, tapi tidak mungkin ia lakukan saat ini mereka sedang berada dirumah orang lain.


"Jakarta kan jauh lis. Belum lagi kalau macet. Sudah ya! Udah siang, pasti pak Joko udah nungguin dari tadi" pak Joko adalah orang yang selama ini menemani Azri setiap kali dia pergi ke luar kota.



Dengan berat hati Alista mengiyakan dan tak lupa mengatakan agar suaminya itu berhati-hati. Alista menerima uluran tangan Azri dan mencium punggung tangan suaminya itu, Azri juga mencium puncak kepala Alista dan segera melajukan sepeda motornya menjauhi pelataran rumah Sarah.



Alista menatap haru dibalik punggung suaminya hingga tak terlihat lagi dari pandangannya. Entah mengapa rasanya tidak rela suaminya pergi jauh apalagi sampai berhari-hari.



Alista segera memutar badannya dan melangkah pasti menuju rumah kakak tercinta. Baru ia akan mengetuk pintu dia menyadari ternyata pintu itu sedikit terbuka. Tidak menunggu lama dia segera masuk dan mencari keberadaan kakaknya itu.



"Mbak Sarah" serunya dengan suara tinggi.


Tanpa disuruh pemilik rumah ia segera duduk disofa ruang tengah rumah itu.



Sarah yang berada didapur merasa namanya dipanggil segera berlari menuju asal suara


"Lis, udah lama? Siapa yang bukain pintu?"



Alista tertawa renyah pasalnya kakaknya yang satu ini sama dengan dirinya selalu lupa untuk mengunci pintu.


"Telepati mbak tadi jadi nggak lewat pintu ha ha ha"



Sarah mengerutkan dahinya.


"Aku nginep disini mba mas Azri tugas ke Jakarta dua hari" imbuh Alista sebelum Sarah melontarkan pertanyaan kepadanya.



Tiba-tiba terdengar suara pintu dari arah depan.


"Bibi.........." Sapa seorang gadis kecil. Ia berlari kearah Alista.




Hap



Di gendongnya gadis kecil itu lalu ia cium gemas kedua pipinya. Sarah yang melihat itu hanya menggeleng kepala, dia tahu anaknya itu sangat dekat dengan Alista.



"Sasa siapa yang jemput? Kan mama dirumah tuh"



"Sasa dijemput om Randi bi"



"Om Randi? Terus sekarang mana om Randinya?"


Alista menyatukan kedua alisnya. Pasalnya sewaktu dia hendak keluar dari rumah Randi sudah tidak ada.



"Itu" tunjuk Sasa pada sosok laki-laki yang melangkah dibalik pintu.



"Kamu nggak sekolah Randi?" tanya Alista.



"Lagi libur mbak" jelas Randi kemudian duduk single sofa yang tidak jauh dari tempat Alista duduk.



"Bibi nginep yaa" pinta Sasa dengan manja.



"Iya bibi nginep. Sini ganti baju dulu terus makan" Ucap Sarah mulai geram karena diabaikan anaknya.



"Sama bibi aja ya... Ayo" Sasa mulai berdiri menarik lengan Alista agar membantunya mengganti baju. Anak itu kelas satu SD saat ini.



"Ayo" Alista segera menggendong gadis kecil itu menuju kamarnya.



Saat melewati Sarah dia menunjukkan senyum mengejek seolah mengatakan 'anakmu tak culik ha ha ha'. Kalau sudah bersama Sarah, Sasa seolah lupa siapa ibunya yang sebenarnya. Entah apa yang membuat anak itu sangat lengket dengan Alista.