
Aku benar-benar sedih melihatmu bahagia bersama pria lain. Jauh dari mu saja membuat dadaku sesak.
Sungguh menyesal, Aku fikir setelah melapasmu, kau akan merindukanku seperti aku merindukanmu dan disaat itu lah aku akan meraihmu kembali. Memang seharusnya aku tidak pernah melepasmu.
Disisiku saja kau sulit untuk kuraih. Apalagi kali ini kau sudah menemukan pengganti ku.
Kita bersama bukan satu atau dua hari Alista. Bahkan kau sempat bersikap lembut kepadaku. Dan aku berfikir kau sudah mulai menerima kehadiranku. Ternyata itu semua hanya tipuanmu agar aku bisa melepasmu.
Dan kini kau semakin jauh semakin sulit untuk kugapai. Kenapa sayang, kenapa? Aku tidak pernah mengganggapmu sedikit pun sebagai sebuah boneka.
Aku menyayangimu. Aku mencintaimu.
Apa kau pernah mencintai seseorang sampai rasanya ingin mati?
Apa kalian tahu rasannya merindu dan mencintai seseorang tapi tidak bisa memilikinya??
Itu lah yang aku rasakan saat ini. Ku mohon siapapun di sana beri tahu aku bagaimana agar aku bisa melupakannya?
Entah lah aku merasa semua itu sudah mendarah daging dalam tubuh ku. Sudah menyatu dalam darahku.
***
"Kamu sudah mendapatkannya to?" Tanya Gilang kepada sahabatnya yang baru saja datang.
"Ada, nih" Anto menyodorkan sebuah map dan meletakkan nya di atas meja yang berada dihadapan Gilang.
Gilang segera meraih map tersebut dan membaca nya dengan teliti. Map itu berisi informasi tentang Azri suami dari pujaan hatinya itu.
Satu persatu data tersebut tersapu oleh penglihatannya , manik coklat itu membulat saat melihat bagian yang tidak ia sukai.
Rahangnya mulai mengeras, jemarinya sudah meremas kertas-kertas putih yang di pegangnya. Tatapannya kini beralih pada sahabatnya.
"Entah lah" bahu nya bergedik tanda ia tidak tahu.
Di lemparnya map itu hingga berserakan di atas keramik.
"Arrrrrggghhh" teriakan frustasi Gilang menggema hingga seluruh sudut ruangan.
Fikiran Gilang semakin gusar, ia membanting tubuhnya sendiri ke atas sofa di ruangan itu. Tangan nya meraih rambut miliknya sendiri dan sedikit menjambak disana dengan kasar. Kemudian tubuhnya luruh lemah, kepalanya menengadah ke atas bersandarkan sandaran sofa tersebut.
Lelah yang dia rasakan saat ini. Berkali-kali meyakinkan pujaan hatinya bahwa ia sangat menyayanginya namun sia-sia. Tetap saja berpisah, kalau saja dia dapat memutar waktu mungkin dia akan meminta Tuhan untuk menghentikan waktu saat dimana mereka bersatu walau tak sedikitpun ia berada didalam hati Alista nya.
"Apa yang harus aku lakukan to" keluh Gilang lirih,ia sudah tidak bertenaga saat ini. Ia memijat pelipisnya yang terasa berat.
"Itu sudah bukan urusan kamu Gilang" sahut sahabatnya itu sambil menepuk salah satu pundak Gilang yang bebas.
"Lepas kan dia. Dia sudah bukan hak kamu"
Benar memang Alista bukan istri nya lagi, apapun yang terjadi padanya, yang menjadi pilihannya tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Gilang.
'Nggak. Aku nggak mau Alista ku menderita. Aku nggak mau dia disakiti. Kenapa sayang, kenapa. Apa aku pernah menyakitimu? Apa lebihnya dia dibanding aku sayang, Sampai kamu meninggalkanku dan memilih orang lain' lagi-lagi keluh Gilang dalam hati. Keluhan yang sama yang dia ucapkan berkali-kali selama dia sudah bukan lagi suami pujaan hatinya itu.
Anto hanya menatap sedih melihat sahabatnya sekacau ini. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu betul bagaimana Gilang menyayangi Alista.