
Akhirnya tiba waktunya yang kutunggu tunggu Enrico menepati janjinya untuk mengajakku mengunjungi Mami dan Papi ku. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya kami pun berangkat ke bandara..
Sungguh di pesawat pun aku tidak bisa tidur, aku sangat rindu rumahku, kamarku, Mami dan Papi ahh aku rindu juga Adrian walau dia tidak pernah menghubungiku
Tidak terasa kami telah tiba di kota A, Mami dan Papi yang langsung menjemput tentunya karena Enrico ikut, melihat mereka di depanku aku langsung memeluk Mami dan Papi bahkan di dalam mobil pun aku tidak melepaskan tanganku dari Mami, tidak berapa lama kami pun sampai dirumah
"ayo mauk Enrico anggap saja rumah sendiri, kamu sudah lama tidak kesini kan kata Mami ku sambil tersenyum pada Enrico
" Iya Tante ucapnya dengan penuh hormat
"Dasar bermuka dua, pintar sekali mengambil hati orang ucapku dalam hati
" aaliya antar Enrico ke kamarnya kasian dia lelah setelah perjalanan jauh kata Mami
"Iya Mi kataku
Kamar Enrico bersebelahan dengan kamarku di lantai 2, setiap datang kesini dia selalu menempati kamar itu, karena memang kamar tersebut disiapkan khusus untuk Enrico
Aku mengantarkan Enrico ke kamarnya
" Cklek "
"Ini kamarmu kataku sambil membuka pintu
" Tidak berubah ucapnya sambil tersenyum melihat keluar jendela dan menghirup udara di luar yang segar matanya terlihat terpejam
"Sudah kan, aku mau istirahat ucapku sambil beranjak pergi
Tapi tiba-tiba Enrico menarik tanganku sehingga aku terjatuh ke pelukan nya
" Kamu gamau kasih ucapan terimakasih katanya sambil berbisik di telingaku
"Lepas! kataku sambil berusaha melepaskan pelukan Enrico tapi sia-sia karena tenaganya terlalu kuat
" Kalo kamu terus bergerak aku bakal atur kepulangan kita sore ini katanya masih dengan berbisik
aku hanya diam sambil melihat tajam ke arahnya yang tersenyum dengan penuh kemenangan tiba-tiba "Cup" Enrico mengecup bibirku cepat dan kemudian melepaskan pelukan nya
"Makasih buat hadiahnya barusan ucapnya sambil tersenyum puas dan menghempaskan tubuhnya ke kasur
Aku langsung membalikan tubuhku dan pergi dari kamar Enrico
Aku bangun pagi sekali dan diam diam pergi dari rumah, aku ingin mencari Adrian jadi aku coba pergi kerumahnya tapi security rumahnya bilang Adrian tidak ada, aku mencoba mencari tahu keberadaannya tapi aku tidak berhasil pegawai Adrian tidak ada yang dapat di ajak kerjasama dan memberi info dimana keberadaan Adrian. Aku putuskan untuk kembali pulang kerumah.
Sesampainya dirumah aku masuk sembunyi-sembunyi dari belakang, akhirnya aku berhasil masuk ke kamar tanpa ketahuan Mami dan Papi aku menghela nafas, tapi ketika aku berbalik wajah Enrico tepat di hadapanku, bahkan sangat dekat, dia terus maju mendekat hingga aku bersandar ke dinding. Enrico menghimpit tubuhku ke dinding satu tangan nya memegang daguku, wajahnya sangat dekat sekali dengan wajahku tapi aku merasakan aura yang sangat kuat, dia seperti akan menerkam ku. Dia menaikan tangan yang satunya sedang tangan yang satu mencengkram daguku dengan erat, dia memegang foto ku, ya fotoku dan Adrian
Enrico
Darimana kamu? mencarinya!! ucapnya dengan nada membentak matanya menatap tajam ke dalam mataku
aaliya
"eng... nggak kok, aku.. aku cuma jalan-jalan terus ke rumah Rita ucapku sambil terbata menyebutkan nama salah satu temanku semasa SMA
Enrico
aaliya
Aku gak bohong.. ucapku dengan suara bergetar, jujur aku sangat takut, mataku mulai berkaca-kaca, Enrico.. ucapku dengan suara pelan dan bergetar, tolong.. lepasin.. sakit.. kataku dengan air mata yang berjatuhan tak tertahan
Enrico
Seperti terkejut dan melepaskan cengkraman tangannya dari daguku, kemudian memelukku sambil berbisik "maaf aaliya aku minta maaf ucapnya sambil memelukku dengan sangat erat
Aku hanya bisa menangis di bahu Enrico, di dalam pelukannya, aku takut, sangat takut aku tidak pernah melihatnya seperti itu
Enrico memegang tanganku dan menarikku ke sofa menyuruh ku duduk kemudian dia memegang daguku lembut
" masih sakit ucapnya
aku hanya menggeleng tanpa berkata
kemudian dia melihat tempat sampah yang tidak jauh berada di dekat kami duduk, dia membuang fotoku dan Adrian ke tempat sampah.
"Aku gamau lihat foto ini lagi ucapnya pelan tapi tegas
Aku hanya mengangguk sambil menangis, Satu-satunya kenanganku dan Adrian
" Kenapa? kamu sedih aku buang foto kamu sama pacarmu iya dengan wajah nya yang semakin dekat dengan wajahku
Aku kembali menggeleng tanpa berkata kata, karena aku tahu jika aku bicara yang sebenarnya dia pasti akan marah seperti tadi
"Terus kenapa masih nangis ucapnya lagi matanya menatap dalam ke mataku, dengan wajahnya yang sangat-sangat dekat dengan wajahku
" a.. aku cuma takut, lihat kamu marah ucapku dengan suara yang bergetar menahan tangis
Tiba-tiba wajahnya semakin mendekat hingga kemudian dia mengecup bibirku perlahan, Enrico terus menciun bibirku dan aku tidak tahu kenapa akupun membalas ciumannya. Dia menciumku sangat lama hingga aku kehabisan nafas dan mendorong tubuhnya. Enrico pun melepaskan ciumannya dia tahu aku sudah kehabisan nafas, kemudian dia membelai rambutku dan berkata dengan sengat lembut "Kalo gini kamu masih takut sambil membelai lembut rambutku kemudian turun ke pipi, kemudian tangannya mengelus lembut bibirku.
" Ng.. Nggak.. kataku
"Ingat kamu kesini sama aku, jadi kalau kamu keluar itu juga harus denganku ucapnya dengan lembut matanya memandang wajahku dengan lembut kemudian turun ke bibir dan mengecup bibirku lembut kemudian berbisik. Kamu jangan berharap bisa dengannya lagi kemudian pergi meninggalkan ku yang hanya terdiam.
Didalam kamarnya Enrico terlihat tidak tenang di atas tempat tidurnya sesekali dia menengadahkan wajahnya ke atas, tangannya mengepal dan sesekali memukul tempat tidurnya. Aku sangat tidak menyukainya ucapnya dalam hati, membaca setiap kata-kata nya di buku harian nya, perasaannya pada lelaki itu hmm Adrian aku gak akan lepaskan aaliya gumam Enrico dalam hati.
Tiba waktu makan malam Enrico dan aaliya makan malam dengan Mami Papinya setelah makan malam mereka duduk di sebuah soffa sambil menonton televisi. Soffa nya hanya satu tapi besar sebuah soffa bed yang sangat nyaman. Mami dan Papi aaliya duduk bersebelahan sedangkan Enrico mengambil posisi duduk dekat aaliya.
"Nak Tante titip aaliya disana yaa.. tolong jaga aaliya buat Tante ucap Mami aaliya sambil tersenyum pada Enrico
" Iya Tante gak usah kuatir aku pasti jaga aaliya ucap Enrico sambil tersenyum
"Kalian pulang kapan? tanya Papi aaliya pada Enrico
" Lusa sepertinya Om, aku gak bisa ninggalin perusahaan terlalu lama kasian Papa ucap Enrico
" Yasudah besok kamu ke perusahaan dulu ya sama Om sebentar siangnya kamu jalan-jalan sama aaliya ucap Papi aaliya
"Iya Om kata Enrico
Tiba-tiba Enrico bersandar ke kursi kemudian dia melingkarkan tangannya ke leherku dan menarikku sehingga aku bersandar ke tubuhnya, Mami dan Papi yang melihatnya hanya bisa tersenyum, aku berusaha melepaskan tangannya tapi tangan yang 1 nya malah dilingkarkan ke perutku kemudian Enrico berbisik " Kamu kalau gak diam aku bisa lebih dari ini ucapnya, yang membuat ku tetap diam dalam pelukannya.