MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 35



Sungguh hati Alista bagai di sayat belati hingga seperti hancur berkeping-keping. Setelah mendengar penuturan dokter bahwa dirinya akan sulit mendapatkan momongan karena akibat kontrasepsi atau KB yang ia lakukan sebelumnya.


Ya. Hari ini dirinya pergi ke dokter ditemani oleh Sarah. Untuk sekedar ingin tahu. Mengapa hingga saat ini dirinya belum juga hamil.


Apakah dirinya tidak berhak untuk bahagia?. Begitu banyak yang dapat ia artikan atas apa yang ia lewati selama ini. Apakah ini sebuah karma karena dirinya mengabaikan cinta dan ketulusan Gilang selama ini. Dia tahu betul bagaimana mantan suaminya itu memperlakukakan dirinya dengan sangat baik. Meski awalnya mengintimidasi terhadap Alista. Namun itu hanya untuk menunjukkan bahwa Gilang benar-benar menyayangi wanita ini dengan sepenuh hatinya.


Ataukah ini semua juga balasan karena Alista tidak mendengarkan apa yang di katakan kedua orang tuanya. Dulu Orang tuanya menyatukan dirinya dengan Gilang dan memisahkan Alista dari kekasihnya Fais. Tapi pasti itu semua bukan tanpa alasan mereka lakukan. Yang pasti tak ada orang tua yang tak ingin anaknya tidak bahagia, bukan?.


Lalu, meski kini Ayahnya yang menginginkan Alista menikah dengan Azri, pun juga dengan alasan yang ia miliki. Ayahnya tidak ingin anak perempuannya itu menjadi bahan gunjingan orang-orang sekitarnya.


Tapi


Ibunya sama sekali tidak suka dengan laki-laki yang menjadi suaminya saat ini. Bukan hanya karena ibunya tahu bagaimana masa lalu pria itu tapi juga karena laki-laki itu miskin. Bahkan jauh di bawah Gilang mantan menantunya itu. Bukan karena ibunya materialistis tapi itu semua juga untuk kebahagiaan anak perempuannya.


Namun terkadang kita salah mengartikan apa yang menurut orang lain baik belum tentu diri kita akan menerima dan menganggap itu juga hal yang baik.


Alista tak mengerti dan tak bisa mengartikan semua ini. Ia harus apa? Ia harus bagaimana?. Akan dengan siapakah dirinya pada akhir nanti? Entahlah.


Alista takut untuk berunding masalah kehamilannya dengan Azri. Ia semakin merasa tidak berguna sekarang. Apalagi selama ini jika setiap ada masalah Azri sangat sulit untuk diajak berunding. Contoh saja masalah kedua anaknya yang tidak Azri bawa dalam kehidupan pernikahan mereka, Alista peduli. Bahkan sangat peduli namun laki-laki itu seolah buta dan tuli, atau bahkan mati rasa.


Bagaimana nasib kedua anak itu nanti. Atau bagaimana Alista nantinya dipandang oleh kedua anak itu seteleh mereka besar.


Alista menangis sesegukan delam dekapan Sarah.


"Sudah. Nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama ya!!"


ucap Sarah menenangkan Alista seraya menepuk halus punggung adiknya.


Alista masih dalam tangisnya. Sarah lah satu-satunya orang yang akan mengerti dirinya saat kondisi seperti ini.


"Sudah dong Lis. Nanti orang rumah bakalan nanyain kamu kenapa. Kalau sampai lihat mata kamu merah dan bengkak saat pulang nanti"