Grace

Grace
END



Seusai bermanja ria di dalam kamar mandi, Rey mengekori kemanapun Istrinya itu pergi.


Seperti anak kecil yang takut ditinggal oleh Ibunya. Dimana Grace berada disitu Rey berada.


Kedua calon orang tua itu belum memutuskan untuk pulang. Karena Sang Istri yang masih betah di rumah Sang Ayah dan ditambah katanya Grace masih kangen dengan suasana rumahnya.


Ya, Rey bisa apa selain menuruti keinginan Istrinya itu. Kalaupun nanti tidak dituruti yang ada dia tidak mendapatkan jatah harian.


Sudah susah untuk menjaga mood Istrinya, Rey pun tidak ingin susah juga menghadapi kemauan Grace.


"Kamu beneran nggak kerja Kak?" Grace bertanya ulang. Saat ini mereka tengah asik menonton televisi di ruang tamu. Sementara Rey tidur-tiduran manja di paha Grace sambil sesekali melirik acara televisi. Namun lebih banyak menjahili Grace.


Rey menggelengkan kepalanya, lelaki itu menghadap ke perut Grace serta menciumi perut Sang Istri. Tempat dimana anak mereka berada.


"Nggak, aku cuti hari ini." memeluk pinggang dan masih setia bermanja ria.


"Sampai kapan?"


"Kamu maunya sampai kapan?" Rey bertanya. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Sungguh kebiasaan Rey yang membuat Grace jengkel setengah mati.


"Kamu kebiasaan banget jawab pertanyaan aku dengan pertanyaan," Grace menggerutu dan mencebikkan bibirnya.


"Aku serius tahu Kak," katanya lagi.


"Aku juga serius Sayang," sambil melingkarkan lengan di pinggang Sang Istri.


"Kamu kenapa sih nggak pernah panggil aku Sayang," Rey menggumam di balik perut Istrinya. Masih memprotes panggilan Grace untuknya.


Grace berdecak, wanita itu memainkan rambut Rey yang tidak berantakan.


"Udah biasa kali Kak. Waktu kita kecil kan udah terbiasa panggilan seperti itu, kalau berubah lidah aku agak gimana gitu manggilnya." Grace beralasan, semoga saja Rey memakluminya.


"Kamu ini," kata Rey yang masih tidak terima. Kali ini Rey menatap wanita itu dengan pandangan menghiba.


"Apa?" tanya Grace kembali.


"Nggak ada," Rey beralih posisi menjadi duduk di sebelah Grace.


"Kamu beneran cuti Kak?" tanya Grace dan Rey menganggukkan kepalanya.


"Jadi kita mau kemana?"


"Sekitaran sini aja, jangan ke luar kota. Nanti Kamu kecapekan." Rey mengkhawatirkan Istrinya yang sedang hamil muda itu.


Grace hanya bisa menuruti apa kata Suami saja lah. Daripada menjadi Istri durhaka nantinya. Selalu membantah lebih baik dia menurut saja menjadi istri yang manis dan penurut. Pikirnya dalam hati.


Rey menepuk-nepuk rambut Grace dengan pelan.


"Tunggu Ayah pulang dari kantor saja ya, Kak. Kita balik ke apartemen." ucap Grace yang masih betah tinggal di rumah Gilang.


"Hmm."


"Oh iya Kak, tadi Ayah nanya sama Aku. Kita nggak beli rumah?" tanya Grace berhati-hati takut Suaminya itu tersinggung.


Rey menoleh sesaat, "Kamu mau tinggal di rumah yang baru?" tanya Rey.


Ya, untuk masalah yang satu ini memang dia lupa memikirkannya. Apalagi sebentar lagi keluarganya bertambah dengan anak. Pastinya akan lebih nyaman kalau mereka tinggal di rumah bukan di apartemen yang kecil.


Grace menggelengkan kepalanya ragu, "Aku nggak masalah kok kalau memang harus tinggal di apartemen. Kalau tabungan kita belum cukup gak apa-apa kok kak kalau kita menunggu." Jawab Grace memberi saran.


Lagipula dia tidak terlalu membutuhkan rumah saat ini. Dimana Rey berada disitu Grace akan merasa nyaman.


"Uang kita banyak Sayang. Nanti aku cari broker deh. Kamu tinggal milih rumah seperti apa?" kata Rey seperti menyombongkan diri.


Sontak mata Grace berbinar senang, "Wah Suami aku kaya juga ternyata. Nggak salah pilih suami nih." ledek Grace.


Rey hanya tertawa saja.


"Kak?"


"Hm?" Kata Rey yang menatap Istrinya itu dengan serius.


"Boleh nggak kalau rumah kita nanti deket rumah Ayah aja?" pintanya.


Sejenak Rey tampak berpikir.


"Aku mau deket sama Ayah, lagipula Ayah udah tua juga. Nggak ada yang menemani." Sambung Grace kemudian.


"Tapi asal kamu tahu Kak, rumah di sekitaran kompleks ini mahal banget." Grace yang masih berbicara.


"Gimana Kamu mau nggak rumah kita Deket sini. Kalau nggak mau aku juga nggak apa-apa kok."


Rey menganggukkan kepalanya.


"Iya. Nanti kita cari rumah yang Deket sini." Kata Rey akhirnya.


Mata Grace pun berbinar senang.


"Beneran?" tanyanya antusias.


"Iya."


"Yeay... terima kasih Suami ku." Grace mencium pipi Rey sebelah kanan dan kiri.


Melambangkan rasa terima kasihnya kepada lelaki itu karena mengabulkan permintaan Grace.


"Aku bisa tiap hari ke rumah Ayah. Yess." Kata Grace lagi dengan senangnya.


Wanita itu kemudian memeluk pinggang Sang Suami dengan erat dan menyandarkan kepalanya di dada Rey.


"Jadi Kamu mau jalan-jalan kemana?"


"Terserah, semuanya terserah Kamu Sayang" Akhirnya Grace menyebut panggilan Sayang pada Suaminya itu.


Rey menghirup aroma rambut Sang Istri sekilas.


"Kalau ada apa aja baru panggil Sayang." Sindirnya.


Grace pun terkekeh.


"Kamu yang lebih tahu Aku." Goda Grace sambil membuat pola-pola abstrak di dada bidang lelaki itu.


Sengaja ingin menggoda Rey. Apakah dia tahan uji atau tidak pikir Grace dalam hati.


Mendapati Istrinya yang mulai nakal tersebut, Rey menghentikan aktivitas tangan Grace yang memang sengaja untuk menggodanya.


"Aku bawa ke kamar nih. Aku kurung seharian baru tau rasa Kamu." Ancam lelaki itu.


Grace pun menghentikan aksi liarnya.


Rey pun berdecak malas.


"Tanggung jawab Kamu. Siapa suruh goda aku duluan." Kata Pria itu dan menarik Sang Istri untuk di bawa ke kamar Grace.


Sebenarnya Rey ingin menggendong Istrinya itu, tetapi lelaki itu malu karena ada bi Imah disana.


"Kemana kita Kak?" tanya Grace masih dengan senyuman jahil. Berpura-pura polos.


"Mau kasih Kamu pelajaran. Supaya nggak nakal lagi." Balas Rey sambil membawa Istrinya itu ke dalam kamar dan menuntaskan apa yang sudah diinginkan lelaki itu.


***


***


***


"Masih bagus aja ya Kak, pantainya" Grace menatap hamparan laut di tepi pantai kota tersebut.


Menikmati semilir angin yang menyambut dan menerpa wajahnya.


Sementara Rey yang memeluknya dari belakang dan menyampirkan tangan di pinggang wanita itu juga menumpukan dagunya di bahu sempit Sang Istri.


"Hm... yang penting Kamu suka Aku ajak kesini." Kata Rey sambil menatap lautan lepas.


Grace menoleh sedikit ke sumber suara.


"Aku suka dong, asal kamu tahu aja dimana ada kamu pasti aku suka kamu bawa kemanapun." Ungkap wanita itu.


Ya, sebelum mereka ke pantai tersebut. Seharian penuh Rey menemani Istrinya itu belanja dan ke salon.


Berhubung Grace sangat hobby sekali berbelanja dan ke salon. Rey menuruti dan menemani Sang Istri kemanapun asal Ibu dari anak-anaknya itu bahagia.


"Aku Sayang Kamu Kak." Ucap Grace ditengah keheningan mereka di tepi pantai.


"Jangan tinggalin Aku ya." Pinta Wanita itu berbalik posisi dengan memeluk Rey.


Rey pun membalas pelukan tersebut. Menghadiahkan kecupan-kecupan di rambut Grace.


"Aku juga Sayang Kamu." Jawab Rey.


Grace mendongakkan wajahnya untuk memandang lelaki itu.


"Beneran Sayang Aku?" tanyanya memastikan.


Rey menganggukkan kepalanya dengan tegas. Seolah-olah ucapannya barusan memang benar adanya.


"Sejak kapan?" tanya Grace lagi.


"Nggak tau. Mungkin dari kita kecil kali." Jawab Rey yang memang tidak tahu kapan lelaki itu sangat menyayangi Istrinya ini.


Grace pun berdecak.


"Bohong Kamu, kalau Kamu Sayang Aku. Kamu nggak bakalan pacaran sama Mitha dan jauhin Aku dulu." Protes wanita itu.


"Kalau kasih alasan yang bagus dikit dong." Gerutunya masih.


Rey pun tertawa.


"Aku beneran loh. Kalau Aku nggak sayang Kamu. Aku nggak mungkin jagain Kamu dari kita kecil sampai sekarang." Kata Sang Suami.


"Ya... ya... terserah kamu deh." Grace pun berbalik kembali dari posisinya menjadi ke depan.


"Kalau Aku pacaran sama Mitha itu, mungkin karena disitu aku ngerasain jatuh cinta kali ya." Kata Rey


"Jadi masih labil." ungkap lelaki itu lagi.


"Labil-labil tapi pacarannya lama banget." Decak Grace tidak terima.


"Itu karena sudah terbiasa Sayang." Jawab lelaki itu.


Grace tidak menjawab. Wanita itu sibuk memikirkan perkataan Rey barusan.


"Aku beneran Sayang Kamu." Kata Rey lagi seolah-olah mengerti apa yang dipikirkan Sang istri.


"Cinta nggak?" tanya Grace.


Entah mengapa kata Cinta lebih penting daripada kata Sayang menurut wanita itu.


Sejenak Rey berpikir.


"Cinta." ungkapnya.


"Bohong." Kata Grace langsung.


"Kamu nggak percaya banget sih," Rey membalikkan posisi Istrinya itu untuk menghadapnya.


"Kalau Aku nggak cinta. Nggak mungkin lah Aku semarah itu Kamu dekat sama pria lain. Apalagi temen Kamu yang satu itu." Kata Rey meyakinkan Istrinya.


Ada binar senang di mata Grace, mendapat ungkapan dari lelakinya itu.


Akhirnya setelah bertahun-tahun cintanya terbalaskan.


Penantian wanita itu untuk mendapatkan cinta dari lelaki sejak kecilnya ini, akhirnya bersambut juga.


"Kamu nggak percaya?" tanya Rey


Grace mendekap erat lelaki yang telah menjadi Suaminya itu.


"Aku juga cinta Kamu Kak." kata Grace di pelukan mereka.


"Cinta banget malah." ungkapnya lagi.


Rey mengelus rambut Sang Istri dengan lembut.


"Aku juga cinta dan sayang banget sama Kamu. Jadi nggak usah berpikiran yang aneh-aneh lagi."


Grace menganggukkan kepalanya di dalam pelukan tersebut.


Rey pun menarik dagu Sang Istri. Menatap belahan bibir yang membuat lelaki itu setiap hari menjadi candu.


Lama mereka menatap satu dengan yang lainnya seolah-olah dari sorot mata mereka memancarkan rasa sayang satu dengan yang lainnya.


Kemudian Rey mencium bibir tersebut dengan lembut secara sekilas dan menghadiahi kecupan kening di dahi Sang Istri.


"I Love you, Grace Aditama." Kata Rey yang merubah nama belakang Sang Istri menjadi nama belakang miliknya. Sebelum membawa kembali lagi Grace ke dalam pelukan hangat dan menikmati keindahan alam yang berada disana.