
Setelah pergumulan panas tersebut, Rey kini memeluk Grace dan mendekap wanita itu di dada bidangnya. Mencium rambut sang istri dan mengusap keringat yang muncul di dahi istrinya itu menggunakan jarinya.
"Tidurlah" Rey berkata sambil mencium rambut Grace.
Grace yang lebih suka menempelkan pipinya di dada suaminya yang polos merasa aman dalam rengkuhan sang suami. Wanita itu bisa mendengar detak jantung Rey yang berdetak sangat cepat setelah berhubungan seperti sekarang ini.
"Kamu nggak liat waktu tahu, Kak" Grace berbicara bersungut-sungut, suaranya terdengar lirih.
"Emang aku salah, nyuruh kamu tidur?". Tanya Rey menundukkan wajahnya agar bisa melihat muka Grace.
"Nggak salah emang, tapi ini udah jam 5. Sebentar lagi kan aku harus ke kantor" Jawab Grace.
"Ya udah telat dikit nggak apa-apa juga" Mengusap punggung sang istri
Grace berdecak, "Malu aku tuh, sama Ayah dengan Glenn" Mengatakan malu padahal tangan sudah melingkar di pinggang Rey.
"Kok, malu sih?"
"Iyalah malu, Kak. Kamu suruh aku tidur lagi, sementara ini udah pagi. Terus kamu bilang nggak apa-apa telat. Ayah dan Glenn pasti mikir aneh-aneh"
"Kamu nggak lihat waktu tahu nggak, kalau minta jatah seperti ini" Melepaskan pelukan Rey.
"Iya deh, lain kali kita ngelakuin nya di rumah aja pas weekend seru sepertinya, bagaimana?. Seharian mengurung kamu dikamar, jadi kita bebas nggak ada yang ganggu" Rey mengucapkan kata tersebut dengan senyum mesum sambil mengedipkan matanya genit.
"ihh...rasain nih. Mesum banget sih kamu" Grace mencubit pinggang Rey melampiaskan kekesalannya di pagi hari akibat ulah Rey yang menjengkelkan.
Sementara sang suami malah tertawa kencang memegangi perutnya. Kenapa dia bisa mempunyai istri yang menggemaskan seperti ini kalau sedang digoda.
Grace semakin gencar mencubit pinggang dan pipi Rey, membuat pria itu menarik tangan Grace untuk segera menghentikan aksinya.
"Mau istirahat dulu atau aku tiduri lagi". Kata Rey masih tersenyum geli mencoba melakukan penawaran. Siapa tahu Grace menginginkan kembali.
Wajah Grace memucat, " Jangan, Kak. Aku capek" Ucapnya mengelengkan kepala dengan raut wajah memelas minta dikasihani.
"Ya udah kita istirahat sebentar" Menarik sang istri dan merebahkan diri mereka berdua untuk tidur sebentar.
"Kamu pasang alarm jam 7" Grace memerintah.
"Iya" Jawab Rey menuruti saja apa perkataan istrinya itu dengan mengambil hp dan mulai menyetel waktu sesuai dengan istrinya perintahkan.
"Nanti kita mandi berdua aja" Rey berbicara setelah menyetel alarm.
"Nggak mau"
"Kenapa?".
"Aku tahu kebiasaan kamu, jangan aneh-aneh deh" Jawab Grace
"Jadi istri itu harus percaya dan nurut sama apa kata suami, Grace. Kamu kebanyakan membantah tahu nggak" Mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Oke. Tapi janji cuma mandi aja nggak yang lain-lain" Grace menjawab dengan memberikan kelingkingnya tanda untuk berjanji.
"Iya. Kalau nggak khilaf" Rey membalas menautkan kelingking mereka sambil tertawa lagi.
"Kan, kamu tuh. ihh" Ucapnya mengeluh memukul dada suami yang menjengkelkan di pagi hari.
"Hahaha, udah kita tidur" Rey memeluk wanita itu. Menciumi wajah sang istri dengan gemas dan melanjutkan untuk istirahat sebentar.
****
Rey menepati janjinya, mandi berdua tanpa adanya kegiatan lain yang mereka lakukan berdua di kamar mandi. Membantu istrinya mandi sambil menggosok punggung dan berbicara ini dan itu.
"Kapan sih, disini ada calon anak kita" Rey mengelus perut Grace dari belakang dengan lembut. Kelihatan sekali pria itu menantikan kehadiran buah hati dalam rumah tangga mereka.
"Sabar, Kak." Grace menjawab. Tangannya ikut memegang tangan Rey yang berada di perut miliknya.
"hm"
"Kita sabar aja. Kalau nanti sudah waktunya kita pasti di kasih sama yang di atas" Ucap Grace lagi.
"Iya. Makanya kamu jangan sering nolak aku. Kita harus sering berusaha. Biar dia cepat hadir" Mengecup bahu istrinya yang polos.
"Kalau masalah itu, kamu nya aja emang dasar nggak pernah ada puasnya" Grace menepuk tangan Rey yang masih bertengger di perutnya.
Rey terkekeh mendengar hal tersebut, "Ya itu karena aku baru sadar, menikah enak juga ternyata." Kata Rey asal, kemudian melanjutkan mandi bersama Grace dan selalu menjahili istrinya yang masih malu-malu tersebut.
****
"Lancar, Yah"
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan minta bantuan" Gilang menatap mata menantunya itu dengan serius.
"Iya, Yah" Rey menganggukkan kepala.
"Kemarin Farhan, telepon Ayah. Kalau di kantor kamu lagi cari investor?" Memang dasarnya, kalau di rumah Grace setiap acara makan pasti Ayahnya menanyakan ini dan itu. Supaya dia juga mengetahui apa saja yang sudah terjadi pada anak-anaknya.
Rey pun menahami kebiasaan di rumah Grace yang seperti ini, meskipun dia tergolong tidak suka berbicara saat di meja makan. Tetapi dia cukup maklum menghadapi mertuanya itu.
"Memang lagi cari investor, Yah. Saya juga sudah hubungi beberapa client."
"Baiklah, Ayah doakan masalah kamu segera selesai ya" Gilang menepuk bahu menantunya itu tanda memberikan semangat.
"Iya, Yah. Terima kasih"
"Kamu makan yang banyak" Lagi-lagi Gilang yang berbicara.
" iya, Yah"
Sementara itu Grace dan Glenn hanya ikut mendengarkan saja apa yang mereka berdua bicarakan. Menghabiskan sarapan di hari ini kemudian segera bergegas menuju kantor.
Hari ini Grace di antar oleh Rey menuju kantornya, seperti biasanya Grace yang selalu aktif dan berbicara pada suaminya yang lebih memilih banyak diam tersebut.
"Aku kemungkinan pulangnya telat. Kamu minta anterin Glenn atau Wenny saja ya" Ucap Rey ketika mobil mereka sudah sampai di depan perusahaan ayah Grace.
"Iya, Kak. Kamu yang semangat hari ini" Jawab Grace dengan mencium pipi Rey setelah dia mencium pipi tersebut dia menyadari ada bekas lipstik nya tertinggal di pipi Rey akibat ulahnya.
"Maaf" Ucapnya dengan terkekeh mengusap bekas lipstik tersebut.
"Iya. Hari ini aku bertemu investor. Semoga dia mau bergabung" Kata Rey menikmati kebersamaan dengan sang istri.
"Amin" Grace menjawab sudah selesai menghapus jejak lipstik di pipi.
"Kamu hati-hati ya" Ucapnya lagi sambil melepas seatbelt mobil.
"Iya" Kata Rey melambaikan tangannya. Setelah melihat Grace sudah memasuki lobby kantor barulah dia melajukan mobil menuju kantor milik ayahnya. Berharap hari ini semua akan baik-baik saja dan proyek mereka segera mendapatkan kucuran dana.
***
Saat sudah sampai di kantornya, Rey mulai kelihatan sibuk dan menyiapkan hal-hal penting yang akan diperlukan buat meeting nanti. Pria itu berusaha untuk menampilkan proposal nya semaksimal mungkin.
Tokk..Tokk
"Bro, sepertinya yang datang nanti cuma perwakilan dari X Group bukan direkturnya" Alan berbicara ketika memasuki kantor Rey.
"Tidak masalah, selagi mereka sudah berniat ingin bergabung." Jawab Rey optimis karena akan memenangkan satu investor.
"Oke. Hari ini jam 13.00, kita berdua datang kesana" Jawab Alan lagi.
"hm"
"Gue beresin pekerjaan yang belum selesai kemarin. Entar jam 11 gue keruangan Lo, lagi" Ucap Alan yang bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
"Oke"
Rey melihat jam di pergelangan tangannya, yang sudah menunjukkan jam 13.00. Setelah sudah sampai di tempat yang dijanjikan oleh pihak perusahaan tersebut, kini Rey dan Alan terlihat sudah sampai duluan di tempat itu terlebih dahulu.
"Semoga pihak mereka yang datang kali ini, nggak buat rumit" Ucap Alan.
"Iya, semoga saja" Jawab Rey
Saat mereka berdua masih menunggu dan berbicara hal-hal yang penting mengenai proyek dan program mereka kedepannya. Akhirnya perwakilan yang ditunggu pun datang juga.
"Selamat siang, Pak Rey dan Pak Alan" Sapa seseorang perwakilan itu.
Merasa sangat mengenal suara tersebut, Rey mengadahkan kepalanya untuk memastikan suara yang familiar di telinganya.
"Mitha?" Kali ini Alan yang menjawab dengan raut wajah terkejut sambil berdiri dari duduknya.
"Wah, entah ini kebetulan atau takdir, Rey. Kita bertemu lagi" Ucap Wanita itu menjulurkan tangganya untuk berjabat tangan. Dengan memasang senyuman yang tertuju pada Rey yang berada dihadapannya.
Selanjutnya