Grace

Grace
Pertunangan



"Jangan lupa datang lo, berdua"


Ucap Grace sembari menyerahkan kertas undangan kepada kedua sahabat nya itu.


"Wah, kita di undang juga nih"


Ucap Siska kemudian.


"Emang Lo ngundang banyak orang Grace, di acara pertunangan Lo?"


Ucap Wenny sembari melihat isi undangan yang bertuliskan nama sahabat beserta calon suami nya itu.


"Nggak, palingan keluarga besar nya Rey sama keluarga gue "


Ucap Grace


"Berarti tamu undangan Lo entar para orang tua dong yaa?"


Ucap Wenny lagi sambil meletakkan kertas undangan itu kembali di sebelahnya.


"Iya, palingan yang muda muda gini cuma kalian berdua sama Glenn dan Laura kali yang datang entar.


Ucap Grace


"Gue ajak Raka gak apa apa ya Grace"


Ucap Siska yang tidak enak sendirian datang tersebut.


" ya iyalah mau Lo kemanain emang suami lo"


Ucap Grace menyetujui


"Nah, gue sama siapa dong sis kalau Lo sama suami lo?"


Ucap Wenny yang menunjukkan veajah memelas nya.


"Makanya cari pacar Wen, betah banget Lo sendirian Mulu"


Ucap Siska lagi.


"Lo berangkat sama pak Rezi aja Wen, kemungkinan dia dapat undangan dari Rey"


Ucap Grace memberitahu


"Mending gue berangkat sendiri aja Grace kalau pergi bareng dia mah nggak jadi hadir di acara Lo entar yang ada, gue di suruh ini itu sama dia"


Ucap Wenny yang masih merasa jengkel dengan atasan nya itu.


"Gue doain jadi Lo sama pak Rezi"


Ucap Grace sambil terkekeh


"Gini nih kalau punya temen yang hobby nya senang banget liat gue menderita, miris banget nasib gue"


Ucap Wenny yang mendramatisir


"Emang pak Rezi itu siapa sih?"


Ucap Siska kemudian yang tidak mengerti alur pembicaraan ke dua sahabat nya itu.


"Orang aneh"


Ucap Wenny yang merasa jengkel mengingat perlakuan atasan nya itu.


"Nggak Sis, pak Rezi itu calon nya Wenny. Doain aja mereka supaya jadi entar."


Ucap Grace kemudian sambil terkekeh.


"Iya deh, gue doain supaya Lo jadi sama si Rezi yang kalian pada omongin itu ya Wen, biar Lo nggak sendirian terus"


Ucap Siska yang sembari menatap Wenny.


"Rese banget sih Lo berdua"


Ucap Wenny membalas perkataan teman nya itu.


Dan hanya Kekehan tawa serta ejek mengejek yang terdengar di antara mereka bertiga.


*******


Hari pertunangan pun tiba, tampak kediaman milik keluarga Wijaya itu mulai ramai di kunjungi oleh para keluarga dan kerabat mereka yang di undang untuk menghadiri acara pertunangan Rey dan Grace.


Keluarga Grace dan Rey memutuskan untuk melakukan acara pertunangan tersebut di kediaman milik keluarga Wijaya saja. Karena mengingat jumlah tamu yang di undang sedikit dan acara yang bersifat tertutup dan hanya di lakukan dengan acara sederhana saja.


Tokk.... tokk.. tokk


"Grace Lo di dalam? Gue masuk ya"


Ucap Wenny uang sudah tiba duluan di kediaman milik sahabat nya itu.


"Masuk aja Wen"


Ucap Grace agak berteriak supaya orang di luar mendengar ucapan nya untuk masuk.


Wenny yang mendengar jawaban yang berasal dari dalam kamar milik sahabat nya itu pun langsung membuka pintu dan melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam kamar.


"Wah, cantik juga Lo , Grace hari ini"


Ucap Wenny yang melihat penampilan sahabat nya itu.


"Emang dari dulu kali Wen, gue cantik"


Ucap Grace dengan bangga nya


"Nyesel Gue muji penampilan lo"


Ucap Wenny seketika


"Ehh, gue liat tadi di depan ada Glen, ya Grace? Adek Lo pulang pulang dari Jerman jadi makin ganteng ya Grace"


Ucap Wenny yang tadi melihat Glen di depan rumah mereka sedang berbincang dengan para tamu.


"Kenapa, naksir Lo?"


Ucap Grace kemudian


"Kalau adek Lo juga naksir gue, yaa gue juga bisa apa Grace selain nerima dia"


Ucap Wenny seketika sambil terkekeh


"ck, nggak boleh, gue nggak mau punya adik ipar macem Lo"


Ucap Grace melirikkan mata nya tanda tak setuju.


"gak apa apa kali Grace sama sahabat Lo sendiri"


Ucap Wenny lagi.


"Mending Lo sama pak Rezi sono, kalian berdua itu cocok tau nggak sih"


Ucap Grace yang terlihat menilai penampilan nya di depan kaca.


"Nggak, mending gue cari yang lain daripada sama dia"


Ucap Wenny yang terdengar tidak setuju.


****


"Permisi non, keluarga nya Tuan Rey sudah datang, bibi di suruh untuk memanggil non Grace ke depan"


Ucap bi Imah yang masuk ke dalam kamar wanita itu.


"Wen, kok tiba tiba gue jadi gugup gini ya"


Ucap Grace sambil memegang tangan sahabat nya Wenny.


"Udah gak apa - apa gue temenin, tarik nafas hembuskan"


Ucap Wenny yang memberi saran untuk menetralkan kegugupan sahabat nya tersebut.


Setelah wanita itu sampai di rumah belakang milik kediaman mereka yang di sulap menjadi tempat berlangsungnya nya acara pertunangan tersebut.


Wanita itu melihat Rey yang tampil dengan balutan jas dan penampilan yang tampan di matanya. Pria itu terlihat sedang berbincang dengan Ayah wanita itu sambil mengangguk-anggukan kepala nya tanda membicarakan sesuatu hal yang seperti nya serius menurut wanita itu.


Acara demi acara berlangsung di adakan sampai lah di acara pertukaran cincin satu dengan yang lain nya.


Terlihat Grace sangat gugup setelah berdiri di depan tamu yang menghadiri acara pertunangan mereka.


Pertama terlihat Rey yang memasangkan cincin ke jari manis wanita tersebut. Grace sekilas melihat reaksi dari pria di hadapan nya ini. Tampak ketika memasangkan cincin ke jari wanita tersebut seperti nya Rey memasang wajah yang tidak terbaca. Raut wajah nya seolah olah tidak menampilkan senyum atau tidak suka sama sekali. Pria itu hanya memasang wajah nya datar saat memasang kan cincin ke jari manis wanita nya yang sudah menjadi tunangan nya itu kini.


Melihat hal itu pun seketika rasa gugup di dalam diri Grace hilang seketika. Dia harus sadar bahwa pria di depan nya ini belum mencintai nya, seharusnya dia tidak boleh memasang reaksi berlebihan untuk acara pertunangan nya ini karena tidak ada rasa suka di antara mereka. Untuk apa pula dia merasa gugup


'Bersikap lah biasa saja Grace'


Ucap perempuan itu di dalam hati nya.


Dan Grace pun memasang kan cincin pertunangan ke jari milik pria yang di cintai nya tersebut dengan cepat tanpa ada nya rasa gugup lagi di dalam diri nya.


Tampak Photographer di depan mereka untuk mengambil gambar saat pertukaran cincin tersebut. Photographer tersebut mengarahkan agar mereka berhadapan dengan kamera sambil menunjukkan cincin pertunangan mereka. Di rasa petugas photographer tersebut kurang adanya chemistry di antara pasangan yang baru bertukar cincin ini. Petugas itu pun berkomentar kemudian.


"Bisakah kalian mengambil jarak dekat sedikit lagi?"


Ucap petugas photographer itu kemudian.


Kemudian pasangan itu pun mengikuti arahan dari petugas photo tersebut.


Di rasa belum puas petugas itu pun masih berkomentar dengan penampilan kikuk ke duanya.


"Saya rasa masih ada yang kurang"


Ucap petugas itu tampak berfikir apa yang kurang dari pasangan di depan nya ini sambil melihat kamera stand by nya.


Mendengar petugas photo yang selalu berkomentar , seketika itu juga Rey secara tiba - tiba merangkulkan lengannya ke bahu milik wanita yang sudah menjadi tunangan nya itu.


"Apakah ini sudah cukup?"


Tanya Rey kepada petugas photo tersebut sambil masih merangkul bahu tunangan nya itu.


"Ya, pas sekali. Nona, tolong hadap ke kamera"


Ucap petugas photo itu yang melihat Grace tidak fokus pada kamera melainkan sibuk menoleh kepada lelaki di sebelah nya itu.


*******


Selanjutnya