Grace

Grace
Usaha Membujuk Istriku



Setelah mengerjakan urusan kantor, Rey pun langsung bergegas menuju rumah Mertuanya, Gilang. Tempat dimana Sang Istri berada.


Seharian memikirkan Grace yang masih merajuk membuat kepala Rey pusing tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaan kantor.


"Kemaren aja Gue ajakin pulang, kagak mau. Sekarang kayak pengantin baru aja Lo, pengen cepat-cepat pulang," ledek Alan saat Rey tengah sibuk membereskan dokumen pekerjaan yang masih belum selesai-selesai dari kemarin.


"Grace merajuk," jawab lelaki itu singkat dan mendapat tawa yang semakin menjadi-jadi dari Alan.


"Syukurin, Lo. Untung nggak minta cerai tuh bini, Lo." ledek Alan lagi menertawakan nasib Rey yang sepertinya kena batunya akibat ulahnya sendiri.


Mendengar ledekan Sahabatnya itu, seketika Rey berhenti sejenak dari membereskan dokumen kantor.


"Kok Lo tau Gue hampir diceraiin," jawab Rey dengan mengerutkan dahi. Sang Sahabat ternyata punya ilmu menerawang juga, pikirnya.


Alan pun langsung menoleh, "Eh serius Grace minta cerai? Hahahaha... hahhahaha.. " lagi-lagi Alan tertawa sambil menggelengkan kepalanya dan mendapat umpatan kecil dari Rey.


"Ternyata Grace perempuan normal, Bro. Baru tahu Gue, dia bisa juga ceraiin Lo..... hahahaha" Alan masih terkekeh tidak jelas mendengar nasib Rey.


"Jadi bentar lagi, Istri Lo janda dong ya?" tanya Alan, lelaki itu menaik turunkan alisnya ke arah Rey, seperti wanita penggoda.


"Mimpi Lo," jawab Rey kesal.


"Bro, udah ceraiin aja Grace. Biar dia buat Gue ." Alan memberi saran yang tidak bermutu pada sahabatnya itu.


Seketika itu juga Rey melempar pena dari atas meja ke arah Alan yang duduk di sofa..... dan berhasil mengenai kepala lelaki tersebut.


"Gila bener emang punya temen kayak Lo, nggak pernah bener " jawab Rey dengan menggelengkan kepala.


Alan pun masih mengelus kepalanya yang lumayan sakit, akibat lemparan dari Rey.


"Ya secara bini Lo, masih cantik gitu. Gue juga masih mau kali." jawab Alan santai dan mendapat tatapan tajam dari Rey.


"Awas sekali-kali Gue lihat Lo, deketin Istri Gue," ancam Rey dengan nada yang serius, takut kepunyaannya diambil boleh orang lain.


"Wessss.... sabar Bro.. santai," jawab Alan kemudian.


"Lagian, Mitha mau Lo kemanain?" tanya Rey masih dengan nada yang jengkel.


Mendengar nama tersebut membuat Alan berdecak malas, "Nggak jelas tuh anak, Gue mulu yang ngejer dia.. capek Gue di PHP-in." Alan mengungkapkan dengan nada yang mendesah pasrah.


Rey hanya manggut-manggut saja, tidak ingin tahu lebih dalam.


"Bro, emang Lo dulu deketin tuh anak, perjuangan banget nggak?" tanya Alan


"Siapa Mitha?"


"Ck, ya iyalah... masak Grace sih, Lo dapetin Grace itu seperti menang lotre tau nggak.? udah kaya cantik lagi," kata Alan mendecak sebal.


Sejenak Rey berpikir berusaha mengenang masa lalu, "Seinget Gue sih Gue nggak terlalu berjuang banget deketin Mitha," jawab Rey.


"Terus kenapa Lo bisa pacaran selama itu?" tanya Alan dengan penasaran.


"Nyaman kali," Rey berujar dengan santai


Alan hanya menganggukkan kepala pura-pura mengerti.


"Dia terlalu ngejar karir banget, Bro. Nggak lihat perjuangan Gue deketin dia setahun ini," Alan mulai membuka sesi curhat yang tidak di dengarkan oleh Rey. Lelaki itu lagi membuka handphone miliknya melihat chat dari Grace, namun Grace sama sekali tidak mengabarinya seharian penuh.


"Menurut Lo, Gue harus gimana?" tanya Alan setelah menyelesaikan acar curhatannya dan tidak di dengarkan oleh Rey.


"Tinggalin aja," jawab Rey masih mengirim pesan pada Grace, mengatakan kalau sebentar lagi dia akan ke rumah Gilang, dan menunggu balasan namun hanya dibaca saja oleh Istrinya itu.


Rey pun menghela napasnya karena Istrinya masih merajuk.


"Gue cabut dulu," kata Rey sambil bergegas keluar dari ruangan.


"Ehh .. Gue belum selesai cerita," Alan menahan kepergian Sahabatnya tersebut.


"Kayak cewek aja Lo, curhat-curhatan." Jawab Rey dengan menjengkelkan dan mendapat tendangan di udara dari Alan.


"Coba Gue nggak makin kaya karena Lo, udah Gue tinggalin juga Lo," ucap Alan lirih namun masih dapat didengar oleh Rey dan langsung mendapatkan tatapan tajam ke arah lelaki itu.


Alan langsung cengengesan tidak jelas, "Mending Lo pulang, Grace udah nungguin." usir Alan kemudian sebelum Rey benar-benar meninggalkan ruangan tersebut.


***


Malamnya tiba, Rey sudah sampai di rumah Mertuanya, Gilang pada saat pukul 7 malam. Lelaki itu langsung di sambut oleh bi Imah yang menjadi ART keluarga Grace.


"Den Rey, udah lama nggak kelihatan makin ganteng aja," ucap Imah mengantarkan Rey ke ruang meja makan.


"Terima kasih Bi," jawab Rey dengan tersenyum.


Setelah hampir sampai di meja makan, Rey melihat keluarga Mertuanya itu tengah makan malam ternyata. Bersama Grace dan Glenn yang setia mendampingi Gilang saat makan malam.


"Eh, Nak Rey sudah sampai," ucap Gilang saat melihat menantunya itu sudah berdiri di dekat meja makan.


"Iya, Ayah" Rey menyalami tangan Sang Mertua.


"Mas," sapa Glenn seperti biasanya dengan menganggukkan kepalanya sopan ke arah Rey saat pria itu datang.


Namun, hal berbeda dia dapati dengan Istrinya. Grace malah sibuk menyantap makan malam miliknya dengan lahap. Tidak mempedulikan kedatangan Rey saat sudah disana.


Gilang pun melihat tingkah putrinya itu, "Grace, Suami Kamu datang harusnya disambut. Kok malah masih makan." Gilang menegur putrinya itu untuk menyambut Rey yang kini masih berdiri di dekatnya.


Diganggu saat tengah asyik-asyiknya makan, Grace malah mengerucutkan bibirnya sebal ke arah Rey.


Wanita itu pun langsung mendekati Rey dan menyalami tangan Suaminya. Kemudian kembali ke meja makan untuk menghabiskan makan malam yang terasa sangat enak sekali menurut Grace.


Rey pun duduk di sebelah Istrinya, seketika itu juga dia langsung terkejut melihat gaya makan Grace yang tidak seperti biasanya. Bisa dikatakan saat ini dia makan dengan rakus dan tidak mempedulikan sekitar.


"Dia sudah tambah 3 kali, Mas." ungkap Glenn dengan berbisik tetapi masih didengar oleh Grace.


"Kamu sepertinya lapar banget," kata Rey yang masih takjub dengan cara makan Grace.


"Hmm," hanya deheman malas saja dijawab oleh Grace.


"Grace. Layani Suami Kamu!" perintah Gilang saat melihat piring Rey belum diisi oleh nasi.


Mendengar perintah Ayahnya, Grace hanya mengangguk patuh dan melayani Suaminya itu makan.


"Lo kesambet apaan sih, Mbak. Tumben makannya banyak banget." tanya Glenn di sela-sela Grace memberikan lauk ke piring Suaminya tersebut.


"Udah, Lo makan aja. Nggak usah pusingin Gue." jawab Grace dengan judes.


Mereka bertiga hanya melongo takjub melihat tingkah laku Grace yang berubah menjadi galak dan judes. Sepertinya Rey mulai paham kalau Sang Istri sebentar lagi akan mendapatkan periode bulanan.


Setelah mengatakan hal tersebut, Grace melanjutkan makan malamnya dengan lahap. Sementara itu ketiga lelaki tersebut hanya melirik sekilas ke arah Grace.


***


Usai makan malam dan mengobrol sebentar bersama Mertuanya, Rey pun membersihkan dirinya di kamar Sang Istri.


Saat sudah selesai mandi, Rey tidak melihat keberadaan Istrinya itu di dalam kamar.


Rey semakin berpikir keras, bagaimana usahanya untuk membujuk Grace yang masih merajuk tersebut.


Ini kali pertama Grace merajuk dan tidak ingin diajak untuk berbicara, membuat lelaki itu kebingungan bagaimana menghadapi sifat dan karakter Istrinya.


Kenapa Istrinya itu jadi suka sekali makan? pikirnya dalam hati.


"Kamu nggak kenyang?" tanya Rey mendekati Grace saat sudah sampai di sofa ruang tamu tersebut.


Sejenak Grace menoleh ke sumber suara dan kembali lagi melihat acara televisi.


Wanita itu masih bersikukuh untuk diam.


Rey memijit kepalanya yang semakin pusing semenjak dari kantor tadi. Lelaki itu sungguh bingung membujuk Grace saat ini.


"Mana Ayah?" tanya Rey


"Sudah di kamar,"


"Glenn?"


Grace tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahunya dengan acuh.


Tidak mendapat jawaban dari Istrinya itu, Rey hanya menghela napasnya saja. Mengikuti kemauan Sang Istri.


Mereka berdua masih menonton acara televisi yang Rey pun tidak mengerti itu acara apa yang ditampilkan.


Kali ini sungguh kepalanya terasa berat dan pusing, tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Rey masih setia menemani Sang Istri menonton televisi meskipun kepalanya terasa pusing dan ingin tidur.


"Tidur yuk, kepala Aku pusing banget Grace." Rey menyandarkan kepalanya di bahu sempit Sang Istri sambil memijit kepalanya menandakan bahwa lelaki itu benar-benar pusing.


Grace masih tidak menjawab ungkapan Suaminya itu.


Rey pun akhirnya mengalah, dia sudah tidak tahan lagi ingin segera tidur untuk menetralkan rasa pusing di kepala yang menghampirinya sejak siang tadi.


"Ya udah, Aku tinggal tidur duluan." Jawab Rey sambil mengelus kepala Istrinya itu, sebelum berlalu meninggalkan Grace di ruangan televisi.


Baru saja hendak memejamkan mata, kini pintu kamar kembali terbuka. Menampilkan Grace yang melangkah ke arah Rey yang sudah tertidur di atas ranjang dengan membawa segelas air putih dan obat sakit kepala.


"Kak bangun" Grace mengguncang bahu Suaminya itu pelan, Rey pun bangun ketika mendengar suara Sang Istri.


Lelaki itu sungguh sedang sakit ternyata, terbukti matanya yang memerah dan suhu tubuhnya yang menghangat.


"Ini minum," kata Grace lagi sambil menyodorkan air putih dan sebutir obat ke tangan Rey.


Melihat perhatian Istrinya itu membuat hati Rey sungguh ingin sekali memeluk Grace saat ini. Di saat merajuk pun, Istrinya itu masih peduli dan memperhatikan keadaannya. Meskipun hanya sakit kepala biasa, Grace selalu peduli dengannya. Membuat hati lelaki itu menghangat seketika menerima perlakuan dari Grace.


Mungkin karena inilah Rey dengan cepat luluh pada Istrinya itu.


Dengan patuh Rey pun menuruti perintah Sang Istri, karena sungguh kepalanya terasa berat sekali hari ini.


Setelah Rey meminum obatnya, Grace pun hendak berlalu untuk mengembalikan nampan ke dapur.


Namun gerakannya di tahan oleh Rey, "Mau kemana?" tanya Sang Suami dengan nada suara yang lesu. Entah benar-benar lesu atau memang dibuat-buat, Grace tidak tahu.


"Mau kembaliin ini," Grace mengangkat nampan tersebut ke arah Rey.


"Nggak usah, besok pagi saja. Temani aku tidur" Rey berujar dengan manja sekalian modus pikirnya dalam hati


Lelaki itu masih menampilkan wajah yang sangat lesu dan suara yang dibuat-buat lemah, agar Sang Istri lebih memperhatikannya.


Grace pun menganggukkan kepalanya, dan mulai mengikuti Rey untuk tidur.


Saat setelah Grace merebahkan dirinya di sebelah Rey, Sang Suami malah memeluknya erat dengan membenamkan wajahnya di dada Grace.


"Pusing Grace," keluh Rey agar mendapatkan perhatian.


"Pijitin kepala Aku," pintanya lagi dengan suara yang memelas sedemikian rupa.


Grace tidak menjawab, namun dia malah memijit kepala Sang Suami dengan lembut.


"Makasih ya Sayang," kata Rey tiba-tiba di sela-sela pijitan Grace.


"Terima kasih buat apa?" akhirnya Grace menjawab setelah beberapa kali dia tidak menggubris perkataan Rey.


"Masih perhatian sama Aku," jawab Rey.


"Memang Sasa, nggak perhatian sama Kamu?" tanya Grace seperti menyulut pertengkaran.


Namun, Rey hanya tersenyum saja melihat tingkah laku yang cemburu tersebut.


"Kami itu hanya sebatas client, Sayang " ucap Rey lagi dengan memanggil kata Sayang pada Grace.


Grace pun menghentikan pijitannya di kepala Rey.


"Oh." jawab Grace singkat.


"Jangan marah-marah lagi, ya. Kamu marah, Akunya pusing mikirin Kamu seharian. Jadinya sakit deh," keluh lelaki itu.


"Hm," jawab Grace membuat Rey tersenyum seketika.


"Ada gunanya juga Gue, sakit kepala." Pikir Rey dalam hati sambil tersenyum tidak jelas.


"Kalau Grace ngamuk, Gue pura-pura sakit aja kali ya," Rey seperti menemukan ide brilian di kepalanya.


Rey pun semakin mempererat pelukan mereka, " Minggu Sore kita pulang ya, kerjaan Aku banyak banget," kata Rey berusaha membujuk Istrinya itu.


Tampak Grace belum menjawab dan masih memikirkan ucapan tersebut.


"Hmm?" tanya Sang Suami menatap intens mata Grace.


Grace pun menganggukkan kepalanya setuju.


Mendapat anggukan setuju tersebut, Rey tersenyum dengan senang dan membawa Sang Istri untuk masuk ke dalam dekapan hangat miliknya.


Namun, Grace masih belum membalas pelukan pria itu.


Rey membiarkan saja, meskipun Grace tidak membalas pelukannya, dia merasa cukup kalau kini hati sang Istri sudah diluluhkan dan membuatnya tidak pusing lagi memikirkan Grace seharian.


Beberapa menit berlalu, Rey masih memeluk Istrinya itu dengan hangat.


Setelah hampir memejamkan matanya, Rey merasakan pelukannya ternyata di sambut oleh Grace.


Wanita itu membalas pelukan Rey dengan memeluk pinggangnya dan menelusupkan wajahnya di dada bidang miliknya.


Membuat Rey semakin gemas menghadapi tingkah laku Istrinya yang malu-malu tapi mau tersebut.


Setelah membalas pelukan dari Rey, Grace merasakan ciuman sayang di pucuk kepala dan dahinya.


"Selamat malam, Istriku." kata Rey sebelum mereka berdua benar-benar terlelap.


*


*


*


Jangan lupa poin dan koin nya untuk babang Rey yakk wkwkwkkw.


Maacih