
Satu Tahun kemudian....
Hari demi hari berganti......
Tidak terasa satu tahun sudah berlalu, hari ini tepatnya Rey dan Grace menikah bertepatan satu tahun usia pernikahan mereka. Bisa dikatakan Wedding Anniversary nya mereka berdua.
Ya, saat ini mereka belum dikaruniai keturunan. Mungkin Tuhan masih belum mempercayakan mereka untuk mendapatkan momongan untuk menghiasi biduk rumah tangga.
Kata Cinta? sampai sekarang pun tidak pernah terucap kata cinta dari bibir Sang Suami. Rey merasa bahwa selama ini apa yang telah dia lakukan dan tunjukkan pada istrinya sudah bisa mengisyaratkan kalau dia memang sudah jatuh cinta pada Istrinya tanpa adanya kata cinta terucap dengan sendirinya. Lelaki itu berharap Grace bisa memahami dan mengerti akan apa yang sudah dia perbuat terhadap dirinya tanpa harus mengatakan cinta.
"Hari ini kita satu tahun, Kak Rey ingat nggak ya?" Grace berbicara sendiri ketika wanita itu duduk di meja kantornya.
"Aku ajak kemana ya bagusnya untuk ngerayain hari jadi kita?" masih berbicara sendiri, sambil membuka handphone dan mencari tempat yang bagus untuk merayakan hari pernikahan mereka.
"Apa bagusnya, Aku ajak aja Kak Rey ke hotel aja ya... hihihi." Grace terkikik geli membayangkan pemikirannya yang sudah menjurus kemana-mana.
"Dia lagi apa ya sekarang?" tanya Grace masih bicara pada dirinya sendiri.
"Kalau Aku telfon takutnya ganggu. Tapi Akunya kangen." memutar-mutar tubuhnya menggunakan kursi kerja.
Grace masih berpikir akan mengajak Sang Suami kemana, tiba-tiba pintunya terbuka dengan kencangnya oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan si Miss rusuh, Wenny.
"Grace, makan siang yuk." ajak Wenny dengan santainya duduk di kursi yang berhadapan dengan Grace.
Grace berdecak dengan jengkelnya, " Pasti Lo lagi berantem kan, sama Yayang Lo." jawabnya mencebikkan bibir. Sudah hapal dengan gelagat Wenny yang mengajak makan siang bersama.
"Grace Lo kan udah banyak nih mengerti sama sifatnya laki-laki, emang mereka itu nggak bisa peka sedikitpun ya Grace?" tanya Wenny tiba-tiba menceritakan hal yang tidak jelas dengan raut wajah frustasi.
Mendengar curhatan sahabatnya itu membuat Grace mengerutkan dahinya bingung, "Kenapa lagi nih anak" ucapnya dalam hati.
"Kenapa sih Lo Wen? kayak orang putus cinta aja?" tanya Grace penasaran dengan apa yang sahabatnya itu alami.
"Itu si Rezi nggak pekaan banget, tau nggak Lo tadi pagi niat Gue nggak bawa mobil ke kantor biar Gue pulangnya bisa dia anter pulang ke rumah." Wenny menceritakan dengan menggebu-gebu dan bersemangat.
Grace masih belum mengerti, terlihat jelas di wajahnya wanita itu masih terlihat kebingungan. "Terus?" tanyanya.
Wenny memajukan dan menegakkan tubuhnya dengan serius untuk berbicara. "Iya terus, Gue sengaja bilang kalau Gue nggak bawa mobil ke kantor berharap dianya peka dan tau sendiri kalau Gue pengen pulang bareng sama dia. Ehh, taunya dia cuma jawab, oh doang. Keselin nggak sih." ucapnya sambil menghembuskan napas berat tanda kesal pada sang kekasih.
Seketika itu juga Grace menggaruk pipinya yang tidak gatal. Bingung harus bagaimana menghadapi kejengkelan Wenny.
"Kalau Lo tanya pendapat Gue sih, Gue juga bingung harus jawab apaan ke Lo, Wen." jawabnya dengan wajah yang juga tidak bisa dia ungkapkan.
"Kagak usah Lo jawab, kalau Lo bingung. Gue cuma cerita doang." ucapnya.
"Ayo makan, Gue udah lapar banget pengen makan orang, Gue bawaannya." Wenny berdiri dan mendekat ke kursi Grace untuk menggandeng lengan wanita itu.
"Lo mau makan Gue?" Grace bertanya dengan polosnya, membuat Wenny tertawa sedemikian rupa.
"Nggak dong, entar yang ada Suami Lo yang bunuh Gue balik." ucapnya mulai menunjukkan raut wajah yang kembali ceria.
"Nah gitu dong." Grace merangkul bahu sahabatnya itu untuk keluar ruangan dan segera menuju kantin.
Tidak disangka oleh mereka, pacar Wenny yang tidak peka itu turut menghampiri mereka berdua ketika sudah mulai menyantap makan siang di kursi yang menjadi favorit Wenny dan Grace selama ini.
"Kamu kok nggak ajak aku makan siang bareng?" bertanya dengan polosnya tanpa berdosa sama sekali.
Grace hanya memperhatikan sepasang kekasih yang terkadang akur terkadang tidak itu, sembari sibuk menghabiskan makan siang miliknya.
"Aku lapar banget, lupa sama kamu." Wenny menjawab dengan jengkelnya.
"Kamu kok sensi banget sih." Rezi berbicara dengan nada lembut agar Sang Kekasih tidak menampilkan wajah jutek padanya.
"hm.." Wenny menjawab sekenanya, tidak peduli Rezi yang berusaha membujuk wanita itu.
Rezi akhirnya mengalah, melanjutkan makan siang dan kembali berusaha membujuk Wenny sepulang dari kantor saja, pikir pria itu dalam hatinya.
Mereka bertiga makan dengan tidak adanya obrolan yang terjadi. Grace yang membiarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka dengan sendiri, karena dia yakin sepasang kekasih itu sudah sama-sama dewasa dalam mengambil sikap.
****
Ting....
Bunyi handphone Grace yang menandakan adanya notifikasi masuk di handphonenya.
16.00
Suami aneh: Nanti pulang kantor Aku jemput.
Mendapat pesan seperti itu seketika membuat hatinya menghangat, Grace yakin kalau Rey tidak lupa dengan hari jadi pernikahan mereka yang bertepatan hari ini.
16.04
Grace: Iya, Kak. Kamu hati-hati ya nyetirnya.
16.05
Hanya balasan satu kata itu saja sudah membuat senyum mengembang tercetak jelas di wajah cantiknya.
Grace kemudian bersiap-siap untuk merapikan penampilannya dan berdandan sebentar walau belum mandi. Wanita itu ingin tampil cantik di depan Sang Suami nanti ketika dia datang menjemputnya.
"Dia tidak lupa ternyata." Grace berbicara sendiri sambil mengaplikasikan make up di wajahnya. Dia sudah membayangkan kalau Sang Suami akan mengajaknya makan malam di restaurant dan membawanya ke tempat yang romantis untuk merayakan hari jadi mereka.
Tepat di jam setengah enam sore, Rey sudah memasuki perusahaan milik mertuanya untuk menjemput Grace di ruangannya.
Ketika lelaki itu masuk ke ruangan istrinya, dia mendapati Grace tengah duduk manis di sofa milik istrinya itu dengan mata yang berbinar senang akan kedatangannya.
Rey pun tersenyum, sekilas pria itu melihat ada yang beda dari penampilan istrinya.
"Kamu dandan?" tanyanya melihat intens wajah Grace membuat Sang Istri malu seketika.
Grace menganggukkan kepala, "Katanya dandan untuk Suami itu sama saja menyenangkan Suami." ucapnya tersipu malu.
Rey terkekeh, pria itu menggelengkan kepala nya melihat tingkah laku Sang Istri.
"Ya udah. Terima kasih sudah dandan menyambut Suamimu yang ganteng ini " jawabnya tersenyum sembari menyodorkan tangan agar Grace berdiri dan mereka segera meninggalkan ruangan tersebut.
Di dalam mobil, Grace menerka-nerka kemana dia akan dibawa oleh Rey. Ke tempat romantis kah? atau ke restaurant atau mereka akan merayakannya secara kecil-kecilan saja di apartemen?. Melihat jalan yang Rey tempuh sudah memasuki kawasan apartemen, Grace yakin kalau Sang Suami sudah menyiapkan pesta kecil di apartemen mereka.
Wanita itu turun dari mobil dengan senyum yang mengembang di wajahnya kemudian menggandeng tangan Rey yang berjalan di sebelahnya untuk memasuki apartemen mereka.
Sebelum sampai di apartemen, mereka melihat bahwa Anita sedang menunggu mereka di lobby apartemen tersebut yang membuat Rey segera menghampiri ibunya.
"Loh, Mama kesini kok nggak bilang-bilang?" tanya Rey ketika sudah menghampiri Anita.
Anita pun memeluk putra sulungnya itu, "Mama kangen." ucapnya tersenyum ke arah Rey, seolah mengabaikan Grace yang berada di sebelah lelaki itu.
Grace menyodorkan tangan ke arah mertuanya tersebut untuk bersalaman dengan sopan, tetapi bukan sambutan tangan yang hangat dia dapati.
"Kamu masih bekerja, Grace?" tanya Nita dengan raut wajah sinis menatap menantunya. Grace tidak tahu sedari kapan Sang Mertua bersikap ketus padanya, yang wanita itu sadari hanyalah akhir-akhir ini Anita cukup tidak menyukainya.
"Masih, Ma." jawab Grace dengan sopan menarik tangannya kembali karena tidak ada balasan dari Anita.
Terdengar Anita menghela napasnya berat. "Ayo masuk Rey, Mama mau makan malam di apartemen kalian." ucapnya merangkul lengan putranya tanpa mempedulikan Grace yang berjalan di belakang mereka.
Sesampainya di apartemen, Grace menatap ke sekitar apartemen mereka. Tidak ada yang spesial di apartemen tersebut. Hal-hal yang wanita itu bayangkan tadi berupa pesta kecil untuk merayakan hari pernikahan mereka tampaknya tidak ada dipersiapkan oleh Sang Suami. Membuat Grace yakin kalau Rey melupakan hari jadi mereka. Lelaki itu hanya langsung masuk ke kamar dan meninggalkan dia beserta dengan Mamanya.
"Kamu mau masak apa hari ini Grace?" tanya Anita tiba-tiba menatap Grace dengan penuh selidik.
Grace yang ditanya seperti itu pun menjawab dengan gugup. Dia tidak berencana untuk memasak malam ini, yang dia pikir mereka berdua menghabiskan malam bersama dengan romantis. Tetapi hal itu salah sama sekali.
"Eh... Grace belum berbelanja, Ma." ucapnya kaku menundukkan kepala.
Anita berdecak sekilas, "Kamu itu bagaimana sih Grace, kan sudah beberapa kali Mama saranin Kamu supaya bisa bagi waktu di kantor dengan di rumah." Anita berjalan menuju kulkas dan melihat kalau ada beberapa bahan yang bisa di masak oleh mereka untuk makan malam.
"Kalau kalian berdua makan di luar terus, itu nggak sehat Grace. Jangan-jangan kalian sering makan di luar ya?" tanya Nita dengan sinis sambil mengeluarkan bahan makanan dari kulkas.
"Eh.... nggak kok Ma. Kebetulan hari ini memang aku lupa untuk belanja." jawab Grace mendekati Anita untuk membantu wanita paruh baya itu memasak.
"Kamu sebaiknya resign dari kantor kamu deh Grace, biar kamu fokus sama pernikahan kalian. Mama juga yakin kalau kamu fokus dengan pernikahan kamu, kalian pasti segera dapat keturunan. Ini udah setahun dan kamu belum hamil juga. Sebaiknya kamu fokus sama rumah tangga kamu bukan sama pekerjaaan lagi " ucap Anita yang tidak mempedulikan perasaan Grace yang tersakiti mendengar kata-kata tersebut.
"Iya, Ma. Grace akan pikirkan." jawab Grace dengan nada yang penuh penyesalan.
Acara masak memasak sampai makan malam pun, hanya Anita dan Rey yang berbicara. Grace lebih banyak terdiam, memikirkan apa yang diucapkan oleh Anita dan lebih memilih menghiraukan anak dan ibu tersebut berbincang ini dan itu.
Saat Anita pulang pun, Grace masih diam. Wanita itu langsung membaringkan dirinya di atas kasur. Melihat gelagat Sang Suami yang nampaknya bersikap biasa dan santai-santai saja. Grace semakin yakin kalau Rey melupakan hari pernikahan mereka.
Setelah mengantarkan kepulangan Anita, Rey langsung mengikuti jejak Sang Istri untuk tidur guna mengistirahatkan tubuhnya. Selain karena seharian bekerja dia juga capek dengan proyek yang lelaki itu urus akhir-akhir ini.
"Sudah mau tidur?" tanya Grace ketika melihat Rey menaiki ranjang dan bergabung bersama dirinya.
Rey menganggukkan kepala tanda membenarkan. Kemudian menarik wanita itu untuk bisa dia peluk.
"Kak?" tanya Grace mendongakkan wajah menatap suaminya.
"hm."
"Kamu tahu ini hari apa?" tanya Grace memastikan.
Sejenak Rey menghembuskan napasnya kasar, "Hari kamis." ucapnya santai masih memejamkan mata.
Grace terdiam, memang benar kalau Rey melupakan hari penting mereka berdua.
"Kenapa?" Rey balik bertanya.
"Nggak ada." jawab Grace singkat ada sedikit nada kecewa terdengar dari jawabannya.
"Hm.. tidurlah." kata Rey dengan polosnya tanpa tahu perasaan Sang Istri yang ingin menangis.
Selanjutnya