
Sore itu sepulang dari kantor, Grace berbelanja kebutuhan mereka terlebih dahulu. Mengingat kata Mertuanya kemarin yang harus pintar berbagi waktu dan mengurus rumah tangga. Grace akan belajar lebih sungguh lagi bagaimana untuk membagi waktu pekerjaannya di kantor dan di rumah.
Untuk masalah anak, dia sudah memutuskan untuk segera konsultasi dengan dokter kandungan. Apa yang menjadi penyebab mereka belum mendapatkan seorang anak.
Di saat tengah sibuk memilih sayuran yang akan dia beli, Grace mendengar handphonenya berbunyi tanda panggilan masuk. Dia mendapati ternyata Suami tercinta yang menelponnya di sore begini.
"Halo, Kak."
"Kamu dimana?" jawab Rey di ujung telfon seberang sana.
"Aku di supermarket depan apartemen, belanja kebutuhan kita." jawab Grace sambil menempelkan handphone di telinganya kemudian mengapit dengan bahunya.
"Ohh... Aku tunggu di rumah."
"Loh, Kamu sudah di rumah? tumben cepat banget sampainya?" tanya Grace memasukkan barang belanjaannya ke dalam troli belanja.
"Iya.. tadi Mama datang ke kantor dan pulang bareng aku." jawab Rey.
"Berarti sekarang Kamu sudah di rumah bareng Mama?" tanya Grace memastikan.
"Hm. Kamu hati-hati di jalan."
"Iya, Kak. Kamu mau nitip sesuatu? mumpung aku lagi di supermarket.?" tanya Grace yang belum mematikan sambungan telepon.
"Nggak ada. Kamu hati-hati aja di jalan." jawab Sang Suami.
"Iya."
"Aku tutup telfonnya."
"Iya." Grace menyudahi acara belanjanya hari ini. Wanita itu segera bergegas untuk kembali pulang ke apartemen mereka.
Sungkan dengan kedatangan mertuanya yang akhir-akhir ini lebih sering mengunjungi mereka. Grace bisa memaklumi mertuanya yang selalu datang tiba-tiba tersebut. Mertuanya mungkin merasa rindu dengan putra sulungnya dan ingin memastikan bahwa keperluan putranya terpenuhi dan baik-baik saja.
Sesampainya di apartemen mereka, Grace bisa melihat Anita sudah memasak di dapur ditemani oleh Rey, Suaminya.
Setelah mengucapkan salam, Grace langsung bergegas membantu Sang Mertua yang tidak banyak bicara. Namun raut wajah wanita itu jelas sekali merasa tidak suka dengan kehadiran Grace di dekatnya.
"Mau masak apa, Ma?" tanya Grace berbasa-basi namun tidak mendapat tanggapan dari Anita yang sibuk memotong sayuran.
"Katanya Mama mau masak, Sop Ayam." bukan Anita yang menjawab melainkan Rey yang menjawab di sebelah wanita paruh baya itu. Dia cukup menyadari kalau akhir-akhir ini Mamanya tidak menyukai Grace.
"Grace bantu ya, Ma." jawab Grace yang sudah mengambil wadah dan keperluan lainnya. Sementara Rey sudah meninggalkan mereka berdua di dapur dan memilih masuk ke ruang kerjanya.
Anita dan Grace tidak banyak berbicara selama acara memasak tersebut. Grace yang semakin tidak enak dengan tingkah laku mertuanya itu hanya bisa bersabar saja dan tidak ingin banyak bicara. Daripada kena omel pikirnya dalam hati.
"Mama kesini untuk masak makanan kesukaan Rey. Takutnya kamu tidak belanja seperti kemarin dan kalian makan di luar. Kan kasihan anak Mama." ucap wanita itu tiba-tiba saat mereka sudah lama terdiam.
"Iya, Ma. Tadi Grace barusan belanja, makanya telat pulang ke rumah " jawab Grace menundukkan pandangannya tidak berani menatap Anita. Dia cukup takut dengan kegalakan Anita terhadapnya akhir-akhir ini.
Selama dari kecil hingga sekarang, Grace baru mengetahui kalau Sang Mertua mempunyai lidah yang tajam dan omongan yang pedas menurutnya. Jadi sebagai menantu dia hanya bisa menuruti apa kata Anita dan banyak memilih diam saja.
"Berarti kamu masak setelah pulang dari kantor?" tanya Anita dan mendapat anggukan dari Grace.
"Iya, Ma." jawab Grace membenarkan.
"Ck, Kamu itu tidak tahu apa Grace sejak dulu Rey sudah terbiasa makan di jam 7 kurang sedikit. Kenapa semenjak menikah jadwal makan dia jadi berantakan begitu sih." Anita berdecak kesal. Entah kenapa setiap melihat Grace, menantunya itu dia selalu tidak suka. Setiap apapun yang dilakukan oleh Grace selalu salah di hadapannya.
"Sudah, kamu atur saja meja makannya. Ini juga sudah selesai kok." ucap Anita masih dengan nada ketusnya pada Grace yang berada di sebelahnya.
"Iya, Ma." Grace ingin menangis mengucapkannya. Mungkin karena dia tidak pernah mendapat perhatian dari sosok seorang Ibu sedari kecil, membuatnya tidak mengetahui bagaimana caranya untuk meluluhkan hati mertuanya ini.
Dia juga butuh sandaran, dan butuh di dengarkan. Bukan hanya omelan dan sikap ketus tersebut yang harus dia hadapi setiap berjumpa dengan Anita, terkadang Grace juga ingin curhat dengan mertuanya. Tetapi apa mau di kata, selalu mendapatkan sikap seperti itu Grace mengurungkan niatnya untuk berbicara banyak tehadap Anita dan memilih untuk memendamnya saja di dalam hati. Dia cukup sadar dan tahu diri kalau Sang Mertua tidak menyukainya.
Bagaimana mungkin dia bisa berbicara lebih ketika orang tersebut tidak menyukai kita?
****
Saat makan malam di antara mereka bertiga hanya Anita dan Rey yang berbicara. Grace pun hanya diam dan memperhatikan saja obrolan ibu dan anak tersebut. Dia lebih sibuk menghabiskan makan malam khusus yang di buat oleh Sang Mertua untuk mereka.
Selesai makan malam, Anita membiarkan menantunya itu untuk mencuci piring sendiri kemudian memilih masuk di ruangan kerja Rey hendak membicarakan sesuatu.
"Mama mau bicara Rey." ucap Anita yang sudah duduk berhadapan di kursi yang diduduki oleh putranya.
Rey menatap Mamanya sejenak. "Mau bicara apa, Ma?" tanyanya.
"Apa sebaiknya kalian cek ke dokter kandungan?" saran Anita kepada Rey.
Rey berdecak malas membicarakan hal tersebut, "Mama bicara apa sih, Rey tidak mengerti." jawab Rey mengalihkan pandangannya ke arah komputer. Berpura-pura sibuk dengan pekerjaan miliknya.
"Kamu tidak usah berpura-pura seperti itu deh. Mama yakin kamu paham." jawab Anita.
"Rey kalau orang tua bicara itu diperhatikan." kata Anita lagi ketika Rey tidak menggubrisnya.
"Iya..... Rey mengerti kok, Ma." jawab Rey akhirnya.
"Ma, kami sudah bahagia kok. Untuk masalah keturunan kami juga masih merasa santai. Kami masih muda, Ma. Kalau kami sudah di beri kepercayaan, Mama pasti akan segera dapat cucu. Kita bersabar saja ya Ma " jawab Rey panjang lebar.
Anita menghembuskan napasnya kasar. "Mama yakin Rey, kalian belum mendapatkan seorang anak karena kalian sama-sama sibuk. Kamu sebagai kepala rumah tangga harusnya bisa tegas dong sama Istri kamu. Kamu suruh aja dia keluar dari perusahaan dan fokus sama pernikahan kalian. Pasti kalian segera diberi kepercayaan, Mama yakin deh." ucap Anita menyandarkan tubuhnya di kursi sambil tangan bersedekap di dada.
"Rey tahu juga mendapat keturunan karena usaha Ma. Tapi itu juga kehendak Tuhan. Mama nggak usah lebih-lebihin deh. Kalau Grace dengar kan dia bisa kepikiran dan stress, Ma." jawab Rey yang membela istrinya.
"Mama udah nggak peduli Rey, pokoknya kamu harus larang istri kamu itu bekerja lagi. Dia harus fokus pada pernikahan kalian. Rata-rata semua wanita banyak kok yang menjadi ibu rumah tangga. Kamu lihat nih Mama, semenjak menikah dengan Papa kamu, Mama nggak pernah lagi bekerja dan sibuk mengurus kalian." ucap Nita tidak mau kalah beradu pendapat dengan Rey.
Rey memalingkan wajahnya ke sembarang arah, "Sudahlah Ma, itu bisa dipikirkan nanti." jawabnya.
"Kalau dipikirkan terus yang ada malah nggak jadi Rey, kamunya dong yang harus tegas dengan Grace. Jangan diturutin terus istri kamu itu." Nita masih ketus mengucapkannya.
Sejenak Rey hanya terdiam mendengarkan ucapan Anita, dia juga bingung harus bagaimana menghadapi orangtuanya ini.
"Tahu begini, Mama menyesal Rey sudah setuju menikahkan Kamu dengan dia. Sudah manja tidak tahu memasak terus nggak bisa urus rumah tangga kalian. Wajar sih, Mama mengerti selama ini kan dia nggak punya ibu jadi nggak pernah diajarin bagaimana caranya mengurus ini dan itu." ucap Anita sambil berdecak membicarakan menantunya.
Mereka berdua tidak menyadari sosok yang mereka bicarakan berdiri di sudut tembok sambil membekap mulutnya supaya tidak terdengar tangisan dia menangis dan air mata yang sedari tadi bergulir telah membasahi pipinya mendengar hal yang di ucapkan mertuanya.
Selanjutnya