Grace

Grace
Kamu harus bahagia



Pagi itu Rey membawa Istrinya untuk berkunjung ke rumah Anita serta memberitakan kabar bahagia yang sebentar lagi akan hadir di dalam pernikahan mereka.


Grace yang sedari tadi merasa takut untuk bertemu Anita, memasang wajah yang memelas pada Rey, supaya tidak bertemu dengan Mertua judesnya itu.


Saat ini mereka tengah di dalam perjalanan menuju rumah Anita dan Farhan. Rey yang mengemudikan mobil sementara tangan satunya lagi sibuk menggenggam tangan Grace yang berada di sebelahnya dengan wajah yang ditekuk malas.


"Kamu kenapa?" tanya Rey sambil menggenggam tangan Istrinya karena menyadari Grace gelisah dan merasa tidak nyaman di sepanjang perjalanan.


Grace hanya menggelengkan kepalanya saja, "Aku di rumah aja ya, Kak." Pintanya merasa malas untuk berkunjung.


Wanita itu lebih takut menghadapi kejudesan ibu mertua daripada menghadapi getirnya kehidupan.


"Kamu takut?" tanya Rey lagi memastikan.


Tidak ada jawaban terdengar dari Grace, dia sibuk menghela napasnya saja sambil memikirkan jawaban apa yang lebih tepatnya dia berikan pada Suaminya itu.


"Bukan," jawabnya.


"Jadi?"


"Aku cuma nggak mau berkunjung aja ke rumah Mama. Secara kan Mama benci sama Aku." Terangnya dengan jujur, biarlah Suaminya itu tahu bagaimana hubungan Menantu dan Mertua tersebut.


"Mama nggak benci Kamu sayang," Rey memberi pengertian pada Grace supaya tidak terlalu membenci Anita.


"Kamu tahu apa sih, Kak. Feeling seorang wanita itu lebih kuat tahu daripada laki-laki." Grace membela dirinya sendiri, mengingat perlakuan Anita terhadap dirinya beberapa bulan ke belakang. Membuat Grace yakin kalau Sang Mertua sangat membencinya.


"Ya tahulah, Kan dia Mama Aku." Rey mengelus dengan lembut rambut Istrinya itu supaya menenangkan.


Grace berdecak malas, pastilah seorang Ibu sangat menyayangi anak kandungnya sendiri tanpa alasan. Pikir Grace dalam hati.


"Nanti biar Aku sendiri yang bilang sama Papa dan Mama kabar bahagia ini. Kamu diam aja." Kata Rey lagi memahami kondisi hati Ibu hamil tersebut.


"Emang rencananya Aku banyak diam kok nanti. Malas berdebat sama Mama Kamu." Ucap Grace mengerucutkan bibirnya.


Hagh, membayangkan raut wajah Anita yang tidak ada manis-manisnya saat bertatapan dengan Grace. Membuat dirinya semakin kesal kalau mengingat tingkah laku mertuanya itu.


Apalagi ketika Anita memberi surat cerai padanya dan mengatakan kalau seharusnya Grace lah yang mengalah untuk meninggalkan putranya. Dan dia akan memilihkan wanita yang terbaik untuk Rey nanti saat Grace meninggalkan putra kesayangannya tersebut.


"Sudah jangan cemberut gitu dong. Kamu harus bahagia biar dedek bayi juga bahagia." Kata Sang Suami yang kini mendaratkan telapak tangannya ke perut Grace.


Perkataan Rey ada benarnya juga, Grace harus membuat suasana hatinya sebaik mungkin supaya calon anak mereka juga bahagia tumbuh kembangnya di dalam perut.


"Iya," Grace menjawab dengan senyum yang menampilkan wajah ceria.


Apapun nanti reaksi dari mertuanya, Grace tetap akan menerima. Meskipun Anita kelak tidak akan menyukai dirinya hamil.


Grace percaya, suatu saat hati Anita pasti akan luluh juga dan mau menerima dirinya apa adanya.


Buktinya si Pria dingin dan cuek yang berada di sampingnya ini sekarang, bisa menerima Grace seutuhnya menjadi seorang Istri.


Padahal dulu hubungan mereka berdua kalau di ingat-ingat tidak ada manis-manisnya maupun romantis. Rey juga dulu berinisiatif akan meninggalkan Grace. Tetapi sekarang Pria itu tidak meninggalkan Grace dan berusaha untuk tetap mempertahankan rumah tangga mereka.


Grace merasa bersyukur bisa melabuhkan hatinya untuk seorang pria yang sudah menemani dirinya ini sejak kecil.


***


***


Sesampainya di rumah Farhan dan Anita. Rey selalu sibuk menggenggam tangan Grace seperti mengatakan pada Istrinya itu kalau dia akan benar benar selalu berada di sampingnya.


Setelah mengucapkan salam dan disambut oleh Laura yang tengah bermalas-malasan di ruang tengah.


Kini Rey duduk di sofa ruang tamu sambil menghela Istrinya untuk ikut juga duduk bersamanya.


"Papa dan Mama mana, Dek?" tanya Rey ketika sudah duduk di sofa dan Grace di sebelah lelaki itu.


Laura yang tengah asik menatap handphone miliknya kini menatap sepasang suami-istri tersebut.


"Papa lagi di ruang kerja, kalau Mama seperti biasa lagi di taman belakang." Ujar Laura dengan menatap Grace.


Mendengar penuturan dari adiknya tersebut, Rey segera menuju ke ruang kerja Farhan dan meminta Asisten rumah tangga mereka untuk memanggil Anita, untuk mengabarkan kalau mereka sedang berkunjung.


"Apa kabar, Mbak? Lama nggak main ke sini?" tanya Laura yang tertuju pada Grace. Karena memang wanita itu sudah sangat jarang berkunjung kalau Rey pun tidak mengajaknya.


"Baik Lau. Iya, beberapa Minggu ini sibuk sama pekerjaaan." Jawab Grace dengan senyuman ke arah Laura.


Laura hanya manggut-manggut saja tanda mengerti, "Sering main kesini dong, Mbak. Kalau weekend begini Gue sama Mama kesepian dirumah." tuturnya.


"Iya, entar Gue usahain. Lagian juga Gue udah resign dari kantor. Jadi banyak waktu luang." Jawab Grace.


"Beneran Lo, resign Mbak?" Laura terkejut mendengar ucapan Grace.


"Iya. Memang kenapa?" tanya Grace mengerutkan dahinya bingung.


"Sayang banget Mbak. Terus ngapain dong sendiri tiap hari di rumah?" tanya Laura lagi karena menyayangkan keputusan Grace tersebut.


Grace terkekeh, " Ya nggak ngapa-ngapain sih Lau. Terkadang bosan juga tapi karena si kecil sudah mau ada, Gue pasti nggak akan bosan." Grace mengatakan hal tersebut dengan penuh makna dan raut wajah yang sangat bahagia.


Sejenak Laura bingung dengan ungkapan tersebut. Terbukti dari alisnya yang naik sebelah untuk mencerna perkataan dari Grace.


"Maksudnya gimana Mbak? si kecil siapa?" tanyanya masih belum paham.


Grace mengusap perutnya dengan lembut, "Sebentar lagi Lo punya keponakan." Jawab Grace dengan girang pada Laura.


Ya, adik iparnya ini memang sangat mudah untuk di ajak mengobrol dari sejak mereka kecil, Grace selalu menyukai sifat Laura yang periang dan humble.


"Seriusan?" tanya Laura, masih terkejut dengan berita yang dia dengar. Seolah-olah berita tersebut sudah dia nanti-nanti.


Grace menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan tersebut.


Laura pun menghambur ke arah Grace dan duduk di sebelah Kakak Iparnya tersebut.


Saking semangatnya, Laura tidak sadar kalau dia sedang mengelus perut Grace dengan lembut.


"Bentar lagi Gue punya ponakan Mbak?" tanyanya seperti belum percaya.


"Iya, Lau. Udah jalan 10 Minggu." Timpal Grace lagi.


Laura terkekeh sambil memeluk Grace.


"Ya ampun, Mbak. Selamat Ya. Semoga Lo dan calon keponakan Gue, sehat terus." Ucap Laura dengan tulus.


"Amin. Thankyou doanya." Kata Grace membalas pelukan dari adik iparnya itu.


"Gue senang banget dengernya, Mbak. Pasti Papa dan Mama juga senang banget denger kabar bahagia ini." Ucap Laura dengan Terharu. Akhirnya sebentar lagi dia akan punya keponakan.


Dengan lembut Laura, mengelus kembali perut Grace.


"Sehat-sehat ya ponakan, Aunty. Nanti kalau Kamu udah lahir, Aunty beliin apapun yang Kamu mau." kata Laura lagi sambil berbicara dengan keponakannya tersebut.


Sementara Grace hanya terkekeh dengan geli, mendengar penuturan dari Laura.


"Mama dan Papa belum tahu kabar ini, Lau. Biar Kak Rey yang memberi tahu ya." Ungkap Grace dan mendapat anggukan dari Laura tanda memaklumi.


"Iya, Mbak. Gue juga ngerti kok." Ucapnya masih mengelus lembut perut Grace. Seperti tidak sabar kalau sebentar lagi dia akan menjadi seorang Tante.


Emang kabar Apa?" tanya seseorang yang suaranya sangat familiar di telinga Grace.


"Kabar apa yang tidak Saya ketahui?" tanya orang itu lagi dengan judesnya sambil ikut duduk di sofa.


Grace menatap wanita itu sebentar, lalu menundukkan kepala.


Masih takut dengan reaksi wanita tersebut.


Ya, Orang itu tak lain adalah Anita. Mertua Grace.


*


*


*