Grace

Grace
Sasa, Wanita centil



"Siapa Kak? Mama ya?" tanya Grace saat Suaminya itu kembali meletakkan handphone di atas meja.


Rey membenarkan dengan menganggukkan kepala, "Hm... Lusa Aku mau berangkat ke Bandung. Kamu aku tinggal di rumah Ayah ya." Sambil berkata seperti itu, Rey membersihkan sisa makanan di sudut bibir Grace.


"Ada proyek baru?" tanya Grace, ada sedikit ketidakrelaan di hatinya kalau dia akan ditinggal pergi oleh Sang Suami.


"Iya, cabang yang kemarin di Bandung belum selesai." Ucap Pria itu lagi.


"Kamu menginap disana?" Grace masih bertanya seolah belum puas dengan informasi yang barusan dia terima.


"Sepertinya, tergantung pekerjaan Aku disana nantinya akan bagaimana." Jawab Rey kemudian menatap Grace supaya Istrinya itu mau ditinggal sebentar.


"Nggak apa-apa kan? Kamu di rumah Ayah Aku titipkan?" kata Rey lagi


Grace mengerucutkan bibirnya setelah mendengar ucapan dari Rey barusan.


"Emangnya Aku anak kecil pakai dititipkan segala." Jawabnya dengan judes.


Rey tertawa kecil sambil mengacak rambut Wanitanya itu. Merasa gemas melihat tingkah laku ibu hamil tersebut.


"Sering kasih kabar Kak. Kamu tuh kalau sibuk banget suka lupa kalau punya Istri " Grace menyindir kebiasaan Rey beberapa Minggu yang lalu.


"Iya, Sayang." Ucap Rey yang mulai bergegas ingin berangkat ke kantor.


"Kamu mau berangkat?" tanya Grace mengikuti Rey yang sudah berdiri. Wanita itu masih ingin berlama-lama melihat Sang Suami.


"Ya iyalah, kan Aku harus kerja. Cari duit yang banyak. Biar Kamu bisa belanja sepuasnya." Jawabnya dengan tertawa bercanda.


Grace berdecak malas, "Aku tuh nggak hobby belanja tau," Grace memukul dada Rey dengan pelan. Menginterupsi perkataan Suaminya barusan.


"Jadi apa namanya kalau dulu sering banget ke mall ?" tanya Rey menautkan alis.


"Ke mall itu bukan belanja doang Kak. Aku ke salon juga sekalian." Ucap Grace memberitahu dan hanya dibalas anggukan kepala dari Rey.


"Ya udah Aku berangkat. Kamu hati-hati di rumah." Rey mencium bibir Istrinya itu. Ritualnya ketika sebelum berangkat ke kantor.


"Iya, Kamu yang semangat kerjanya. Cari duit yang banyak." Jawab Grace yang membalas ciuman di pipi Rey.


"Hm." kata Rey yang hendak melangkahkan kaki ke depan pintu.


"Jangan lupa, sabtu ini acara pertunangan Wenny, Kak." Ucap Grace yang mengingatkan acara pertunangan dari sahabatnya itu.


"Iya," Jawab Rey sambil memakai sepatu kantor miliknya.


"Aku pulang nanti, mau titip sesuatu?" tanya Rey yang mengingat kebiasaan Grace akhir-akhir ini suka meminta makan dengan mendadak.


Grace menggelengkan kepalanya, "Aku masih kenyang." Ucapnya.


"Ya udah kalau ada apa-apa, telfon Aku ya." Rey mengelus perut Sang Istri yang belum kelihatan membuncit.


"Iya."


"Jangan nakal."


"Iya. Kamu ini berhenti deh perlakuin Aku kayak anak kecil." Grace menggerutu.


Sementara itu Sang Suami malah tertawa dengan senang karena menggoda Sang Istri di pagi hari.


"Ya udah Aku berangkat ya." ucap Rey berpamitan.


"Kamu hati-hati nyetirnya." Jawab Grace sebelum Pria itu berlalu untuk berangkat ke kantor.


Sebenarnya Grace ingin sekali hari ini berduaan dengan Sang Suami. Tetapi apa mau dikata rutinitas sehari-hari ditambah pekerjaan Rey yang sangat menumpuk di setiap harinya. Membuat Grace harus memaklumi Suaminya itu.


Bagaimana pun juga, Rey punya jabatan yang sangat penting di perusahaannya. Grace tidak boleh egois menginginkan Rey untuk selalu berada di sampingnya terus.


***


***


Sesampainya di kantor, Rey melihat kalau Pak Herlambang bersama putrinya Sasa sudah menunggu di ruang rapat. Tak lupa Anita dan Farhan yang berada di samping mereka, membahas mengenai proyek dan segala macamnya.


"Eh Rey, Kamu sudah sampai Nak." Adalah Farhan yang menyapa putranya itu ketika melihat Rey sudah berada di depan pintu ruang rapat.


"Hanya linu biasa Rey, efek sudah tua." Jawab Farhan dan mendapat tertawa ejekan dari Herlambang.


"Di umur kita yang sudah tua seperti ini, sepertinya harus meminum susu agar tulang tidak mudah keropos." Canda Herlambang pada Farhan saat ini.


"Iya sepertinya faktor umur tidak boleh kita sepelekan." balas Farhan kemudian.


Sementara itu, Rey dan yang lainnya hanya menanggapi dengan senyum saja. Bersikap sopan kepada pimpinan perusahaan tersebut.


"Oh iya Nak Rey. Kebetulan karena saya tidak bisa menghadiri peresmian cabang di Bandung. Saya akan mengutus Sasa kesana untuk menggantikan kehadiran Saya." Ucap Herlambang memberitahukan kondisinya yang tidak bisa menghadiri peresmian.


"Tidak apa-apa Om, Saya mengerti." Jawab Rey dengan tersenyum simpul.


"Maafkan Papa juga Nak. Kesehatan Papa juga lagi tidak baik, sebaiknya kamu saja yang berangkat." Timpal Farhan.


Rey hanya menganggukkan kepalanya saja, "Bagaimana kalau rekan Saya, Alan yang mendampingi Sasa disana?" usul Rey yang masih enggan untuk berangkat bersama Sasa.


Ketiga orang tua itupun hanya memandang satu sama lain, "Saya setuju saja," jawab Herlambang yang mengikuti keputusan Rey.


"Baik Om,"


"Bagaimana Pa?" tanya Rey lagi meminta persetujuan Farhan.


Tampak Farhan berpikir sejenak sebelum kemudian mengutarakan, "Papa setuju, Alan juga pekerjaannya selalu teliti dan memuaskan Papa lihat." Kata Farhan yang menyetujui usul Rey.


Akhirnya Rey tersenyum dengan lega, "Baiklah Saya akan infokan kepada Alan agar dia saja yang berangkat....."


"Tunggu," dengan tiba-tiba Sasa yang sedari tadi diam saja, menyela ucapan dari Rey.


"Kalau Alan yang berangkat, Sasa nggak ikut Pa." Tegasnya kepada Herlambang.


"Loh kenapa, Sa?" tanya Herlambang dengan menautkan alisnya bingung melihat tingkah laku putrinya ini.


"Sasa nggak kenal Alan, Pa. Kalau Sasa bersama Alan disana yang ada nanti Sasa canggung, mending sama Mas Rey saja." Jawabnya dengan tegas seperti tidak ingin dibantah.


"Alan juga orangnya mudah beradaptasi, Sa." Ucap Rey karena tidak suka dengan keputusan wanita itu.


"Iya dia gampang untuk beradaptasi, kalau Sasa nggak gampang Mas untuk beradaptasi disana. Malah nggak ada lagi yang Sasa kenal nantinya." Jawab Sasa, kali ini dengan bahasa yang sedikit centil dan dibuat-buat.


Sejenak Rey menghela napasnya dengan kasar, pria itu belum menjawab ucapan dari Sasa barusan kepadanya.


Sasa yang merasa kalau Rey akan mempunyai seribu satu alasan untuk menolaknya kembali, wanita itu kemudian mengancam dengan jurus andalannya.


"Kalau Mas Rey nggak ikut. Sasa juga nggak akan hadir disana. Biar Alan saja yang hadir." Putusnya.


"Loh jangan begitu, Sa. Pihak dari Papa juga harus hadir di acara tersebut." Sambung Herlambang kemudian tidak setuju dengan keputusan putrinya itu.


"Terserah sama Mas Rey sekarang. Kalau Mas Rey nggak ikut, Sasa juga nggak akan ikut." Dengan nada yang dibuat-buat manja dan centil. Ingin sekali Rey memakinya. Tetapi pria itu hanya bisa memaki di dalam hati.


"Nak?" Kali ini Anita yang membuka suara.


"Sudah turuti saja permintaan Sasa. Toh kalian disana hanya beberapa hari." Ucapnya lagi.


"Tapi, Ma...." Ada keraguan dalam diri Rey untuk meninggalkan Istrinya nanti.


"Sudahlah Rey, ikuti saja." Ucap Farhan tiba-tiba, yang membuat Rey akhirnya menundukkan kepala bingung.


"Bagaimana Mas?" tanya si Wanita centil.


Rey diam belum menjawab, nampak masih berpikir dan menimbang.


"Ya sudah. Saya dan Sasa yang akan berangkat." Desahnya dengan napas yang berat karena keputusan tersebut.


Mendengar hal itu pun, terbit senyuman langsung dibibir Sasa.... si wanita centil.


**


**


**


"