
Halo Readers Sayang....
Kalau di beberapa chapter sebelumnya, Author selalu kasih konflik terus cepet selesai konfliknya di chapter itu juga. Tapi kalau di chapter ke depannya beda ya, mungkin konfliknya agak panjang dan buat kalian gemas serta menimbulkan darah tinggi membacanya. Siapkan tisu dan batu pokoknya hahahahaha.
Alurnya di ikutin aja ya Say, jangan lupa Vote, like dan comment yang kenceng. Biar Author semangat Up tiap harinya. Untuk selesaikan karya ini.
Happy Reading Kesayangan..
*****
Saat pagi hari pun tiba, Rey duluan terbangun. Lelaki itu melihat jam dinding yang menunjukkan sudah pukul enam pagi. Tumben sekali istrinya ini masih tidur dan belum bangun. Biasanya wanita itu akan berteriak dari dapur untuk membangunkan Rey agar segera mandi supaya tidak terlambat ke kantor kemudian menyiapkan sarapan mereka berdua.
Kenapa, sekarang justru dirinya yang duluan terbangun?
"Grace?" Rey memindahkan kepala istrinya ke atas bantal karena sejak semalaman wanita itu memeluk dirinya erat sekali dan tidak terlepaskan.
Rey yang sambil meregangkan tubuh dan otot-ototnya, melihat istrinya belum ada tanda-tanda untuk bangun terlintas ide jahil di otaknya untuk membangunkan Sang Istri yang masih terlelap, sekilas Rey bisa melihat wajah Istrinya itu kecapekan. Melihat wajah Grace yang seperti itu, Rey mengurungkan niatnya. Tidak jadi mengganggu Grace dan membiarkan wanita itu terbangun dengan sendirinya.
Rey kemudian mandi dan bergegas untuk menyiapkan sarapan buat mereka berdua. Sekali-kali tidak ada salahnya kalau dia yang menyiapkan sarapan bukan?. Pria itu kini bisa mengerti bagaimana sibuknya Sang Istri membagi waktu di kantor kemudian harus memasak makan malam untuk mereka. Mengurus keperluan rumah tangga yang mereka butuhkan sehari-harinya. Rey benar-benar menyadari kalau Grace adalah sosok wanita yang tangguh di balik sifat manjanya.
"Kak?" panggilan itu membuat Rey tersadar dari lamunannya ketika dia membuat sarapan untuk mereka berdua.
"Maaf, aku terlambat bangun." kata Sang Istri dengan nada penuh penyesalan. "Sini Aku bantuin. Kamu buat apa?" tanyanya lagi.
Rey mengacak rambut istrinya yang sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari walau wanita itu selalu marah memperlakukan dia seperti anak kecil.
"Nggak apa-apa, tadi kamu tidurnya pulas banget. Mandi sana, Aku tungguin kamu di meja makan." jawab Rey yang sudah menyelesaikan sarapan ala kadarnya.
Grace kini mengetahui apa yang dibuat oleh Rey, sandwich dengan isian telur di pagi hari.
"Kamu buat sandwich ya?" tanyanya melihat roti berlapis telur tersebut.
"Hm.. aku langsung terpikir buat begini waktu lihat telur sama roti di kulkas." ucap Rey menjelaskan.
"Terima kasih, Suamiku." Grace mencium pipi Rey sebelah kanan untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya pada pria itu.
Rey terkekeh, "Mandi sana." ucapnya kemudian dan mendapat jawaban iya dari istrinya yang sudah berlalu menuju kamar mandi.
Sarapan di pagi hari pun selesai, kini Grace tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor menggunakan mobil pribadinya. Berhubung kemarin Rey mengantar jemput dia ke kantor, sekarang mereka berdua berangkat ke kantor masing-masing.
Sampai di parkiran apartment, Grace mencium tangan dan pipi Rey untuk berpamitan. "Kamu hati-hati nyetirnya. Cari duit yang banyak ya, Suamiku. Biar Aku bisa ke salon dan belanja sepuasnya. Soalnya Istrimu ini materialistis hehehhe." Grace menyengir sebelum berpamitan pada Rey.
Rey tertawa dengan lepas mendengar pengakuan matre dari istrinya, pria itu kemudian mendesak Grace sampai tubuhnya membentur mobil dan tidak bisa kemana-mana.
"Mau apa sih? hm?" tanya Grace mengusap dagu Sang Suami yang sudah menunjukkan gelagat yang aneh pada dirinya.
Rey tertawa dengan mesum, kemudian mengurung wanita itu menggunakan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri.
****
Grace yang merasa ciuman dari Rey semakin menuntut, mendorong pria itu dan melepasakan tautan mereka. Menyadari kalau mereka sudah berciuman di parkir mobil apartemen dan bisa di lihat oleh banyak orang.
Rey tampak mengatur napasnya, "Maaf aku nggak lihat tempat." ucapnya masih tertawa dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.
Grace menganggukkan kepala, membersihkan bekas lipstiknya yang tertinggal di sudut bibir lelaki itu akibat perbuatan mereka tadi. "Iya, lain kali kalau mau cium di apartemen dulu. Jangan disini malu, Kak." jawabnya sambil mengusap ujung bibir Rey yang belepotan dengan lipstiknya.
"Sudah bersih, sana masuk ke mobil." usir wanita itu.
"Iya... iya. Wajah kamu juga itu belepotan." tunjuk Rey kemudian mengusap bibir sang istri.
Grace menepis pelan tangan Rey dari wajahnya. "Udah nggak apa-apa, biar aku sendiri yang perbaiki di mobil. Kamu masuk mobil aja sana. Nanti kamu telat lagi." tolaknya mendorong dada pria itu agar bergegas pergi.
"Iya.. Kamu masuk duluan." ucap Sang Suami yang sudah membuka pintu kemudi mobil Grace supaya wanitanya itu masuk terlebih dahulu.
Grace tersenyum senang mendapat perlakuan seperti itu. "Iya. Kamu hati-hati di jalan, Kak." jawabnya sambil masuk dan duduk di kursi kemudi.
Sudah menjadi kebiasaan mereka ketika berangkat terpisah seperti sekarang ini, Rey selalu memastikan terlebih dahulu mobil yang di kendarai Grace keluar dari daerah apartemen, sebelum dia keluar menuju arah yang berlawanan dari jalur istrinya.
****
Di sepanjang perjalanan, Grace memikirkan ucapan dari mertuanya semalam. Wanita itu berpikir keras apakah kalau dia resign nanti dan fokus pada rumah tangganya mereka akan segera diberi keturunan?
Bagaimana dengan Ayah dan Glenn?
Grace menyadari kalau tenaganya sangat dibutuhkan di perusahaan Ayahnya. Melihat kondisi kesehatan Gilang yang terkadang turun dan membaik, membuat Grace tidak tega untuk meninggalkan kantor dan membuat Ayah dan Adiknya bekerja lebih keras sementara dia santai di dalam rumah.
Langkah bagaimana yang harus dia ambil... Grace bingung benar-benar bingung.
Dia yang ingin segera mempunyai anak sementara dia juga tidak tega untuk meninggalkan perusahaan.
"Apa yang harus, Gue lakuin." ucap Grace menyandarkan kepala di setir kemudi ketika mobilnya berada di lampu merah.
Tin... tin.. tin....
Suara klakson mobil di belakang Grace, membuyarkan lamunannya seketika itu juga.
Sesampainya di kantor, Grace masih tampak melamun. Dia merasa dilema, bagaimana dia harus mengungkapkan kepada Ayahnya. Di sisi lain dia juga tidak tega membiarkan Ayahnya bekerja di masa tua seperti ini.
Melihat jam yang berada di ruangannya, Grace meyakini kalau Ayah dan Glenn pasti sudah berada di ruangan milik mereka sendiri.
Grace memberanikan diri untuk ke ruangan Sang Ayah dan mengungkapkan isi hatinya. Siapa tahu Ayahnya punya solusi dan jawaban dari permasalahan yang dia hadapi.
Sesampainya di ruangan Sang Ayah, Grace melihat Glenn juga disana bersama Ayahnya.
"Yah?" sapa Grace ketika memasuki kantor Gilang saat itu.
Gilang pun tersenyum melihat putrinya datang ke ruangannya.
"Iya, Nak. Sini masuklah " jawab Gilang masih sambil tersenyum ke arah Grace.
Grace bergabung dan duduk di sofa yang bersebelahan di duduki oleh Glenn, adiknya.
"Kok muka Ayah pucat banget sih?" tanya Grace khawatir melihat muka Gilang yang memang terlihat pucat.
"Entah, Ayah bersikeras masuk ke kantor hari ini Mbak. Padahal Gue udah larang biar nggak masuk " bukan Gilang yang menjawab melainkan Glenn yang menjawab dengan nada yang putus asa akibat Sang Ayah yang tidak menuruti permintaannya.
"Tidak apa-apa, Grace. Ayah pucat karena memang waktunya harus cuci darah." jawab Gilang yang sudah duduk di sofa berhadapan dengan anak-anaknya.
Grace sontak terkejut, "Loh, kenapa Ayah nggak cuci darah?" tanyanya tidak kalah terkejut.
"Ayah cuci darah besok, Nak. Hari ini kerjaan Ayah lagi banyak. Nanti kalau jam sudah siang Ayah baru pulang ke rumah." kata Gilang menenangkan putrinya.
Seketika itu juga Grace mengembuskan napas lega, mendengar ucapan Ayahnya. Melihat perjuangan Sang Ayah yang masih bekerja di usianya yang sudah tua. Membuat Grace mengurungkan niatnya untuk mengutarakan permasalahannya tadi.
"Kamu tumben, jam segini ke ruangan Ayah, ada apa Grace?" tanya Gilang menatap wajah putrinya.
Grace menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa, Yah. Grace cuma kangen aja sama Ayah." ucapnya sambil berpindah tempat duduk kemudian memeluk Gilang, sebagai tanda cinta Grace pada Ayahnya.
Gilang tersenyum, membalas pelukan Sang Putri yang sudah dia jaga dan didik selama ini.
"Idihh... nggak malu banget Lo, Mbak. Lo udah jadi istri orang masih manja banget." Glenn mengejek tingkah laku kakaknya itu dengan melempar pena ke arahnya.
"Sirik bilang aja, suka-suka Gue dong. Ayah Gue juga. Iya kan Yah?" tanya Grace meminta pembelaan.
"Iya." jawab Gilang seadanya menengahi percakapan anaknya itu.
Grace tertawa dengan senang, " Grace sayang Ayah." ucapnya mengeratkan pelukan mereka dan tidak jadi mengutarakan niatnya yang ingin resign tadi.
Selanjutnya