Grace

Grace
Pertengkaran



Setelah mengatakan hal tersebut, Rey mendengar suara dengkuran halus, Istrinya yang ternyata sudah tertidur duluan.


Rey pun menundukkan pandangannya ke bawah untuk melihat Grace yang sedang dia peluk sekarang.


Wanita itu cepat sekali tertidur, setelah pertengkaran mereka kemarin, Rey tidak akan melepaskan Istrinya ini dengan mudah. Awalnya dia hanya mencoba untuk mengajari Grace sedikit rasa tanggung jawab dan kepercayaan di dalam pernikahan mereka.


Tetapi karena pekerjaannya di akhir-akhir ini yang sangat sibuk, membuat Rey tidak pulang ke rumah dan menjadikan hubungan mereka semakin merenggang.


Hingga dia tidak pernah menyangka, Grace ingin menceraikan dirinya. Wanita yang sudah berpuluh-puluh tahun yang dia jaga selama ini. Tidak akan pernah dengan mudah untuk pergi dari hidupnya, sekecil apapun celah untuk berlari. Rey pasti akan selalu mengejar Grace kemanapun dia pergi.


"Aku tidak akan melepaskanmu," ucapnya semakin mempererat pelukannya.


Sejenak Rey menyadari tubuh Grace yang sepertinya mulai berisi. Terlihat jelas di pipi wanita itu yang kelihatan semakin tembem dan enak untuk digigit.


Tidak tahan ingin menggigit, Rey pun menggigit pipi Grace, namun sepertinya wanita itu masih terlelap dengan pulas dan membiarkan Rey bertindak sesuka hati.


Tidak puas dengan menggigit pipi, Rey pun berpindah ke bibir tipis nan candu tersebut.


Menggigitnya kecil-kecil sehingga membuat hasrat lelakinya bangun untuk melakukan hal yang lebih.


Grace masih menunjukkan tidak ada respon ataupun penolakan, merasa mendapatkan angin segar, Rey pun mulai membuka kancing piyama Istrinya itu satu persatu dan segera melancarkan aksinya.


Merasa seseorang menggerayangi tubuhnya, Grace seketika terbangun. Dia langsung membelalakkan mata karena terkejut mendapati Rey, sudah berada diatasnya dan mereka sudah tidak menggunakan sehelai benang pun.


Rey menatap Istrinya dengan pandangan yang menunjukkan gairah, "Kangen," ucapnya menyembunyikan wajah di ceruk leher Istrinya itu.


"Boleh, ya?" bujuknya menghembuskan nafas yang panas ke leher Grace, membuat wanita itu menjadi kegelian.


Belum sempat menjawab permintaan dari Rey, tiba-tiba saja Rey menciumnya dengan buas dan tergesa-gesa. Puas meneguk manisnya candu dari bibir Grace. Rey melepaskan pertautan bibir mereka, dengan mata yang sudah berkabut.


"Aku anggap iya," kata Rey kemudian menaikkan selimut mereka sampai menutupi tubuh mereka berdua.


Kemudian melanjutkan kegiatan panas di pagi hari yang sangat menyenangkan bagi Rey.


***


"Kamu masih marah?" Rey mengelus rambut Grace saat mereka dalam perjalanan menuju rumah Gilang.


Dengan cepat Grace menghindar dari sentuhan Suaminya itu.


Bagaimana tidak, dengan liciknya Rey menggunakan kesempatan dalam kesempitan ketika dia sedang tertidur tadi pagi. Tanpa adanya penolakan terlebih dahulu, lelaki itu seenaknya saja bertingkah laku tanpa mendengar jawaban dari Istrinya.


"Aku antar ke rumah Ayah dulu ya. Aku hari ini ke kantor dulu, nanti sore mau ke rumah Mama sebentar, malamnya Aku nginap di rumah Ayah," jelas Rey panjang lebar, namun tidak mendapat tanggapan dari Grace yang duduk di sebelahnya.


Sejak kemarin hingga sekarang, Grace masih keras kepala untuk diam dan tidak mau berbicara banyak pada Suaminya itu.


Rey menghembuskan napasnya dengan kasar. "Jawab dong, Grace. Jangan diam begini, Aku kan bingung," kata Rey dengan frustasi.


Grace menoleh sebentar ke arah Rey, "Terserah Kamu, Aku nggak peduli" Grace menjawab dengan ketus dan jutek.


Mendengar jawaban yang ketus itu, membuat Rey mulai emosi dan tidak tahu lagi bagaimana membujuk Istrinya itu. Tiba-tiba lelaki itu menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.


"Kamu maunya apa sih?" Rey berbicara dengan suara meninggi kepada Grace.


Sekilas Grace berjengit ketakutan karena melihat Rey yang mulai marah, padahal yang seharusnya marah kan dia.


"Kan dari awal Aku bilang terserah Kamu," jawab Grace tak kalah emosi.


Hagh, di pagi hari seperti sekarang ini, lagi-lagi pasangan suami istri itu bertengkar di dalam perjalanan.


Rey memijat pangkal hidungnya, "Grace, Aku udah berusaha untuk bujuk Kamu dari kemarin. Aku juga udah minta maaf kan? kenapa sih Kamu masih keras kepala begini?" jawab Rey, memegang setir kuat tanda emosi.


"Ya udah kalau Kamu udah nggak tahan sama tingkah laku Aku, kita cerai saja, selesai!" kata Grace bersedekap dada, membuat emosi Rey semakin naik di ubun-ubun.


Mendengar suara yang emosi dari Rey, membuat Grace gemetar ketakutan. Wanita itu langsung menggenggam tali tas selempang yang dia gunakan.


"Kamu jangan seperti anak-anak deh, cerai... cerai... cerai yang selalu keluar dari kata-kata Kamu." kata Rey lagi dengan geram. Dia sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.


"Ya sudah Kak, Aku nggak apa-apa kalau kita bercerai," jawab Grace dengan menundukkan kepalanya ke bawah.


"Kan udah Aku bilang dari kemarin, Kita nggak akan pernah bercerai. Kamu paham nggak sih?"


"Kamu egois, Kak." jawab Grace sudah berlinang air mata.


"Iya memang Aku egois, terus Kamu mau apa?" tantang Rey lagi, tampak jemari lelaki itu memutih karena menggenggam setir mobil dengan kuat.


"Aku benci sama Kamu," Grace menjawab dengan suara keras, menandakan bahwa dia benar-benar membenci Suaminya itu.


Rey pun tertawa dengan hambar, "Aku baru tahu selama ini Aku menikahi anak kecil." jawabnya. "Kamu memang tidak pernah berubah Grace selalu seperti anak kecil, tidak pernah menyikapi masalah dengan dewasa," ucap Rey.


"Yang Kamu maksud dengan dewasa itu menerima aja gitu diperlakuin seenaknya sama Kamu dengan Ibu kamu, gitu maksud Kamu?" tanya Grace menantang.


"Kan Aku sudah minta maaf,"


"Minta maaf Kamu nggak cukup,"


"Terus Kamu mau apa? Kamu maunya aku sujud-sujud di kaki Kamu, gitu?"


"KAK!" Nada suara Grace marah mendengar ucapan dari Suaminya tersebut.


"Apa, Kamu maunya apa sekarang?" tanya Rey dengan mencengkram lengan Grace kuat tanda emosi.


"Turun," jawab Grace, membuat Rey mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Aku bilang, Aku mau turun." kata Grace lagi dengan kencang.


Rey menganggukkan kepalanya dengan kuat sambil tersenyum masam, kemudian lelaki itu segera membuka kunci dari dalam supaya Grace bisa keluar dari mobil.


"Silahkan," jawab Rey.


Grace pun turun di tengah jalan, dia langsung membanting pintu mobil dengan kuat dan mencegat taksi yang lewat di pinggiran jalan tersebut. Tanpa mempedulikan lagi bagaimana reaksinya Rey yang masih menunggunya di dalam mobil.


Rey mengira, kalau Istrinya itu hanya bercanda untuk meminta turun. Tetapi jauh di luar dugaan, kalau Grace berniat memang ingin turun dan berangkat sendiri ke rumah Ayahnya.


"Ahhh..... Sial," Rey membanting setir mobil dengan kuat melihat Istrinya itu masuk ke dalam taksi.


"Kamu maunya apa sih?" ucap Rey berbicara sendiri, kebingungan bagaimana harus membujuk Grace supaya bisa memaafkan keegoisan dirinya.


Rey menaruh kepalanya di setir mobil karena merasa hampir putus asa dengan keadaan rumah tangga mereka.


Ya, ini semua karena Mamanya yang tiba-tiba memberikan surat perceraian tanpa diketahui oleh dirinya.


Rey mulai mengingat kalau dia harus berbicara dengan serius dan tegas terhadap Anita untuk tidak lagi mencampuri urusan pernikahan mereka berdua.


*


*


*


*


Readers, di chapter sebelum-sebelumnya Author sudah buat catatan kalau ingin tahu jadwal updatenya kapan dan kenapa nggak bisa update, akan Author buat di grup chat. Yaa... mungkin catatan Author selama ini tidak pernah dibaca yaa atau dianggap selingan aja gitu, tetapi setidaknya kalau nggak mau untuk bergabung di grup chat yaaa harap bersabar menunggu kelanjutan ceritanya. Jadi, bersabar aja nungguinnya... Santai gitu seperti di pantai, nggak usah terburu-buru. Okey.


Terimakasehhh.