
Pagi itu, seperti pagi biasanya para wanita yang sudah menjalani rumah tangga pasti akan sibuk mengurus keperluan suami atau keperluan yang lainnya. Begitu juga dengan Grace, wanita itu sepagian ini sedari tadi menyiapkan sarapan untuk suaminya yang belum bangun padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Selesai membuatkan sarapan untuk mereka berdua, Grace segera bergegas untuk membangunkan sang suami yang sangat susah untuk dibanguni.
"Kak, bangun". Grace mengguncang bahu Rey yang tidur dengan posisi tertelungkup nya.
Tidak mendapat respon dari suaminya, Grace kemudian berjalan ke arah gorden kamar mereka dan membuka tirai nya lebar-lebar supaya matahari bisa masuk di kamar mereka.
Merasakan cahaya yang tiba-tiba masuk di matanya meskipun sedang tertutup, membuat Rey mengernyitkan dahinya dan membuka matanya dengan malas.
"Aku masih ngantuk, Grace". Ucap Rey yang kini sudah menaikkan selimutnya sampai menutupi kepala.
"Bangun, Kak. Udah jam 7 lewat". Jawab Grace menghampiri Rey dan duduk di tepi ranjang bersisian dengan suaminya.
"Ini kan Sabtu". Terdengar suara dari balik selimut.
"Katanya kemarin kamu mau ke kantor dulu sebentar?". Ucap Grace mengingatkan kalau Rey semalam mengatakan akan ke kantor di hari sabtu.
"Hmm. Bentar lagi" Kata Rey yang belum bergerak sama sekali.
Terdengar decakan malas dari Grace, kalau sudah membangunkan suami yang sayangnya teramat dia cinta ini. Pastilah harus perang dunia dulu sepertinya. Membangunkan Rey sama saja membangunkan kura-kura yang tidak ingin mengeluarkan kepalanya dari tempurungnya.
"Ya udah. Aku siap-siap dulu. Sarapan kamu udah aku siapin di atas meja. Jangan lupa di makan, Kak. Sebentar lagi aku berangkat". Pamit Grace yang rencananya akan ke Bogor menghadiri acara perusahaan yang akan diadakan hari ini.
Mendengar kata pamitan dari istrinya yang sebentar lagi akan berangkat, seketika itu juga Rey terbangun dan menyingkap selimut yang sedari tadi menutupi kepalanya.
"Kamu sama siapa berangkatnya?". Ucapnya yang sudah bangun dengan posisi duduk di ranjang.
"Aku bareng Wenny kesana". Jawab Grace sambil memasukkan keperluannya nanti selama di Bogor ke dalam tas.
"Sekalian barang-barang aku, titip di tas kamu". Kata Rey yang berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil baju yang akan dia kenakan nanti.
"Loh, berat tas aku kak. Kamu bawain sendiri lah barang kamu". Grace menggerutu melihat kelakuan aneh suaminya di pagi hari. Rey kan bisa bawa sendiri barang-barangnya kalau menyusul ke Bogor.
"Kita satu tas aja". Ucap Rey masih bersikukuh untuk memasukkan perlengkapan lainnya ke dalam bawaan sang istri.
Ketika membantu Grace untuk menata pakaian mereka ke dalam tas, Rey menemukan salah satu baju istrinya di dalam tas tersebut yang menurutnya baju itu sangat terbuka. Padahal hanya tanpa lengan saja.
"Ini apa?". Ucapnya dengan menengadahkan baju itu ke atas, melihat dari segala sudut dan sisi.
"Ya bajulah". Jawab Grace sambil merebut bajunya supaya dimasukkan kembali.
"Kamu rencananya mau pakai beginian disana?". Kata Rey lagi yang merebut kembali baju yang tidak ada lengan tersebut.
Grace menganggukkan kepalanya, "Iya" Ucapnya dengan polos tanpa berdosa sama sekali.
"Nggak boleh". Seru Rey yang menentang pemilihan baju tersebut.
"Loh kenapa?". Tanya Grace kini yang mengerutkan dahinya.
"Kamu mau pamerin tubuh kamu disana?". Ucap Rey yang kali ini sudah terdengar seperti marah.
Rey berdecak tanda tidak suka dengan baju istrinya itu, "Aku bilang nggak usah pakai ini ya, nggak usah pakai." Ucapnya seperti memerintah dan tidak adanya bantahan.
"Kamu pakai baju yang seperti ini di depan aku aja" Lagi-lagi Rey berbicara sambil menunjuk baju yang kekurangan bahan itu menurutnya.
"Mulai sekarang, kamu pakai baju yang terlihat longgar. Nggak ada ngepas begini". Katanya lagi sambil mengembalikan baju tersebut kembali ke dalam lemari pakaian.
Grace masih belum bisa menerima kalau aturan pakaiannya di ganti menjadi apa kata suaminya.
"Nggak bisa gitu dong, Kak. Masak aku selalu pakai baju kedodoran. Nggak modis banget lah". Masih tidak menerima dengan aturan yang baru dibuat Rey.
"Ck, kamu itu kebanyakan bantah suami sepertinya yaa" Ucap Rey gemas dengan mencubit pipi Grace sampai bentuk pipinya tidak beraturan sebelah.
Grace segera menepis tangan Rey tang mencubit pipinya itu. "Sakit tau" Ucapnya sambil mengelus pipinya bekas dicubit.
"Kalau aku bilang, pakai baju yang kelonggaran, ya kamu harus pakai baju yang seperti itu". Ucap Rey sudah dengan wajah serius dan tidak ada lagi bantahan.
Ya, memang dasarnya Grace kalau tidak ada bantahan, mungkin dia sedang malas berdebat. Tetapi untuk kali ini sepertinya Grace akan meladeni Rey kalau masalah fashionable.
"Aku nggak mau". Ucapnya masih bersikukuh dan menata kembali barang mereka ke dalam tas.
"Kenapa nggak mau?". Tanya Rey dengan mengerutkan dahinya. "Keras kepala juga". Pikir Rey dalam hatinya.
"Iyalah, kalau aku pakai baju yang longgar longgar seperti itu, kesannya aku kayak ibu-ibu tahu, Kak". Ucapnya menggerutu.
"Loh, bukannya kamu udah jadi ibu-ibu?" Jawab Rey ingin menggoda istrinya yang tampak cemberut ketika di larang masalah baju.
Tidak ada tanggapan dari Grace, "Ibu rumah tangga, maksudnya". Jawab Rey lagi karena istrinya tidak ada respon sama sekali, masih sibuk menata baju dan lainnya.
"Enak aja aku bukan ibu-ibu tau. Aku wanita karir" Seru Grace meralat ucapan suaminya itu.
"Kalau begitu, bentar lagi lagi kamu akan jadi ibu-ibu" Jawab Rey dengan senyum yang mulai menjengkelkan.
Grace menanggapi dengan mengerutkan dahinya tanda kebingungan dengan apa yang barusan di ucapkan suaminya tersebut.
"Maksudnya?". Tanya Grace masih mengerutkan dahi tanda tidak mengerti. Melihat wajah sang istri yang bingung, Rey mendekati Grace dan memeluk pinggang wanita itu menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya mengusap perut Grace dengan lembut.
"Maksudnya, aku akan buat kamu sebentar lagi menjadi ibu-ibu". Ucap Rey berbisik dengan mesra di telinga kanan Grace dan membuat wanita itu kegelian setengah mati.
Masih dengan tersenyum menjengkelkan ala Rey yang sangat senang sekali menggoda istrinya itu. Grace mendorong dada suaminya untuk mengambil jarak sedikit.
"Dasar mesum!". Seru Grace dengan suara keras sambil menjauhkan tangan Rey dari perutnya kemudian berbalik untuk segera keluar dari kamar mereka. Malas meladeni tingkah kemesuman suaminya di pagi hari.
"Mandi, Kak. Aku tunggu di dapur" Ucap Grace tanpa memandang Rey dan segera keluar menuju dapur.
Dan sang suami hanya tertawa melihat Grace pergi dengan wajah yang memerah malu karena digoda.
"Seru sekali menggodanya" Kata Rey berbicara sendiri masih dengan tertawa. Kemudian Pria itu bergegas untuk mandi agar bisa menyusul sang istri yang sudah menunggu di dapur untuk sarapan bersama.
Selanjutnya