Grace

Grace
Ucapan Selamat



Malam itu sehabis makan malam seperti biasanya, Rey dan Grace terlihat lagi menonton tv di ruang tamu mereka. Duduk saling bersisian di sofa dan menempel satu dengan yang lainnya. Rey yang selalu suka mengelus rambut sang istri sementara Grace mengusap-usap tangan suaminya. Bermesraan menikmati waktu berdua dan tidak ada yang menggangu.


"Kak, besok pagi aku ada janji ketemu Siska sama Wenny. Mau hangout bareng." Grace berbicara sambil menatap Rey yang berada di sebelahnya.


"Kok dadakan bilangnya, besok kan weekend. Kamu tinggalin aku di rumah sendirian?" Jawab Rey yang belum mengizinkan.


"Ya maaf, janjiannya juga tadi dadakan, nggak apa-apa kali, Kak. Kamu sendirian di apartemen. Aku juga udah lama nggak kumpul sama mereka" Grace memelas agar diizinkan.


"Jam berapa kamu perginya?"


Grace tampak berpikir sejenak, "Jam 10 pagi, sepertinya. Kamu bisa beres-beres apartemen kalau kamu merasa bosan" Ucap Grace dengan tertawa membayangkan suaminya itu sendirian di rumah sambil bersih-bersih apartemen. Kelihatan lucu pastinya.


"ck, jadi kamu sengaja tinggalin aku, biar ada yang bersih-bersih. Gitu maksud kamu?" Tanya Rey mulai menjahili sang istri dengan menggelitiki pinggang wanita itu.


Grace tertawa kegelian, "Hahaha, ampun,Kak". Ucapnya sambil tertawa geli, menjauhkan tubuhnya dari lelaki itu yang semakin menempel saja.


Setelah menetralisir rasa geli pada dirinya, Grace kembali bertanya lagi, "Gimana, aku boleh pergi nggak nih?" Grace mendekat lagi pada Rey. Agar bisa menggoda lelaki itu supaya dia diperbolehkan untuk pergi bersama Wenny dan Siska besok pagi.


"Memangnya kalian kemana dulu?" Tanya Rey yang belum memberi izin.


"hmm, paling ke salon bareng, terus ke mall, habis itu ke cafe" Ucapnya yang memang menjadi kebiasaan mereka bertiga kalau berkumpul pasti seputaran tempat itu saja.


Rey terdiam sejenak, apa nanti yang akan dia lakukan jika sang istri tidak ada di rumah. Pasti dia merasa bosan karena tidak ada teman berbicara atau tidak bisa menjahili istrinya.


"Ya udah, tapi pulangnya jangan malam hari. Jam 6 sore kamu harus sampai apartemen" Ucap Rey yang akhirnya mengizinkan tetapi dengan persyaratan lelaki itu.


"Molor dikit nggak apa-apa ya, Kak. Kami kan mau ke salon dulu, kamu tahu sendirilah ke salon itu lama banget." Tawar Grace menggelayuti lengan Rey dengan manja.


"Maksimal jam 7 kamu udah sampai disini. Temani aku makan malam" Putus Rey kemudian tidak ada lagi tawar menawar.


Grace tersenyum, "Baiklah, suamiku" Katanya dengan mengapit wajah suaminya itu menggunakan kedua tangannya.


Rey tidak meloloskan kesempatan tersebut, seketika itu juga dia langsung menciumi bibir Grace dengan gemasnya. Mendekap pinggang wanita itu supaya tidak bisa lari kemana-mana.


Grace mendorong tubuh Rey di saat dia hampir saja merasa tidak bisa bernafas lagi. "Kamu kebiasaan tahu nggak. Aku nggak bisa nafas, Kak" Ucap Grace seraya mengusap bibir menggunakan punggung tangannya yang telah habis di santap sang suami.


Dan seperti biasanya, reaksi Rey hanya bisa tertawa menjengkelkan melihat wajah Grace yang sudah memerah akibat perbuatannya.


Rey melihat siaran televisi yang menurutnya tidak menarik lagi untuk di tonton, sepertinya menjahili istrinya lebih menarik perhatiannya daripada untuk menonton tv. Rey mematikan televisi tersebut, kemudian segera menggendong tubuh sang istri dengan tiba-tiba yang membuat wanita itu berteriak karena terkejut.


"Kita selesaikan di kamar" Ucap Rey dengan raut wajah mesum khas miliknya. Menggendong istrinya itu dan menuntaskan apa yang harus segera dituntaskan.


****


Saat pagi harinya, sesuai dengan apa yang mereka bicarakan tadi malam. Grace terlihat sibuk bersiap-siap di dapur, memasak makanan untuk Rey agar suaminya nanti tidak kelaparan selama dia tinggal keluar. Sementara sang suami masih tertidur dengan pulasnya di balik selimut di pagi hari ini.


"Kak, bangun" Grace mengguncang lengan pria itu supaya terbangun dari tidurnya.


"hm" Terdengar jawaban malas dari Rey, yang memang sangat sulit sekali untuk bangun di saat weekend begini.


"Ini, udah jam 8. Ayo sarapan" Kata Grace dengan menyisir rambut Rey yang berantakan khas bangun tidur menggunakan jarinya.


"Iya" Jawab Rey yang malah memindahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Memeluk pinggang Grace dan menghadapkan wajahnya di perut istrinya.


"Kamu dijemput sama Wenny atau bagaimana?" Tanya Rey kemudian, masih memeluk Grace.


"Sepertinya Wenny yang datang kesini, bareng sama Siska" Jawab Grace yang sibuk memainkan rambut Rey.


"Iya, aku tahu kok" Kata Grace.


"Mandi, sana. Aku tunggu di meja makan" Jawab Grace lagi yang sudah melangkah menuju pintu untuk keluar dari kamar.


Rey segera turun dari ranjang dan membersihkan diri, untuk bisa bergabung bersama Grace di meja makan. Menikmati masakan sang istri yang sudah dia rasa cocok di lidahnya tersebut. Meskipun Rey sama sekali belum pernah memuji atau memberi sekedar saran untuk masakan yang di buat Grace.


Melihat Rey yang sudah selesai mandi, Grace menyiapkan sarapan mereka berdua. Melayani sang suami dan memulai untuk sarapan bersama. Moment ketika makan bersama inilah yang sangat di sukai Grace, dimana dia bisa melihat Rey menghabiskan makanan yang dia buat walaupun Rey tidak berkomentar sedikit pun mengenai masakannya. Grace cukup sadar mengenai rasa masakan yang dia buat ala kadarnya itu. Hanya melihat sang suami menghabiskan makanan itu, sudah membuatnya bahagia.


***


Bel apartemen mereka berbunyi di saat jam 10 kurang sedikit, terlihat Wenny dan Siska sudah berada di depan pintu untuk menjemput Grace. Rey mengantar istrinya itu sampai ke depan pintu.


"Kamu hati-hati. Pulangnya jangan kesorean" Ucap Rey ketika sang istri mencium tangannya untuk berpamitan.


"Iya, jaga rumah baik-baik ya, Kak." Jawab Grace dengan menggoda lelaki itu, mencolek dagunya sekilas sambil tersenyum.


"Dasar kamu" Ucap Rey terkekeh mengacak rambut sang istri.


"Hahaha, nggak apa-apa kamu acak-acak rambut aku. Sebentar lagi aku ke salon kok" Kata Grace yang hari ini penurut sekali terhadap suaminya.


"Iya, udah pergi sana. Kasihan teman kamu nunggu di depan pintu" Rey mendorong tubuh istrinya itu pelan menuju pintu keluar.


"bye..bye.. suamiku" Grace mencuri ciuman di pipi Rey sejenak sebelum keluar membuka pintu menemui sahabatnya. Sementara sang suami hanya tersenyum menerima perlakuan itu.


"ciee, bahagia banget lo, Grace" Kata Wenny ketika melihat raut wajah Grace yang sudah membukakan pintu dan mulai berjalan bersama mereka.


"Sepertinya masih suasana pengantin baru, nih" Kali ini Siska yang menyenggol tubuh Grace di saat mereka berjalan.


"Ya, begitulah" Jawab Grace seraya merangkulkan lengannya untuk mengapit kedua sahabatnya tersebut untuk keluar menuju parkiran mobil.


Saat sudah di dalam mobil pun, mereka masih asyik bercanda dan mengobrol ini dan itu. Merindukan saat-saat hangout bersama sebelum ada yang menikah di antara mereka bertiga. Bebas untuk melakukan apa saja karena belum ada yang melarang. Mereka bertiga tertawa bersama, melupakan rutinitas sehari-hari yang mereka jalani dan menikmati untuk menghabiskan waktu bersama.


"Oh iya Grace, kita dapat berita bahagia nih" Ucap Wenny yang sedang menyetir kemudian melirik spion belakang untuk melihat wajah Grace.


"Apaan" Jawab Grace antusias. Melongokkan kepalanya ke depan.


"Siska sedang hamil, dong. Sebentar lagi kita punya keponakan" Ucap Wenny sumringah.


" Beneran, Sis?" Ucap Grace tak kalah senangnya.


Siska menganggukkan kepalanya untuk membenarkan, "Sudah 8 Minggu, Grace" Jawab wanita itu sembari mengusap perutnya yang masih datar dan belum kelihatan buncit.


Grace bertepuk tangan, "Wah selamat ya, Sis. Gue bahagia banget dengarnya" Grace turut mengusap perut sahabatnya itu.


"Iya, thanks Grace. Semoga Lo cepetan nyusul, ya" Jawab Siska.


"Amin" Ucap Grace dan Wenny berbarengan sambil turut berbahagia dengan kabar dari Siska.


Mendengar kabar bahagia yang datang dari sahabatnya itu, membuat Grace tak sadar mengelus perutnya juga. Pernikahan mereka berdua tak kalah jauh dari pernikahan Siska yang hanya berbeda beberapa bulan saja dari pernikahan dia dan Rey.


Tetapi mengapa dia belum kunjung juga mendapatkan tanda-tanda sedang hamil?.


Grace hanya bisa berharap pada yang di atas sang pemilik kehidupan untuk segera memberikan keturunan untuknya dan Rey. "Semoga kamu juga cepat hadir disini ya, Nak" Ucap Grace lirih hampir tidak terdengar kedua sahabatnya itu sambil mengelus perut datar miliknya.


Selanjutnya