
Mendengar hal itu Grace sedikit ragu untuk mengungkapkan kehidupan pribadi Wenny yang memang sama sekali belum pernah berpacaran semasa hidupnya hingga sekarang.
Apakah dia harus mengungkapkan hal seperti itu kepada Rezi, ah.. biarkan saja pria itu yang mencari tahu sendiri.
"Hm.. kalau masalah itu tanya langsung ke Wenny saja, Kak" Grace tidak ingin menceritakan hal yang menyangkut kehidupan asmara sahabatnya.
Sejenak Rezi menganggukkan kepala tanda mengerti, " Kalau boleh tahu Grace, makanan favorit Wenny contohnya apa?" tanya Rezi yang masih penasaran ingin tahu lebih detail.
Grace memandang ke atas, mengingat-ingat makanan kesukaan sahabatnya tersebut.
"Wenny itu, suka apa saja kecuali makanan yang mengandung minyak berlebihan. Itu akan membuat wajahnya jerawat karena wajahnya lumayan sensitif." Grace menerangkan.
"Oh.. barangkali ada resto favorit dia yang kamu tahu?"
"hm.. favoritnya ya... kalau nggak salah sih, dia senang makan di resto deket rumahnya. Disitu penjualnya menyajikan makanan sup iga sapi yang memang enak."
"Ternyata sederhana juga" Rezi berbicara lirih namun bisa didengar oleh Grace.
Grace tersenyum mendengar ucapan tak sadar Rezi, "Wenny itu sebenarnya orangnya nggak ribet-ribet, Kak. Asal makanannya enak, kualitas top dan harganya murah meriah dia senang-senang aja." ucap Grace panjang lebar mengenai tingkah laku sahabatnya itu yang simple menurutnya.
"Iya.. terima kasih infonya Grace." Rezi membalas senyuman tersebut. Tidak salah juga dia meminta bantuan Grace untuk mengetahui hal lebih banyak mengenai Wenny.
"Sipp... oh iya Kak ada beberapa hal lagi, Wenny itu juga senangnya belanja ke mall tiap minggu, ke salon kalau lagi nggak sibuk terus dia juga senang sama voucher diskon. Pokoknya kalau Kakak kasih voucher apa saja ke dia secara gratis, Wenny pasti akan senang sekali." Grace sambil tertawa menjelaskan hal tersebut.
"Voucher ya?"
"Iya, voucher apa saja. Mau voucher diskon sepatu, baju pokoknya yang bernama voucher dia pasti senang. Apalagi kalau itu gratis"
Rezi terlihat manggut-manggut, sejenak pria itu mengusap dagunya melihat ke sembarang arah.
"Hehehe, nggak usah bingung Kak. Kalau kita sudah kenal Wenny lebih dekat, kita pasti cepat memahami keinginan dia." ucap Grace yang melihat sepertinya Rezi masih bingung bagaimana mendekati Wenny.
"Eh.. iya Grace."
"Terus ya Kak, Wenny itu nggak akan sungkan bilang ke kita kalau dia sedang butuh apa. Itu kalau dia sudah merasa dekat ke kita. Dia akan menceritakan sendiri apa yang dia perlu, apa yang dia tidak sukai dan apa yang dia terkadang butuhkan."
"Begitukah?" tanya Rezi.
Grace berdehem, "Iya Kak. Jadi fokus aja cara mendekati dia bagaimana, selebihnya nanti pasti kamu mengerti sifatnya dia." kata Grace lagi pada Rezi.
Wen... maafin gue cerita panjang lebar tentang Lo, ini demi masa depan Lo biar nggak jomblo terus-terusan. Gue kasihan sama hidup Lo yang sendirian mulu, nggak ada pendamping hidup.
Grace berbicara sendiri di dalam hati.
Rezi menganggukkan kepala, sepertinya dia sudah tahu harus bagaimana mendekati wanita pujaan hatinya itu.
"Baiklah Grace, terima kasih penjelasannya." Rezi berbicara tiba-tiba sambil berdiri dari tempat duduknya.
Grace seketika menatap ke atas karena perbedaan tinggi tersebut, "Eh.. iya Kak. Semoga urusannya di permudah." ucapnya yang bingung mau mengatakan apa.
"Saya pamit." Rezi langsung berjalan ke arah luar dan bergegas menuju ruangannya kembali.
Grace hanya bisa menatap dengan raut wajah yang bingung mengenai tingkah laku Rezi yang spontan tersebut.
"Pantes dia di tolak, orangnya kaku banget. Nggak ada basa-basinya sama sekali. Tapi nggak apa-apa deh, asal Wenny sama orang yang baik, mereka juga kelihatan cocok kok." Grace tanpa sadar berbicara sendiri di dalam ruangannya sambil menatap kepergian Rezi yang telah keluar.
****
Jam istirahat waktunya makan siang, seperti biasa Wenny di jam 12.00 tepat sudah masuk ke dalam ruangan Grace untuk mengajak sahabatnya itu makan siang bersama.
Seketika itu juga Grace menatap ke arah sahabatnya itu, " Lo seperti udah nggak makan setahun, tahu nggak." ucapnya sembari merapikan berkas miliknya yang berserakan di atas meja.
"Ya elahh ini anak. Buruan gih keburu makanan di kantin ludes." Wanita itu turut membantu merapikan berkas Grace agar mereka segera turun ke kantin.
"Lo pasti begini karena menu hari ini makanan kesenangan Lo, kan?" tanya Grace menuduh tingkah laku Wenny yang mencurigakan.
Wenny terkekeh, "Tau aja Lo, buruan keburu habis entar menunya Nggak bisa nambah Gue, jarang-jarang kantin masak yang begituan." ucapnya menggandeng lengan Grace dan menyeret wanita itu segera keluar untuk menuju kantin.
Sesampainya di kantin, benar dugaan Wenny antrian yang panjang masih terlihat dan mereka masih di bagian antrian belakang sangat jauh dengan sumber makanan. Melihat hal tersebut muncul ide dibenak Wenny agar mereka bisa mendapat antrian di bagian depan.
Wenny berdehem dengan suara kencang, terdengar dibuat-buat hampir seisi kantin bisa mendengar suaranya.
"Hm... Grace Lo, udah lapar banget ya?. Sabar ya ini antriannya masih panjang, pasti kita kebagian kok." ucap wanita itu tiba-tiba masih dengan suaranya yang kencang.
Mendengar perkataan Wenny yang aneh tersebut, Grace mengerutkan dahinya kebingungan.
Maksudnya? bukannya dia tadi yang heboh seperti orang yang tidak pernah dikasih makan.
Kenapa sekarang dirinya yang dituduh kelaparan?
"Aneh Lo". ucap Grace membalas perkataan tersebut, namun beberapa saat kemudian wanita itu langsung mengerti. Karyawan lain yang berbaris mendahului mereka terlihat sudah membuka jalan agar Grace segera mendapatkan bagian barisan terdepan di ujung sana.
"Silahkan Bu.. Silahkan Bu Grace." seru beberapa karyawan lainnya ke arah Grace dan memberikan jalan supaya dia dan Wenny bisa mendapatkan antrian terdepan.
Grace menggelengkan kepalanya, "Sialan Wenny, Gue dimanfaatin." ucapnya dalam hati.
Mau tidak mau Grace berjalan menuju antrian depan karena tidak tahu malunya sang sahabat sudah menggandeng lengannya.
"Maaf ya.... maaf ya.. maaf." ucap Grace sambil tersenyum sungkan ke arah beberapa karyawan yang mempersilahkan mereka untuk berjalan ke depan.
Sesudah mendapatkan makan siang dan tempat duduk, Grace mengomel tidak jelas kepada Wenny karena sudah memanfaatkan dirinya.
"Parah banget Lo, kasihan tahu mereka Wen udah ngantri lebih dulu. Sementara Lo manfaatin Gue." Grace masih mengomel oada Wenny yang sedari tadi sudah sibuk menyantap makanan kesukaannya, apalagi kalau bukan menu tumis kerang dara yang disajikan kantin tersebut.
Wenny hanya menampilkan deretan giginya, "Iya maaf deh" ucapnya mengedipkan matanya dengan centil ke arah Grace.
Grace berdecak, " Lain kali jangan diulangi Wen, Gue nggak suka dengan cara Lo tadi. Bukannya apa-apa kasihan Gue sama mereka. Toh juga mereka punya hak yang sama untuk mengantri dan dapetin makanan." jawabnya.
"Iya deh.. Sorry, Gue cuma ingin jahil aja tadi. Hehehehe." ucapnya dengan tertawa cengiran khas miliknya.
"Iya.. iya.. buruan habisin makanan kesukaan Lo." kata Grace akhirnya.
Baru beberapa menit mereka menyantap makan siang, terlihat seseorang menyapa dan menghampiri kursi mereka untuk bergabung makan siang bersama.
"Hai.. Saya boleh gabung disini nggak?". ucap seseorang itu dengan tiba-tiba dan langsung duduk tanpa dipersilahkan.
Selanjutnya
****
****
****
Sorry ya telat banget updatenya, nanti malam Author update lagi ya..