Grace

Grace
Ucapan selamat pagi



Matahari menunjukkan sinarnya, membuat sepasang manusia yang berada di atas tempat tidur tersebut, belum menunjukkan tanda-tanda untuk terbangun.


Sepertinya mereka masih betah untuk bergelung di bawah selimut saling memeluk satu sama lain dan merasakan kehadiran satu dengan yang lainnya.


Setelah mengucapkan keinginan Rey yang membutuhkan istrinya itu di malam kemarin, Grace memutuskan untuk menyerahkan apa yang dia jaga selama ini kepada suami yang di cintainya tersebut. Mencoba untuk percaya akan hubungan mereka yang dijalani secara pelan-pelan walau belum ada kata cinta dari sang suami. Tetapi wanita itu percaya suatu saat kata cinta itu pasti akan terucap meskipun hanya rasa cemburu suami terhadap pria yang dekat dengannya. Grace yakin sudah ada rasa suka yang timbul di dalam hati suaminya.


Oleh karena itu, Grace memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Rey.


"Terimakasih Grace". Ucap Rey masih dengan suara serak khas bangun tidurnya. Sementara sang istri masih tertidur dengan nyamannya di pelukan sang suami.


Tidak mendapat respon dari Grace. Lelaki itu sibuk mengusap punggung polos istrinya dan memeluknya semakin erat. Di wajah Rey selalu menampilkan senyum yang teramat bahagia pagi hari ini. Seolah-olah dia sudah menang hadiah lotre kemarin.


Grace yang merasakan pelukan suaminya semakin mengencang, membuat wanita itu terbangun dan mendongakkan kepalanya untuk mencari pengganggu tidurnya.


"Pagi". Ucap sang suami masih dengan senyum merekah.


Ingin sekali Grace mencubit wajah suaminya yang terkadang menjengkelkan itu, kemudian wanita itu tersadar saat ini mereka berpelukan tanpa memakai sehelai baju sama sekali dan hanya ditutupi oleh selimut saja.


Sontak Grace menjauhkan tubuhnya dari suaminya yang masih tersenyum menjengkelkan itu, dan menutup wajahnya sampai keatas memakai selimut.


"Loh, kok ditutup ?". Ucap Rey diselingi dengan kekehan melihat tingkah laku sang istri yang malu-malu.


"Buka dong, biar aku bisa lihat wajah kamu". Ucapnya lagi sambil menarik selimut sang istri yang menutupi wajahnya.


"Nggak". Ucap seseorang di balik selimut tersebut.


Rey langsung tertawa melihat reaksi malu-malu Grace, kemudian setelah beberapa saat tertawa pria itu membuka selimut sang istri yang menutupi wajahnya tanpa adanya perlawanan.


"Muka kamu merah banget Grace". Masih tertawa menjengkelkan.


Grace langsung memukul lengan suaminya "Ishh, masih ditanya lagi". Ucapnya yang kini menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Kamu malu?". Ucap Rey


"Ya iyalah, Kak. Pakai ditanya lagi". Ucap Grace masih menutup wajahnya.


Rey langsung melepaskan tangan sang istri yang menutupi wajah cantiknya itu.


"Terimakasih ya, udah percaya sama aku". Ucap Rey yang kini memeluk Grace.


Grace hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar ucapan terimakasih dari suaminya itu.


"Jangan tinggalin aku ya, Kak" Ucap Grace masih di dalam pelukan sang suami.


"Nggak, aku nggak akan ninggalin kamu". Jawab Rey lagi seraya mengelus rambut milik Grace.


"Sudah pagi banget, Kak. kita sepertinya kesiangan juga. Kita nggak ke kantor?" Ucap Grace sambil melihat arah luar jendela.


"Maunya sih, sama kamu terus di kamar". Masih dengan kekehan mesumnya.


"Kamu mesum tau nggak". Ucap Grace yang mencubit pinggang Rey dan di balas ciuman dari sang suami di seluruh wajah cantiknya.


"Hahaha, udah Kak.". Jawab Grace karena sang suami malah sibuk menciumi wajahnya.


"Ini udah siang, ayo ke kantor". Ucap wanita itu lagi.


Terdengar decakan malas dari Rey mendengar ajakan sang istri untuk ke kantor.


"Kita cuti aja". Ucapnya


"Ya, nggak bisa lah Kak. Kasihan Ayah nanti, Glenn juga belum menguasai banget" Ucap sang istri.


"Ya udah, tapi mandi bareng". Memberi penawaran.


Grace yang masih polos dan belum mengetahui akal sang suami yang menyuruh untuk mandi bersama, hanya mengiyakan saja permintaan dari Rey.


"Hm, baiklah". Ucap Grace dengan polosnya. Sementara wanita itu tidak mengetahui kalau sang suami sudah tersenyum dan memikirkan kejahilan berikutnya untuk mengerjai Grace nanti di kamar mandi.


" Ya udah ayo". Ucap Rey yang mulai beranjak dari tempat tidur.


Ketika mau beranjak dari tempat tidurnya, Grace bisa merasakan perih di sekitar area privatenya. Membuat wanita itu meringis sejenak.


"Kenapa?". Ucap Rey yang mendengar suara sang istri seperti menahan sakit.


"Nggak apa-apa, kamu mandi duluan aja, Kak. Aku istirahat sebentar lagi". Jawab Grace.


Rey seolah mengerti dengan kondisi istrinya saat ini, kemudian pria itu menawarkan bantuan untuk membawa istrinya sendiri ke kamar mandi.


"Sini aku gendong, kita mandi pakai air hangat aja ya". Ucapnya lagi sambil menggendong sang istri.


Grace hanya menganggukkan kepala memilih menurut saja dan menerima gendongan dari suaminya itu untuk membawa mereka ke kamar mandi kemudian menyelesaikan kembali apa yang menjadi kebutuhan sang suami nanti di kamar mandi tanpa dia ketahui.


****


"Nggak usah senyum-senyum kamu". Ucap Grace yang menatap sang suami sedang berdiri di sampingnya sambil menatap istrinya itu.


"Loh, aku senyum sama istri aku, kok. Nggak sama istri orang juga". Ucapnya dengan nada yang menyebalkan sekali menurut Grace.


Grace sejenak menghela nafasnya sebelum berkata lagi pada Rey.


"Kamu nggak lihat itu jam berapa? Udah mau jam 10 Kak, kita baru mau ke kantor. ck, ditambah lagi ini kerjaan kamu, sampai merah gini kan leher aku". Ucap Wanita itu sambil menggerutu.


Dan sang suami hanya tertawa saja mendengar omelan istrinya itu.


"Ya udah dandannya biasa aja, biar kita ke kantor". Ucap Rey sambil mencium pipi istrinya.


Grace mengerutkan dahinya, "Aku juga lapar kak". Ucapnya.


"Kita sekalian makan di kantor, aku tadi sudah suruh Andra pesan makanan buat kita." Ucap Rey lagi yang kini sudah memakai sepatu kerjanya.


"Ya udah deh, sebagai istri yang baik. Aku cuma bisa nurut apa kata suami". Ucap Grace pasrah saja pada perintah suaminya itu.


"hmm". Ucap Rey seadanya sambil menunggu Grace bersiap-siap


Setelah sampai di kantor dan makan di ruangan Rey, Grace langsung kembali ke ruangan miliknya untuk mengerjakan tugas kantor yang menumpuk yang belum dia selesaikan selama ditinggal berbulan madu kemarin.


Masih sibuk dengan dokumen dan berkas, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan menampilkan sosok sahabat yang berisik memasuki ruangannya.


"Tumben Lo datangnya telat banget ke kantor?". Ucap Wenny yang sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Grace.


"Ada urusan tadi". Ucap Grace asal masih sambil melihat dokumen dan kertas.


"Gue tau kali suasana penganten baru". Ucapnya sambil menggoda sahabatnya itu


"Nggak usah sok tahu deh, Wen". Ucap Grace.


"Gimana gue gak sok tahu, itu di leher Lo kelihatan banget tau nggak". Ucapnya sambil melihat arah leher Grace.


"Masih jelas banget ya, Wen?". Ucap Grace tanpa sadar membenarkan perkataan dari sahabatnya itu sambil menutup lehernya.


"Hahaha jadi beneran nih. Udah nggak segelan lagi Lo?". Ucapnya sambil tertawa.


"ck, pengen tau aja Lo. Urusan rumah tangga orang". Ucap Grace yang yang merasa kalau dirinya hanya di goda saja.


"Cie.. sahabat gue. Udah gede sekarang". Ucap Wenny masih menjahili Grace sambil menaik turunkan alis miliknya.


"Ngapain Lo siang begini udah ribut di ruangan Gue" Jawab Grace memilih menghindar dari ejekan sahabatnya itu.


"Gue mau ngajak Lo makan bakso di tempat kita makan biasanya". Ucap Wenny.


"Semenjak Lo nikah, gue nggak ada temen makan bareng tau". Ucapnya lagi memikirkan nasibnya yang selalu makan sendirian.


"Ajak Pak Rezi, Sono". Ucap Grace


"Kalau gue ajak dia yang ada gue nggak jadi makan Grace, jadinya ngerjain tugas kantornya dia tau nggak". Ucap Wenny.


"Gue heran yang jadi sekretarisnya dia itu gue atau si Sherli sih. Heran Gue". Ucapnya lagi dengan nada mengeluh.


"Gue juga heran kenapa pak Rezi selaku suruh Lo kerjain tugas yang bukan tanggung jawab Lo". Ucap Grace.


"Entah, serasa si Sherli itu cuma makan gaji buta doang tau nggak". Ucap Wenny dengan nada berapi-api.


"Jadi Lo keruangan Gue, buat curhat ternyata?". Ucap Grace sambil tertawa.


"Tau lah Grace, pusing juga kepala Gue". ucap Wenny sambil memijit pangkal hidungnya.


"Kalau menurut gue sih, Pak Rezi ada rasa sama Lo kayaknya Wen". Ucap Grace tampak berfikir.


"Nggak usah aneh-aneh deh omongan Lo". Jawab Wenny sambil berdecak malas mendengar perkataan sahabatnya itu.


"Gini ya, Lo nggak sadar apa, kemana-mana yang di repotin itu selalu Lo, nggak pernah tuh si Sherli yang di repotin sama dia" Ucap Grace kini sambil menatap Wenny.


"Punya dendam kali dia sama Gue". Jawab Wenny.


"Dendam apaan coba?". Ucap Grace bertanya.


"Ya secara kan dia pernah gue tolak dulu waktu kita awal masuk kuliah" Ucap Wenny sambil refleks menutup mulutnya mendengar kalimatnya yang keceplosan tersebut.


Grace sontak mengerutkan dahinya, mendengar pengakuan sang sahabat barusan yang pertama kali dia dengar dari mulut Wenny sendiri.


"Jadi Lo, pernah di deketin sama pak Rezi dulu?. Kok nggak pernah cerita ke kita?". Seru Grace dengan nada marah karena sahabatnya itu tidak pernah bercerita tentang kisah mereka dulu sewaktu kuliah.


Selanjutnya