
Grace terlihat sudah sampai di apartemen mereka, tepat jam 7 kurang 15 menit sesuai janjinya kemarin pada Rey untuk menemani lelaki itu makan malam.
"Kamu, makin cantik aja" Rey memuji istrinya ketika Grace menyiapkan makan malam yang dia beli sepulang dari hangout hari ini.
"Kamu pasti ada maunya, kan?" Grace curiga dengan gelagat Rey yang memang jarang sekali memuji dirinya.
Rey memeluk wanita itu dari belakang, menciumi tengkuk wangi istrinya yang terbuka karena rambutnya di ikat sembarangan oleh Grace. Wanita itu langsung kegelian setengah mati.
"Kamu nggak boleh curiga sama suami" Rey menaruh dagunya di pundak sempit tersebut.
"Iya deh, suka suka kamu, Kak"
"Aku lihat transaksi kartu yang aku kasih ke kamu nggak ada pengeluaran hari ini, kamu belanja pakai uang siapa?" Tanya Rey menoleh ke wajah Grace.
Grace diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Rey. Wanita itu sedikit ragu, takut suaminya marah kali ini. "Pakai uang aku" Ungkapnya jujur menundukkan wajahnya.
Rey melepaskan pelukan tersebut kemudian duduk di kursi meja makan. "Selama ini kamu pakai kebutuhan kita, pakai uang kamu?" Tanya pria itu lagi yang terdengar sudah mulai serius menatap Grace.
Grace menganggukkan kepalanya, tidak sanggup melihat wajah Rey yang mulai tidak suka mendengar perbuatan yang dia lakukan.
"Kenapa?" Rey bertanya dengan raut wajah yang tajam.
Grace memberanikan diri melihat wajah suaminya, "Maaf, Kak. Aku nggak ada maksud apa-apa." Wajah wanita itu mulai pucat ketika melihat Rey yang sudah mulai marah.
"Kalau kamu nggak pakai kartunya, itu sama saja kamu nggak hargai aku sebagai suami kamu. Kamu ragu aku bisa penuhi kebutuhan kamu, Grace?" Nada bicara Rey meninggi hampir seperti membentak hingga membuat Grace terkejut sekilas.
"Iya, Kak. Maaf. Tabungan aku juga masih banyak, benar kali ini aku nggak ada maksud apa-apa" ucapnya suara mulai serak tanda ingin menangis.
Melihat Grace yang ingin menangis, Rey menjadi tidak tega. Memang sedari dulu wanita itu tidak pernah dibentak Ayahnya maupun orang lain. Dia yang membentaknya pasti membuat istrinya itu terkejut.
Rey membuang napasnya kasar, "Ya udah lain kali, jangan kamu ulangi" katanya kemudian dan membuat Grace seketika menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Maaf, Kak" Kata Grace lagi.
"hmm" Rey tidak ingin memperpanjang masalah mengenai kartu atm yang dia berikan pada Grace.
Saat makan malam, seperti biasanya hening dan tidak ada yang berbicara satu dengan lainnya. Membersihkan piring yang kotor seusai makan malam Grace kini merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dimana Rey tengah sibuk dengan handphone dan menselonjorkan kakinya.
"Kak" ucap Grace yang menghadap Rey.
Rey menolehkan kepala sebentar ke arah Grace dan kembali melihat handphone miliknya lagi.
"Kamu masih marah, ya?" tanya Grace memeluk kaki pria itu.
"Lain kali jangan di ulangi" Rey malah menjawab hal yang berbeda.
"Iya, Kak. Maaf ya" Kini Grace beralih memeluk pinggang suaminya.
"iya" jawab Rey
"Besok pagi kita ke rumah Mama" Kata Rey lagi mengingatkan.
"iya"
"Oh iya Kak, tadi sewaktu belanja aku beli kaos buat kamu" Kata Grace mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat reaksi Rey.
Rey menurunkan pandangannya, "mana?" ucapnya.
Grace tersenyum sumringah, tampaknya Rey sudah mulai tidak marah lagi padanya. Melihat pria itu yang antusias menanyakan baju yang dia beli siang tadi.
Wanita itu kemudian beranjak dari tempat tidurnya, dan bergegas untuk membuka barang belanjaan yang sempat dibeli olehnya.
"Ini" ucapnya menyodorkan kaos berwarna abu-abu yang kelihatan sangat cocok di kulit Rey. "Bagus" komentar Rey dengan melihat-lihat kaos tersebut.
"Aku juga cari kaos dengan warna senada, nanti kalau kita jalan keluar. Kita pakai barengan ya ,Kak" Pinta Grace kepada suaminya.
Rey menganggukkan kepalanya sejenak, "Terserah kamu" ucapnya.
"Asik, lain kali kita jalan ke pantai ya, Kak" jawab Grace dengan riang gembira kemudian mengambil kaos tersebut untuk diletakkan di tumpukan pakaian yang kotor.
Terdengar deheman sekilas dari Rey saat Grace menaruh pakaian kotor milik mereka ke dalam keranjang.
****
"Kamu tambah gemuk dari biasanya" Nita melihat tubuh putranya itu dari atas sampai bawah.
Rey tertawa mencium wajah sang ibu di pipinya, "Mama apa kabar?" ucapnya dengan terkekeh.
"Mama dan Papa baik, kamu aja sekarang sudah tidak pernah main ke rumah. Sekali sekali kalian menginap disini ya. Mama kan juga kangen sama kamu Rey" Jawab Nita yang kembali memeluk Rey.
"Iya, Ma. Nanti kita sering-sering main kesini" Rey mengusap punggung ibunya dengan lembut.
"Baiklah, Nak" ucap Nita. Grace yang sedari tadi diam hanya bisa menatap moment ibu dan anak yang saling melepaskan kerinduan itu yang berada dihadapannya sekarang.
"Grace, ayo masuk ke dalam" Nita yang tersadar belum menyapa menantunya kemudian menghela Grace supaya masuk ke dalam rumah mereka.
"Kamu apa kabar, Grace?" ucap Nita mendudukkan tubuhnya mengikuti Grace yang sudah duduk di sofa.
"Baik, Ma"
Laura yang mendengar kalau sang kakak sudah tiba berkunjung, langsung berlari vke arah ruang tamu. "widihh, penganten baru yang sombong banget, kagak pernah main kesini lagi" celetuk Laura tiba-tiba, wanita itu duduk di samping Rey dan menaik-turunkan alisnya ke arah Grace.
"Apa kabar, mbak?" ucapnya lagi pada Grace.
"Baik, seperti yang Lo lihat" Jawab Grace tersenyum pada Laura.
"Kak" Kini Laura mengeluarkan suara manja yang dibuat-buat.
Rey memicingkan matanya ke arah Laura, sepertinya dia sudah sangat hapal kalau suara sang adik kedengaran seperti sekarang ini.
"Pasti Lo, butuh duit kan?" Tanyanya curiga.
Laura terkekeh dan menampilkan deretan giginya ke arah Rey. "Tas kremes lagi ada yang baru, nih" Laura menggelayuti lengan Rey, membujuk pria itu supaya membelikan dia tas.
"Buset, permintaan loh aneh-aneh aja. Kagak ada duit gue beli tas semahal itu" ucapnya melepas rangkulan sang adik.
Wajah Laura memelas, "Gue nggak minta dibeliin pakai duit Lo semua, Kak. Maksud gue bayarin sebagian ya. Gue juga ada duit sedikit kok" Laura masih menampilkan raut wajah memelas pada Rey.
Rey berpikir sejenak, namun satu ide melintas dibenaknya "Oke, tapi Lo harus kenalin perusahaan papa ke bos Lo, siapa tahu mereka mau joint ke proyek Gue. Gimana?" Tawar Rey yang punya maksud terselubung.
"ck, oke deh" Kata Laura akhirnya walau berdecak sebal, demi tas yang dia impikan selama ini.
"Mbak, Lo emang nggak seneng sama tas ya?" kini Laura beralih bertanya kepada Grace yang hanya diam saja sedari tadi.
Grace menggelengkan kepala, "Kalau dia senengnya koleksi jam" Rey yang menjawab di sebelah Laura.
"Oh ya?" Laura mulai antusias, Grace menganggukkan kepala tanda membenarkan perkataan suaminya.
"Gue boleh minta satu nggak Mbak," Laura mulai tidak tahu diri meminta kepada Grace.
"ck, nggak tahu diri banget sih Lo, dek" Rey menoyor pipi Laura mendengar permintaan adiknya itu.
(Bahasa Indonesianya menoyor apa ya? maklum ya sama bahasanya Author hahaha)
"Yee, biasa aja kali, Kak. Kan Gue mintanya ke kakak ipar. Gimana mbak, Gue minta satu ya jam Lo" ucapnya lagi secara terang-terangan.
"Iya, datang aja ke rumah Ayah, Lo pilih aja salah satu" Kata Grace yang menyetujui permintaan adik iparnya.
"Yeay" Laura berjingkat kesenangan.
Anita hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku dari putrinya itu, "Ayo kita sarapan" Ajak Anita kepada Grace dan Rey untuk ke meja makan.
Berbeda dengan kebiasaan mereka ketika di apartemen, keluarga Rey ketika acara makan malah biasa untuk mengobrol ini dan itu. Sementara sang suami hanya menanggapi seperlunya saja ketika diajak untuk berbicara.
"Oh iya, Grace. Kamu sudah ada tanda-tanda belum" Anita bertanya tiba-tiba di sela-sela sarapan pagi mereka.
Farhan yang melihat raut wajah Grace yang menunduk seperti malas untuk membicarakan hal tersebut di meja makan, bisa memaklumi menantunya dengan baik.
"Ma, nanti aja kita bahas hal tersebut. Habiskan sarapan Mama" Farhan menyela ucapan Anita, istrinya.
Selanjutnya
Jangan lupa Vote, Like dan Comment nya yahh. ♥️