
"Udin...Udin."Teriak Rey dari dalam ruangan tangga darurat ketika melihat Udin yang sebagai OB di kantor mereka sedang melewati ruang janitor di sebelahnya.
Udin yang mendengar seperti namanya di sebut seketika menoleh ke sumber suara.
"Ehh. Pak Rey?". Ucapnya
"Tolong bukain". Ucap Rey memberikan instruksi.
Udin yang mendengar perintah atasannya itu pun langsung membuka pintu tangga darurat tersebut.
"Bagaimana, bisa ada disini pak?". Ucap Udin bertanya.
"Eh, ada Bu Grace juga". Ucapnya lagi ketika melihat Grace ada di belakang tubuh atasannya itu.
Udin langsung mengernyitkan dahinya heran melihat kedua atasannya tersebut karena tubuh mereka berkeringat satu sama lain seperti habis berolahraga.
Setelah melihat keadaan atasannya yang terasa ambigu itu, Udin pun berdehem suara untuk menggoda sepasang pengantin baru tersebut.
"Saya tau masih hangat-hangatnya suasana penganten ya, pak". Ucap Udin tersenyum ambigu.
"Nggak usah aneh-aneh pikiran kamu. Cepat bawakan minuman dingin keruangan saya". Ucap Rey berlalu meninggalkan Udin keluar dari ruangan itu dan melangkah meninggalkan Grace.
"Saya juga ya, Din. Saya haus banget". Ucap Grace juga mengikuti perintah Rey.
"Hehehe saya tau Bu, saya akan bawakan 2 minuman buat ibu. Biar tambah semangat". Ucap si Udin masih dengan senyuman ambigunya.
"Hahaha, ada-ada aja kamu, Din. Tadi kami terkunci dari lantai 12 karena tidak bisa di buka jadinya kami turun kebawah cari bantuan". Ucap Grace menjelaskan insiden terkurung mereka tadi.
"oh, saya kirain, Bu". Ucap si Udin yang sudah mengerti.
" Sudah, bawa minuman ke ruangan Pak Rey dulu baru ke ruangan saya, ya". Ucap Grace seraya meninggalkan si Udin yang mengangkat jempolnya sebagai tanda siap melaksanakan perintah.
****
Sementara Reno yang ditinggalkan seorang diri tanpa adanya orang yang memandu nya, terpaksa berjalan berkeliling kantor untuk menanyakan ruangan kerja miliknya berada dimana. Karena Grace belum sempat menunjukkan ruang kerjanya di kantor tersebut.
Masih berkeliling untuk mencari ruang kerja operasional, Reno pun berjumpa dengan sosok yang dia kenal dulu sewaktu mereka masih SMA, yang sedang berdiri di mesin fotocopy kantor itu.
"Wenny?". Ucapnya.
Mendengar namanya di panggil oleh seseorang, Wenny pun menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
"Reno?, Lo Reno kan?". Ucapnya mengenali sahabatnya sewaktu SMA itu.
"Iya ini Gue". Ucapnya tersenyum senang tidak di sangka bisa bertemu.
"Ya ampun, Ren. Udah lama banget kita nggak jumpa ya. Lo apa kabar?". Ucap Wenny seraya melangkah mendekati pria tersebut.
"Iya, udah lama banget. Baru balik juga Gue dari luar negeri". Ucapnya
"Lo kerja disini?". Ucap Reno lagi.
"Iya". Ucap Wenny menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Ehh.. jangan bilang Lo, pemilik saham yang baru di perusahaan ini?" Tanya Wenny yang mengingat percakapannya dengan Grace di pagi tadi.
"Iya Wen, Gue gantiin papa. Hitung-hitung nambah pengalaman kerja disini" Ucap Reno membenarkan.
"Astaga, nggak nyangka banget bisa jumpa dan kerja bareng sama Lo" Ucap Wenny
Reno hanya tertawa mendengar reaksi keterkejutan teman lamanya tersebut.
"Grace sudah menikah tenyata Wen". Ucap Reno tiba-tiba.
"Ehh" Ucap Wenny yang spontan bingung mau menjawab apa pada Reno.
"Lo, masih berharap sama dia , Ren?. Ucap Wenny.
Reno menganggukkan kepalanya sebelum berkata " Gue sengaja balik cepet mau ngejar dia lagi tau nggak". Ucapnya tertunduk lesu.
"Ya, gimana lagi Ren. Dia udah jadi milik orang sekarang." Ucap Wenny.
"Hahaha, gue mau berusaha dulu Wen. Mana tau Grace berpaling ke Gue". Ucap Reno yakin dengan perasaannya.
"Jangan jadi pebinor, Ren. Itu namanya Lo mau ngerusak rumah tangga orang". Ucap Wenny memberi nasihat pada teman lamanya itu.
"Apaan tuh pebinor?". Ucap Reno yang bingung dengan istilah yang di ucapkan Wenny.
"Oh iya pantes Lo nggak tau secara selama ini di luar negeri, . Disini namanya Pebinor itu perebut bini orang."
"Di tempat gue disana juga banyak kok, gonta-ganti pasangan. Itu udah hal biasa kali". Ucap Reno masih bersikukuh untuk mendapatkan hati Grace.
"Itu di tempat Lo,Ren. Kalau disini itu melanggar norma tau nggak. Mending Lo sama Gue aja". Ucap Wenny memberi penawaran.
"Ogah, takut gue sama Lo. Secara Lo galak bener". Ucap Reno asal.
Mendengar hal itu, Wenny langsung mengapit kepala Reno memberikan pelajaran karena sudah di bilang galak.
"Cari mati Lo, ha?". Ucap Wenny tapi sambil tertawa.
"Hahaha ampun Wen, pantes Lo masih jomblo sampai sekarang. Lembut sedikit gitu Wen, ke cowok". ucap Reno.
"Sini Lo, gue jitak pala lo.". Jawab Wenny.
"Udah Wen. Nggak enak di liat orang kantor". Ucap Reno yang melihat sekeliling mereka.
Seketika Wenny melepaskan Reno, ketika mendengar ucapannya.
"Kok bisa sampai sini Lo, Ren?"
"Gue cari kantor Grace, makanya bisa nyasar kesini". Ucap Reno
"Tunjukin gue jalan, dimana kantor Grace Wen" Kata Reno lagi.
"Oke. Tapi satu syarat". Ucap Wenny sambil tersenyum.
"Apaan, gak usah aneh-aneh deh". Ucap Reno.
"Kasih Gue voucher belanja di toko nyokap Lo". Ucap Wenny yang mengingat kalau ibu dari temannya itu mempunyai butik terkenal di kota mereka.
"Emang dasar Lo, ya. Pasti ada maunya Lo, kalau nolong orang". Balas Reno.
"Mau kagak?". Tanya Wenny.
"Ck, ya udah cepetan tunjukin Gue kantor Grace. Udah nggak sabar Gue, godain tuh anak". Ucap Reno.
*****
Setelah Wenny yang telah di iming-imingi voucher diskon belanja di toko milik Ibunya Reno, wanita itu pun mengantarkan teman lamanya tersebut ke ruangan Grace.
"Eh.. Grace. Lo habis darimana kok keringetan gini?". Tanya Wenny yang sudah tiba di ruangan Grace dengan membawa Reno, sang penggoda.
"Gue, terkunci di tangga darurat lantai 12. Jadi turun sampai lantai utama . Jadinya gini deh". Ucap Grace masih berbicara dengan nafas ngos-ngosan.
"Lagian, ngapain juga Lo di tangga darurat. Kayak nggak ada kerjaan aja?". Ucap Wenny lagi yang merasa aneh dengan tingkah laku sahabatnya.
Grace yang ditanya seperti itu, hanya bisa menjawab bingung. Bagaimana dia bisa menjelaskan kalau Rey yang membawanya ke sana dan untuk menenangkan rasa cemburu suaminya kepada temannya yang bernama Reno.
"Ehh..itu..hmm, Kak Rey tadi mau bicara sebentar sama gue. Tapi dia nggak sadar bawa ke ruang tangga darurat". Ucap Grace sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lo berdua, berbuat mesum di kantor?". Tuduh Wenny yang mendengar penjelasan ambigu dari sahabatnya.
Grace refleks memukul lengan Wenny atas tuduhan yang tidak masuk akal tersebut.
"Otak Lo itu yang kelewatan mesum, tau nggak.". Jawab Grace dan yang di pukul hanya cengar-cengir saja.
"Ren. Sorry tadi ninggalin Lo". Ucap Grace yang menyadari kehadiran Reno sudah ada disana dan hanya diam saja mendengar percakapan mereka.
"Gak apa-apa kok, apa sih yang nggak buat Lo, Grace". Ucap Reno dengan gaya andalan, mengedipkan matanya.
Grace hanya menganggukkan kepalanya saja tidak menjawab dan memilih untuk tidak memberi harapan atau membuka peluang Reno untuk selalu bisa menggodanya.
Bagaimanapun melihat raut wajah suaminya yang marah tadi di tangga darurat ketika melihat mereka berdekatan cukup membuat Grace merasa takut dan memilih untuk mematuhi perkataan Rey agar tidak selalu berdekatan dengan Reno.
"Nih, gue udah anterin ke ruangan Grace. Jangan lupa kesepakatan kita tadi". Ucap Wenny sambil menaik turunkan alis miliknya.
"Iya.. iyaa. tenang aja Lo. Besok gue kasih". Ucap Reno lagi
Grace yang menyadari Wenny akan segera pergi dari ruangan miliknya, langsung. menahan wanita itu untuk menemaninya sebentar saja. Dia juga merasa tidak nyaman kalau di tinggal berdua bareng Reno yang selalu menggodanya.
"Eh.. Wenn. Lo disini dulu nanti gue selesai jelasin kerjaan nya Reno. Ada yang mau gue omongin ke lo."Ucap Grace yang menahan lengan sabahat nya tersebut.
"Oh.. oke" Ucap Wenny sambil mendudukkan dirinya di sofa ruangan itu.
Selesai menjelaskan ini dan itu beserta hal-hal lainnya pada Reno kemudian mengantarkan pria itu ke ruangan miliknya, Grace pun memasuki kembali ruangannya dan menjumpai sahabatnya Wenny masih duduk di sofa miliknya.
"Cepetan, Lo mau ngomong apaan?". Ucap Wenny yang melihat Grace sudah kembali ke ruangannya.
"Nggak jadi. Lo udah bisa balik ke divisi Lo". ucap Grace dengan santainya.
Wenny pun hanya melongo mendengar ucapan sahabatnya yang terkadang menjengkelkan itu.
"Lo sengaja kan. Mau ngerjain gue kan Lo". Ucapnya.
"Hahaha Sorry Wen. Buruan sono, balik Lo entar di cariin ayang Rezi lagi". Ucap Grace dengan nada mengolok.
"Lo semenjak nikah makin ngeselin tau nggak sih Grace".Ucap Wenny sambil berdecak meninggalkan ruangan sahabatnya itu.
"Bye...bye. Wenny. Yang semangat Lo kerjanya". Ucap Grace sambil melambaikan tangannya.
Dan sang sahabat hanya keluar begitu saja tanpa menjawab lambaian Grace yang masih tertawa karena berhasil mengerjainya.
****
Sorenya, sepulang dari kantor. Pasangan pengantin baru tersebut memilih untuk berbelanja keperluan dapur di supermarket daerah apartemen mereka.
Grace yang sibuk memilih bahan belanjaan dan sang suami yang hanya mengecek handphone miliknya saja sambil membawa troley belanjaan milik mereka. Memutuskan untuk menyerahkan urusan belanja ke pada sang istri dan tidak banyak ikut campur dalam memilih bahan dapur.
"Kak, kamu mau makan apa malam ini?". Ucap Grace kepada Suaminya yang masih sibuk dengan hp miliknya.
"Terserah kamu aja". Kata Rey tanpa melihat sang istri yang bertanya.
Grace hanya mendengus saja ketika dia di cuekin seperti sekarang ini.
"Ayam kecap?". Tanya Grace lagi dan Rey hanya menganggukkan kepala tanda setuju.
"Baiklah". Kata Grace kemudian.
Selesai berbelanja dan kemudian memasak untuk makan malam mereka berdua. Grace kini sibuk berkutat di dapur apartemen tersebut untuk memasak seadanya yang dia bisa. Tanpa menyadari kehadiran seseorang yang kini sudah ada di belakangnya.
"Kak?". Ucap Grace yang terkejut mendapati tangan suami sudah melingkar di pinggangnya.
"Hmm". Menjawab seadanya saja
"Aku lagi masak" Ucapnya
"Ya udah masak aja". Tangan masih tetap melingkar di pinggang sang istri
"Ini, tangan kamu ganggu". Ucap Grace lagi.
"Aku tetap disini, Kamu masak aja aku nggak akan ganggu". Ucap Rey sambil menaruh kepalanya di pundak sang istri.
Grace hanya bisa menerima dengan pasrah saja perlakuan suaminya tersebut, daripada bertengkar fikirnya lebih baik mengalah saja. Sambil melanjutkan acara memasaknya.
Usai makan malam kini mereka sudah naik di tempat tidur dan menonton acara talk show yang disiarkan di televisi tersebut.
Rey yang tidur dengan gaya asal-asalnya menaikkan selimut mereka sampai ke batas dadanya.
"Sudah mau tidur?". Ucap Grace yang melihat gelagat sang suami.
"Hmm". Ucap Rey.
Kemudian wanita itu mengambil remote tv untuk mematikan televisi di kamar mereka.
Memutuskan untuk mengikuti sang suami untuk tidur.
Grace yang kini lebih suka tidur membelakangi suaminya itu kemudian merasakan pelukan hangat sang suami sudah memeluknya dari belakang.
Masih memejamkan mata sebentar untuk tertidur beberapa saat setelahnya, Grace merasakan pergerakan aneh di belakangnya. Yang kini sang suami sibuk mencium tengkuk miliknya membuat Grace merasakan geli di sekujur tubuhnya.
"Kak". Ucapnya sambil berbalik dan kini berhadapan dengan suaminya.
Grace bisa melihat pandangan mata yang sayu dan tatapan aneh yang belum pernah di lihatnya dari Rey. Dan membuat jantungnya makin berdebar saja.
Rey membenamkan wajahnya di dada istrinya itu, sebelum berkata.
"Aku pria normal Grace. Aku juga butuh". Ucap Rey.
Selanjutnya