
"Lihatlah, Dia sangat menggemaskan sekali". Rey terkekeh di dalam hatinya melihat tingkah laku wanita yang baru menjadi istrinya itu.
Grace pun memasuki kamar hotel yang sudah mereka sewa dengan langkah gugup.
"Tutup pintunya, Grace. Kau mau berdiri sepanjang malam disitu?" Ucap Rey sembari berjalan melepaskan jas yang dia gunakan tadi.
"Iy..ya, Kak". Jawab Grace sambil menutup pintu kamar hotel.
"Kau atau aku dulu yang mandi?". Tanya Rey
"Heegh?" Istrinya ini masih kelihatan bingung.
"Hahaha". Rey tertawa mendengar ucapan Grace yang gugup.
"Kau kenapa Grace?" Ucap Rey lagi.
"Aku tidak apa-apa, Kak". Jawab Grace yang terdengar masih salah tingkah.
"Terus kenapa kau masih berdiri di dekat pintu seperti itu?". Tanya suaminya itu lagi.
"Ehh, iya. Grace hanya bingung saja, Kak. Mau berdiri dimana." Suara masih terdengar gugup dan salah tingkah mau berdiri atau duduk saja fikirnya.
Tampak Rey yang sudah menggulung lengan kemejanya sampai siku.
"Baiklah, kau dulu atau aku yang mandi?" Tanya Rey lagi.
"Hmm. Kakak saja dulu, Grace masih mau bersihin makeup dulu". Jawab Grace sambil melirik suasana kamar mereka yang khas dengan suasana pengantin baru.
"Baiklah". Ucap Rey sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi hotel tersebut.
Setelah Rey masuk ke dalam kamar mandi, seketika itu juga Grace langsung terduduk di lantai kamar hotel mereka. Gadis itu merasa kalau dia sudah tidak punya kaki lagi untuk berdiri karena saking capeknya meladeni tamu yang tidak tahu berapa jumlahnya tadi. Ditambah lagi menghadapi nuansa malam pertama mereka. Gadis itu tidak tahu harus bagaimana saat malam pertamanya ini tidur bersama seorang pria.
"Grace, otak loe nggak usah mikir jauh. Kalian nggak akan mungkin ngelakuin itu malam ini. Iya pasti nggak mungkin. Jadi santai aja, oke!". Ucap Grace sambil berbicara pada dirinya sendiri.
Kemudian wanita itu segera membuka koper milinya untuk mengambil peralatan makeup yang dimasukkannya tadi pagi sebelum acara pernikahan guna untuk membersihkan wajahnya.
Demi menghindari rasa gugup dan ditambah dengan jantung yang berdebar-debar, Grace mengalihkan perasaannya itu dengan bernyanyi lagu yang menjadi favoritnya akhir-akhir ini.
Selesai membersihkan wajah dari sisa makeup yang sudah seharian menempel diwajahnya, kemudian dia menggulung rambutnya ke atas agar melepas gaun pengantin miliknya.
"Ehh, mati gue, nggak bisa di buka, kenapa gue buat model kancingnya dibelakang sih". Gerutu wanita itu sambil menggapai-gapai kancing gaun pengantin yang tidak bisa dia lepas kaitannya.
"Gimana dong ini, harus minta bantuin kak Rey, aduh malu banget gue". Ucap wanita itu lagi yang masih menggapai-gapai kancing belakangnya.
Saat masih menggerutu dan berusaha untuk melepas kaitan kancingnya satu persatu, pintu kamar mandi hotel itu pun terbuka. Sekilas Grace dapat mencium aroma sabun mandi dan shampo yang sangat wangi di indera penciuman wanita itu saat suaminya sudah selesai mandi dan menggunakan piyama tidurnya. Grace pun kalang kabut dan memilih pasrah saja untuk meminta bantuan Rey untuk melepaskan kancing dibelakang.
Rey pun yang curiga dengan tingkah laku istrinya, yang seperti menahan sesuatu akhirnya bertanya.
"Ada apa?"Tanya Rey sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk.
"Ini Kak, aku tidak bisa melepas kancingnya". Ucap Grace sambil menundukkan wajahnya malu.
"Mendekatlah". Ucap Rey kepada wanita itu
"Haa?". Dengan wajah yang bingung
"Sini biar aku bantu buka". Ucap Rey lagi
Grace pun menuruti perkataan suaminya itu untuk mendekat ke arahnya dan membelakangi Rey, agar dia bisa membuka kaitan kancing gaunnya tersebut.
Saat membuka kaitan kancingnya satu persatu, Grace kelihatan menahan nafasnya. Merasakan sentuhan suami di kulit punggung miliknya yang membuat jantungnya semakin berdebar-debar saja, fikirnya.
Rey pun yang meskipun terlihat biasa saja membuka kancing gaun milik istrinya itu, seperti terkejut bisa melihat punggung putih dan mulus milik istrinya.
"ehemm, sudah". Ucap Rey memecah kecanggungan di antara mereka berdua.
Grace pun hanya menganggukkan kepalanya dan langsung berlari terburu-buru ke kamar mandi sambil menutup pintu dengan suara keras.
"Mulus juga". Ucap Rey tidak sadar sambil tersenyum melihat tingkah istrinya.
****
Grace pun yang sudah memasuki kamar mandi belum memulai ritual mandinya. Wanita itu sibuk menetralkan jantungnya yang sedari tadi berdebar-debar kencang tidak karuan.
"Jantung, ayolah kau bisa berhenti sejenak?" Ucapnya berbicara sendiri pada jantungnya.
"Ehh, tunggu kalau berhenti jantungnya mati dong gue artinya. Ngomong apa sih gue" Sambil menyalakan shower dan memulai ritual acara mandi.
Selesai mandi Grace melihat suaminya itu sedang sibuk.membereskan bunga diatas tempat tidur mereka.
"Sedang apa, Kak?". Ucapnya
Rey yang melihat kalau Grace sudah di depannya dengan tampilan yang baru selesai mandi, membuat dirinya berfikir kalau istrinya ternyata cukup seksi juga dengan tampilan rambut basah tersebut meskipun dengan piyama yang kelonggaran.
"Aku nggak suka bunga-bunga ini, jadi aku membereskannya, tidak mungkin kita tidur dengan bunga-bunga ini". Ucapnya yang sudah selskau menatap Grace dengan penampilan baru dilihatnya seperti itu.
"Kau tidak keberatan kan, aku membuangnya?". Tanya Rey
"Ohh, tidak kok, Kak. Aku juga tidak suka bunga di tempat tidur." Ucapnya yang berbohong padahal di dalam hatinya beda sama sekali.
"Malam pertama macam apa ini". Ucap Grace dalam hatinya.
"Nggak ada romantis-romantis nya sama sekali". Masih menggerutu tidak jelas.
Selesai membersihkan bunga-bunga yang hadir di tempat tidur dan sudah naik di ranjang yang besar tersebut, mereka kembali lagi di landa kecanggungan satu dengan yang lainnya dan dipisahkan oleh bantal guling tengah mereka berdua.
"Hmm. Kak, aku boleh aku tanya sesuatu?". Ucap Grace yang memecah keheningan
"Tanya saja". Ucap Rey yang sibuk memandang langit-langit kamar hotel.
"Kita akan pindah ke apartemen milik kakak, kapan?". Ucap wanita itu lagi.
"Mungkin sekitar 2 hari lagi, apartemennya belum dibersihkan juga".Ucap Rey.
"Ohh" Jawab Grace.
Hening lagi....
"Nanti kalau kita tinggal di apartemen, kita berdua tidur sekamar nggak?" Ucap Grace yang memberanikan diri untuk bertanya. Wanita itu berfikir apakah seperti di drama-drama kisah cinta yang terpaksa menikah dan suami istrinya tidak tidur sekamar melainkan di kamar yang berbeda. Fikir wanita itu.
"Menurutmu?". Tanya Rey balik.
Terdengar decakan malas dari Grace mendengar pertanyaan balik dari suaminya tersebut, sepertinya suaminya ini sama saja dengan Wenny, dia yang bertanya di jawab dengan pertanyaan.
"Grace nggak masalah kok, kalau kita tidur di kamar terpisah, kalau kakak tidak nyaman di samping, Grace." Ucapnya sambil menahan sesak di dalam dadanya.
"Kita tidur sekamar saja" Putus Rey kemudian.
"Lagipula kamarnya di apartemen cuma satu". Ucap pria itu lagi.
"Ohh... baiklah". Jawab Grace.
Tidak seperti malam pertama untuk pengantin baru pada umumnya. Malam pengantin mereka berdua hanya diakhiri dengan kesepakatan dan perbincangan setelah mereka akan pindah nantinya.
Tidak lama setelah itu Grace pun merasakan, tepukan lembut dikepalanya dari lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Tidurlah". Ucap Rey sambil masih memegang rambut Grace dan memejamkan matanya untuk tertidur.
***
Aku suka heran, pembaca nya lumayanlah setiap harinya,, sampai terkadang bisa 5000 pembaca setiap harinya, tapi kenapa votenya orang-orang itu aja yaa. Pembaca lainnya pada kemana yaa? 😂😂
Ayo dong bagi pointnya, jangan pelit dong. Soalnya vote kalian itu buat author semangat update tau. Ini aja niat nya nggak mau update tadi. Berhubung aku mengingat readers yang selalu setia vote sampai ratusan aku jadinya update deh karena mereka selalu setia vote.
Jadi vote yaa teman teman, biar aku juga semangat update nya
Terimakasih 🙏