
Grace terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman di perutnya. Rasa mual yang sampai ke tenggorokan, membuat Wanita itu ingin cepat-cepat segera ke kamar mandi untuk muntah di pagi hari.
Namun, ada tangan kekar yang menghalangi gerakan Grace saat dia hendak turun dari ranjang.
Ya, siapa lagi kalau bukan tangan milik Rey yang memeluknya sepanjang malam. Saat Grace menolak Pria itu untuk menyentuhnya, Rey tidak putus asa untuk terus memeluk Istrinya itu.
Dan akhirnya Grace yang mengalah dan membiarkan, Suaminya itu memeluknya erat sepanjang malam.
Perlahan Grace menyingkirkan tangan dan kaki Rey yang memeluknya seperti bantal guling, Pria itu seperti benar-benar takut di tinggalkan Istrinya.
Perlahan namun pasti, Grace segera berlari ke kamar mandi.
Rasa mual di pagi hari yang tiba-tiba menghantam perutnya, membuat wanita itu mengeluarkan semua isi makanan yang ada di dalam perut.
Grace dengan gemeter memegang ujung wastafel toilet ketika dia muntah, masih sama dengan kemarin sewaktu di perusahaan Rey. Dia selalu menangis ketika muntah, mungkin efek tidak makan semalaman membuat perutnya sakit dan masuk angin.
Setelah merasa baikan, Grace ingin keluar dari kamar mereka. Tapi sayangnya, kunci kamar tersebut ada pada Sang Suami yang masih tertidur pulas di atas ranjang.
Grace menusuk-nusu bahu Rey, untuk meminta kunci padanya.
Tuk.. tuk.. tuk
"Kak, bangun...." kata Grace sambil masih menusuk-nusuk bahu Sang Suami.
Rey menggeliat, ketika merasakan gangguan tersebut.
"Hm..." jawabnya malas.
"Aku minta kunci." Grace langsung menyodorkan tangannya untuk meminta kunci kamar mereka.
Mendengar hal tersebut, seketika itu juga kesadaran Rey kembali dengan penuh.
"Mau kemana?" tanyanya dengan curiga.
Grace berdecak sekilas, "Aku haus, mau ngambil minum." ucapnya ketus, masih jengkel dengan ulah Rey kemarin.
Rey pun duduk di tepian ranjang, lelaki itu melihat jam yang masih menunjukkan pukul 4 pagi.
"Tumben, jam segini Kamu sudah bangun?" tanya Rey sambil berdiri kemudian berjalan menuju pakaian kotor yang dia pakai kemarin. Karena kunci tersebut berada di saku celananya kemarin malam.
Grace diam saja. Dia tidak menjawab perkataan Suaminya itu. Dia hanya duduk di ranjang sambil menunggu Rey membuka pintu kamar mereka.
"Ayo!" kini Rey hendak menggandeng lengan Grace untuk keluar kamar.
Grace mengerutkan dahinya dalam-dalam.
"Ngapain Kamu ikut?" tanyanya.
"Katanya mau ngambil minum, ya udah ayo." jawab Rey lagi dengan gaya yang menjengkelkan, seolah-olah diantara mereka kemarin tidak terjadi apa-apa.
"Nggak usah! emangnya Aku anak kecil. Harus ditemani ke dapur." jawab Grace yang kini melangkahkan kakinya duluan menuju dapur.
"Kamu masih marah?" tanya Rey di saat mereka berdua tengah berjalan menuju dapur.
Grace tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun pada Suaminya itu, "Pikir aja sendiri," ucapnya kemudian sambil mengisi air minum ke dalam gelas.
Grace pun duduk di meja makan dan menelungkupkan wajahnya, rasa pusing dan mual masih terasa dalam perutnya.
Seolah tingkah laku Grace yang merajuk tidak mempengaruhi dirinya. Rey pun ikut duduk bergabung bersama Grace, "Kamu kenapa? masih ngantuk?" tanya Sang Suami yang mengelus rambut Grace.
Grace masih diam tidak mau menjawab. Wanita itu sungguh keras kepala.
"Kalau Suami sedang tanya itu dijawab Grace. Nggak sopan itu namanya." Rey memberi nasihat seperti seorang Ayah kepada Anak.
Lelaki itu tidak sadar dengan perbuatannya selama ini terhadap Istrinya.
Grace menegakkan tubuhnya sejenak, sebelum menoleh ke arah Suaminya itu yang tengah menatapnya.
"Ngapain Kamu tanya-tanya, bukannya Kamu bilang kemarin nggak mau ikut campur lagi sama urusan Aku." ucapnya sinis.
Rey mati kutu, tidak bisa menjawab pertanyaan dari Grace. Dia merasa perkataan yang dia ucapkan kembali pada dirinya sendiri.
"Sekarang Aku mau tanya sama Kamu," kata Rey yang mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Sementara itu Grace dengan wajah yang pucat berusaha untuk mendengarkan, apa yang mau dikatakan oleh Suaminya.
"Kapan Mama kesini?"
Grace berdecak sebal, kalau mengingat Mertuanya itu.
"Kemarin siang," jawabnya singkat.
"Sendiri?"
"hm,"
"Kenapa tiba-tiba Mama, kasih surat cerai begitu?" tanya Rey seperti mengintrogasi Istrinya.
Grace mengedikkan bahunya acuh, "Tau, tanya aja sama Mama Kamu sendiri." Jawabnya yang merasa jengkel.
Rey menghirup napas dalam-dalam, berbicara pada Grace membuat emosinya hampir naik.
"Kalau Aku tanya baik-baik, jawabnya baik-baik juga dong, Sayang." kata Rey yang kedua kalinya memanggil sebutan Sayang pada Istrinya itu.
"Nggak usah panggil-panggil, Sayang deh. Selama beberapa hari kemarin Kamu kemana aja." ucap Grace dengan jengah sambil bersedekap dada.
"Di Kantor,"
" Nggak makan, nggak tidur begitu maksud Kamu?"
Terdengar helaan nafas yang kesal dari Grace.
"Sama siapa aja Kamu disana beberapa hari ini?" tanyanya kembali.
Rey merapikan rambut Istrinya itu, padahal tidak berantakan.
"Sama Alan."
"Terus si Wanita Centil itu?"
"Dia juga ke kantor," Rey menjawab seadanya.
"Nggak nginap bareng kalian berdua?"
"Grace...." Rey mulai geram dengan perkataan Istrinya itu.
"Jangan mancing emosi deh, ini masih pagi." kata Rey lagi, yang sudah kesal.
"Kesal kan Kamu? Sama kayak kesalnya Aku yang nungguin Kamu beberapa hari nggak pulang" jawab Grace.
Setelah Grace mengatakan hal tersebut tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua.
Tampaknya mereka sama-sama mengkoreksi diri masing-masing dan berpikir akan jadi apa nantinya rumah tangga mereka ini tanpa landasan cinta.
"Mau kemana?" Rey mencekal pergelangan tangan Grace, saat wanita itu beranjak dari kursi.
" Aku ngantuk, mau tidur." ucap Grace, sambil berlalu meninggalkan Suaminya sendirian di dapur.
Grace yang merasa sangat mengantuk dan ingin tidur, langsung merebahkan dirinya kembali ke ranjang mereka berdua.
Rasanya sungguh matanya sangat berat, padahal Wanita itu kalau sudah terbangun di pagi hari seperti ini. Tidak akan bisa kembali tidur lagi, dia juga merasa akhir-akhir ini tubuhnya mulai sekali lelah.
Mungkin karena efek stress di tambah masalah rumah tangganya yang belum menemukan titik terang, membuat tubuhnya gampang sekali lelah.
Grace melirik jam yang berada di kamar mereka berdua, yang menunjukkan pukul 5 kurang. Masih ada waktu untuk tertidur sebentar.
Merasa sudah hampir terlelap, Grace merasakan gerakan di sebelah tempat tidurnya.
Yang sangat dia yakini, kalau Rey juga tengah berbaring di sebelahnya.
Dengan cepat tanpa membuka mata, Grace memunggunginya Suaminya itu.
Namun hal yang tidak dia sangka terjadi, Rey malah memeluknya dari belakang. Bukannya marah dengan sikapnya yang seperti itu, Rey malah memeluknya dengan hangat.
Tidak ada penolakan dari Grace, karena Wanita itu mengakui di dalam hatinya kalau pelukan Sang Suami benar-benar hangat. Aroma tubuh dari Rey juga sangat menenangkan hatinya, membuat dia tidak bisa untuk menolak.
"Aku Sayang Kamu," kata Rey tiba-tiba dengan berbisik di telinga Istrinya itu sebelum melabuhkan kecupan kecil di pucuk kepala Grace.
Tentu Grace masih mendengar pengakuan tersebut, namun dia memilih untuk tidak menjawab pengakuan itu.
Merasa bosan dengan Grace yang selalu memunggunginya, Rey pun membalik tubuh Istrinya itu dengan paksa ke arahnya.
Membuat mata Grace pun terbuka.
"Aku mengantuk, Kak." ucap Grace, "Jangan ganggu," katanya lagi.
"Kamu dengar nggak Aku tadi ngomong apa?" tanya Rey kemudian.
Grace mengelengkan kepalanya dengan malas. Dia memilih berbohong saja, toh dia tidak tahu itu ungkapan tulus atau tidak dari Rey.
"Ya sudah tidurlah." Rey membawa Istrinya itu untuk masuk ke dalam dekapannya.
"Nanti Kita ke rumah Mama," kata Rey tiba-tiba.
"Nggak mau"
"Kenapa?"
"Kamu aja sendiri yang kesana, Aku ke rumah Ayah," jawab Grace di balik dada bidang Suaminya itu.
"Ya udah, Kita ke rumah Ayah, Nanti Aku sendiri yang hubungi Mama."
"Aku mau nginap di rumah Ayah,"
"Nggak bisa Grace, kerjaan Aku masih banyak." Rey tidak menuruti permintaan Istrinya.
"Terserah Kamu, Aku nggak minta persetujuan Kamu. Aku tetap mau nginap di rumah Ayah." ucapnya bersikukuh.
"Terus Aku tidur sama siapa?"
"Aku nggak peduli, bukannya Kamu juga nggak peduli sama Aku beberapa hari ini."
Rey langsung memijit pelipisnya, dia pusing menghadap tingkah laku Grace saat ini.
'Ya udah kita nginap,"
" Aku nggak ngajak Kamu kok,"
"Iya... iya Kamu nggak ngajak Aku, Aku sendiri yang mau nginap disana." jawab Rey dengan putus asa. 🥴🥴
**
**
**