
"Grace, itu bukan nya calon suami lo ya, kok dia bisa datang sama Sherli sekretaris nya pak Rezi sih?"
Ucap Wenny dan seketika Grace melihat arah pandangan Wenny
"Dia, nggak bilang sama Lo Grace kalau ajak Sherli ke sini?"
Timpal Wenny lagi.
"Tau deh Wen, udah biarin aja"
Ucap Grace yang mengalihkan pandangan nya pada calon suami dan pasangan yang sibuk menggandeng tangan pria itu.
"Tega banget dia, hmm perlu di hajar nih orang kayaknya"
Ucap Weny yang sudah mulai bersiap untuk menghampiri mereka.
Sebelum Wenny melangkah, Grace menghentikan dan menarik tangan wenny. Agar tidak mencampuri urusan Rey dan Sherli.
"Udah Wen, mungkin nggak sengaja ketemu di jalan kali, kan si Sherli kenalan nya Raka."
Ucap Grace yang berfikir positif kepada calon suami nya tersebut
"Udah biarin aja mereka"
Timpal nya lagi
"Kan orang di kantor juga pada tau Grace kalau Lo mau nikah sama si Rey, kok berani nya banget dia datang dengan tampang sok nggak berdosa gitu, tuh Lo liat malah dia gandeng lagi tangan nya si Rey"
Ucap Wenny yang masih memandangi pasangan tersebut.
Grace malah menghela nafas nya mendengar jawaban dari Wenny tersebut. Dia sungguh pasrah dan tidak berharap lebih pada hubungan mereka berdua yang menjalani keterpaksaan.
Terserah lah apa yang akan di lakukan oleh calon suami nya tersebut. Tapi yang dia tau bahwa hati nya tidak baik- baik saja ketika pria nya di gandeng oleh wanita lain.
yaa, tentu saja dia tidak baik- baik saja.
"Wenn, cepet habisin makanan Lo, habis ini kita pulang yaa, pusing kepala gw liat keramaian begini"
Ucap Grace sambil melihat sekitar tamu undangan pesta
"Iya deh, gw juga eneg banget liat tampang si Sherli"
Balas Wenny
Sebelum mereka melangkah kan kaki meninggalkan aula gedung pesta pernikahan.
Tiba tiba ada tangan yang mencekal lengan nya Grace, sebelum mengucapkan kata.
"Sudah mau pulang?"
Grace melihat cekalan tangan nya, yaa tangan itu adalah tangan milik Rey yang mencekal nya tiba-tiba sebelum keluar dari gedung pesta pernikahan.
"Hmm iya , kami juga sudah lama disini"
Balas Grace hanya menundukkan wajahnya.
Sebelum mendengar ucapan Rey, tiba tiba Sherli menghampiri mereka.
"Eeh, ada Bu Grace dan Wenny ternyata. Nggak nyangka bisa ketemu disini"
Ucap Sherli sambil tersenyum centil
"Bu Grace, cantik banget hari ini, keliatan beda dari biasanya Bu"
Ucap nya Sherli lagi sambil melihat penampilan Grace dari atas sampai bawah.
"Ya, iyalah emang mau ketemu kita dimana maksud Lo, di kuburan?"
Timpal Wenny yang merasa jengah dengan sikap nya Sherli yang sok kecentilan
"Kami balik dulu"
Ucap Grace tiba tiba berusaha menengahi keadaan.
"Dengan siapa?"
Kali ini Rey yang berbicara
"Yaa, dengan siapa lagi kalau bukan dengan saya pak, yaa bapak nggak liat saya juga di sini"
Ucap Wenny terdengar malas dengan pertanyaan Rey
Kali ini Rey tidak menanggapi ucapan nya Wenny, Pria itu sibuk melihat penampilan Grace yang tidak seperti biasanya.
Dan dia tidak menolak di dalam hati nya bahwa perempuan ini ternyata cantik juga, kalau semakin lama di lihat.
Tetapi perempuan yang di tatap nya seperti nya tidak menyadari kalau si Pria sedang memperhatikan nya.
Perempuan itu malah sibuk melihat dan menundukkan kepala nya kebawah.
Entah lah, mungkin sepatu nya lebih menarik perhatian nya daripada pria tersebut.
Putus Grace melangkah berbalik meninggalkan gedung pernikahan
Sepertinya dia tidak menyadari masih ada sepasang mata yang masih memperhatikan kepergian nya dengan lekat.
*****
Sesampai nya Grace di rumah setelah acara resepsi pernikahan Sahabat nya Siska, wanita tersebut langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur Quenn Size milik nya.
Wanita itu masih tampak berfikir dan mengingat pengakuan nya beberapa bulan yang lalu pada orang yang dia cintai selama ini.
Flashback On
Saat itu di ruangan kantor yang bertuliskan
"Manager Operasional", tampak seorang wanita yang sibuk menganalisa dokumen dokumen proyek yang gagal dia tangani.
Masih tampak berfikir apa yang salah dengan proposal nya, ketukan di pintu dan suara pintu terbuka menunjukkan Pria yang menjabat sebagai Wakil Direktur di perusahaan nya itu masuk ke ruangan nya.
"Kita bicara sebentar"
Ucap pria itu yang tak lain adalah Rey.
"Baiklah, kak"
Ucap wanita yang tak lain adalah Grace.
"Om Gilang meminta kita untuk menikah, dan papa ku juga sudah menyetujui nya. Kenapa kamu diam saja Grace?"
Tanya pria itu.
"Maaf in Grace kak, Grace tidak bisa menolak keinginan ayah"
Ucap nya dengan sesal
"Grace , kamu tau sendiri kan kita ini tidak mempunyai rasa suka satu sama lain. Kamu juga tau kalau saya sudah punya Mitha"
Ucap pria itu yang mulai kesal dengan keadaan nya.
Terdengar helaan nafas dari Grace mendengar ucapan Rey.
"Kakak, tau dari mana kalau Grace nggak suka juga dengan kakak?"
Ucap wanita itu memberanikan diri.
"Grace?"
Ucap Rey yang sudah mulai menunjukkan raut wajah serius
Grace terkekeh sebentar sebelum berbicara.
"Aku tau kak, kalau selama ini kakak juga menyadari kalau aku punya rasa suka dengan kakak dari dulu. Tapi sepertinya kakak selalu mengganggap itu bukan rasa yang bisa untuk di balas"
Ucap perempuan itu menatap wajah si Pria
"Kamu tau kita hanya kakak adik bukan nggak lebih"
Ucap pria itu lagi
"Itu menurut kakak, tapi nggak kalau menurut Grace"
Ucap perempuan itu meninggikan suara nya.
"Kakak selama ini sudah tau perasaan ku lebih terhadap kakak, tapi selama ini kakak seolah olah mengganggap nya angin lalu.
Untuk kali ini aku akan mengungkapkan nya"
"Aku menyukai mu Reynaldo Aditama, mungkin aku juga mencintai mu "
Ucap Grace lantang dan menatap Rey yang masih mendengar perkataan nya
"Maaf Grace nggak bisa menolak permintaan ayah"
Ucap nya yang sudah menundukkan kepala nya ke bawah setelah pengakuan nya.
Setelah mendengar pengakuan yang mengejutkan itu, pria tersebut hanya menghela nafas kasar dan memijit pangkal hidung nya.
"Aku hanya mengganggap mu selama ini hanyalah seorang adik dari kecil hingga sekarang, anggap saja aku tidak pernah mendengar pengakuan mu ini. Dan untuk permintaan om Gilang aku akan menolak nya dan memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi kebahagiaan ku. Maaf aku tidak bisa membalas perasaan mu."
Ucap pria itu terdengar dingin sebelum melangkah kan kaki ke pintu keluar.
"Aku minta selama kita di kantor panggil aku secara formal seperti orang biasanya, aku tidak mau orang menganggap kita tidak profesional selama bekerja.
Ucap pria itu lagi, dan pintu itu pun tertutup.
Hanya menyisakan seorang wanita yang berfikir dengan pengakuan berani nya tadi dan si Pria hanya membalas "anggap saja aku tidak mendengar nya", serumit itu kah perasaan nya ?
Flashback End
Selanjutnya