Grace

Grace
Sekarang, terserah Kamu



"Kamu, ngapain disini?" Rey bertanya ulang, tangannya masih mencekal lengan Sang Istri dengan keras. Membuat Grace meringis kesakitan.


"Sakit, Kak." Grace berusaha melepaskan cekalan tersebut.


Mendengar ringisan Istrinya, Rey melonggarkan sedikit cekalannya agar tidak menyakiti Grace.


"Ngapain disini?" Rey bertanya dengan tidak sabarnya. Pria itu menatap Reno yang berada di sampingnya dengan tatapan membunuh.


Reno hanya cuek dan mencebikkan bibirnya asal. Ganggu aja, pikirnya dalam hati.


"Santai, Bang. Jangan kasar sama Istri sendiri." balas Reno, semakin membuat Rey murka mendengar perkataan yang barusan keluar dari mulutnya.


"Bukan urusan Kamu. Dia Istri Saya, jadi terserah dengan Saya." jawab Rey dengan nada mulai emosi.


"Ikut, Aku." akhirnya Rey menarik paksa Istrinya untuk keluar dari resto.


Setelah menarik Grace keluar, dan mencari tempat yang aman. Rey melepaskan lengan Grace yang sedari tadi dia tarik.


"Ngapain Kamu disini?" tanyanya dari nada suaranya saja, bisa dipastikan Rey masih dalam keadaan emosi.


Grace berdecak, wanita itu mengusap-usap lengan miliknya karena merasa sakit akibat cekalan dari Rey tadi.


"Aku ada peresmian cabang disini. Aku juga udah telfon Kamu daritadi tapi nggak Kamu angkat. Terus pesan Aku nggak pernah Kamu baca kan, Kak?" ungkapnya dengan raut wajah yang emosi juga.


Kenapa juga Pria ini harus marah? Harusnya kan dia yang marah, karena dicuekin selama beberapa minggu ini.


"Aku sibuk, Grace. Lagi pula kemarin malam kan Aku pulang, kenapa nggak kasih tahu Aku waktu malamnya." Rey tak kalah menjawab dengan emosi juga.


Sepertinya sepasang Suami Istri ini sedang dilanda kesalahpahaman yang membuat mereka, tidak bisa mengerti kondisi satu dengan yang lainnya.


"Gimana mau kasih tau, Kamu. Orang Kamunya sibuk gitu." jawab Grace lagi.


Mengingat perlakuan Rey terhadapnya beberapa waktu belakangan ini membuat dirinya merasa jengkel pada Suaminya itu.


Rey berkacak pinggang, sambil menetralkan emosi yang kini melandanya.


Sejenak lelaki itu juga mengatur napasnya, supaya tenang untuk berbicara pada Istrinya.


Sementara Grace hanya menundukkan kepala dengan jengkel, pandangannya sibuk melihat sepatu miliknya.


"Kamu juga harus ngertiin Aku, Kak. Beberapa Minggu ini Kamu sibuk banget. Kamu sadar nggak sih kita juga udah jarang ngobrol." Grace berbicara kemudian setelah beberapa saat keheningan terjadi.


Rey menatap Istrinya itu, "Iya Aku tahu, tapi setidaknya pergi ke tempat yang jauh begini Kamu kasih tahu Aku dong, Grace." Rey masih tidak terima.


Grace mengerutkan dahinya, "Apa bedanya dengan Kamu?" tanya Grace kemudian yang membuat Rey menautkan alis bingung.


"Ck, Aku tanya apa bedanya dengan Kamu? Aku aja nggak tahu Kamu ada disini. Kamu nggak pernah kasih tahu Aku, kan?" jawab Grace lagi dengan nada mendecak sebal.


"Kamu kenapa sih, sekarang suka balikin perkataan Aku." Rey mulai tersulut emosi lagi.


"Nggak tau deh, Kak." jawab Grace bersedekap tangan di dada. Merasa pusing dengan pertengkaran mereka.


Mereka berdua masih setia berdiri di samping cafe tersebut.


"Biasanya juga Glenn yang handle acara peresmian cabang, terus kenapa sekarang Kamu yang handle?" tanya Rey dengan curiga.


Baiklah sepertinya waktunya Grace untuk berbicara keputusan yang telah dia ambil sebelumnya.


Grace menunduk, "Itu karena ini pekerjaan terakhir aku, Kak." jawabnya lirih.


Rey menautkan alis kebingungan, "Pekerjaan terakhir bagaimana?" tanyanya.


"Iya, Aku mau resign dari kantor." ucap Grace dengan menundukkan kepala.


Rey semakin bingung, dia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maksudnya, resign ini keluar dari perusahaan Ayah?" tanyanya memastikan, masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iya." jawab Grace, mendongakkan pandangan untuk menatap Sang Suami yang mulai terlihat marah.


"Kapan?" tanya Rey tidak sabar.


Grace menjawab dengan nada terbata, "Hm... dua hari lagi." ungkapnya.


Rey semakin gusar, "Ayah setuju?" tanyanya kembali dan mendapatkan anggukan dari Grace.


"Kapan Kamu bicara ke Ayah?"


Grace semakin takut, dia merasa Suaminya ini sedang menginterogasi dirinya.


Mendengar pengakuan tersebut, Rey semakin murka.


"Satu bulan yang lalu? Dan Kamu baru kasih tahu Aku sekarang?" Rey semakin murka dan emosi mendengar keputusan sepihak Istrinya itu.


"Maaf, Kak. Aku mau ngasih tahu Kamu kemarin-kemarin tapi Aku selalu lupa. Terus ditambah kesibukan Kamu, jadi Aku belum sempat bilang." Grace berbicara dengan nada yang menyesal.


"Siapa aja yang sudah tahu Kamu mau resign?" bukannya menjawab permintaan maaf Istrinya, Rey malah menanyakan hal yang berbeda.


"Kak, maaf." Grace memegang lengan Sang Suami untuk mengungkapkan perasaan menyesalnya.


"Siapa?" tanya Rey dengan kasar menepis pegangan Grace terhadapnya.


"Orang kantor." jawab Grace.


"Orang kantor siapa maksud, Kamu? bicara itu yang jelas." Rey semakin emosi.


"Ya, orang kantor yang deket sama Aku, Kak." Grace mulai ingin menangis mendengar bentakan Rey terhadap dirinya.


"Termasuk Reno?"


"Iya." jawab Grace menundukkan kepala lagi, karena air mata yang mulai keluar.


Rey tertawa dengan paksa, "Orang lain masih sempat Kamu kasih tau, sementara Suami Kamu nggak Kamu kasih tahu." Rey menggelengkan kepalanya tidak terima.


"Maaf, Kak. Memang waktunya yang tidak tepat terus ditambah Kamu sibuk banget." Grace kembali menyentuh lengan pria itu, berusaha menenangkan Rey saat ini.


Namun, hal serupa dia dapati. Rey menolaknya.


"Yang jadi Suami Kamu itu, Aku atau orang lain sih, Grace." Rey mendorong pelan tubuh Istrinya itu supaya berdiri agak sedikit menjauh darinya.


"Kak?" Grace sudah menangis akhirnya.


"Kamu selalu aja nangis, buat Aku bingung tahu nggak." kata Rey, emosi masih ada saat dia menjawab Grace sekarang.


"Sekarang Aku tanya, Suami Kamu itu, mereka atau Aku?"


"Kamu." jawab Grace singkat sambil menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Ini adalah pertengkaran mereka yang pertama kalinya.


Rey tersenyum masam, "Kalau Aku nggak tanya, Kamu nggak akan bilang kan sampai Kamu resign di besok harinya." jawab Rey terdengar kecewa.


"Kenapa Kamu resign?" tanya Rey lagi.


" hmm... Aku mau fokus sama pernikahan kita, Kak." ungkap Grace belum berani menatap wajah Sang Suami.


"Dan Kamu nggak pernah bilang ke Aku. Sebenarnya Kamu nganggap Aku, Suami Kamu nggak sih?" Rey memegang bahu Istrinya itu dengan kuat.


"Anggap, Kak. Memang akunya yang lupa dan Kamu yang selalu sibuk. Kamu bisa ngertiin Aku juga, kan." jawab Grace dengan nada suara yang meninggi, tidak terima dia disudutkan seperti ini.


"Lupa bukan alasan, Grace!" Rey menjawab juga dengan nada emosi.


"Aku juga sibuk tapi masih pulang ke rumah. Kenapa nggak bilang dari dulu, kalau alasan Aku sibuk, itu juga bukan alasan, yang salah disini itu Kamu yang nggak pernah percaya sama Aku. Ambil keputusan sendiri." jawab Rey lagi menghela napasnya dengan kasar.


Grace hanya diam saja mencerna perkataan Suaminya.


"Sekarang, terserah Kamu." ucap Rey mulai mengambil jarak dengan Grace.


"Kalau Kamu bisa ambil keputusan sepihak tanpa memberitahu Aku, itu sama aja Kamu nggak menghargai Aku sebagai Suami Kamu. Semuanya terserah Kamu, sekarang. Aku nggak akan ikut campur urusan Kamu lagi mulai hari ini" Rey mengucapkan dengan nada yang sangat kecewa.


Setelah mengatakan hal tersebut, lelaki itu pun meninggalkan Grace seorang diri di sana. Mengakhiri pembicaraan mereka yang berujung dengan pertengkaran.


Grace menatap punggung Prianya itu yang mulai pergi menjauh, meninggalkan dirinya yang mematung dan terkejut mendengar ucapan terakhir dari Rey yang sepertinya sangat kecewa.


*


*


*


Catatan:


Halo, Group Author sudah ada nih. Jika para readers mau bergabung dan kenal Author kalian yang cantik ini lebih jauh wkwkkwkw, cukup masuk ke grup dengan menuliskan, apa sih yang kalian pelajari dari cerita ini?


Nanti Admin nya bisa acc yaa..


Terimakasehhh