
Akhirnya setelah pembicaraan siang mengenai acara pertunangan mereka berdua dan segala macam keperluannya yang terasa panjang menurut Grace itu. Wanita itu berpamitan untuk pulang ke rumahnya.
"Tante, om, Grace pamit pulang dulu yaa"
Ucap wanita itu kemudian sambil berdiri hendak menyalami ke dua calon mertua nya itu.
"Oh, kamu naik apa tadi ke sini Grace?"
Tanya Farhan sambil menjulurkan tangan nya untuk bersalaman dengan gadis itu.
"Grace, bawa mobil sendiri kok om"
Balas wanita itu yang sudah selesai bersalaman dengan calon ibu mertua nya.
"Hati-hati, Grace"
Ucap Farhan lagi
"Iya om"
Ucap nya sebelum melangkah kan kaki keluar menuju pintu depan rumah milik keluarga itu.
"Bye.. bye .. kakak ipar
Ucap Laura sambil melambaikan tangan nya, dan wanita yang di sapa nya itu hanya tersenyum saja sambil membalas lambaian tangan nya.
Tanpa wanita itu sadari kalau ada seseorang yang mengikuti langkah nya dan berjalan di belakang nya menuju pintu depan rumah itu juga.
"Kamu hati - hati di jalan"
Ucap Rey tiba - tiba.
Seketika itu juga, wanita itu menoleh ke belakang mendengar suara yang khas di telinga nya itu.
"Eh, iya kak"
Ucap wanita itu dengan raut wajah yang terkejut.
"Lain kali kalau datang ke rumah naik taksi saja atau hubungi aku, biar aku jemput"
Ucap pria itu lagi sambil memasukkan kedua tangan nya di saku kantong celana pria itu.
"Gak apa - apa kok kak, Grace udah terbiasa juga"
Ucap wanita itu lagi yang berfikir tumben sekali pria ini mengantar nya sampai ke depan pintu rumah.
Biasanya ketika wanita itu hendak pulang pria itu selalu bersikap biasa saja dan tidak pernah mengantar dirinya sampai ke depan pintu rumah seolah olah Grace memang tamu yang selalu terbiasa berkunjung di rumah mereka yang tidak perlu di antar sampai ke depan pintu rumah .
"Hm, baiklah"
Ucap pria itu kemudian.
"Grace, pamit dulu kak'
Ucap wanita tersebut.
Dan sang pria hanya menganggukkan kepala nya sambil menatap punggung wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri nya itu.
Pria itu masih berdiri dan mengawasi sampai mobil wanita itu keluar dari pekarangan rumah mereka kemudian setelah nya dia masuk kembali ke dalam rumah mereka.
*****
"Glen?"
Teriak Grace dari pintu depan milik rumah keluarga mereka. Gadis itu tiba tiba melihat sosok adik yang dia rindukan selama ini ternyata sudah pulang dan berbincang dengan ayah nya sambil memakan sesuatu yang entah apa menurut nya.
Sementara sang adik yang mendengar teriakan dari sang kakak nya itu hanya menatap nya dengan raut wajah yang terkesan santai.
"Berisik mbak, telinga gue mau copot dengar teriakan lo"
Ucap sang adik sambil memegang telinga nya .
"Lo kapan sampai nya?"
Ucap wanita itu kembali sambil berlari menghampiri ke duanya
"Tadi subuh"
Ucap sang adik dengan santai nya sambil mengunyah makanan nya.
"Kok gue nggak dengar Lo udah balik sih?"
Ucap wanita itu lagi sambil menatap wajah sang adik yang dia rindukan.
"Lo mah tidur nya kalau bom aja jatuh nggak akan bangun tau nggak"
Ucap pria itu lagi yang masih mengunyah makanan milik nya.
"Ya setidaknya Lo bangunin gue kali"
Ucap wanita itu lagi.
"Capek juga gue mbak, jetlag juga ini masih."
Ucap nya
"Hehehe.. iya juga "
"Titipan gue Lo bawa kan dek?"
Ucap Grace lagi sambil menarik turunkan alis nya pada sang adik.
"Udah gue taruh di kamar Lo tadi pagi tapi Lo nya nggak ada, pagi pagi udah keluyuran aja Lo mbak"
"Enak aja, pagi pagi gini gue belajar masak tau sama Tante Nita".
Terdengar membela diri nya
"Iya iya tau deh yang mau nikah"
Ucap Glenn
"Kamu kasih apa ke kakak kamu , Glen?
Kali ini sang ayah yang menanyakan titipan putri nya itu kepada anak bungsu nya ini.
"Oh Jam keluaran terbaru Yah, katanya di sini belum keluar"
Ucap Glenn kepada ayah nya itu
"Astaga,,Jam lagi?"
Ucap sang ayah yang heran kenapa putri nya itu senang sekali mengoleksi jam mewah.
Dan sang anak yang di tanyakan hanya menganggukkan kepala nya tanda memaklumi sang kakak yang tergila gila dengan koleksi jam tersebut.
Setelah itu sang kakak yang dibicarakan langsung datang menghampiri mereka berdua sambil berlari dengan senyum yang sangat senang.
"Makasih Glenn, Lo baik banget sih dek. Berapa duit nih?, entar gue transfer ke rekening Lo"
Sambil melihat lihat jam yang di bawa sang adik tersebut.
"Nggak usah, anggap aja kado dari gue buat pertunangan Lo"
Ucap sang adik lagi.
"Widihhh... baik juga Lo dek, sini sini gue cium"
Ucap sang kakak sambil mencium wajah adik nya tersebut.
"ck, ya elahh mbak nggak usah cium cium kali turun nih pamor gue. Gue nggak anak belasan tahun lagi ya"
Ucap sang adik yang merasa risih dengan ciuman sang kakak.
"Lo, tetap anak belasan tahun buat gue"
Ucap sang kakak lagi sambil tertawa senang melihat jam tersebut.
"Sebahagia nya Lo deh mbak, capek gue"
Ucap sang adik.
"Hehehe"
Ucap Grace sambil terkekeh.
"Kayaknya mas Rey harus kerja ekstra kalau menuhin koleksi jam lo, mbak"
"Tenang aja gue nggak akan minta ke dia, ini yang terakhir kok"
Balas wanita itu sambil terkekeh
"Perasaan kemarin kemarin Lo juga bilang begitu deh, tapi ini Lo masih koleksi"
Ucap Glenn mengingat kan perkataan kakaknya itu di hari hari sebelum nya.
Sementara sang Ayah yang sedari tadi memperhatikan aksi ke dua anak nya tersebut hanya tertawa saja melihat tingkah laku mereka berdua.
"Sampai kapan Lo disini , dek"
Ucap Grace lagi
"Lo, ngusir nih cerita nya biar gue balik lagi ke Jerman?"
Ucap sang adik.
"Emang pikiran Lo, seudzon mulu ya dek sama kakak Lo, nggak pernah bener nih anak"
Ucap Grace yang menyentil kening sang adik nya tersebut.
Sementara sang adik hanya terkekeh sambil mengusap kening nya yang di sentil kakak nya itu.
Sakit juga fikir nya.
"Setelah acara pertunangan Lo, gue langsung balik. Sebelum Lo nikah gue menetap disini. Kuliah gue juga udah mau selesai juga di sana jadi mau gue cepet kelarin sebelum acara pernikahan Lo."
"Ciee. akhirnya mau lulus juga Lo"
Ucap sang kakak
"Iyalah, udah ganteng gini terus pinter lagi. Beruntung banget istri gue entar dapetin suami macam gue mbak"
Ucap Glen dengan bangga nya.
Sementara sang kakak hanya menanggapi dengan wajah malas mendengar ucapan narsis dari pria yang menjabat sebagai adik kandung nya tersebut.
"Yang bahagia Lo mbak"
Ucap sang adik tiba tiba
Dan sang kakak hanya mengerutkan kening nya tanda tidak mengerti dengan ucapan adik nya.
Sepertinya sang adik mengerti dengan tingkah laku sang kakak yang mengkerut kan kening nya ini mendengar ucapan nya.
"Maksud gue lo harus bahagia entar kalau udah nikah, jadi istri yang nurut terus dengerin apa kata suami"
Ucap nya lagi yang menjelaskan perkataan nya yang sebelum nya.
"Ya elahh, emang gue selama ini nggak nurut menurut Lo?"
Tanya sang kakak yang mendengar wejangan sang adik.
"Kagak, Lo mah jahil nya setengah mati"
Ucap sang adik nya lagi.
Dan mereka bertiga pun hanya tertawa merindukan moment - moment bisa berkumpul seperti ini.
*******
Selanjutnya