
Rey terpaksa membuka matanya di waktu subuh-subuh begini, karena merasa sensasi dingin di bagian pipinya.
Lelaki itu terusik dengan sesuatu aneh yang mengusap-usap wajah dan bagian hidung.
Ketika dia membuka mata, ternyata ada seseorang yang mengganggu tidur pulasnya.
Ya, siapa lagi kalau bukan Sang Istri sebagai pelaku.
Grace saat ini tengah menduduki perut Rey dan menghiasi wajah Sang Suami menggunakan alat make-up miliknya sendiri.
Tidak tahu kenapa, di waktu subuh ketika dia terbangun. Grace sangat ingin sekali mendandani wajah Suaminya itu.
Grace terkekeh dengan polosnya, saat Sang Suami memergoki ulahnya.
"Kamu ngapain sih?" tanya Rey mengerutkan keningnya, lelaki itu langsung memegang wajahnya karena merasa dingin di sekitar pipi.
Grace masih terkekeh tanpa merasa berdosa, "Kamu cantik banget, Kak." Jawabnya karena merasa senang dengan hasil karyanya barusan.
Rey berdecak malas melihat tingkah laku aneh Istrinya itu. Seketika itu juga Rey menghapus make-up tersebut di wajahnya.
"ihhh... jangan dihapus," Grace merasa kesal karena makeup yang dia berikan ke wajah Rey kini mulai pudar, akibat Sang Suami langsung menghapus make-up tersebut.
Grace langsung mengerucutkan bibirnya tidak puas, masih menduduki perut Sang Suami. Wanita itu kembali mengaplikasikan foundation ke wajah Rey.
"Mau ngapain?" tanya Rey sambil mencekal lengan Sang Istri karena gelagat Grace yang mulai aneh.
"Mau dandanin Kamu, jangan dihapus Kak. Kamu cantik tau." ucapnya kembali sambil memegangi wajah Rey agar tidak memberontak saat diberi makeup.
"Kamu diam ya. Percayakan sama Aku." ucap Grace. Seperti petugas salon langganan miliknya yang sangat profesional.
Rey merasa geli ketika foundation itu kembali mendarat di wajahnya.
"Aku kan laki-laki, Sayang. Kok di makeup begini sih?" tanya Rey di sela-sela aktivitas mereka.
Grace tidak menjawab ucapan Suaminya itu. Dia malah lebih fokus kepada wajah Rey dan kini mulai sibuk di alis tebal milik Rey.
Merasa posisi Grace saat ini sangat intim sekali, Rey pun melancarkan modusnya dengan mengusap-usap pinggul Sang Istri dengan nakal.
Wajah Grace mulai berubah waspada saat Sang Suami mulai menunjukkan gelagat aneh.
"Jangan nakal," ucapnya memukul tangan Rey yang mulai menggerayangi tubuhnya.
Rey pun hanya terkekeh dengan santainya, "Siapa suruh kamu di atas Aku begini?" tanyanya menaik turunkan alisnya dengan gaya yang menggoda, seperti pria buaya darat.
Grace memilih tidak peduli, dia kembali melanjutkan karyanya di wajah Sang suami yang kini tidak memberontak lagi.
Rey berpikir, daripada wanita ini selalu muntah di pagi hari, mending seperti ini saja. Tidak apa-apa kalau dia yang menjadi sasaran empuk Istrinya.
Rey tidak sanggup kalau terus-terusan melihat Grace muntah dengan wajah dan tubuh yang lesu di pagi hari.
"Selesai," jawab Grace dengan girang saat melihat wajah sang Suami yang kini dipenuhi oleh makeup yang maksimal.
"Coba lihat deh, dandanan Aku?" Grace menyodorkan kaca kecil ke arah Rey, supaya lelaki itu dapat melihat wajahnya sekarang.
Sontak Rey membelalakkan matanya, ketika melihat wajahnya kini sangat berbeda seperti biasa.
Dia seperti banci di tengah jalan yang sedang menunggu pelanggan datang untuk digoda.
"Cantik kan, Kak?" tanya Grace lagi tanpa merasa berdosa sama sekali.
Raut wajah yang senang dan gembira menghiasi wajah Grace saat ini.
Sementara Sang Suami hanya mendengus kesal, melihat tingkah laku aneh Istrinya di pagi buta seperti ini.
"Jangan di hapus ya, Aku pengen liat wajah Kamu seharian di dandan begini," pinta Grace, mulai turun dari perut Sang Suami.
Wanita itu kemudian tidur menghadap Rey dan sibuk memandangi wajah Sang Suami.
Rey pun mengambil posisi yang sama dengan Istrinya. Saat ini mereka dalam posisi yang berhadapan satu dengan yang lain.
Grace yang awal mula menatap wajah Suaminya itu, tiba-tiba menundukkan pandangannya saat Sang Suami membalas menatapnya dengan tatapan yang sangat intens.
Baru kali ini Rey menatapnya seperti itu, membuat jantung Grace berdegup kencang dibuat lelaki tersebut.
Ternyata Grace masih lemah dengan lelaki yang berada di sampingnya ini.
"Hei, lihat Aku dong. Tadi katanya pengen lihat Aku seharian?" Rey mulai menggoda Istrinya itu.
Grace pun menggelengkan kepalanya, "Nggak jadi. Sekarang Kamu jelek," ucapnya sembari memunggungi Rey. Masih merasa tidak mampu di tatap Rey.
"Katanya mau lihat Aku seharian," Goda Rey lagi namun tidak dijawab oleh Sang Istri. Grace masih di posisi yang sama.
"Ya udah, Aku hapus deh makeup nya." Rey mulai berpura-pura mengancam.
Ternyata ancamannya berhasil membuat Istrinya itu berbalik kembali ke arahnya.
"Jangan," kata Grace sambil memegang lengan prianya itu.
"Ya udah. Liat aku yang bener dong" Jawab Rey kembali menghadap Grace dan menatap Istrinya.
Rey mengusap pipi mulus Istrinya itu, "Kamu nggak mual?" tanya Rey sambil mengelus pipi lembut itu.
"Lapar?" tanyanya lagi.
"Belum"
Hening....
Mereka hanya menatap satu sama lain.
"Kak?"
"Sayang," protes Rey tidak terima dengan panggilan tersebut.
"Kamu cinta nggak sih sama Aku?" tanya Grace, tidak memusingkan panggilan yang barusan di ralat Sang Suami.
Rey menaikkan alisnya, kenapa tiba-tiba Istrinya menanyakan hal yang seperti itu?
"Menurut Kamu?" Rey kembali bertanya.
Grace pun berdecak dengan malas, saat dia bertanya dan dijawab dengan pertanyaan, sungguh membuatnya jengkel.
"Nggak cinta," jawab Grace asal.
Darimana Kamu tahu, Aku nggak cinta sama Kamu?" tanya Rey sambil memeluk pinggang Sang Istri.
"Kamu nggak pernah bilang."
"Emang ungkapan cinta harus dibilang?"
Grace sejenak berpikir, Iya juga sih. Pikirnya dalam hati.
"Kamu sama Mitha dulu, bagaimana?" tanya Grace ingin mengetahui masa lalu Suaminya itu.
"Udah deh, nggak usah ungkit-ungkit masa lalu. Kamu yang nanya, entar Kamunya juga yang marah." Jawab Rey .
Grace menghela napasnya dengan kasar. Mengapa ungkapan cinta sulit sekali dia dengar dari Suaminya ini.
"Kamu udah cinta Aku nggak sih Kak?" tanya Grace memukul pelan dada Rey, karena selalu tidak pernah menjawab pertanyaannya dengan serius.
"Hmm..." kata Rey seperti menggantungkan kalimat.
"Nanti kita ke rumah Mama ya," jawab Rey tiba-tiba. Keluar dari topik yang mereka bahas.
Grace pun berdecak, "Kamu suka banget ngalihin topik," ucap Grace menepis pelukan Suaminya itu dan kembali memunggungi Rey.
"Aku nggak ngalihin topik kok. Memang harusnya hari ini kita ke rumah Mama, kan?" Rey kembali memeluk Grace dari belakang.
"Terserah," jawab Grace dengan ketus, karena pertanyaannya tadi belum dijawab serius oleh Rey.
"Ngambek?" kata Rey sambil mencium pipi Istrinya itu.
"Nggak usah sentuh-sentuh," Grace masih menjawab dengan ketus.
"Ya udah, Aku suapin sarapan buat Kita ya. Kamu mau makan apa?"
Grace memilih diam dan tidak menjawab. Dia masih kesal dengan Rey yang mengalihkan topik pembicaraan mereka tadi.
"Iya... iya. Aku cinta kamu. Udah jangan ngambek lagi." Jawab Rey akhirnya.
Grace pun menoleh, "Kamu bilangnya kayak nggak ikhlas gitu," ucap Grace.
"Aku memang begini kok." Rey mengedikkan bahunya.
"Kamu terpaksa kan?" Grace memicingkan matanya.
"Aku nggak jawab salah. Terus Aku jawab barusan salah juga." Rey menghela napasnya.
"Tapi Kamu bilangnya kayak nggak ikhlas gitu, Kak " jawab Grace.
"Aku ikhlas kok. Daripada pusing pikirin kata cinta, mending kita sarapan. Biar si kecil, sehat-sehat." kata Rey berusaha membantu Istrinya itu supaya beranjak dari ranjang mereka.
"Nanti sepulang dari rumah Mama, kita beli susu hamil buat Kamu." ucap Rey lagi saat mereka berdua hendak keluar dari kamar.
Grace hanya menjawab dengan deheman saja.
Sejenak Grace melihat wajah Sang Suami untuk memastikan ucapan Rey barusan.
Apakah Suaminya itu benar-benar sudah mencintainya?
Atau ucapan barusan yang dia dengar, hanya sebagai ungkapan asal saja supaya hatinya puas.
Entahlah, Grace tidak tahu pasti bagaimana perasaan Rey saat ini terhadapnya.
*
*
*