Grace

Grace
Kamu Istri Aku



Grace menatap kertas itu dengan nanar. Perasaanya campur aduk saat melihat gugatan cerai yang ditujukan Rey padanya.


"Ma.... ksudnya bagaimana, Ma? tanyanya dengan gagap, masih tidak percaya dengan situasi sekarang.


Anita berdecak dengan bersedekap dada, " Saya beri Kamu waktu 3 hari untuk tandatangan berkas itu. Setelahnya Saya akan datang lagi kesini." ucapnya, Wanita paruh baya itu pun langsung berdiri tanpa melihat Grace yang masih syok menatap isian amplop tersebut.


"Tunggu, Ma." Grace mendongakkan kepalanya ke arah Anita yang sedang berdiri.


"Kak Rey, tidak pernah membicarakan perceraian sebelumnya. Lagipula hubungan Kami baik-baik saja, Ma." kata Grace lagi. Dia tidak percaya kalau Suaminya itu ingin bercerai tanpa pembicaraan di antara mereka berdua, terlebih dahulu.


Anita pun duduk kembali menatap Menantunya itu, yang wajahnya hari ini kelihatan sangat terlihat pucat.


"Kami baik-baik saja, Ma. Jadi Grace tidak percaya kalau surat gugatan ini dari kak Rey." jawabnya berbohong, padahal mereka tidak sedang baik-baik saja sekarang.


Bagaimana pun Anita tidak boleh tahu kondisi rumah tangga mereka yang sedang retak seperti ini.


Sejenak Anita menghela napas dengan kasar, "Iya itu memang bukan dari anak Saya. Tapi Saya yang buat sendiri." jawab Anita dengan jujur, membuat Grace meremas baju yang dia gunakan.


Ingin sekali rasanya dia beradu argumen dengan Mertuanya ini. Karena Grace sudah menganggapnya sebagai ibu kandung, menjadikan Grace sangat menghormati Anita, Sang Mertua.


"Kenapa, Mama buat gugatan cerai ini Ma?" tanya Grace dengan bingung.


"Ya, Harusnya Kamu sadar diri, Grace. Anak Saya sudah tidak bahagia lagi dengan Kamu. Selama ini Saya tahu kalau Rey tidak pernah pulang lagi ke apartemen ini, kan?" tanyanya dengan menjengkelkan.


Grace mau menyela, tetapi Anita memotong perkataannya dengan mengarahkan telapak tangan miliknya kepada Menantunya itu.


"Sudahlah, dengan memaksa keadaan kalian yang seperti sekarang ini. Mama, sudah tahu kok ujungnya. Kalian itu tidak akan pernah bahagia." kata Anita lagi.


"Apa sih yang buat Kamu, selalu mempertahankan rumah tangga kalian? Ikhlaskan saja Anak Saya Grace, biarkan dia bahagia."


Grace hanya diam mencerna setiap ucapan dari Anita.


"Selama ini Dia juga tidak mencintai Kamu, dan Kamu pasti tahu itu kan?" tanya Anita yang membuat Grace ingin kembali lagi menangis. Tetapi wanita itu menahan air matanya agar tidak keluar.


"Disini Saya sebagai Orangtua mengaku bersalah dan menyesal karena menyetujui perjodohan kalian dulu,"


" Melihat rumah tangga kalian yang akhir-akhir ini tidak harmonis. Menurut Saya sebaiknya kamu yang harus mengalah Grace." ucap Anita , kali ini tidak ada raut wajah angkuh di wajahnya. Hanya ada wajah seperti seorang ibu yang memberikan saran kepada anaknya.


"Pasti Kamu juga tahu, Kan. Kalau Rey dan Mitha dulu putus karena Kamu?"


Grace pun kaget mendengar fakta yang barusan di ucapkan mertuanya itu.


"Maksud, Mama apa?" tanyanya merasa semakin syok. Grace semakin pusing mendengar pengakuan dan kejadian satu hari ini.


Seolah-olah tubuhnya tidak bisa menerima dan memahami kondisi mereka sekarang.


"Oh, Kamu belum tahu ternyata ya?." ucap Anita dengan menganggukkan kepala sekilas.


"Mitha meminta putus dari Rey, karena dia merasa kasihan sama Kamu. Jadi dia sengaja berbohong dijodohkan oleh orangtuanya supaya Rey menerima perpisahan mereka." kata Anita menyunggingkan senyum di bibirnya merasa ucapannya berhasil mempengaruhi Grace.


"Bu... bukan begitu, Ma. Kak Rey ceritanya beda....." Grace semakin gagap mengutarakan isi hatinya.


"Rey berbohong," Sela Anita pada Grace.


"Saya bertemu dengan Mitha, beberapa bulan yang lalu. Dia menceritakan semuanya."


"Grace, Kamu sudah tahu kalau Rey tidak mencintai Kamu. Untuk apa mempertahankan hubungan yang seperti itu, biarkan Rey bahagia dengan wanita lain yang lebih baik dari Kamu. Jadi sebaiknya, Kamu pikir matang-matang surat perceraian itu. Saya akan kembali 3 hari lagi, ketika Saya kembali. Saya harap surat itu sudah kamu tanda tangani.


"Saya permisi," kata Anita sambil melangkahkan kaki menuju pintu keluar apartemen Grace.


Meninggalkan Menantunya, yang duduk termenung. Masih sulit memahami situasi dan keputusan apa yang akan dia ambil.


Ya, Dia harus memastikan ini pada, Rey. Wanita itu harus menanyakan kepada Suaminya. Mau di bawa kemana rumah tangga mereka.


***


Detik demi detik berlalu, Grace masih menunggu Sang Suami untuk pulang ke apartemen.


Wanita itu sengaja duduk di sofa ruang tamu, menunggu Rey yang entah pulang atau tidak malam ini.


Berkali-kali Grace mengirimkan pesan, namun tidak ada balasan dari Suaminya itu.


Sudah... ini sudah cukup. Cukup selama ini Rey mendiamkannya seperti sekarang.


Grace tidak bisa menerima lagi perlakuan tersebut. Wanita itu tidak lagi menangis, dia berusaha tegar untuk menghadapi kehidupannya sekarang.


Walau di dalam hatinya, sudah hancur berantakan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, kini pintu apartemen mereka berbunyi dan menampilkan Rey yang sudah pulang dengan wajah yang terlihat lelah.


"Kamu sudah pulang?" tanya Grace dengan tiba-tiba. Mengingat perlakuan Suaminya itu tadi siang yang dengan sengaja tidak menghiraukan dirinya membuat Grace marah dan kesal.


"Hm," Rey masih menjawab dengan singkat.


Lelaki itu langsung berjalan menuju ruang kerjanya, namun dengan cepat Grace menahan langkah kaki Rey.


"Sampai kapan sih Kamu, cuekin Aku begini." suara Grace mengencang. Ada nada emosi disana.


"Kalau Aku ada salah bisa kan di omongin baik-baik, bukan cuekin Aku kekgini, Kak. Jahat banget sih, Kamu." ucapnya.


Kini mereka berdua masih berdiri di ruang tamu.


Suara Grace yang terdengar memenuhi apartemen mereka saat ini.


"Aku capek." jawab Rey singkat.


"Selalu itu yang jadi alasan Kamu. Emang kamu pikir Aku nggak capek, Kak?" tanya Grace masih dengan emosi.


"Kenapa sekarang Kamu yang marah? tanya Rey, raut wajahnya mulai tersulut emosi karena melihat kemarahan Sang Istri.


"Aku berhak marah!" seru Grace.


"Aku sudah berusaha untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan kita. Tapi Kamu benar-benar keterlaluan, Kak."


"Cuma masalah Aku nggak bilang ke Kamu kalau Aku resign dari perusahaan. Kamu marah seperti ini."


"Kamu sudah berubah Kak. Kamu bukan Rey yang aku kenal seperti dulu." ucap Grace Mulai menangis karena dilanda emosi.


"Oh.... atau Kamu sudah selingkuh dengan wanita centil itu?" tanya Grace dengan tersenyum pahit.


"GRACE!!" Rey berucap dengan marah dituduh seperti itu.


"APA?" tanya Grace tak kalah.


Rey mencengkram bahu istrinya itu dengan kuat, masih tidak menerima tuduhan tersebut.


"Selama ini Kamu kemana, kamu nggak pernah pulang. Jadi jangan salahin Aku tuduh Kamu seperti itu."


"Kamu..." geram Rey, dia masih mengendalikan emosinya agar tidak menyakiti istrinya ini.


"Aku tahu Kak, kalau kamu tidak pernah cinta sama Aku. Kalau Kamu sudah bosan sama Aku, harusnya Kamu bilang, bukan cuekin Aku seperti ini. Kamu berhari-hari nggak pulang, buat Aku khawatir tahu nggak." ucapnya sudah menangis sambil memukul dada lelaki itu.


"Tadi Mama kesini, Mama bilang kalau Kamu dulu putus dengan Mitha karena kasihan dengan Aku. Tapi kenapa Kamu ceritanya lain, hagh?" tanyanya.


"Harusnya Kamu jujur, Kak. Aku nggak suka menerima perasaan kasihan dari kalian berdua." Grace menangis dengan terisak.


Rey terdiam sesaat mendengar pengakuan Istrinya itu.


"Apa bedanya dengan Kamu yang berbohong juga." balas Rey dengan berkacak pinggang.


"Kamu juga nggak ngehargai Aku kan sebagai Suami. Ambil keputusan sendiri, tanpa berbicara lebih dulu dengan Aku." jawab Rey.


"Kenapa Kamu menangis?" tanya Rey.


"Kamu selalu aja menangis... menangis dan menangis, Aku capek lihat Kamu menangis seperti itu." ucap Rey membentak Istrinya, membuat Grace menghapus air matanya dengan kasar.


"Tadi kenapa Kamu cuekin Aku?" tanyanya balik.


"Aku ada janji, jadi buru-buru." jawab Rey.


"Sama Sasa, seharian?"


"Dia client aku Grace. Harusnya Kamu ngerti dong."


"Kamu juga harusnya ngertiin Aku, Kak." jawab Grace kembali dengan emosi.


"Aku dekat Reno, Kamu marah. Sementara Kamu deket sama Wanita lain, Aku nggak boleh marah gitu, maksud Kamu? Kamu egois tahu nggak" kata Grace lagi.


Rey hanya diam saja, tidak ada jawaban yang berasal dari mulutnya.


"Tadi, Mama kasih surat ini sama Aku." Grace menyodorkan surat perceraian itu pada Suaminya.


Sambil menangis wanita itu memberikan surat tersebut pada Suaminya, Rey.


Sejenak Rey mengerutkan dahi, membaca sekilas surat tersebut.


"Nggak usah capek-capek Kamu baca, itu surat perceraian. Aku sudah tanda tangan, lebih baik Kamu sendiri yang kasih ke Mama Kamu."


"Maksudnya apa ini Grace, Kamu mau cerai dari Aku?" suara Rey meninggi melihat kertas tersebut.


Grace menganggukkan kepalanya singkat "Rumah tangga kita, nggak ada cinta Kak." ucapnya.


"Untuk apa dipertahankan lagi. Seperti kata Kamu satu tahun yang lalu, Aku melepaskan mu sekarang." jawab Grace dengan menundukkan kepala, menyembunyikan air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Nggak.. nggak, Kamu nggak bisa ngambil keputusan sepihak begini." Rey tidak menerima keputusan tersebut.


"Terserah Kamu, yang penting Aku sudah tanda tangan. Besok Aku mau pulang ke rumah Ayah." jawab Grace hendak melangkahkan kakinya menuju kamar mereka.


"Sekali Aku bilang tidak ya tidak, Grace!" seru Rey, lelaki itu mencekal lengan Grace dengan kuat. Seolah-olah takut ditinggalkan.


"Lepas! Sudah Aku bilang terserah Kamu,kan? Aku menyerah, Kak. Aku nggak akan pertahanin Kamu lagi." ucapnya dengan berusaha melepas cekalan tersebut, namun usahanya sia-sia.


"Sampai kapanpun Aku nggak akan ceraikan Kamu. Kamu istri Aku, jadi ini keputusan Aku."


"Kamu egois tahu nggak." ucapnya memukul dada lelaki itu.


"Memang," ucap Rey dengan menjengkelkan.


" Sekarang Kamu, Masuk!" Rey menuntun Istrinya itu ke kamar mereka, kemudian mengunci kamar tersebut.


"Besok Aku yang bicara ke Mama. Untuk surat ini? Anggap aja Aku nggak pernah menerimanya." jawabnya sambil merobek kertas tersebut menjadi dua bagian.


"Aku kepala rumah tangga disini, jadi Kamu harus nurut." ucap Rey lagi dengan tegas.


Grace melepaskan cekalan Rey, dan merangkak naik ke tempat tidur.


"Besok Aku tetap ke rumah Ayah," kata Grace tiba-tiba setelah dirinya sudah sampai di tempat tidur.


"Nggak boleh,"


Grace menatap tajam Rey yang masih berdiri di dekat pintu kamar.


"Aku kangen, Ayah." jawabnya dengan bersikukuh.


"Pergi sama Aku," ucap Rey, kemudian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Rey masih mendengar suara decakan Grace ketika mengatakan untuk pergi bersama dirinya menemui Gilang.


Setelah lelaki itu selesai membersihkan diri, Rey mengurungkan niatnya untuk kembali ke ruang kerja miliknya. Akhirnya dia memutuskan untuk tidur bersama Grace, Istrinya.


Sejenak dia melihat Grace yang tidur ke arah yang memunggunginya.


Rey juga menyadari perbuatannya selama ini yang menghindari Grace beberapa hari terakhir. Ada rasa bersalah di dalam hatinya, hingga membuat Grace bersedia untuk menceraikan dirinya.


Mendengar kata cerai yang berasal dari Istrinya tadi, sejujurnya di dalam hatinya, Dia tidak ingin berpisah.


Memikirkan itu saja, dia tidak bisa membayangkan hidupnya akan seperti apa.


Sungguh, Dia tidak akan sanggup tanpa Grace di sampingnya.


Rey menghembuskan napasnya, kemudian menggeser tubuhnya ke arah Grace.


"Maaf," ucapnya terdengar tulus.


Tidak ada jawaban dari Grace, dia berpura-pura untuk tidur.


"Maaf sudah cuekin Kamu tadi siang di kantor," ucapnya lagi karena tidak mendapat balasan.


Rey semakin mempersempit jarak mereka berdua dengan tubuh Istrinya itu, "Maaf udah buat Kamu nangis, hmm?" Rey berusaha mengajak Grace untuk berbicara.


Rey mencoba untuk memeluk tubuh Grace karena tidak ada jawaban sama sekali dari Istrinya.


"Lepas!" tolak Grace saat tangan Rey sudah memeluk pinggangnya.


*


*


*