
"Grace, ini laporan yang kamu minta tadi pagi". Ucap Reno seraya memberikan dokumen yang di minta oleh Grace kepadanya.
"Aku kok nggak lihat bang Rey hari ini ke kantor, Grace". Tanya Reno lagi sembari mengingat kalau suami dari wanita yang dicintainya ini tidak ada di kantor semenjak hari ini.
"Oh, iya. Dia sudah resign, Ren". Jawab Grace yang memeriksa dokumen pemberian Reno.
"Kamu bahagia kan sama dia, Grace?". Tanya Reno tiba-tiba.
"Aku bahagia kok, Ren". Ucap Grace sembari tersenyum kepada Reno.
Reno yang kini sudah duduk di kursi depan yang tersedia di hadapan meja kerja Grace hanya bisa menatap wanita itu untuk memastikan ucapan yang dia dengar barusan.
"Kamu kenapa lihatin aku begitu?". Tanya Grace sembari memegangi wajahnya yang di pandang seperti itu oleh Reno.
"Nggak apa-apa, kamu banyak berubah". Ucap Reno.
Grace mengerutkan dahinya." berubah apanya?". Tanya Grace.
"Kamu makin cantik". Ucap Reno ala menggombal seperti biasa.
Grace hanya melengos saja mendengar gombalan yang sudah biasa dia dengar dari teman lamanya ini.
"Kamu juga makin ahli menggombal". Jawab Grace masih dengan memeriksa dokumen kantor.
"Hahaha, setidaknya aku tulus ucapin itu ke kamu". Jawab Reno lagi masih asik menatap wanita yang menurutnya paling cantik setelah ibu Reno sendiri tentunya.
"Iya, aku tau kok. Terima kasih Ren". Balas Grace.
"Akhir-akhir ini kamu sepertinya menghindar dari aku, Grace". Ucap Reno yang menyadari kalau Grace banyak menghindar darinya semenjak dia datang di perusahaan milik ayahnya Grace.
"Perasaan kamu aja, Ren". Ucap Grace berbohong agar Reno tidak salah paham dengan sikapnya.
"Perasaan aku nggak pernah salah". Balas Reno dengan raut wajah serius.
"Kamu memang seperti menghindar Grace". Jawabnya lagi pada Grace.
Grace langsung menghentikan aktivitas menulisnya dan menatap Reno yang sudah duduk sedari tadi dihadapan Grace saat ini.
"Kamu nggak nyaman yaa, dengan kehadiran aku?". Tanya Reno lagi.
"Nggak, bukan begitu Ren, aku cuma jaga perasaan suami aku. Bagaimana pun juga aku sudah bersuami. Tidak baik di lihat orang kalau aku dekat dengan pria lain yang bukan suami aku." Ucap Grace yang meyakinkan Reno dengan sikapnya selama ini.
"Ooh. Tapi kita masih bisa berteman seperti dulu kan, Grace?". Ucap Reno sambil melihat reaksi dari wajah Grace mengenai ucapannya.
"Sejak dulu sampai sekarang kamu masih teman aku, Ren". Jawab Grace sambil tersenyum.
"Baiklah". Ucap Reno.
"Intinya, selama kita di kantor kalau kamu perlu bantuan. Kamu nggak usah sungkan minta bantuan ke aku". Balas Reno
"Iya". Jawab Grace
"Sejak kapan sih, panggilan kamu ke aku jadinya?. Biasanya panggilan kita, Lo gue, Ren?". Tanya Grace yang baru menyadari panggilan Reno kepadanya yang berubah.
"Lebih enak aja manggil aku kamu". Kata Reno kemudian.
"Terserah deh". Ucap Grace yang kembali sibuk dengan dokumen kantor miliknya.
"Nanti siang kamu makan dimana, Grace?". Tanya Reno lagi yang belum beranjak pergi dari ruangan Grace.
"Nggak tau palingan Wenny, ngajak makan di kantin". Ucap Grace.
"Aku boleh gabung?". Tanyanya.
"Emang selama ini kamu, makan dengan siapa ?"
"Aku biasanya order, nanti si Udin yang nganterin ke ruangan aku". Jawab Reno yang bercerita mengenai kebiasaan makan siangnya.
"Ooh". Jawab Grace
"Ya udah, nanti turun ke kantin bareng aku aja. Palingan sebentar lagi Wenny datang jemput aku ke sini". Ucap Grace lagi.
"Oke". Sambil beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan tersebut.
****
"Kita kedatangan anggota baru nih, Grace". Tanya Wenny ketika melihat Reno sudah duluan datang dan duduk di ruangan Grace.
"Kasihan Reno, Wen. Nggak ada temennya nih anak". Ucap Grace sambil beranjak dari kursinya.
"Oke. Karena Lo, anggota baru. Jadi hari ini kita makan siang di traktir sama Lo". Ucap Wenny pada Reno sambil menaik turunkan alisnya.
"Emang nggak pernah tulus Lo ya, sama temen sendiri Lo porotin juga" Jawab Reno
"Ck, Lo kan anak orang kaya Ren. Sekali-kali traktir nggak buat Lo jatuh miskin kali". Jawab Wenny sambil menggandeng lengan Grace yang sudah menghampiri mereka berdua.
"Ya udah pengen makan siang apa Lo berdua?". Ucap Reno mengalah akhirnya yang jadi mentraktir.
"Yeayy. Hmm. Makan di cafe depan ya Ren. Udah jarang gue makan siang disana". penawaran Wenny.
"Yee .itu mah mau nya Elo. Kamu mau makan apa Grace?". Tanya Reno pada Grace dan Wenny mengerutkan dahinya tanda heran mendengar panggilan aku kamu yang dia dengar dari Reno barusan.
"Hmm. Terserah Wenny aja Ren". Jawab Grace.
"Oke. Kita makan di cafe depan" Putus Reno kemudian.
"Asik". Jawab Wenny seraya bertepuk tangan kesenangan.
Sesampainya di Cafe yang di pesan oleh Wenny tadi, Reno dengan sengaja mengambil tempat duduk bersisian dengan Grace. Sedangkan Wenny berada di hadapan mereka berdua.
Grace yang menyadari tingkah laku Reno kepadanya, sedikit mulai menjaga jarak kursinya agar tidak terlalu dekat dengan kursi yang dia duduki.
"Mau makan apaan, nih?". Tanya Reno.
"Gue menu yang paling mahal disini , Ren". Ucap Wenny yang tidak tahu diri.
"Aku steak biasa, aja Ren". Ucap Grace.
"Oke" Jawab Reno sambil memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.
"Oh iya Grace, kantor kita kan sebentar lagi ngadain acara buat karyawan terbaik tahun ini di Bogor. Lo ikut nggak?". Tanya Wenny
"Hmm. Belum tau Wen. Aku belum minta izin sama Kak Rey juga" Jawab Grace.
"Gue harap Lo bisa ikut ya Grace, biar ada temen gue". Ucap Wenny lagi.
"Emang acaranya selalu di adain setiap tahun?". Tanya Reno yang sedari tadi menyimak obrolan mereka berdua.
"Iya ,Ren. Lo harus ikut acaranya pasti seru banget". Kata Wenny.
"Kalau Grace ikut, gue juga ikut" Ucap Reno tiba-tiba yang membuat Grace mengalihkan wajahnya ke arah Reno sementara Wenny mengerutkan dahinya tanda curiga.
Selanjutnya