
Baru beberapa jam tertidur, Rey merasa terganggu dengan gerakan Istrinya yang membuat pola-pola abstrak di dada pria itu. Lelaki itu berpikir, mengapa sekarang Istrinya ini menjadi wanita penggoda? selama mereka menikah, Grace belum pernah menggoda dirinya seperti ini.
"Kenapa? Kamu pengen?" tanya Rey dengan jahil, alisnya naik turun digoda seperti itu. Dia tidak boleh melewatkan kesempatan seperti sekarang, tumben sekali Istrinya ini. Pikirnya dalam hati.
Tangan lelaki itu pun sudah mulai tidak bisa dikondisikan, mulai menjalari bagian tubuh Grace yang menjadi favoritenya.
Mendapati tangan Sang Suami yang nakal, Grace segera menepis tangan tersebut dan memukulnya.
"Kamu mesum," ucapnya dengan mengerucutkan bibir, semakin membuat Rey gemas melihat tingkah lakunya.
"Siapa suruh kamu goda Aku duluan" jawab Rey masih berusaha untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Grace masih membuat pola abstrak di dada Suaminya itu, "Jangan digituin dong Sayang, kalau nggak mau goda Aku," Rey memasang wajah mupeng, ingin sekali menerkam Istrinya saat ini. Tetapi lelaki itu tidak mau merusak suasana, mereka baru saja berbaikan. Jadi dia harus bersabar dulu sejenak.
"Kak?", ucap Grace terdengar seperti memohon ingin sesuatu.
"Hmm?" jawab Rey menunggu perkataan Istrinya itu.
Ada jeda sejenak saat Istrinya itu berpikir sebelum mengutarakan sesuatu, " aku lapar," jawabnya kemudian yang membuat Rey melongo takjub sampai mulutnya terbuka.
Rey masih belum menjawab permintaan Grace, dia keheranan mendengar Istrinya yang kelaparan padahal jelas-jelas tadi porsi makannya cukup banyak.
"Issshh, dijawab dong. Aku lapar, Kak." kata Grace tidak sabaran. Wanita itu mencubit pinggang Suaminya karena tidak mendapat respon.
Selain porsi makan Grace yang berubah drastis, Rey menyadari kalau Sang Istri juga sering sekali tidak sabaran dan gampang marah akhir-akhir ini.
Rey gusar, lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bukannya tadi Kamu sudah makan?" tanyanya dengan nada lembut supaya Sang Istri tidak marah-marah.
"Iya, itu kan tadi sekarang Aku lapar lagi." jawab Grace dengan santai, dia langsung mengubah posisi menjadi duduk.
Sejenak Rey melirik jam yang berada di kamar Grace yang menunjuk pukul 1 pagi, "Ya sudah ayo ke dapur, kita cari makanan disana. Siapa tau masih ada makanan disimpan bi Imah." jawab Rey mengikuti posisi Istrinya menjadi duduk kemudian.
"Aku mau soto depan kompleks," kata Grace lagi, dengan santainya tanpa wajah tidak berdosa.
Mendengar hal tersebut, Rey semakin heran dengan keinginan Istrinya itu. Apa ini cara Grace untuk mengerjai dirinya karena kesalahannya kemarin? dengan permintaan yang aneh dan harus dituruti?
Hagh, kepala Rey yang awalnya tidak pusing lagi menjadi mendadak pusing seketika.
"Emang masih buka, ini udah jam 1 Grace," Rey memberi pengertian supaya Grace bisa memahami situasi sekarang yang tidak memungkinkan.
Grace pun menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Aku mau soto sekarang, kalau nggak kita nggak usah pulang besok." Grace mulai mengancam dengan jurus yang mematikan.
Akhirnya Rey mengalah juga, daripada tidak pulang dan Istrinya itu semakin menjadi-jadi ngambeknya. Lebih baik dia turuti saja meskipun agak sedikit aneh.
"Ya udah Kita order ya, Kita lihat dulu siapa tahu masih buka," ucap Rey mengalah sambil membuka handphone miliknya.
Grace menahan tangan Rey saat ingin mengecek aplikasi orderan di handphone tersebut.
"Aku mau makan di tempat, Kak. Nggak mau order," jawab Grace dengan nada yang sangat menggemaskan. Membuat Rey semakin heran dengan tingkah lakunya.
"Ini sudah malam banget Sayang, udah jam 1. Nanti Kamu masuk angin kalau keluar malam," lagi-lagi Rey membujuk Istrinya itu dengan mengelus rambut milik Grace.
"Nggak mau pokoknya Aku mau makan di tempat," Grace masih bersikukuh pada pendiriannya.
Rey menghela napasnya dengan kasar, susah sekali ternyata membujuk Istrinya ini.
Atau dia pura-pura sakit lagi aja kali ya? supaya tidak menuruti permintaan Grace yang aneh.
"Auww, kepala Aku pusing lagi Grace." Kata Rey dengan memegang bagian kepalanya. Berpura-pura sakit, siapa tahu Grace meluluh kembali dan tidak jadi untuk makan soto di luar.
Bukannya menjawab Grace malah diam saja, wanita itu mulai menunjukkan tanda ingin menangis karena permintaannya tidak dituruti.
Rey pun menoleh ke arah Istrinya karena tidak mendapat respon dari Grace yang berada di samping. Dan dia bisa melihat Grace kini ingin menangis.
"Hei, Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kok suka sekali menangis?" tanya Rey mendekati Istrinya itu dengan menangkup wajah Grace.
"Aku mau soto, Kak." ucap Grace lagi dengan nada memelas.
"Tapi kan nggak perlu menangis juga, Sayang." Rey mengusap wajah Istrinya itu dengan lenbut.
Grace menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "pokoknya Aku mau soto. Sekarang!" perintah Grace, nada suara mulai meninggi tidak bisa dibantah lagi.
"Ya udah, Kita keluar. Kamu pakai jaket ya. Biar aku siapin mobil." Akhirnya Rey mengalah, daripada dia tidak dimaafkan dan seharian penuh istrinya itu akan merajuk kembali nantinya. Lebih baik dia mengalah saja.
Grace pun bertepuk tangan dengan senang, dia tidak bisa mengekspresikan kesenangannya selain bertepuk tangan karena permintaannya sudah dituruti oleh Sang Suami.
****
Grace pun menunggu di teras rumah, selagi Suaminya itu mengeluarkan mobil dia bersenandung sejenak kegirangan karena sebentar lagi permintaannya terkabulkan.
Suara klakson mobil Rey terdengar, membuat Grace tersenyum dengan senang ketika ingin memasuki mobil Suaminya tersebut.
Rey berdecak malas melihat jaket yang di pakai oleh Grace masih asal-asalan.
"Jaketnya di resleting Sayang, biar Kamu nggak masuk angin," ucap Rey meresletingkan jaket Istrinya itu ketika Grace sudah duduk di sebelahnya.
Mendengar Rey berulang kali memanggil dirinya dengan sebutan Sayang, hati Grace berbunga-bunga mendengarnya.
Dia merasa sangat disayang, ketika di panggil seperti itu.
Setelah membenahi jaket Istrinya, Rey pun melajukan mobilnya menuju kompleks depan dimana si tempat soto berada.
Rey tersenyum dengan senang, setelah melihat tempat soto yang diinginkan oleh Grace ternyata masih buka di jam segini.
Entah merasa beruntung atau tidak, melihat tempat soto tersebut yang masih buka seperti melihat keajaiban menurut Rey.
Rey pun duduk di kursi yang disediakan, setelah tadi Grace menanyakan apakah Rey ingin makan juga, Lelaki itu hanya menggelengkan kepala saja tanda tidak ingin makan di pagi buta begini.
Setelah membiarkan Istrinya itu yang memesan sendiri makanan, Rey melihat raut wajah si penjual soto yang mengerutkan dahinya seusai Istrinya mengatakan sesuatu.
Entahlah mungkin hanya menurut Rey tetapi melihat sekilas sepertinya si penjual soto juga merasa heran dengan permintaan Grace.
"Bagus ya, Kak " Kata Grace tiba-tiba.
"Bagus apanya?" tanya Rey heran.
"Pemandangannya bagus," ucap Grace dengan senang.
Rey semakin bingung melihat keanehan Istrinya ini.
Hagh, bagus darimana? Lelaki itu hanya bisa melihat jalanan yang sepi dan sesekali terdengar bunyi jangkrik.
Rey menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Grace yang aneh.
"Hehe.. iya bagus" Rey mengalah saja daripada merajuk lagi. Pikirnya dalam hati.
Pesanan soto pun tiba, Rey dapat melihat dua wadah yang dibawa oleh penjual tersebut. Yang satu berisi nasi dan satunya lagi berisi soto. Grace memesannya dengan terpisah tanpa menggunakan sendok.
Setelah mengucapkan terima kasih pada si penjual. Grace langsung berdiri. Membuat Rey mendongakkan kepalanya melihat Istrinya itu.
"Mau kemana?" tanya Rey dengan mengerutkan dahinya.
"Mau cuci tangan," jawab Grace dengan menunjukkan tangannya.
"Ayo, Kamu cuci tangan juga Kak. Biar bersih." perintah Grace.
Untuk apa dia cuci tangan, dia kan tidak ikut makan?
Rey menggaruk dahinya yang tidak gatal. Semakin bingung menghadapi ulah Grace yang sekarang.
"Ayo, Kak!" ajak Grace.
Dan mereka pun mencuci tangan bersama.
***
Kini Rey mengerti, mengapa Istrinya itu mencuci tangan ketika dia hendak makan.
Grace dengan gaya yang lahap memakan soto pesanannya itu menggunakan tangannya sendiri tanpa menggunakan sendok. Seperti orang pada umumnya kalau memakan soto menggunakan sendok, tetapi wanita itu makan dengan tangannya langsung.
Rey pun hanya melongo takjub, melihat cara makan Grace yang berbeda. Wanita itu mencampurkan kuah soto kedalam nasi sedikit mulai sedikit kemudian memakannya menggunakan tangan.
"Kamu mau, Kak?" tanya Grace karena Sang Suami melihatnya sedari tadi.
Rey menggelengkan kepalanya kuat-kuat, pasti rasanya aneh. Pikir lelaki itu dalam hati.
"Sini, buka mulutnya. Kamu cobain dulu," Grace menyodorkan tangannya ke arah Rey hendak menyuapi lelaki itu.
"Nggak usah, Aku masih kenyang." Rey menolak dengan halus.
"Aaa... Ayok Kak, ini enak banget." Grace masih tidak mau menyerah ingin menyuapi Sang Suami.
"Gak apa-apa Grace, Kamu saja yang makan."
"Pegel nih tangan Aku," Grace mulai mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan Rey.
Akhirnya Rey mengalah dengan membuka mulutnya dan membiarkan Istrinya itu menyuapi soto menggunakan tangannya langsung.
"Bagaimana, enak kan Kak?" tanya Grace dengan raut wajah berbinar sehabis menyuapi Rey.
Rey hanya menganggukkan kepalanya saja, karena mulutnya sekarang di penuhi dengan nasi perpaduan kuah soto.
Enak juga, pikir lelaki itu dalam hati.
"Ayo, sini Aku suapin lagi." Grace kembali menyodorkan tangannya.
Rey pun membuka mulutnya dengan senang hati. Kapan lagi dia bisa di suapi Istri galaknya ini.
Grace menyuapi Suaminya itu sampai soto pesanannya hampir habis setengahnya.
"Biar Aku yang suapin, Kamu." Rey juga ikut-ikutan menyuapi Istrinya menggunakan tangannya.
Grace menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Aaaa," ucap Rey saat hendak menyuapi Sang Istri.
Grace bersemangat sekali menghabiskan soto tersebut dan mereka pun bergantian saling menyuapi.
Rey hanya tertawa dan menggelengkan kepala, melihat tingkah laku konyol Istrinya yang terkadang galak, judes dan terkadang lagi manja seperti ini.
Dan dia merasa senang, ketika Grace bermanja ria dengannya tidak judes dan galak lagi.
"Kamu cantik kalau tertawa," Rey tiba-tiba memuji Grace di sela-sela Grace berbincang ini dan itu.
Pipi Grace pun memerah malu, dan tentu tidak terluput dari pandangan Rey yang semakin gemas dengan tingkah laku Sang Istri.
"Cukup dengan ku Kamu tertawa, Oke!" perintah Rey kemudian, dan Grace memiringkan kepalanya.
"Jangan tunjukkan senyummu pada Alan, apalagi sama si Reno itu. Kau mengerti?" ucap pria itu lagi dan mendapat anggukan setuju dari Grace.
"Aku benci melihat mu tersenyum dengan pria lain," Rey masih yang berbicara dan Grace hanya menopang dagu mendengar pembicaraan lelaki itu.
"Kamu cemburu, Kak?" tanya Grace memiringkan kepalanya dengan tersenyum.
"Iya, Aku cemburu. Aku tidak suka Kau berteman dengan lelaki seperti mereka." Ungkap Rey kemudian yang mendapat tawa dari Grace.
"Baiklah, Tuan Pencemburu," jawab Grace dengan tersenyum patuh dan dibalas elusan dari Rey di rambut miliknya.
*
*
*