Grace

Grace
Istri Seutuhnya



Sama halnya dengan Gilang yang bersedih karena Grace akan keluar dari perusahaan, saat ini Wenny juga tengah menangis meratapi nasib yang akan ditinggalkan oleh sahabatnya sejak SMA. Setelah mendengar pengakuan dari Grace seusai Ayahnya mengizinkan.


"Udah, jangan nangis. Kan masih ada aku." Rezi mengusap air mata yang jatuh di pipi sang kekasih menggunakan tisu.


"Lebay, banget Lo, Wen." sambung Grace kemudian.


"Aaaa... jahat banget sih Lo, Grace. Tega banget Lo ninggalin Gue. Huuuu...... huuu." isak Wenny yang membuat Grace jengkel melihatnya, seperti dia tidak bisa berjumpa lagi saja.


"Kan kalian masih bisa ketemu, Yank." jawab Rezi sambil mengelus rambut Sang Kekasih hati yang menangis di pundaknya.


Ya, saat ini mereka di ruangan Grace sembari makan siang bersama karena Grace meminta untuk ditemani makan siang di dalam ruangan saja sekalian menyampaikan keinginannya untuk resign dari perusahaan.


"Terus gimana dong, kalau makan siang siapa yang temani Gue." ucapnya setelah meredakan tangis yang menurut Grace seperti drama.


"Kan ada Aku." bukan Grace yang menjawab melainkan Rezi yang berada di sebelah Wenny.


Wenny berdecak sebal, "Udah deh kamu diem aja, kenapa sih." balasnya memukul lengan Rezi dengan jengkel, membuat pria itu meringis sejenak.


Grace hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sepasang kekasih tersebut. Terkadang romantis terkadang lagi seperti tikus dan kucing seperti saat sekarang.


"Bener kata Kak Rezi, kan ada dia yang nemani Lo makan siang Wen." timpal Grace yang membuat sahabatnya itu mencebikkan bibir dengan kesal.


"Lagian kok Lo, tiba-tiba mutusin resign sih Grace. Lo nggak mikirin Gue disini gimana tanpa Lo." ucap Wenny kembali berdrama ria.


"Kita kan masih bisa jumpa Wen, nggak usah lebay deh."


Wenny bergeser tempat duduk menjadi di sebelah Grace saat ini.


"Gue sedih banget Grace, kita yang sekantor aja jarang bisa ngobrol kalau nggak lagi makan siang. Terus kalau Lo resign, makin jarang dong kita ketemunya." ucap Wenny memeluk sahabatnya itu sambil mencurahkan isi hati.


"Gue masih ada waktu satu bulan lagi kok, Wen. Entar Lo puas-puasin deh cerita sama Gue... hehehe." jawab Grace dengan bercanda supaya Wenny berhenti menangis.


"Iya."


"Nanti kita atur aja kapan bisa ngumpul bertiga bareng Siska juga." ucap Grace melepaskan pelukan mereka.


"Iya, semenjak Siska sudah punya anak. Kita jadi jarang ngumpul ya." Wenny menganggukkan kepala mengingat mereka yang sudah jarang sekali berkumpul. Semenjak mereka punya kesibukan dan aktivitas masing-masing.


"Hm. Kita bisa ke salon bareng, ke mall bareng terus dengan belanja sepuasnya. Kali ini Gue deh yang bayarin." timpal Grace berusaha untuk tersenyum dan menenangkan sahabatnya itu.


Wenny memandang raut wajah Grace dengan penuh selidik, " Lo lagi nggak punya masalah kan?" tanyanya sambil memicingkan mata penuh arti.


Mendengar hal itu pun Grace tertawa, " Kagak ada Wen. Gue cuma mau fokus aja menjadi istri sesungguhnya." ucapnya dengan nada yang ringan dan tidak menampilkan wajah serius.


"Yakin Lo cuma itu alasan Lo keluar dari perusahaan?" tanyanya lagi.


"Iya... ihh Lo udah kayak detektif aja tau nggak sih." balasnya dengan menepuk tangan Wenny dengan lembut.


"Habisnya mendadak banget Grace, terus Lo udah nggak pernah cerita apapun lagi sama Gue." jawab Wenny menggerutu.


"Ini nggak mendadak Wen. Gue udah pikirin dari dulu tapi baru kesampaian sekarang." ucapnya.


"Kalau Lo resign nanti, sering mampir ke kantor ya Grace." Wenny masih tidak rela dengan keputusan sahabatnya itu.


"Iya, lagian Gue pasti sering mampir kesini kok. Lo tenang aja." jawab Grace menenangkan Wenny.


Wenny berdecak sebal, "Ngeselin banget Lo, tahu nggak." ucapnya bersedekap tangan di dada.


"Hahaha, tapi ngangenin." jawab Grace tertawa.


"Tau dah." balas Wenny dengan jengkel.


"Sini Gue peluk, biar ngambek Lo hilang." ucap Grace merentangkan tangan kembali.


"Kagak usah, tega banget Lo ninggalin Gue." ucap Wenny kembali berdrama.


Meskipun jawaban Wenny seperti itu, tidak membuat Grace mengurungkan niatnya untuk memeluk sahabatnya tersebut. Tentu pelukan itu dibalas oleh Wenny yang masih tidak rela Grace keluar dari perusahaan.


Sementara Rezi yang sedari tadi diam hanya bisa memperhatikan Grace dan Sang Kekasih hatinya itu.


Setelah beradegan drama dengan Wenny, giliran Reno yang memasuki ruangan Grace dengan membawa beberapa dokumen pekerjaan milik mereka.


"Kamu memang sudah pasti, mau keluar dari perusahaan Grace?" tanya Reno yang saat ini duduk berhadapan dengan Grace.


Grace menganggukkan kepalanya tanda membenarkan, "Iya Ren. Waktu aku tinggal satu bulan lagi bekerja." balasnya.


"Kenapa tiba-tiba mendadak begini. Boleh aku tahu alasannya?" pertanyaan sama yang diucapkan oleh Wenny.


"Urusan pribadi, Ren." jawab Grace enggan menceritakan lebih hidupnya pada orang lain.


Reno pun hanya bisa mengerti keadaan wanita yang masih mengisi hatinya ini.


"Grace, aku boleh jujur?" tanyanya berhati-hati.


"Jujur apa?" tanya Grace kembali.


Sejenak Reno, menghela napasnya tanda ingin berbicara serius dan mengungkapkan isi hatinya.


"Maaf, mungkin ungkapan aku ini buat kamu merasa terbeban." jawabnya menggangungkan kalimat, yang membuat Grace mengerutkan dahi tanda tidak mengerti.


"Maksudnya?" tanya Grace.


"Begini Grace, mungkin selama ini kamu sudah tahu perasaan aku. Jujur aku masih mencintai kamu." ungkap Reno dengan segenap keberanian yang membuat Grace terpaku mendengar ungkapan tersebut.


"Ren.. " ucap Grace.


Reno hanya bisa tersenyum dengan terpaksa.


"Aku sudah tahu kok. Kamu tenang aja, aku akan hilangin perasaan ini." jawabnya terdengar sendu.


"Maaf." hanya itu yang bisa Grace jawab untuk membalas ungkapan cinta Reno yang sudah tidak tahu keberapa kali terhadapnya.


"Aku tahu. Itu jawaban andalan kamu." jawab Reno tersenyum pahit.


"Lupain aku ya Ren. Aku udah bahagia kok. Semoga kamu juga segera bahagia ya." jawab Grace menatap Reno dengan ungkapan tulusnya barusan.


"Semoga." balas Reno dengan getirnya.


Hening


Hening


"Grace, kalau kamu sudah merasa tidak bahagia lagi dengan kehidupan kamu sekarang. Kamu bisa bersandar padaku." ucap Reno lagi dengan tiba-tiba.


Mendengar hal itu, Grace berpikir harus merasa tegas dengan hubungan Reno terhadapnya. Supaya lelaki itu sadar bahwa memang tidak ada lagi kesempatan untuk mereka berdua menjadi dekat lebih dari sekedar berteman.


"Ren, sebelumnya aku minta maaf kalau selama ini aku selalu menolak perasaan kamu." jawab Grace dengan menatap Reno penuh keseriusan.


"Aku selama ini hanya menganggap kamu sebagai teman dan mungkin sahabat aku, Ren. Tapi sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bisa menerima perasaan kamu. Bagaimana pun juga aku sudah bersuami dan...." ada hening sejenak sebelum Grace mengucapkan sesuatu.


"Dan aku tidak mencintai kamu." jawab Grace yang masih menatap Reno yang berada dihadapannya.


" Aku hanya bisa berharap kamu segera menemukan kebahagiaan kamu Ren. Tapi satu hal yang aku tahu, kebahagiaan kamu bukan dengan ku." jawab Grace lagi supaya Reno bisa mengerti.


Mendengar perkataan Grace terhadapnya, Reno seketika itu juga tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku tahu Grace, meskipun rasa ku ini tidak berbalas. Aku bahagia kok, melihat kamu bahagia." ucap Reno.


"Kamu lupakan aku ya." jawab Grace yang membuat Reno semakin teriris hatinya.


"Aku belum bisa." ungkapnya kemudian.


"Aku doakan kamu segera menemukan wanita yang lebih pantas buat kamu." kata Grace lagi.


Tidak ada jawaban dari Reno mendengar doa dari wanita yang dicintainya tersebut.


"Asal kamu tahu Grace, aku masih di tempat yang sama menunggu kamu. Kalau kamu sudah lelah maka aku dengan senang hati menerimamu apa adanya dirimu." ungkap lelaki itu sambil beranjak kemudian tersenyum getir sekilas kepada Grace sebelum meninggalkan ruangan tersebut.