
"Nggak apa-apa, aku percaya kamu" Ucap Grace mengelus rahang Rey menunjukkan sikap kepercayaan pada sang suami.
Rey seketika tersenyum mendengar penuturan istrinya itu. Memang benar jika kita berani untuk jujur kemungkinan di masa depan nanti tidak akan ada salah paham yang akan terjadi karena sudah memilih untuk mengungkapkan masalah itu terlebih dahulu.
"Terima kasih" Rey yang merasa gemas melihat tingkah laku Grace, menarik wajah sang istri dan menghujani wajah cantiknya dengan ciuman di seluruh wajah. Yang membuat wanita itu kegelian menerima ciuman tersebut.
"Sudah, Kak" Ucapnya kegelian dengan mendorong tubuh Rey.
Memang dasarnya Rey yang selalu tidak mengindahkan perkataan Grace, masih saja untuk terus mencium bibir istrinya itu. Grace bisa apa, selain menerima dan membalas perlakuan sang suami. Lama mereka berpagutan di atas sofa hingga tanpa mereka sadari posisi mereka saat ini sangat intim, dengan Rey yang sudah menindih tubuh istrinya itu.
Sadar kalau tangan Rey sudah kemana-mana, Grace seketika mendorong dada suaminya dengan dorongan keras dan membuat Rey tersadar seketika itu juga.
"Ini di kantor" Grace berbicara dengan nafas yang terputus-putus.
Rey tertawa, masih dengan posisi menindih istrinya di atas sofa. " Habis, bibir kamu manis banget" Ucapnya mengelus bibir sang istri yang terlihat bengkak akibat ulahnya.
Grace menepuk tangan tersebut dengan jengkel, " Emang dasar kamu aja yang nggak tau tempat" Jawabnya jengkel dan menegakkan tubuh mereka berdua supaya bisa duduk.
"Tadi pagi aku bilang apa?, nggak boleh nolak suami" Menaikturunkan alisnya dengan genit.
"ihh, selama kenal kamu, aku baru tahu kamu mesum banget ternyata". Mengusap wajah Rey dengan kasar supaya menghilangkan raut wajah genit itu dari wajah suaminya.
Rey berdecak, " nggak apa-apa kali, mesum sama istri sendiri" Jawab Rey, menggandeng lengan Grace dan menaruh kepalanya di bahu sempit tersebut.
"Udah deh, kepala kamu berat" Menggoyangkan bahu agar Rey segera beranjak namun sang suami yang menjengkelkan itu tidak beranjak juga dari bahunya.
"Kok kamu yang jadinya manja begini sih, Kak. Kan harusnya aku yang begini sama kamu" Kata Grace
"Emang kamu nggak pernah manja sama aku?" Rey balik bertanya, kepala masih di posisi semula tidak berpindah tempat.
"Jarang, kamu kan emang dasarnya, nggak senang aku manja" Grace mengungkit kelakuan suaminya itu dari dulu.
"Oh, iya?" Mengucapkannya dengan ragu dan mengingat-ingat kelakuannya dulu terhadap Grace.
"Iyalah" Grace menjawab dengan nada yang berapi-api. Ingin membuka lembaran lama mereka dulu.
"Kamu nggak ingat, waktu kamu pertama kerja di perusahaan papa kamu. Yang aku harus nyetir sendiri ke kantor. Tahu nggak, disitu aku cuma hanya ingin manja aja sama kamu, bukan bermaksud untuk selalu menjadi beban kamu yang anterin aku tiap hari ke kantor." Grace menjawab dengan raut wajah yang cemberut.
"Iya..iya. Aku tahu kok, aku minta maaf deh" Ucap Rey yang mencolek lengan Grace agar tidak cemberut lagi.
"Mending kamu jujur deh, Kak. Selama ini aku jadi beban kan, sama kamu?" Grace malah bertanya, bukan menjawab permintaan maaf tersebut.
Rey memalingkan wajahnya untuk melihat kebawah sofa, " Nggak. Kamu aja yang selalu berpikiran buruk sama aku" Ucapnya.
"Kok kamu malah menunduk gitu?". Tanya Grace.
Rey seketika mengangkat wajahnya dan memandang istrinya itu, "Nggak kok" Ucapnya lagi dengan serius.
"Yang benar kamu?" Masih belum percaya
"Iya, kamu aja nganggap begitu" Jawab Rey.
"Iyalah, aku nganggap begitu. Secara selama ini kamu cuek banget sama aku. Sebelum kita menikah aja kamu nggak pernah sapa aku di kantor. Terus nih ya, kamu mana peduli sama urusan aku di kantor. Semenjak Ayah menyuruh kita untuk menikah waktu itu" Grace masih bersikeras untuk membahas masa lalu.
"Iya. Aku minta maaf deh. Kan itu udah lama kejadiannya. Kita bahas masa depan kita aja" Jawab Rey yang kini merangkul bahu sang istri untuk tidak membahas masa lalu lagi.
Grace mengalah akhirnya," Iya deh" Ucapnya.
"Jadi mau makan dimana?" Tanya Rey yang mengingatkan kesepakatan mereka tadi untuk makan malam di luar.
Grace tampak berpikir, "Terserah kamu aja" Ucapnya yang membuat sang suami malah tertawa.
"Kok, kamu tertawa sih?" Kata Grace mengerutkan dahinya ketika melihat ekspresi Rey yang tertawa.
"Habisnya kamu sok berpikir begitu. Ujung-ujungnya jawab terserah aku. Mending kamu nggak usah berpikir tadi" Kata Rey masih dengan tertawa.
Grace berbalik tertawa juga, melihat ekspresi suaminya itu, "Kan kamu yang nanya tadi" Ucapnya.
Grace menggenggam tangan suaminya tersebut, "Iya. Terserah kamu, aku ngikut aja" Jawabnya yang berdiri mengikuti Rey
"Oke, ayo kita makan malam" Rey menggandeng tangan Grace untuk segera berlalu dari kantor itu.
***
Dan disinilah mereka, Rey membawa istrinya makan malam di tempat yang menurut Grace kali ini terkesan romantis bagi mereka berdua. Secara selama mereka kenal, ini kali pertama lelaki itu membawanya ke tempat romantis yang seperti ini.
"Bagus tempatnya" Grace berkomentar dengan melihat sekeliling restauran tersebut, yang menampilkan lampu-lampu yang menjuntai dari atas dan di hiasi lampu-lampu taman yang semakin menambah kesan romantis, meskipun restauran itu hanya outdoor saja sebagian besarnya. Sementara indoor hanya dipergunakan untuk acara-acara formal yang berada di lantai atas restauran itu.
"hmm" Ucap Rey yang mengambil tempat duduk mereka dan menarik kursi yang akan istrinya itu duduki.
"Disini, spaghetti nya lumayan enak" Ucap Pria itu lagi.
"Kamu senang sama spaghetti kan?" Tanyanya memastikan dan di ikuti anggukan dari Grace.
Rey memanggil salah satu pelayan di restaurant tersebut untuk menghampiri mereka. Setelah memesan menu yang akan mereka santap malam ini. Rey mendengar telfon masuk dari handphone miliknya, yang bertuliskan nama sayang tertera disana.
Rey seketika itu juga mengangkat panggilan tersebut di depan Grace, "Iya, Mit?" Ucap Rey.
Grace mengalihkan pandangannya ke arah Rey ketika mendengar nama yang tidak asing di telinganya.
"oh, nanti aku kirimkan lewat email" Rey yang berbicara setelah terlibat pembicaraan di ujung sana.
"Iya, tunggu saja" Ucap pria itu lagi, yang Grace meyakini pasti masalah pekerjaan mereka.
"Oke" Jawab Rey yang mengakhiri panggilan.
"Siapa , Kak?" Tanya Grace penasaran. Padahal dia sudah tahu itu panggilan dari siapa.
"Mitha". Jawab Rey
"Oh"
"Tadi ada dokumen yang harus dia pelajari, mengenai proyek kami" Jawab Rey lagi menjelaskan agar tidak salah paham.
Grace menganggukkan kepalanya, "Iya" Ucapnya dengan tersenyum.
"Aku ke toilet sebentar" Rey beranjak dari kursinya.
"hm" Ucap Grace
Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Grace mengalihkan kembali pandangannya ke arah sekitar restauran itu. Sayang sekali kalau dia tidak berfoto di tempat ini, pikirnya. Wanita itu akan memberitahu pada Siska dan Wenny tempat seperti ini nantinya. Agar mereka bisa mengajak pasangan mereka masing-masing untuk mencoba makan malam di sini.
Grace memutuskan untuk mengambil handphone untuk berfoto dan menunjukkannya pada Wenny dan Siska. Sesudah mengambil handphone yang berada di dalam tasnya, Grace mendapati kalau handphone miliknya dalam keadaan mati. Membuat wajah wanita itu cemberut seketika karena tidak jadi berfoto.
Ketika sudah memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas, Grace melihat ternyata handphone milik Rey ada di atas meja. Seketika itu juga dia langsung tersenyum dan mengambil handphone tersebut tanpa pikir panjang untuk segera berfoto.
Sebelum mengambil beberapa gambar, tiba-tiba handphone suaminya itu berbunyi kembali tanda panggilan masuk. Grace mengerutkan dahinya membaca nama kontak yang bertuliskan sayang tersebut. Membuat hati dan dadanya sesak seketika.
Ingin menjawab panggilan itu, tiba-tiba Rey yang muncul di dekat Grace. Langsung merampas handphone miliknya.
"Halo?" Jawab Rey ketika mengangkat panggilan itu.
"hm. Iya." Kali ini dia menjawab dengan nada yang datar.
"Oke" Katanya sambil mengakhiri panggilan telfon.
Seketika itu juga Rey mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah Grace yang menampilkan raut wajah yang masam.
Rey ingin menjelaskan kembali panggilan telfon itu kepada istrinya, tetapi Grace yang bertanya duluan, dengan raut wajah yang cemberut dan tidak suka. "Nama sayang, itu untuk siapa?" Ucap wanita itu dingin dan serius merasa tidak suka dengan nama kontak di handphone Rey.
Selanjutnya