
Raut wajah Rey terlihat tegang dan gugup mendengar perkataan dingin istrinya itu.
"Mitha?" Kali ini Grace yang menjawab pertanyaannya.
Rey menganggukkan kepalanya, " Aku lupa ganti namanya" Ucapnya kemudian duduk di depan Grace.
"Oh" Menjawab seadanya.
"Kamu marah?" Tanya Rey yang melihat ekspresi cemberut sang istri masih ada di wajahnya.
"Iyalah" Jawab Grace jujur tetapi pandanganya menunduk masih menampilkan raut wajah tidak suka.
Rey menghela nafasnya, langsung mengetik sesuatu di handphonenya. " Udah aku ganti" Jawab lelaki itu sambil menunjukkan layar handphone ke arah Grace yang bertuliskan nama Mitha tertera disana.
"Udah. Jangan cemberut lagi, nggak bagus dilihat" Ucapnya mengelus rambut Grace.
"Habis kamu sih. Lama banget ganti nama mantan kamu itu. Kenapa nggak dari dulu aja coba diganti namanya" Ucapnya ketus, kenapa mereka jadi banyak berdebat begini sih. Padahal kemarin-kemarin masih romantis aja. Pikir Grace
"Iya. Kan udah aku ganti sekarang" Rey mengalah dan membujuk istrinya itu.
Tidak ada tanggapan dari Grace, membuat Rey diam dan tidak ingin berkata banyak. Nanti makin memperparah keadaan saja yang berakhir mereka bertengkar di tempat ini.
"Sini, handphone kamu" Grace mengulurkan tangannya untuk meminta handphone tersebut.
Rey memberikannya dengan sukarela, terserahlah apa yang akan istrinya itu lakukan nanti. Kenapa juga Mitha selalu menelfonnya di saat jam-jam seperti ini. Membuat lelaki itu kesal pada mantannya itu, tidak tepat waktu sekali dia menghubungi.
Lama Grace mengetik sesuatu entah apa pada handphone Rey, dengan wajah yang sudah mulai tersenyum sambil mengetik.
"Ini" Ucap Grace mengembalikan handphone Rey.
Rey mengecek handphone tersebut tetapi tidak ada kejanggalan di temukan lelaki itu pada handphonenya.
"Kamu apain nih" Jawabnya masih melihat layar handphone.
"Nggak aku apa-apain" Grace berbicara mengedikkan bahunya santai.
Tidak mendapati ada yang kurang maupun sesuatu yang aneh, Rey kemudian memasukkan kembali barang elektronik tersebut di saku celananya.
"Gimana enak kan Spaghetti nya?" Tanya Rey ketika melihat Grace sudah mulai menikmati makanan yang mereka pesan.
"hm" Jawab Grace terdengar datar masih jengkel dengan kejadian barusan.
"Kok kamu jawabnya pendek pendek begitu, kamu masih marah?" Bertanya dengan polosnya. Dasar lelaki yang tidak peka.
"Nggak" Grace berkilah.
"Tiba-tiba aku kenyang" Ucapnya, kalau mengingat nama sang mantan yang bertuliskan sayang tadi dia masih belum menerima. Dia masih jengkel sampai ke ubun-ubun, Grace juga mendapati namanya ditulis dengan biasa hanya bertuliskan Grace, saja disana. Tidak ada embel-embelnya, membuat wanita itu mengubah nama kontaknya menjadi my lovely wife di daftar kontak Rey tanpa sepengetahuan sang suami.
"Ya udah, nanti kita bungkus satu porsi lagi buat kamu. Siapa tahu kamu lapar sampai di apartemen" Ucap Rey yang melihat makanan tersebut tidak habis.
"Iya" Jawab Grace memandang sekitar, masih menampilkan kesan romantis di tempat itu tetapi berbanding terbalik dengan keadaan mereka yang tengah berdebat seperti ini.
"Kamu kok tahu tempat romantis seperti ini, Kak?" Tanya Grace pada Rey. Memilih mengacak-acak makanan yang tidak habis.
"Oh, iya" Menjawab seadanya.
Grace mengerutkan dahinya mendengar jawaban yang aneh menurutnya.
"Kamu punya kenangan disini?" Grace bertanya dengan curiga. Raut wajahnya semakin menyeramkan.
Dan yang ditanya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung mau menjawab apa pada istrinya yang terlihat sensitif sekali hari ini.
"Ehh, nggak kok. Cuma Spaghetti nya terkenal enak banget disini" Jawab Rey gugup, astaga ternyata berbohong sesulit ini, pikirnya.
Grace masih belum terima dengan jawaban lelaki itu, "Kalau kamu tahu disini spaghetti nya enak. Berarti kamu sering pergi kesini dong?" Tanyanya semakin menyudutkan sang suami.
"Sama siapa?" Ucap Grace lagi.
"Iya, aku ngaku. Dulu aku sering sama Mitha kesini. Jujur aku nggak ada niat apapun aku cuma teringat doang menunya enak disini" Jawab Rey dengan bersungguh-sungguh takut Grace salah paham lagi.
Mendengar pengakuan yang menjengkelkan tersebut membuat dada Grace semakin sakit hati saja. Astaga suaminya ini kenapa membawanya ke tempat kenangan mereka, sih. Apa suaminya ini nggak peduli sama perasaannya?
Grace berdecak sebal, "Kamu sudah selesai makan?" Ucapnya ketus.
Rey menganggukkan kepalanya dengan cepat takut dengan amukan sang istri.
"Kita pulang" Ucap Grace mengambil tasnya dan melangkah keluar dari restaurant yang lebih dengan mantan suaminya itu. Seketika itu juga Rey langsung ke bagian kasir untuk membayar pesanan mereka yang tidak habis tersebut. Dan membungkus satu porsi untuk dibawa pulang.
"Grace, Lo nggak boleh labil begini. Lo harus tenang. Oke!" Ucap wanita itu berbicara pada dirinya sendiri.
****
Rey menghampirinya dengan tersenyum menunjukkan kantongan plastik yang berisi menu yang belum sempat mereka habiskan tadi. Grace masih menampilkan raut wajah jengkelnya. Sekali-kali dia harus memberi pelajaran buat suaminya ini. Wanita itu langsung masuk kedalam mobil tanpa membalas senyuman Rey kepadanya.
Didalam mobil saat perjalanan pulang ke apartemen, mereka berdua masih diam tidak ada yang berbicara satu sama lain. Grace yang masih jengkel akibat ulah suaminya itu satu harian ini. Sementara Rey yang tampak berpikir keras bagaimana cara membujuk istrinya yang masih marah.
Sesudah sampai di apartemen, Grace masih diam tidak mau berbicara. Wanita itu kemudian berbalik dan menghadap sang suami ingin memberikan pelajaran sedikit padanya. " Nanti malam kamu tidur di luar" Ucapnya tiba-tiba pada Rey yang mengikutinya masuk dari belakang.
Jederrrr
Perkataan itu adalah hal yang paling keramat buat Rey. Tidur di luar? seperti mendengar petir di malam hari yang cerah seperti ini.
"Kamu masih marah?" Tanyanya menggenggam lengan Grace, memasang raut wajah yang sedih sekali.
"Aku nggak mau ngobrol sama kamu malam ini" Jawab Grace berlalu memasuki kamar, belum ada beberapa menit tiba-tiba Grace keluar membawa baju tidur suaminya ke depan. "Ini, baju kamu, kamu mandi di kamar mandi dapur aja" Ucapnya lagi sambil menyerahkan baju tidur Rey, kemudian masuk dan mengunci pintu kamar mereka. Tidak mengizinkan suaminya masuk dan tidur bersamanya.
Rey menerima dengan pasrah saja, dia juga mengerti hari ini dia membuat kesalahan yang memang fatal. Dimana dia lupa mengganti nomor Mitha dan mengajak istrinya ke tempat yang pernah mereka kunjungi bersama Mitha dulu. Kalau dia berada di posisi Grace, tentu saja dia akan marah dan berlaku hal yang sama. Rey memaklumi dan menerima untuk tidur di luar malam ini. Sabar ya Rey (Author).
Detik demi detik berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Kini Grace tidak bisa tertidur, wanita itu sudah terbiasa tidur di peluk oleh suaminya. Mendapati ranjang disebelahnya yang kosong membuat perasaannya menjadi bersalah pada Rey. Grace menjadi ingat, tadi dia tidak memberi selimut pada suaminya itu, akibat perasaannya yang jengkel dia hanya memberi baju tidurnya saja.
Membuat Grace menghela nafasnya, dia tidak boleh seperti ini, membiarkan suaminya tertidur di luar dengan kedinginan sementara dia berada di bawah selimut yang hangat. Wanita itu menjadi tidak tega dan langsung keluar menuju ruang tamu mereka untuk memberikan selimut kepada Rey.
Grace melihat ternyata Rey sudah tertidur di sofa dengan menutup matanya menggunakan sebelah tangannya. Grace memasangkan selimut tersebut untuk dipakai oleh Rey.
Selagi memasangkan selimut di tubuh suaminya, tiba-tiba saja tubuh wanita itu menjadi oleng dan sudah mendarat di pelukan Rey dan ikut berbaring di sofa yang sempit.
"Maaf" Ucap Lelaki itu, tetapi masih memejamkan mata.
"Aku tahu kamu marah" Katanya lagi, "Maaf ya" Ucapnya memandang sang istri.
Grace merasa masalah ini tidak boleh terlalu berlarut-larut, akhirnya mengungkapkan isi hatinya. "Iya, aku nggak suka kamu ajak ke tempat yang penuh dengan kenangan kamu itu" Ucapnya dengan nada jengkel.
"Iya, tadi aku cuma kepikiran spaghetti nya enak disana. Kan kamu suka sama spaghetti, jadi aku bawa kesana. Nggak ada maksud yang lain" Jawab pria itu dengan sungguh-sungguh, tidak ada niat untuk mengingat sang mantan.
"Iya" Grace mengalah dan memaklumi Rey.
"Lain kali, kamu nggak usah bawa aku ke tempat yang pernah kamu kunjungi sama Mitha" Ucapnya lagi. "Aku nggak suka" Grace berbicara jujur mengenai perasaanya.
"Iya, maaf ya sayang" Jawab Rey semakin mendekap istrinya itu dengan memanggil kata sayang yang baru pertama kali di katakannya pada Grace.
Mendengar kata sayang tersebut, Grace langsung tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di dada Rey, "Tadi kamu panggil aku apa?" Tanya wanita itu memastikan.
"Sayang, maaf ya" Katanya lagi sambil mencium pucuk kepala sang istri.
"Kenapa?, kamu malu ya, aku panggil sayang" Rey mulai menggoda istrinya.
"ihh, kamu ini" Grace mencubit pinggang pria itu memberikan pelajaran.
"Ngeselin tahu nggak" Kata Grace lagi.
"Aduh, sakit sayang" Jawab Rey terkekeh dengan kelakuan sang istri.
Sang istri yang belum menjawab permintaan maafnya sedari tadi, membuat Rey memegang kepala Grace supaya menatapnya.
"Maaf ya" Ucap lelaki itu serius, dan mendapat anggukan dari Grace.
Rey langsung saja mencium sang istri kemudian memeluknya erat, "Tidurlah" Ucapnya mengelus rambut halus itu. Malam ini mereka berdua tertidur di atas sofa yang sempit, saling berbagi kehangatan satu dengan yang lainnya.
Mereka sama-sama belajar artinya kata maaf dan perkataan yang jujur di dalam membangun bahtera rumah tangga. Saling memaafkan, memilih agar sifat egois tidak menang di antara mereka yang akan berakibat buruk ke depannya nanti. Saling mengerti satu dengan yang lainnya dan tentunya saling menerima masa lalu. Bukankah masa lalu sudah berlalu? kini mereka harus fokus untuk ke masa depan mereka.
Selanjutnya
**
Halohaa, Author balik lagi nih, dalam keadaan yang kuat, sehat dan rajin bekerja 😂.
Ada yang kangen sama Author nggak ya? (Kepedean).
Nggak apa-apa nggak kangen sama gue, yang penting vote dan comment, like yah sodara sodara seperjuangan senasib sebangsa setanah air.
Biar Author yang cantik ini semakin semangat nulis.
Terimakasih sayang ♥️