Grace

Grace
Berkunjung Ke Kantor



Setelah mengatakan hal tersebut, Rey benar-benar menepati perkataannya untuk tidak mencampuri urusan Istrinya itu.


Sudah lima hari terhitung semenjak mereka terakhir bertengkar di Bandung. Rey tidak kunjung pulang ke apartemen. Entahlah, keberadaan lelaki itu tidak tahu dimana.


Sementara Sang Istri tidak bekerja lagi beberapa hari yang lalu. Dia benar-benar bertekad untuk keluar dan fokus pada rumah tangganya.


Di malam harinya, Grace suka sekali menangis. Melihat Suami yang tidak kunjung pulang dan puluhan pesan yang dia kirimkan hanya dibaca saja oleh Rey, membuat Dia selalu menangis di dalam apartemen mereka.


Dia benar-benar sendiri, ditinggalkan seorang diri. Apakah memang sebegitunya hukuman yang dia dapatkan ketika tidak jujur pada Sang Suami?


Apakah tidak ada penyelesaian masalah seperti biasanya?


Kini saat ini, Grace tengah duduk di kursi meja makan. Wanita itu menelungkupkan wajahnya. Setelah seharian memasak untuk Sang Suami, hal yang serupa Grace dapati. Tidak ada yang memakan masakannya ini selain dirinya sendiri.


Berharap ada keajaiban, Rey pulang kemudian mereka bisa makan malam bersama seperti dulu dan mereka bisa berbicara untuk meluruskan kesalahpahaman ini.


Tetapi harapannya sia-sia, jarum jam yang menunjukkan pukul 10 malam membuat Grace putus asa untuk menunggu kepulangan Rey.


Setelah beberapa lama dia menelungkupkan wajahnya di meja makan, akhirnya dia menangis sejadi-jadinya. Dia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia selalu cengeng dan gampang sekali menangis.


Mungkin karena ditinggalkan seorang diri seperti ini, membuat perasaannya sendu dan selalu ingin menangis setiap hari.


Grace pun bangkit, kemudian wanita itu membereskan makanan yang tidak akan di makan dan hanya dimasak secara sia-sia saja olehnya.


Masih tersisa cairan bening yang mengalir di pipinya, Grace selalu berusaha untuk selalu menekan perasaan yang membuat pikirannya menjadi negatif.


Dia mengatakan pada dirinya sendiri, untuk tidak manja dan cengeng. Pasti suatu saat Rey akan pulang, dan mereka bisa meluruskan masalah ini. Pikir wanita itu dalam hati.


Merasa sayang dengan makanan yang tidak dimakan, Grace memutuskan untuk memberikan masakannya tersebut kepada satpam apartemen mereka.


Suaminya sudah susah payah mencari uang dengan segala kesibukan. Dia tidak boleh membuang makanan ini begitu saja.


Mencuci wajahnya sebentar supaya tidak terlihat dia habis menangis, Grace pun berniat keluar dari apartemen.


Namun hal yang begitu menyenangkan hatinya tiba-tiba muncul.


Suara bunyi password apartemen tanda ada seseorang yang membuka apartemen mereka, membuat Grace semakin senang. Artinya Rey pulang malam ini.


Dan, dugaannya benar. Baru beberapa detik, Rey, Suaminya sudah muncul di depan pintu apartemen mereka.


Seketika Grace tersenyum dengan senang, melihat kepulangan Sang Suami. Ingin sekali dia melompat kegirangan.


Kedua mata mereka pun bertemu....


Deg... deg... deg


Rey yang terkejut mendapati Grace sedang ada dihadapannya saat ini. Sementara Grace yang jantungnya berdegup kencang karena melihat wajah Rey setelah beberapa hari tidak berjumpa.


Grace menyadari, bahwa hatinya memang sudah jatuh sedalam-dalamnya pada Sang Suami. Karena jantungnya pun masih berdetak dengan kencang ketika ditatap seperti itu.


"Ka... mu, sudah pulang, Kak?" tanya Grace dengan terbata. Setelah menatap satu sama lain, Grace yang memecah keheningan di antara mereka berdua.


Rey melepas sepatunya, "hm." ucapnya dengan santai kemudian hendak masuk ke ruang kerja miliknya.


Grace pun mengikuti langkah kaki Rey, dia ragu untuk memegang lengan Suaminya itu.


"Kak?" Grace mencegat lengan Rey, sebelum lelaki itu masuk ke ruang kerja.


"Kamu sudah makan?" tanya Grace menundukkan kepalanya.


"Sudah." jawab Rey dengan nada yang dingin, menepis tangan Sang Istri yang masih setia berada di lengannya.


Grace masih mendekati Rey, "Kamu nggak mandi dulu?" tanyanya lagi.


"Aku sudah mandi di kantor." setelah mengatakan hal tersebut, Rey segera memasuki ruangan kerja miliknya tanpa mempedulikan Sang Istri yang masih mematung berdiri.


Setelah beberapa jam menunggu di ruang tamu, kini Grace sudah sangat mengantuk.


Sejenak wanita itu menatap pintu ruang kerja Rey, berharap Sang Suami akan keluar dari sana dan mengajaknya untuk tidur.


Pikiran itu segera di tepis oleh Grace, dia tidak boleh terlalu banyak berharap. Daripada memikirkan hal yang akan membuat dirinya kecewa, mending dia tidur duluan saja.


Rey sudah pulang ke rumah, itu sudah cukup membuat hatinya senang.


Baru beberapa saat merebahkan dirinya untuk berbaring di tempat tidur. Rasa kantuk sudah menyerang Grace seketika itu juga.


Wanita itu pun tertidur, sendirian tanpa Rey yang berada di sebelah. Menemaninya untuk tidur.


****


Bunyi pintu apartemen, membuat Grace terbangun dan membuka mata. Sejenak Wanita itu melihat jam di atas nakas yang menunjukkan pukul delapan pagi.


Mendengar bunyi pintu apartemen mereka yang tertutup kembali. Membuat Grace mengetahui, Rey sepertinya sudah berangkat untuk bekerja.


Grace pun duduk di tepian ranjang, berusaha untuk mengumpulkan kesadaran. Tiba-tiba di pagi hari yang seperti ini, dia sangat ingin sekali memakan sup ayam kesukaan Sang Suami.


Memikirkan hal itu saja sudah membuat air liurnya hampir menetes.


Ya, dia memutuskan untuk memberikan kejutan pada Suaminya itu untuk datang mengunjungi dirinya di kantor.


Setelah selesai membersihkan diri, Grace pun berjalan ke arah dapur dan memulai untuk memasak.


Wanita itu bersenandung kecil sembari memotong-motong bahan yang menjadi pelengkap masakannya.


Melihat Rey yang sudah pulang kemarin, membuat hatinya senang dan tidak menjadi sendu lagi.


Dia akan berusaha pelan-pelan untuk mendekati Suaminya itu kemudian meminta maaf atas ketidakjujurannya kemarin.


Grace memaklumi rasa kecewa Rey pada dirinya, tentu saja sebagai kepala rumah tangga, Rey berhak tahu apapun keputusan Grace. Sekecil apapun itu Suaminya berhak tahu tentang hidupnya.


Setelah selesai memasak, dan menaruh hasil masakan ke dalam wadah yang menarik. Grace pun bersiap-siap dengan dandanan yang membuatnya cantik.


"Mari kita, berangkat." ucapnya ceria setelah keluar dari apartemen sambil membawa bekal makan siang mereka.


***


Rey pasti suka dengan makan siangnya kali ini.


Berkali-kali hal itu yang terlintas dipikiran Grace, sembari mengemudikan mobil untuk menuju kantor Rey.


Beberapa saat kemudian, Grace pun sampai di kantor milik Mertuanya.


Sejenak dia menatap sekeliling lobi kantor tersebut.


Ini adalah kali pertama dia berkunjung di kantor milik Farhan. Puas dengan memandangi seisi lobi, Grace tak lupa berdecak kagum. Sepertinya perusahaan milik Mertuanya sudah berkembang sangat pesat, semenjak Rey bekerja di perusahaan tersebut.


Melihat hal itu, Grace tersenyum bangga karena mempunyai Sang Suami seperti Rey yang sangat pekerja keras.


"Permisi, Saya bisa bertemu dengan Rey?" tanya Grace pada petugas receptionis di lobby tersebut.


Sejujurnya dia tidak tahu di lantai berapa kantor Sang Suami. Daripada dia nyasar, mending dia tanyakan saja pada petugas receptionis ini.


Sejenak petugas itu mengerutkan dahinya, "Rey siapa?" tanyanya ulang.


"Reynaldo Aditama." jawab Grace dengan tidak menyebut status dirinya.


"Maksudnya dengan CEO, kami?"


Ahh, ternyata Rey sudah menjabat sebagai CEO di perusahaan ini. Banyak sekali yang Grace tidak ketahui.


Grace menganggukkan kepala, "Iya." ucapnya setelah itu.


"Dengan Ibu siapa?"


"Saya, Grace." jawabnya lagi.


"Sudah buat janji temu, Bu Grace?". tanya si petugas.


"Oh, belum. Bisa anda hubungi ruangannya? Katakan Grace, Istrinya ingin bertemu." ucap Grace akhirnya menyebut status dia sebagai Istri.


"Istri?" petugas receptionis itu pun kebingungan, sejenak dia menatap dan membicarakan sesuatu kepada rekan di sebelahnya, yang tidak Grace ketahui itu apa.


"Maaf Ibu Grace, atasan kami sedang meeting. Kami sarankan anda sebelum datang untuk berkunjung harus membuat janji temu dulu, Bu. Itu sudah peraturan di perusahaan kami. Mohon maaf saya tidak bisa membantu." ucap petugas itu dengan panjang lebar.


Ada sedikit keraguan diwajahnya ketika Grace menyebut statusnya sebagai Istri dari Rey.


"Baiklah, Saya menunggu di kursi tunggu saja." jawab Grace berlalu sambil menunggui di kursi dan mengirim pesan kepada Rey.


Wanita itu mengatakan kalau dirinya sedang berada di dalam lobby untuk menunggu, namun Rey tidak kunjung membalas sama sekali.


Setelah beberapa lama untuk menunggu, tiba-tiba segerombolan orang berjalan di sekitar Lobby kantor tersebut.


Grace langsung dapat melihat ada Suaminya di rombongan itu. Bersama dengan si Wanita centil disebelah lelaki itu.


Merasa diperhatikan, Rey menatap Istrinya itu dengan raut wajah terkejut. Setelah mendapati ternyata Sang Istri berada disana.


"Kak?" Grace menyapa setelah memastikan Rey sudah mengetahui keberadaan dirinya, dengan suara yang agak kencang Grace memanggil agar terdengar oleh Sang Suami.


Grace berniat untuk mendekati, rombongan Suaminya. Namun beberapa saat setelah itu langkah kakinya berhenti.


Rey mengacuhkannya, lelaki itu berjalan lurus saja setelah melihat keberadaan Grace di kantor tersebut.


Tanpa senyuman maupun balasan sama sekali. Rey berlalu begitu saja.


*


*


*


Cie yang gregetan bacanya wkwkwkkwk.