
Sama dengan hari sebelumnya, Rey selalu sibuk dengan pekerjaan yang Grace tidak tahu mengenai proyek seperti apa yang akan Suaminya itu rencanakan.
Kesibukan Rey membuat komunikasi di antara mereka semakin merenggang, tak jarang Grace selalu mendapati dirinya terbangun di pagi hari hanya seorang diri. Sementara Sang Suami selalu tertidur di ruang kerja milik pria itu.
Mereka hanya bertemu dan berbicara dengan singkat saat Grace dan Rey pulang dari kantor saja, sewaktu makan malam dan sarapan di pagi hari pun tidak ada pembicaraan yang hangat seperti dulu.
Saat weekend pun sama halnya, Rey akan mengurung dirinya seharian di dalam ruang kerja dan akan keluar jika Grace memintanya untuk makan malam.
Grace memaklumi Suaminya itu, mungkin proyek kali ini sangat menentukan bagi kelancaran Perusahaan milik mertuanya. Dia hanya bisa mendukung apapun yang dilakukan Rey pada pekerjaannya.
Soal rencana Grace akan resign? masalah itu belum sempat Grace utarakan pada Rey karena melihat Sang Suami yang sangat sibuk dan sangat jarang untuk menanyakan keadaan Grace sewaktu di kantor.
Melihat kesibukan Rey yang akhir-akhir ini sudah jarang untuk menemaninya mengobrol maupun melakukan hal-hal lainnya, membuat Grace berpikir untuk kedua kalinya.
Apakah keputusan yang tepat dia meninggalkan perusahaan Ayahnya?
Bagaimana kalau dia sudah keluar dari perusahaan tersebut jika Sang Suami kebanyakan sibuk, pasti dia akan merasa kesepian karena tidak ada yang menemani.
Pintu ruang kerja terbuka, menampilkan Rey sedang terburu-buru bergegas menuju kamar mereka berdua.
"Kamu kenapa, Kak?" Grace bertanya saat lelaki itu berjalan menuju kamar mereka.
Sejenak Rey menoleh, dia tidak sadar akan kehadiran Istrinya yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton televisi.
"Oh, aku mau ke kantor sekarang." jawab Rey sambil berjalan menuju kamar dan Grace segera menyusul Suaminya untuk masuk ke dalam kamar mereka.
"Bukannya ini Sabtu?" tanya Grace merasa bingung akan tingkah laku Rey akhir-akhir ini.
"Aku ada meeting dadakan sama client. Tolong siapin baju aku ya. Aku mau mandi dulu." jawab Rey segera bergegas untuk mandi dengan terburu-buru.
Sesuai permintaan Suaminya tadi, Grace segera menyiapkan baju yang akan dipakai oleh Rey dan menunggu Rey selesai mandi.
"Tumben dadakan begini, Kak?" tanya Grace di sela-sela wanita itu membantu Rey mengenakan pakaian formal milik Rey.
"Aku nggak tau tiba-tiba aja, mereka suruh ngadain meeting." jawab Rey menoleh pada cermin untuk melihat penampilannya.
"Kamu sendirian yang pergi meeting nya?" tanya Grace.
"Aku sama Papa." ucap Rey merapikan rambut yang masih basah.
"Ya udah, yang semangat. Semoga proyek kamu lancar ya, Kak." jawab Grace sambil menyerahkan tas kerja Rey untuk pria itu bawa.
Mereka berdua segera menuju pintu keluar apartemen, "Kira-kira meeting kamu lama nggak?" tanya Grace lagi, dia masih belum rela di tinggal sendirian di dalam apartemen.
"Aku nggak tau lama atau enggaknya, jaga rumah ya. Nanti aku kabari lagi kalau aku sudah mau pulang." ucap pria itu sambil mengelus rambut Grace dengan lembut.
Grace hanya menganggukkan kepalanya mengerti di tengah-tengah kondisi Rey saat ini. Bagaimana pun juga sebagai istri dia harus banyak mengerti dan memahami Suaminya dalam bekerja. Dia tidak boleh egois untuk menahan Rey jika itu menyangkut urusan dalam pekerjaan.
"Aku berangkat." pamit Rey sambil menyodorkan tangannya yang disambut kemudian oleh Grace.
"Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut Kak." kata Grace yang kini sedang melihat Rey mulai melangkah menuju pintu keluar.
"Iya." Rey menjawab dengan singkat sambil berlalu tanpa mengalihkan pandangannya kembali pada Grace yang masih berbicara untuk mengucapkan pesan berhati-hati.
***
Ditinggal sendirian begini, membuat Grace bingung. Apa yang harus dia lakukan sambil mengisi waktu luang?
Membersihkan apartemen, sudah. Mencuci piring kotor, sudah dia selesaikan. Terus memasak juga sudah sedari pagi tadi. Lantas apa yang selanjutnya dia lakukan di apartemen yang sepi begini.
Grace menghela napasnya, melihat kanan dan kiri apartemen yang terasa sepi sekali tidak ada teman untuk berbicara. Dia sungguh-sungguh bosan dengan suasana yang membuatnya mati kutu seperti ini.
"Mending Gue nonton drakor, aja deh." ucapnya dengan mengambil remote untuk menyetel film yang ingin dia tonton.
Masih berselang beberapa menit Grace menonton film kesukaannya, tiba-tiba handphone yang berada di dekatnya sedari tadi berbunyi dan menampilkan nama Wenny di sana.
Grace pun tersenyum sumringah, mendapat teman untuk mengobrol.
"Halo, Wen." jawab Grace dengan senang mendapat panggilan dari sahabatnya tersebut.
"Nggak, Gue lagi nganggur. Kebetulan banget Lo nelpon Gue." ucapnya dengan antusias.
"Syukur deh, Grace temenin Gue ke mall yuk. Nyari sepatu buat acara pertunangan Gue." timpal Wenny dengan suara memelas meminta bantuan Grace.
Sontak Grace merasa kegirangan, " Asik.. boleh banget Wen. Gue lagi sendirian di apartemen." ucap Grace.
"Laki Lo emang kemana?" tanya Wenny
"Dia ke kantor, ada meeting katanya."
"Ohh... ya udah tunggu Gue jemput Lo disana. Sebentar lagi Gue jalan ke apartemen Lo Grace."
"Iya Gue tunggu kok." jawab Grace masih menampilkan raut wajah senangnya ketika di ajak keluar oleh Wenny.
Daripada dia kebosanan di dalam apartemen, mending hangout bareng Wenny, dan bisa bebas untuk melakukan apa saja. Pikir Grace dalam hatinya.
Grace sejenak mengirim pesan pada Rey, wanita itu segera memberitahu kalau dia akan pergi keluar sebentar dengan Wenny. Meskipun belum mendapat balasan, yang penting dia sudah memberitahu, agar Rey nanti tidak bingung mencari ketika Rey pulang terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat menunggu, kini Grace melangkah untuk turun ke lobby apartemen. Dimana Wenny tadi memberitahu kalau dia sudah sampai dan sedang menunggu di tempat tersebut.
"Berangkat, Wen." ucap Grace kegirangan sambil memasang seatbelt.
"Eh, Lo udah minta izin laki, Lo belum?" tanya Wenny, takut-takut membawa kabur istri orang.
"Sudah, Lo tenang aja. Dia lagi sibuk banget beberapa minggu ini." jawab Grace dengan santai.
"Oke deh, kita ke mall tempat biasa kita kumpul aja ya Grace." Wenny mengatakan hal tersebut sambil menyetir keluar dari lingkungan apartemen Grace.
"Hm.. terserah Lo." Grace pasrah saja dia dibawa kemana oleh Wenny, yang penting dia tidak merasa sendiri dan kesepian di dalam rumah.
Kedua sahabat itu terlihat sudah sampai di mall favorit mereka, Grace terlihat merindukan saat-saat seperti ini. Berkumpul bersama Siska dan Wenny untuk belanja maupun ke salon bersama.
"Gue kangen banget waktu kita hangout bareng Wen." kata Grace saat kaki mereka melangkah menyusuri mall.
"Sama Grace, tapi Lo lihat sendiri kita sibuk banget dengan aktifitas sehari-hari." ucap Wenny yang merasakan hal yang sama.
"Kapan-kapan kita atur jadwal ya? Gue kangen banget kita kumpul kayak dulu." timpal Grace melihat suasana mall yang ramai oleh pengunjung.
"Sip.. eh Grace." Wenny tiba-tiba berhenti dari langkah kaki mereka saat melihat seseorang yang dia kenal.
"Hm, apaan?" tanya Grace menoleh sejenak pada Wenny.
"Itu bukannya Kak Rey, ya?" jawab Wenny sambil menunjuk salah satu resto di mall tersebut.
Seketika itu juga Grace mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Wenny. Wanita itu pun langsung terkejut mendapati ternyata Suaminya sedang berada di dalam resto bersama seorang wanita yang tidak dia kenal.
"Iya, bukan sih?" tanya Wenny lagi memastikan, takut salah orang.
"Grace?" Wenny bertanya kembali.
"Iya Wen." ucap Grace dengan suara parau.
Seingat Grace tadi pagi Rey meminta izin untuk meeting di kantor bersama mertuanya. Lantas kenapa pria itu sekarang berada di mall bukan di kantor, terus Mertuanya kemana?
Grace masih berpikir positif, namun di dalam hatinya dia ingin menangis saat itu juga. Ketika mendapati dia telah dibohongi oleh Rey.
"Kita samperin." celetuk Wenny dengan nada berapi-api.
*
*
*
Vote Kencang \=\= Update cepat 😙😜