Grace

Grace
Kemarahan Rey



Rey segera melajukan mobilnya dengan cepat ke rumah Anita, padahal pria itu akan berencana ke kantor terlebih dahulu sebelum nanti menemui Anita di rumahnya. Setelah memastikan taksi yang dicegat oleh Grace sebelumnya sudah berjalan dan melaju meninggalkan mobilnya yang berada di belakang taksi tersebut.


Di dalam perjalanan, Rey berpikir keras apa yang harus dia katakan kepada Mamanya supaya tidak lagi mencampuri urusan rumah tangga mereka.


" Mama dimana?" tanya Rey tiba-tiba kepada Laura saat lelaki itu sudah sampai di ruang tamu, rumah kedua orangtuanya.


"Kalau datang itu usahakan salam, Kak. Buat copot jantung Gue aja Lo, siang-siang begini," jawab Laura sambil mengelus dadanya tanda terkejut.


Rey tidak menggubris omelan Sang adik yang berada di depannya, masih tidak jelas Laura mendumel tentang apa.


Lelaki itu pun mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah mereka, namun tidak menjumpai Anita di sana.


"Mama kemana sih, Dek?" tanya Rey lagi tidak sabaran.


Laura berdecak malas, "Lo lupa hari ya Kak?" tanyanya yang membuat Rey kebingungan.


"Ya, enggaklah. Jelas ini hari Sabtu." jawabnya.


"Ya, kalau hari Sabtu biasanya Mama ngapain?" tanya Laura memberi petunjuk.


"Ck, yaa mana Gue tau Lau, orang jelas-jelas Lo yang ada di rumah terus-terusan." ucap Rey berdecak, ketika berbicara pada Adiknya itu.


"Ya elah, Kak. Kayak nggak kenal Mama aja, kalau weekend begini dia sibuk ngurusin taman belakang. Ngeliatin bunga disana," jelas Laura kemudian.


"Sejak kapan rumah kita ada taman di belakang?" tanya Rey.


"Sejak Lo nikah, Mama jadi kesepian, Lo nya sibuk, Gue juga sibuk. Ya Mama nemu hobi baru," jawab Laura panjang lebar menjelaskan kegiatan Anita satu tahun terakhir.


Rey pun segera mencari taman yang berada di belakang rumah, yang dia tidak tahu sejak kapan taman tersebut dibangun.


Lelaki itu pun langsung melihat Anita, tengah menyiangi rumput yang berada di sekitar bunga yang menjadi kesenangannya.


"Ma?" Rey mendekati Anita saat sudah sampai di sekitar taman.


Mendengar suara putra sulungnya, Anita pun menoleh ke sumber suara. Lantas mendapati putra kesayangannya tengah berkunjung.


"Eh, Rey. Tumben Kamu main kesini, udah inget Mama sekarang" sindir Anita kepada Putranya itu mengingat Rey memang jarang berkunjung semenjak dia menikah.


Rey diam saja tidak menjawab sindiran tersebut.


"Kamu sudah makan, Rey?" tanya Anita, melepaskan sarung tangannya yang digunakan tadi untuk membersihkan rumput di sekitaran bunga.


"Belum, Ma" jawab Rey.


Anita pun langsung bereaksi dengan berlebihan, "Loh Kamu kok belum makan sih, nanti kalau sakit gimana? Perusahaan kita lagi membutuhkan kamu Rey." Anita mulai menggandeng tangan Putranya untuk keluar dari taman tersebut.


"Pasti Istri Kamu itu, nggak masakin makan siang buat kamu kan?" Anita masih mengomel di sepanjang jalan menuju rumah mereka.


Mendengar ocehan Sang Mama yang lagi-lagi menjelekkan Istrinya, membuat Rey seketika menghentikan langkahnya. Membuat Anita kemudian menoleh kepada Rey, kenapa anaknya itu tiba-tiba berhenti.


"Ma," suara Rey sedikit tegas mengatakan hal tersebut kepada Anita, seolah-olah di wajahnya tersirat kekecewaan kepada Sang Mama.


"Sudah..... sudah, Kita makan dulu. Mama nggak mau lihat Kamu sakit. Kalau kamu sakit, Istri Kamu itu nggak akan bisa ngerawat Kamu kalau lagi sakit," kata Anita yang membuat hati Rey semakin menyadari, bahwa perkataan Mamanya itu sudah melebihi batas.


"Cukup, Ma" Rey menepis genggaman tangan Anita, sehingga membuat tangan Anita terlepas dari lengannya.


"Rey mau bicara serius sama Mama," kini lelaki itu sudah bersedekap dada, ibu dan anak tersebut masih belum sampai di dalam rumah.


"Kita bicara di dalam saja," jawab Anita berlalu begitu saja, membiarkan Rey mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di dalam rumah, Rey segera duduk di sofa dan menunggu Anita setelah mengatakan untuk mencuci tangannya terlebih dahulu.


"Bicara apa?" tanya Anita dengan santainya seolah-olah dia tidak mempunyai suatu hal yang harus di jelaskan pada Rey.


Rey langsung ke intinya, tanpa basa-basi lelaki itu langsung menanyakan hal yang membuatnya marah.


"Apa maksud Mama kasih surat cerai, pada Grace?" tanya Rey dengan nada yang kesal.


Anita melengos dengan malas, wanita paruh baya itu berdecak sekilas. Pasti Grace menceritakan hal tersebut pada Rey.


"Memang seharusnya dia cerita ke Aku, Ma!" seru Rey tidak menerima perkataan Anita tersebut.


"Ck, Kamu nggak usah banyak belain dia lah Rey, nanti yang ada istri kamu itu besar kepala lagi." kata Anita juga tidak kalah.


Rey menghembuskan napasnya dengan kasar, "Apa sih yang buat Mama benci banget sama Grace?" tanya Rey kemudian.


Anita mengangkat bahunya acuh, "Tahu. Lihat wajahnya yang begitu Mama jadi kesel," ucap Anita yang membuat Rey mengerutkan dahinya bingung.


"Bilang aja kalau Mama nggak senang lihat Istri, Aku." ucap Rey to the point.


"Emang iya," balas Anita dengan santainya.


"Padahal dulu aja Mama dukung Aku buat nikah sama Grace,"


"Mama nyesel"


"Tapi Aku nggak nyesel, Ma." jawab Rey dengan tegasnya.


"Sekali lagi Aku tanya apa maksud Mama mau buat Kami bercerai?"


Anita menghela nafasnya sebelum mengungkapkan, "Kamu berhak bahagia Rey. Banyak kok diluaran sana wanita yang lebih dari Grace." jawab Anita membujuk putranya itu.


"Tapi Aku sendiri sudah bahagia sama Istri Aku,"


"Menurut Mama kalian nggak bahagia," Anita bersikeras, membantah ucapannya Rey.


"Mama nggak usah sok tahu, deh." jawab Rey dengan pedasnya.


"REY!' seru Anita, suaranya memenuhi ke penjuru ruang tamu.


"Sudah, Ma. Sudah cukup Mama ikut campur rumah tangga Aku dengan Grace. Jujur Rey kecewa dengan Mama."


" Itu demi kebahagiaan Kamu, nak." jawab Anita dengan melembut supaya Rey mendengar ucapannya.


"Mama tahu apa soal kebahagiaan Aku?" tanyanya dengan nada yang mulai marah seperti membentak.


Seketika Anita berjengit karena terkejut mendengar bentakan dari Putranya itu.


"Kamu bentak Mama, Rey?" Tanya Anita memastikan. Wanita itu hampir tidak mengenali putranya yang sekarang.


"Terserah Mama mau anggap Aku marah atau bagaimana, Aku nggak peduli. Dulu sebelum Aku menikah dengan Grace juga Mama bilang hal yang sama, sekarang lebih baik Mama berhenti ikut campur dalam kehidupan Aku." kata Rey lagi yang terdengar sangat menyakitkan dalam hati Anita.


"Biar Rey sendiri yang ngurus rumah tangga kami. Mama nggak usah terlalu banyak ikut campur. Dan satu lagi, Ma. Berhenti jelasin hal-hal yang Aku suka dan nggak suka pada Sasa. Jujur setelah proyek ini selesai, Aku tidak ingin lagi bertemu wanita itu."


"Rey....." ucap Anita masih mendengarkan putranya itu berbicara.


Rey menetralkan emosinya pada Anita, bagaimana pun juga wanita itu adalah ibu kandungnya.


"Berhenti ikut campur, Ma. Kami sudah bahagia," kata Rey kemudian berdiri hendak berlalu.


Sebelum Rey benar-benar meninggalkan rumah orangtuanya itu, dia pun menoleh sejenak ke arah Anita, ingin memastikan satu hal lagi


"Kalau Mama masih ikut campur dalam rumah tangga Aku dan selalu menyudutkan Grace, Aku nggak akan segan-segan ngomong hal ini sama Papa. Biar Papa sendiri yang ngambil keputusan bagaimana harus berbicara pada Mama," jawab Rey setelah menoleh kebelakang. Melihat Anita yang mematung di sofa tersebut.


"Aku pamit, Ma. Kali ini jangan kecewakan Rey," kata Rey lagi kemudian melangkah meninggalkan rumah orangtuanya itu yang sudah membesarkan dirinya selama berpuluh-puluh tahun.


Meninggalkan Anita seorang diri duduk disana, sambil terkejut dan menelaah apa yang sudah terjadi.


Wanita itu masih syok dengan perkataan dan ucapan Rey yang menyakiti hatinya.


Ini kali pertama putranya itu berani membentak dia seperti itu.


*


*


*