Grace

Grace
Bonchap 2



Halooo.......


Author Come back 💃💃


Ada yang masih nungguin cerita ini nggak yaa?


Maapkeun Author liburnya kepanjangan yakkk......


Absen dong.... Author pengen tahu siapa aja yang masih setia sama Rey dan Grace Wkwkwkkw 😂😂


*****


*****


Melihat kepergian Reno dengan senyum yang terkesan dipaksakan untuknya membuat Grace merasa bersalah di dalam hati.


Setelah pintu lift itu tertutup dan meninggalkan Grace seorang diri didalam lift yang mereka naiki tadi, Grace hanya bisa mendoakan agar Reno segera di pertemukan dengan seorang wanita yang baik dan mencintai pria itu setulus hati.


"Semoga kamu, bahagia Ren." Lirih Grace mengucapkannya sebelum denting lift berbunyi menandakan lantai dimana ruangan Wenny berada.


Grace mengusap perut buncitnya dengan sayang sembari berjalan ke arah ruangan Sang Sahabat. Setelah menjahili Glenn, adiknya. Tentu Grace ingin sekali menggangu Sahabatnya itu.


Semenjak dia hamil, Grace sangat menyadari kalau akhir-akhir ini tingkahnya menjadi sangat menyebalkan.


Bukan hanya Wenny saja yang menjadi korban wanita hamil tersebut, mungkin yang harus lebih dikasihani disini adalah Sang suami yang telah banyak bersabar menghadapi tingkah lakunya.


Pernah suatu kali, Wenny diminta oleh Grace untuk datang ke apartemen mereka hanya untuk dibuatkan Sup Kimlo yang sangat sekali Grace makan waktu itu.


Padahal waktu itu jam sudah menunjukkan tengah malam. Alhasil Rezi yang menjadi suaminya hanya bisa mengantar sang istri ke apartemen Rey untuk memenuhi permintaan dari sahabat istrinya itu.


Entah mengapa semenjak hamil, Grace sangat menyukai semua jenis sup-supan. Efek hamil kali ya? pikirnya dalam hati.


"Lo masih disini Grace? kirain udah pulang... bukannya tadi di mobil Lo bilang cuma pengen ketemu Glenn habis itu langsung pulang?" sapaan Wenny ketika melihat Grace sampai di ruangan miliknya.


"Nggak jadi... males juga kalau langsung balik." Katanya melirik suasana didalam ruangan tersebut.


Wenny pun yang mendengar jawaban Grace barusan berusaha mencerna apa yang akan terjadi nanti pada dirinya kalau ada Grace yang menggangu waktu jam kerja seperti ini.


"Kok tumben banget Lo main ke kantor Gue?" Percayalah Wenny mengucapkan kata tersebut dengan sinis dan raut wajah yang curiga pada Grace.


Bukannya menjawab pertanyaan sinis dari Wenny, wanita hamil itu malah mengambil kursi terdekat dan dengan sengaja duduk bersebelahan dekat dengan Wenny.


Membuat Wenny mengerutkan dahinya dalam, kebingungan melihat tingkah laku ibu hamil tersebut.


"Jangan aneh-aneh ya Grace. Gue lagi sibuk banget hari ini." Ujarnya kemudian kembali fokus pada komputer kantor miliknya.


Sekilas melirik menggunakan ekor matanya untuk melihat Grace sejenak.


Grace pun berdecak malas, sambil mengetuk pelan meja kantor Wenny menggunakan telunjuknya.


"Gue bosan Wen." Keluhnya dengan menyandarkan punggung di kursi sesekali mengelus perut buncit miliknya.


"Kalau bosan ganggu lakik Lo Sono, jangan ganggu Gue. Sibuk nih Grace." Wenny memperlihatkan berkas dokumen kantor yang belum dia selesaikan.


Melihat tumpukan dokumen yang barusan Wenny tunjuk membuat Grace tertawa.


"Kenapa Lo ngetawain Gue? seneng banget kalau Gue menderita begini." Ujar Wenny mulai memeriksa dan menyelesaikan pekerjaannya satu persatu.


"Rencananya tadi Gue mau ganggu Lo... tapi sepertinya nggak jadi deh... kasian banget hidup Lo." Melirik kertas dihadapan Wenny yang tengah mendumel tidak jelas.


"Sorry nih.... Gue nggak bisa ladenin Lo dulu Grace."


Grace yang masih sibuk mengelus perut buncitnya, hanya tersenyum menanggapi perkataan Wenny di sebelahnya.


Merasa bosan pada Wenny yang sepertinya tidak bisa untuk diganggu, Grace pun mengecek ponselnya yang berbunyi.


Wanita hamil itu mengulas senyum di wajahnya ketika mendapatkan pesan dari Sang pujaan hati di seberang sana.


"Habis ini Lo mau kemana?" tanya Wenny sembari mengetik. Matanya masih fokus pada komputer dan berkas di mejanya.


"Nunggu Suami Gue jemput... katanya mau ngajakin makan siang bareng." Jawabnya.


Ya, barusan Sang Suami memberinya kabar kalau ingin makan siang bersama dan sebentar lagi akan menjemput Grace di kantornya.


"Makan yang banyak Lo, biar lancar lahiran." tukas Wenny sekenanya.


Grace mencebikkan bibirnya, "Nggak ada hubungannya kali... doain aja Gue biar sehat terus sampai lahiran."


Wenny pun terkekeh, ada benernya juga omongan Grace barusan.


Beberapa saat mereka berdua masih berbicara ini dan itu. Terkadang membicarakan topik yang tidak jelas maupun membicarakan seputar rumah tangga mereka berdua dengan suami masing-masing.


"Lo nggak ada niat resign Wen?"


Sekilas Wenny mengedikkan bahunya.


"Ada sih, Rezi udah suruh Gue keluar juga. Tapi Gue nya malas kalau di rumah terus. Bosan Grace kagak ada kerjaan." Ucapnya dan mendapat anggukan setuju dari Grace.


Ponsel Grace pun berbunyi menandakan Rey sudah menjemputnya di lobby.


"Gue keluar dulu ya... udah di jemput sayangnya aku nih." Ucap Grace dengan lebaynya.


Membuat Wenny jengkel. Memangnya dia saja yang mempunyai kesayangan. Wenny juga punya kali.


Tapi sayangnya lagi sibuk dan tidak bisa diganggu.


"Ya.... ya Sono Lu." Jawabnya dengan malas.


Setelah berpamitan sebentar dengan Wenny dan ditanggapi dengan sekenanya saja oleh sahabatnya itu. Grace pun bisa melihat kalau mobil Rey sudah terparkir di depan Lobby dan setia menungunya disana.


Membuka pintu mobilnya dan mendapati senyuman yang sangat manis dan hangat dari lelaki itu.


"Hai sayang." Sapa Rey dengan hangatnya setelah melihat Sang Istri sampai dan duduk di kursi mobil miliknya.


****


****


****


Sorry, kalau ada kalimat yang gantung dan nggak jelas. Dimaklumi aja ya udah lama nggak ngetik lagi wkwkwk. Part selanjutnya masih diketik Guys. Kalau berkenan bantu promo Novel ini dong ke tetangga temen atau kenalan kalian lainnya siapa aja boleh deh bebas... wkwkwkwk. Makasih yaa sebelumnya yang masih setia dengan ceritanya mereka 😘😘