
Mendengar permintaan Rezi barusan, membuat Wenny sejenak mengalihkan wajahnya untuk melihat deretan boneka yang terpajang di daerah yang kini mereka telusuri
"Bagaimana?" Rezi menanyakan ulang permintaannya.
"Oke. Gue akan panggil Lo seperti biasa kalau di luar kantor." ucap wanita itu memberanikan diri memanggil Rezi dengan sapaan mereka dulu sewaktu kuliah
Rezi tertawa, Pria itu tidak bisa menyembunyikan suara tawanya dan senyuman yang sedari tadi sudah terpasang untuk Wenny yang malah sering mengabaikannya. Membuat Wenny menolehkan kepala ke arah Rezi, heran kenapa atasannya ini bisa tertawa selepas itu.
"Lo sehat?" tanya Wenny, melihat suasana sekitar karena pengunjung memperhatikan mereka.
Rezi menganggukkan kepala, " Saya sehat." ucapnya. "Tapi bisa tidak jangan Gue, Lo. Saya terlalu risih mendengarnya. Panggil Aku Kamu saja." saran Rezi akhirnya.
"Saya tidak bisa Pak." ucap Wenny yang mengganti lagi kata sapaan mereka.
" Kenapa?
"Kita tidak terlalu sedekat itu." ucapnya jujur.
"Menurut Aku kita dekat."
Wenny memicingkan mata, "Deket nenek moyang, Lo." ucapnya dalam hati. "Dekat darimana Pak?" Lain di hati lain di bibir.
"Kita sudah lama kenal, apa itu tidak cukup membuat kita dekat?" Rezi balik bertanya.
"Meskipun sudah lama mengenal, belum tentu bisa mengenal orang itu luar dan dalam. Hal tersebut tidak bisa menjadi jaminan seseorang dikatakan dekat karena sudah lama saling mengenal" jawab Wenny, "Terkadang manusia juga hanya bisa menilai luarnya saja tanpa bisa menilai dalamnya hati seseorang." ucapnya lagi seperti seorang motivator membuat Rezi menganggukkan kepala membenarkan perkataannya.
Tak ayal Grace sering meminta saran dan nasihat wanita itu, sepertinya dia punya bakat untuk menjadi motivator.
Memikirkan ucapan yang barusan dia katakan seperti terdengar bijaksana. Terlintas di pikiran Wenny, kenapa dia tidak menjadi motivator dan konseling orang lain saja? Lumayan, uangnya akan bertambah dan bisa belanja sepuas hatinya tanpa memikirkan diskon.
Wenny tertawa memikirkan idenya yang aneh itu, "Kenapa nggak dari dulu aja Gue pasang tarif sama Grace dan Siska ya kalau tuh anak dua curhat ke Gue, lumayan kan duitnya buat ke salon." ucapnya lirih.
"Kenapa?" tanya Rezi yang samar-samar mendengar apa yang Wenny ucapkan sambil tertawa.
"Eh, tidak apa-apa Pak." ucapnya yang baru sadar, mereka belum memutuskan kata sapaan untuk mereka berdua.
"Kok Pak, lagi." Rezi menggerutu terdengar decakan malas sekilas dari suara yang dia ucapkan.
"Iya.. iya. Kalau diluar kantor saja kan?" ucapnya memastikan dan mendapat anggukan dari Rezi di sebelahnya.
"Oke deh Aku setuju dengan pendapat Kamu." jawab Wenny yang sudah mengganti kata sapaan mereka.
Rezi tersenyum, akhirnya satu misinya selesai. Sekarang tidak apa-apa panggilan Kamu Aku dulu, kemungkinan di masa depan bisa diganti dengan Sayang. Pikirnya sambil tersenyum senang. Tidak sadar mereka sudah berada di akhir rute istana boneka.
Selesai melihat istana boneka mereka berdua memutuskan untuk makan siang di sekitar tempat tersebut baru nanti memikirkan akan pergi kemana lagi selesai makan siang.
Mereka memesan salah satu menu junk food, selain praktis mereka juga bisa makan dimana saja, mengingat hari ini adalah hari libur tempat tersebut jadi ramai dan susah untuk mencari tempat duduk kalau hanya untuk sekedar makan.
****
"Rezi?" ucap wanita yang tiba-tiba menghampiri mereka sembari menggandeng tangan anak kecil berusia lima tahunan.
"Dilla?" sapa Rezi, terkejut karena bisa bertemu salah satu temen kuliahnya di tempat ini.
"Baik, udah lama nggak jumpa. Gandengannya sekarang udah ada anak aja." sapa Rezi terkejut banyak sekali yang berbeda dari teman kuliahnya itu.
"Eh iya.. ini kenalin anak Gue, namanya Panji. Sebentar Gue kesana dulu, dia daritadi nangis pengen makan es krim." pamit wanita itu sebentar dan segera bergegas ke stand penjual es krim.
***
Melihat wanita yang di yakini oleh Wenny adalah teman dari atasannya itu, sedikit pun tidak beralih menatap wanita dan anak kecil yang tengah berjalan tersebut. Umur mereka kemungkinan tidak jauh berbeda, wanita itu sudah mempunyai anak. Sedangkan dia sama sekali belum mempunyai tambatan hati, sementara Grace dan Siska pun sudah menikah mungkin sebentar lagi mereka berdua akan segera dikaruniai anak. Apa kabarnya dia? Di umur yang hampir kepala tiga belum menikah dan belum menjalin hubungan yang serius dengan lawan jenis. Membuat Wenny kembali memikirkan secara serius, sepertinya sudah sewajarnya di umur yang sekarang ini untuk segera menikah dan menjalin hubungan yang serius dengan seorang pria yang matang.
"Namanya Dilla?" kata Rezi tiba-tiba karena Wenny sangat serius sekali menatap teman dan anaknya itu.
Tampak Wenny disadarkan dari lamunannya tadi, "Eh.. iya. Aku tadi udah dengar." jawabnya, pandangan mata masih melekat ke arah ibu dan anak.
"Dia teman kuliah aku dulu." ucap Rezi lagi menceritakan tentang wanita itu.
"Ohh.." kata Wenny menganggukkan kepala sambil kembali duduk dan melanjutkan makan siangnya.
Beberapa menit kemudian wanita itu dan anak yang dia gandeng sambil memakan es krim dengan senangnya, kembali datang lagi menghampiri mereka berdua, "Pacar Lo, Zi?" tanya wanita itu sambil tersenyum ke arah Wenny dan dibalas senyuman kembali oleh Wenny sekedar sopan santun.
Rezi tertawa, "Bukan." ucapnya menggerakkan kedua tangannya.
" Gue, Dilla." sapa Dilla sembari menyodorkan tangannya ke arah Wenny untuk bersalaman.
"Wenny"
" Hai Wen" ucap wanita itu lagi masih tersenyum.
"Kalau bukan pacar Lo, terus apaan dong?" tanya kembali ke arah Rezi.
"Kita temen kantor kok." jawab Rezi menggaruk rambut belakangnya.
Dilla tertawa sambil menggelengkan kepala, "Temen kantor kok jalan berdua di tempat hiburan begini sih. Kalian seperti berkencan saja." ucap Wanita itu lagi yang membuat Wenny baru menyadari perkataan Dilla ada benarnya juga.
"Eh.. bukan Mbak. Kami memang hanya teman saja." Wenny akhirnya yang mengklarifikasi hubungan mereka berdua.
Dilla hanya manggut-manggut memahami saja, tak ayal tersenyum curiga. "Iya deh" ucapnya, "udah lama banget nggak ketemu Lo ya Zi." Dilla kembali membahas obrolan mereka.
"Iya, terakhir kita ketemu sewaktu Lo ngadain acara pernikahan" jawab Rezi.
"Iya, Gue juga ingatnya waktu itu yang terakhir."
"Kemana aja Lo selama ini?" tanya Rezi, Wenny yang dibiarkan sendiri pun hanya bisa duduk kembali sambil mendengarkan mereka berdua berbicara.
"Gue di Kalimantan, ngikut Suami tugas disana. Lo tahulah pekerjaan dia gimana." ucapnya.
"Ohh..." Rezi menganggukkan kepala mengerti.
"Terus Lo disini liburan?" tanyanya lagi.
"Nggak, Gue udah menetap disini." ucap wanita itu.
"Ehh.. Gue minta nomor Lo dong, Gue udah hilang kontak sama anak seangkatan kuliah kita yang dulu." Dilla mengeluarkan handphone miliknya dan mereka berdua saling bertukar nomor kontak masing-masing sambil membicarakan ini dan itu yang tidak Wenny pahami.