
Pagi itu, di hari Senin yang sedang sibuk-sibuknya bagi seorang pekerja atau karyawan. Bagi sebagian orang hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu karena mendatangkan banyak rejeki dalam hidup pekerja. Namun tak banyak juga yang menganggap hari itu adalah hari keramat dan melelahkan.
Berbeda dengan Grace, mau di hari apa saja dia akan selalu bekerja maksimal dan maksimal. Selain karena ini adalah perusahaan Ayahnya, dia juga harus memberi contoh pada karyawan lainnya agar dapat menjadi teladan dan panutan di kantor Wijaya Corporation.
Rapat mingguan pun diadakan seperti biasanya di perusahaan tersebut, Gilang selaku owner menjadi pemimpin rapat untuk mengevalusi kinerja dan hal-hal yang sudah terealisasikan dan kendala apa saja yang mereka alami selama satu minggu terakhir.
"Baik, silahkan Reno selaku asisten manager operasional memberi pengarahan dan evaluasi." ucap Gilang ketika selesai untuk membuka rapat acara.
"Baik, Pak. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan." Reno pun memberikan laporan demi laporan serta keberhasilan dan kendala apa saja yang mereka alami. Meskipun sifat pria itu sedikit pecicilan namun di bidang pekerjaan dia sangat profesional dan bisa di andalkan mungkin karena sudah menempuh pendidikan di luar negeri. Menyebabkan pria itu sangat ahli di bidangnya dalam memberikan penjelasan dan hal-hal yang terkait di dalamnya.
Setelah Reno menjelaskan ini dan itu, tibalah giliran Rezi yang sudah menjabat sebagai direksi keuangan umum untuk menjelaskan keuntungan beserta kerugian apa saja yang mereka alami sepekan terakhir.
Penjelasan demi penjelasan berlangsung, rapat mingguan tersebut pun kini selesai. Grace yang ingin melangkah keluar untuk menuju ruangannya. Tiba-tiba saja Rezi menghampiri wanita itu, "hm... Grace ada waktu sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan." katanya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Grace mengerutkan dahinya, tumben sekali sahabat suaminya ini ingin berbicara padanya. Kalau di ingat-ingat pekerjaan mereka tidak berhubungan dan sepertinya tidak ada yang perlu untuk dibahas mengenai pekerjaan.
Lantas apa yang membuat pria ini ingin berbicara dengannya?
Tidak mendapat jawaban dari Grace, Rezi pun mengulang pertanyaan yang sama pada wanita itu. " Bagaimana?" katanya lagi.
Grace menganggukkan kepala sejenak, " Baiklah, Pak. Silahkan." ucapnya membalas ajakan untuk mengobrol tersebut yang dia tidak tahu apa tujuan jelasnya.
"hm.... Kita mengobrol di ruangan kamu saja." ucap Rezi ketika mereka sudah keluar dari ruangan tempat rapat tadi dilangsungkan.
"Baiklah" jawab Grace sekenanya.
Saat sampai di ruangan miliknya, Grace mempersilahkan pria itu untuk duduk di sofa yang berada di dalam ruangannya. Memanggil Udin untuk segera membuatkan teh kepada tamu dadakannya itu. Grace baru menyadari ini kali pertama mereka berbicara hanya berdua seperti ini.
"Kalau boleh saya tahu, ada yang ingin disampaikan Pak?" tanya Grace akhirnya, wanita itu masih sangat penasaran apa yang akan dibicarakan oleh sahabat suaminya ini.
Tampak Rezi terdiam sebelum mengutarakan niatnya untuk berbicara pada Grace.
"Eh.. itu Grace. Ini tidak menyangkut pekerjaaan." ucapnya terdengar ada sedikit nada sungkan ketika Rezi mengucapkannya.
"Oh.. mengenai apa ya, Pak." tanya Grace kemudian.
"Jujur saya mau minta bantuan kamu." Rezi masih terdengar sangat gugup berbicara.
Grace semakin antusias, "Bantuan apa ya, Pak?" Apa ini menyangkut pekerjaan pria itu atau bagaimana, pikirnya.
"Saya... mau tahu lebih jauh mengenai Wenny." Rezi akhirnya bisa mengemukakan niatnya bertemu Grace di ruangan yang kelihatan canggung ini.
****
Grace ingin tertawa mendengar pengakuan dari sahabat suaminya ini. Pantas saja dulu Wenny berbicara padanya sempat menolak pria itu semasa mereka di awal kuliah dulu. Bagaimana tidak ditolak, pembawaan Rezi sangat kaku sekali, yang ada wanita yang dekat dengannya akan cepat merasa bosan.
"Bapak, ingin tahu tentang apa memangnya?" Grace balik bertanya yang membuat pria yang sedang duduk di hadapannya ini menjadi semakin bingung.
"Semuanya" ucap Rezi yang memang bingung ingin tahu mengenai apa tentang orang yang dia suka sejak masa kuliah.
Grace tidak bisa lagi menahan tawanya, "Hahaha, kalau semuanya nggak kelar-kelar dong, Pak. Kisah Wenny itu panjang dan lebar banget." jawab Grace agar membuat obrolan mereka menjadi sedikit bumbu candaan di dalamnya. Tidak serius sekali seperti sekarang ini.
"Begini deh, Pak. Saya mau tanya, bapak suka sama sahabat saya?" tanya Grace secara terang-terangan yang membuat pria itu menganggukkan kepala membenarkan.
"Oh ya? Benarkah?" Grace berpura-pura tidak tahu sementara Wenny sudah bercerita panjang lebar dengannya tentang kisah cinta mereka dulu yang sempat ditolak.
"Iya" Rezi menjawab seadanya, dia baru mengetahui kalau anak dari pemilik perusahaan tempat dia bekerja mempunyai sifat yang sedikit sama seperti Wenny. Ceria dan mudah untuk bergaul pada orang.
Grace berpikir sejenak, bagaimana dia bisa membantu Wenny sahabatnya agar tidak menjomblo selamanya. Toh, Rezi juga tipikal pria yang baik dan kelihatannya pria itu mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Terbukti dari semua pekerjaannya Ayah selalu memuji hasil kerja Rezi.
"Bagaimana kalau Bapak, berusaha memahami apa keinginan Wenny. Mungkin itu bisa membuat dia bisa jatuh cinta dengan anda." Grace berkata karena mengingat Wenny selalu mengeluh tentang pekerjaan menumpuk yang diberikan Rezi padanya.
" hm.. Grace, bisakah kamu tidak memanggil ku secara formal. Panggilan itu membuatku terlihat tua. Aku juga seumuran dengan Rey." kata Rezi, yang merasa risih dengan panggilan bapak sementara Grace adalah anak pemilik perusahaan.
" Saya sudah terbiasa, Pak" ucap Grace terkekeh mengibaskan tangannya ke arah Rezi.
"Saya hanya kurang suka saja mendengarnya." ungkap Rezi lagi masih belum terima panggilan tersebut.
"Jadi mau dipanggil apa Pak?" tanya Grace akhirnya.
"Terserah kamu saja, Mas juga boleh" Rezi memberi saran.
Seketika itu juga Grace mengerutkan dahi keheranan, yang benar saja di panggil Mas, sedangkan dia sendiri memanggil suaminya dengan sebutan, Kak. Bagaimana dia bisa memanggil orang lain dengan sebutan yang lebih dekat seperti itu. Kalau Rey mendengarnya pasti suaminya akan segera protes. "Tidak-tidak ini tidak boleh terjadi" Grace bermonolog sendiri dalam hati.
"Hahaha, tidak usah Pak. Saya panggil Kak saja ya. Bagaimana?" Grace sedikit tertawa dengan paksa mendengar sapaan yang diberikan oleh sahabat suaminya itu.
" Oke, baiklah" kata Rezi.
"Jadi bagaimana, saya tidak tahu banyak mengenai keinginan Wenny." Rezi kembali membahas topik mereka yang berhenti sejenak karena sapaan panggilan tersebut.
"hm, keinginan Wenny itu tidak banyak. Cukup kita mengerti kondisi hatinya dia. Kita akan cepat memahami apa keinginannya. Sepertinya dia senang dengan tipikal lelaki yang peka." Grace memberi kode agar Rezi bisa lebih memahami wanita itu jika ingin merebut hatinya.
"Oh, begitu ya. Selama ini saya selalu tidak bisa memahami kondisi hatinya. Kalau saya suruh mengerjakan ini dan itu dia selalu mengerjakannya dengan baik. Jadi bagaimana saya tahu kondisi hatinya saat bersama saya?" tanya Rezi yang masih penasaran.
"Begini saja, kalian berdua jika sedang bersama-sama tidak perlu terlalu formal dan mencoba berbicara seperti teman biasanya saja Kak" Saran Grace.
"Begitukah?"
Grace menganggukkan kepala, "Kalau kalian terlalu formal ketika sedang berdua, yang ada Wenny akan selalu menjaga jarak. Buat sedikit beda dari yang lainnya saja Kak, kalau sedang berbicara dengan Wenny. Pasti dia akan tidak terllau canggung." Timpal Grace lagi.
"Baiklah, saya akan mencobanya. Oh iya, Grace apa Wenny selama ini pernah punya pacar?" tanya Rezi yang penasaran siapa saja pria yang pernah menjalin hubungan dengan wanita yang dia cintai tersebut.
Selanjutnya
***
Jangan tanya adegan di pantai mereka ya, itu di beberapa chapter lagi. Author mau kasih bumbu bumbu dulu dalam cerita biar nggak fokus tentang tokoh utama terus dan juga biar Wenny nggak jomblo lagi. Hahahaha.
Happy Reading sayang ♥️