
"Gue, pamit dulu Zi. Takut suami Gue nyariin." Dilla berpamitan dan memandang ke arah yang berlawanan mencari keberadaan suaminya.
"Oke Dil." kata Rezi.
"Jangan lupa undangan buat Gue." kata Dilla lagi dengan bercanda sambil menatap ke arah Wenny.
"Iye... tenang aja Lo." balas Rezi kemudian membalas candaan tersebut.
Pria itu kembali duduk di sebelah Wenny, "Habis ini kita mau kemana?" tanya Rezi yang menoleh ke arah Wenny yang sibuk memainkan handphone.
"Terserah kamu aja." balasnya.
"Ancol? selagi liatin matahari terbenam?" tanyanya memastikan.
"Boleh juga" ucap Wenny.
Sebelum mereka ke pantai, mereka berkeliling sejenak dan melihat suasana wahana Dufan yang sangat ramai dikunjungi saat hari libur seperti ini. Sewaktu jam sudah hampir sore, barulah mereka berdua pergi ke pantai memandangi lautan dan duduk di alas yang sudah di sediakan disana.
Saat mereka duduk pun, keduanya terdiam tidak ada obrolan yang mereka bahas sama-sama diliputi oleh kecanggungan. Rezi dan Wenny sibuk memandangi laut dan lingkungan sekitar pantai yang jarang mereka lihat saat hari biasanya.
"Wen?" ucap Rezi tiba-tiba memecah keheningan mereka berdua.
Wenny menoleh, tidak ada tanggapan darinya hanya pandangan mata saja yang tertuju ke arah pria itu.
"Aku masih suka Kamu." Rezi mengaku dengan berani kepada Wenny, mengungkapkan isi hatinya selama ini.
Mendengar pengakuan tersebut membuat Wenny salah tingkah. Wanita itu beralih menundukkan kepala tidak tahu apa yang harus dia jawab dengan pengakuan tersebut.
Wenny berdehem untuk menetralkan suaranya agar tidak terlihat gugup. "Bapak nembak saya?" jawab Wenny menolehkan pandangan kembali ke arah Rezi, yang sama-sama menatapnya.
"Iya." jawab Rezi dengan santainya, tidak ada kata romantis yang keluar dari bibir pria itu. Dia juga bingung bagaimana harus bersikap romantis kepada seorang wanita.
Wenny menggaruk dahinya yang tidak gatal, bingung mau menjawab pengakuan cinta yang gamblang seperti ini. Tidak ada manis-manisnya.
Meskipun dia wanita yang cuek dan apa adanya, dia juga wanita yang menginginkan keromantisan ketika pasangannya menyatakan cinta, tetapi berbeda dengan pria ini dengan terang-terangan dan tanpa ada embel-embel apapun juga.
"Aku boleh tahu, kenapa kamu dulu nolak Aku?" tanya Rezi karena belum mendapat tanggapan dari Wenny mengenai rasa cinta pria itu.
Ada keraguan sejenak sebelum Wenny mengutarakan perkataannya. "Waktu itu Aku masih muda dan belum mau untuk berpacaran." ucapnya berbohong, bukan karena itu dia menolak ungkapan cinta Rezi melainkan karena penampilan pria itu yang cupu dan tingkahnya dulu yang seperti anak mami.
"Oh..." jawab Rezi.
Mereka berdua kembali hening dan tidak ada yang berbicara. Rezi yang memikirkan bagaimana untuk mendapatkan hati wanita disampingnya ini. Sementara Wenny yang terlihat canggung dan tidak bebas seperti biasanya wanita itu bersama Grace dan Siska sahabatnya.
Kalau bersama Rezi, dia sedikit terkekang dan merasa tidak menjadi dirinya sendiri, entah karena apa, mungkin karena lelaki itu atasannya di kantor atau rasa bersalahnya dulu yang sempat menolak perasaan pria itu. Dia sendiri tidak tahu.
"Kalau sekarang bagaimana, apa kamu sudah siap untuk hubungan yang serius?" kata Rezi kembali mengutarakan niatnya untuk memiliki wanita idamannya sedari dulu.
"Astaga... jantung Gue kenapa nih." Wenny bermonolog dalam hati, jantungnya berdebar-debar seperti ada pertunjukan musik di dalam sana.Ternyata seperti ini rasanya menerima ungkapan cinta tanpa tahu harus bagaimana yang akan dia katakan. Wenny pun tidak tahu apakah dia menyukai Rezi atau tidak, dia sendiri belum bisa memastikan hatinya.
***
"Wen, bagaimana?"
"Eh.. Aku tidak tahu." jawab Wenny jujur dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu masih tidak mempunyai perasaan terhadapku?" tanya Rezi.
"Aku tidak tahu, mungkin rasa takut karena Kamu atasanku." ucapnya dengan tersenyum sungkan.
"Suasananya mendukung untuk menyatakan cinta, Aku sengaja membawamu ke tempat ini, agar pengakuanku di terima." kata Rezi menyentuh dagu wanita itu supaya memandang wajahnya.
"Aku serius." ucap pria itu lagi.
"Maaf" Hanya itu yang bisa Wenny sampaikan, dia juga tidak akan mau memberi harapan palsu pada atasannya itu.
Terdengar Rezi menghela napasnya, "Tidak bisakah memberi ku kesempatan?" Kita tidak pernah mencobanya. Kenapa harus mengatakan maaf." ucapnya terdengar frustasi dan hampir putus asa, tidak ingin ditolak lagi.
"Tidak, Aku ingin mendengar jawabannya hari ini. Kalau Kamu memang menolak ku tidak apa-apa, Aku akan terus meyakinkanmu." ucap Rezi bersungguh-sungguh.
Wenny berpikir, apakah dia harus menerima atau tidak ungkapan cinta pria yang sejak dulu mengatakan cinta padanya.
Perkataan Rezi ada benarnya juga, mereka belum pernah mencoba. Kenapa harus menolak terlebih dahulu.
"Baiklah." kata Wenny akhirnya.
Sekilas Rezi tersenyum, "Baiklah apa?" katanya berpura-pura tidak mengerti.
Wenny berdecak memalingkan wajahnya ke sembarang tempat. Pria ini sungguh kaku dan tidak peka sekali. Pikirnya.
"Nggak jadi deh." jawab Wenny membalas perkataan Rezi yang serasa menjengkelkan.
Seketika itu juga, Rezi mencekal lengan wanita itu lembut tidak menyakiti. "Oke..aku mengerti." ungkap pria itu kemudian.
"Jadi kamu menerima ku?" tanyanya memastikan, memandang lekat wajah Wenny yang masih sibuk memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Maunya bagaimana?" Wenny menoleh sekilas namun kembali memandang tempat sekitar.
"Jadi pacar aku." jawab lelaki itu menggenggam jemari Wenny yang terasa lebih kecil di telapak tangannya.
Wenny berdecak, tidak ada romantisnya hubungan asmara dia yang pertama kali bersama seorang lelaki. Tidak dipungkiri kemungkinan Rezi adalah pacar pertamanya Wenny, beruntung sekali Rezi bisa menjadi pacar pertamanya.
"Hm... Kamu mau kan?" bujuk Rezi, berusaha untuk meyakinkan wanita itu. Dia tidak ingin merasakan ditolak kembali seperti waktu dulu. Mungkin sewaktu mereka masih menginjak perkuliahan lelaki itu belum punya rasa berjuang lebih tetapi untuk sekarang dan hari ini dia tidak akan melepaskan wanita yang berada disampingnya dengan mudah begitu saja.
Wenny menganggukkan kepala sekilas, ada raut wajah yang masih malu-malu tapi mau terlihat jelas sekali di wajahnya.
Rezi tertawa dengan senang, "Yess..." ucapnya berteriak mengangkat tangannya ke udara. Pria itu puas sekali mendengar jawaban dari Wenny, kekasihnya.
"Kamu nggak bisa tarik lagi perkataan itu. Sekarang kamu pacar Aku." ucapnya dengan nada yang bersemangat. Senyumnya mengembang ke arah Wenny. Dia tertawa dengan senangnya, kemudian merentangkan tangannya supaya Wenny dapat memeluknya.
Tidak di duga Wenny memeluk Rezi, menyambut pelukannya dan dibalas tak kalah erat oleh lelaki yang sudah resmi menjadi kekasihnya.
"Mulai Senin depan, Kamu nggak boleh suruh aku ini dan itu. Suruh aja sekretaris Kamu." Wenny mengeluh di tengah pelukan mereka. Akhirnya dia bisa mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
"Hahaha... Aku sengaja melakukannya supaya bisa lihat wajah Kamu yang bersungut-sungut tapi Kamu kerjain juga."
Seketika Wenny melepasakan pelukan, memukul lengan pria itu. "Sengaja Kamu kan. Buat aku kesusahan. Jahat banget." jawabnya masih memukul lengan Rezi yang mengaduh kesakitan.
"Ampun. Iya.. besok aku suruh Sherli bantuin kerjaan Aku di kantor." ucapnya sambil tertawa.
"Terus, Kamu jangan judes kalau ngomong."
"Oh... kalau itu biar Aku terkesan cool depan Kamu." ucap Rezi.
"Nggak cool yang ada. Malahan aku bete seharian kalau ingat tingkah laku Kamu." ungkap Wenny.
"Iya... iya." Rezi terkekeh sekilas mendengar curhatan Wenny selama ini tentangnya.
"Ayo.. Kita pulang, pacarku." Ledek Rezi ke arah Wenny sambil mengulurkan tangannya.
Wenny menyambut uluran tangan itu, mereka berjalan di sepanjang tepi pantai dan menikmati matahari terbenam. Rezi tersenyum bahagia ke arahnya mencium punggung tangan Wenny yang sudah resmi menjadi kekasihnya. Akhirnya wanita itu mau mencoba dan berani untuk melangkah ke depan saling mengenal satu sama lain.
Selanjutnya
****
****
****
Kasih ucapan selamat sama Wenny guys, akhirnya dia nggak jomblo lagi. Baik banget kan Author kasih dia pacar haha. Oke next chapter si pemeran utama ya...
Salam sayang dari Author.