Grace

Grace
Fokus buat Anak



Selesai sarapan pagi hari di kediaman mertuanya Grace banyak terdiam. Sebenarnya dia juga sangat mengharapkan kehadiran seorang anak diantara mereka, tetapi apa mau dikata, sepertinya Tuhan belum memberikan kepercayaan pada mereka dengan hadirnya sang buah hati.


Saat siang menjelang sore Rey dan Grace memutuskan untuk kembali ke apartemen mereka, meskipun Anita belum memperbolehkan keduanya untuk pulang karena masih rindu dengan putranya. Namun dengan berat hati akhirnya wanita itu merelakan anak dan menantunya untuk kembali pulang ke apartemen milik Rey.


"Ma, lain kali nggak usah bahas tentang cucu, kalau mereka berdua datang" Farhan berucap ketika dia dan Nita masuk kedalam rumah seusai mengantar Rey dan Grace kemudian mengajak istrinya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Emang Mama salah ngomong ya, Pa?" ucap Nita yang duduk disebelah Farhan.


"Tidak juga, tadi Papa lihat wajah Grace seperti tidak ingin membahas mengenai cucu."


"Iya sih, Pa. Anak itu daritadi diam saja, Mama lihat" Nita membenarkan perkataan suaminya dengan mengingat Grace yang tidak banyak bicara seperti biasanya.


Farhan menganggukkan kepala, "Biarin aja mereka menikmati masa-masa pernikahan mereka dulu. Kita tidak usah kasih beban mengenai cucu. Kalau mereka sudah di kasih kepercayaan untuk punya seorang anak, pasti kita segera dapat cucu, Ma"


"Iya deh, Pa. Mama cuma udah nggak sabar saja segera gendong cucu. Tapi ya sepertinya kita harus banyak bersabar menanti."


"Iya, kita bersabar saja."


"Oh iya Pa, gimana pekerjaan Rey di kantor kita?" Nita tiba-tiba bertanya.


"Anak itu memang dari dulu punya obsesi yang tinggi. Buktinya baru beberapa minggu bekerja di kantor Papa, dia langsung bisa dapat investor dalam jumlah dana yang besar." Farhan berkata dengan raut wajah yang penuh kebanggaan kepada putranya itu.


"Serius, Pa?" Nita masih antusias ingin mendengarkan lebih.


" Iya, Ma. Perusahaan kita sudah mulai menghasilkan profit yang lebih banyak daripada bulan lalu."


"Wah, anak Mama memang luar biasa" Nita berucap sambil tersenyum lebar di wajahnya.


"Anak Papa, juga" Sambung Farhan kemudian.


Keduanya pun tertawa sejenak


"Tidak salah kalau Grace sejak dulu sangat menyukai anak kita, Ma. Dia sepertinya ahli dalam memilih bibit unggul" Kembali Farhan yang berbicara sambil tertawa.


Nita menoleh ke arah suaminya, "Jadi, Papa sudah tahu dari dulu, kalau Grace senang sama anak kita? Tanya Nita dan mendapat anggukan dari Farhan.


"Iya, makanya Papa suruh Rey nikahin, Grace."


Terdengar decakan malas dari Nita, " Mama suka heran dengan pemikiran Papa. Apa sih yang buat Papa tidak setuju sama hubungan Rey dengan Mitha?. Sementara Papa tahu sendiri kalau Rey cinta banget sama itu anak."


"Ya, Papa tidak suka saja melihat dia tidak pernah berkunjung ke rumah kita. Papa juga tahu, pasti Rey sering mengajak dia untuk main ke rumah kita dulu. Tapi, Mama lihat buktinya, dia tidak pernah berkunjung kan?. Sepertinya dia juga punya kemandirian dan keras kepala yang tinggi, Papa takutnya kalau mereka berjodoh dan menikah, yang ada Rey akan banyak di atur olehnya." Farhan berucap panjang lebar.


"Bagus dong, Pa. Punya menantu seperti itu. Mitha juga orangnya pinter. Anaknya juga sopan santun terus ya masakannya itu enak banget. Malah Mama dulu berharap mereka jadi." Nita berbicara dengan antusiasnya membela mantan anaknya tersebut.


"Tidak, Papa lebih senang sama Grace. Dia lebih penurut dan mudah diatur. Tidak seperti Mitha, mantan pacarnya anak kamu itu" ucap Farhan.


"ihh Papa. Nggak boleh berpikiran buruk sama anak orang." Nita menepuk paha suaminya untuk mengingatkan


"hm" Farhan berdehem saja mengiyakan perkataan Anita.


"Tapi akhirnya, Rey menikah dengan Grace. Nggak menyangka saja mereka bisa berjodoh seperti itu. Mama hanya berharap mereka segera di kasih keturunan."


"Iya, Ma. Semoga kita segera diberi cucu. Papa juga sudah tidak sabar gendong cucu" Farhan menatap ke depan sambil membayangkan dirinya nanti bermain dan menggendong cucu di masa depan nantinya.


*****


Sementara di apartemen Rey, sejak kepulangan mereka dari rumah mertuanya Grace masih banyak diam dan lebih senang melamun.


"Kamu mikir apaan, sih?" Rey menghampiri istrinya itu yang tengah berbaring di sofa dengan televisi yang menyala namun tatapan Grace seolah kosong dan hampa.


Grace menggelengkan kepalanya sejenak, "Nggak ada" ucapnya. Wanita itu kemudian merasakan kalau kepalanya diangkat oleh Rey untuk di pindahkan ke paha miliknya. Jadilah Grace berbantalkan paha Rey sambil melihat acara televisi.


"Bohong" Rey mengelus rambut sang istri.


"Kak?"


Rey menoleh kebawah dan mendapati sang istri tengah menatapnya.


"Kenapa?" ucapnya lagi.


"Kita cek ke dokter kandungan ya." Grace mengutarakan niatnya yang dia pikirkan sejak tadi.


"Kamu kepikiran tentang ucapan Mama tadi?" tanyanya sementara Grace menganggukkan kepalanya membenarkan.


"Tapi, Kak" Grace menyela dan duduk bersisian di samping Rey.


"Udah, kita nikmati aja. Mungkin memang belum saatnya." Membawa sang istri masuk kedalam pelukan.


"Kamu nggak usah terlalu stress mikirin cucu buat mereka. Nanti yang ada malah nggak jadi-jadi lagi" ucap Rey dengan tertawa.


Grace mencubit pinggang sang suami, "Kamu nih ya" katanya namun tak ayal tersenyum juga.


"Loh, benar tahu. Kalau kamu stress usaha aku sia sia dong jahilin kamu tiap malam." Rey tersenyum menjengkelkan ke arah Grace.


Seketika itu juga Grace mengusapkan tangannya dengan kasar ke wajah sang suami supaya bisa menghapus senyum mesum tersebut.


"Mesum kamu" katanya. Tangan memukul dada bidang Rey.


Rey tertawa kemudian mengusap dada yang habis kena pukul.


"Mesum sama istri sendiri, nggak apa-apa kali" ucapnya membela.


"Iya... iya.. terserah kamu deh Kak. Suka-suka kamu."


"Iya dong, harus suka-suka suami. Kamu tinggal menurut aja" Rey kembali menari wanita itu untuk dia peluk.


Grace tampak menganggukkan kepalanya, menikmati tiap-tiap saat romantis mereka berdua seperti sekarang ini.


"Minggu depan kita ke pantai ya, Kak" ucapnya dengan menolehkan kepala ke arah Rey.


"Boleh, kamu mau kemana?. hmm.. Ancol?" tanya sang suami.


"ck, yang agak jauhan dikit kenapa sih, Kak." Grace menggerutu kesal, yang benar saja jalan-jalan seputaran kota saja sudah membuat dia bosan. Bisa dikatakan ke pantai tersebut mungkin sudah puluhan kali bersama Wenny dan Siska dulu.


"Jadi mau kemana?" tanya Rey lagi.


Grace tampak berpikir sejenak sebelum mengutarakan keinginannya.


"Nggak usah jauh-jauh, kerjaan aku masih banyak" Rey tiba-tiba menyela karena melihat sang istri seperti berpikir akan pergi ke pantai yang jauh.


Terdengar decakan malas dari Grace.


"Pangandaran beach?" tanyanya memastikan kepada Rey setelah berpikir. Menurutnya pantai tersebut bagus juga, selain pasir putihnya pemandangan disana tak kalah bagus dengan pantai lainnya yang menyejukkan mata.


"hm.... oke deh" Rey akhirnya setuju. "Sekalian kita menginap malam hari di hotel dekat sana" katanya lagi.


Tampak Grace mengerutkan dahinya, padahal mereka bisa langsung kembali ke Jakarta untuk apa pakai acara menginap. Bukannya tadi Rey bilang dia banyak kerjaan?.


"Ngapain? Sepertinya kita bisa langsung pulang, Kak. Katanya kamu banyak kerjaan" Grace memiringkan kepalanya.


"Ya, nggak apa-apa kita menginap semalam disana" Rey berusaha memberi alibi yang pas.


Sejenak Grace menganggukkan kepala,


"Kamu kecapekan ya kalau kita langsung pulang?" tanyanya.


Rey tertawa dengan menjengkelkannya, " Nggak aku masih kuat" jawabnya.


"Terus?" tanya Grace lagi.


"Kamu nggak dengar tadi, Mama mau cepat punya cucu?"


Aneh... Grace merasa ucapan sang suami sudah aneh dan kemana-mana.


"Iya aku tahu, terus hubungannya apa?" tanyanya bingung.


Rey mencubit pipi istrinya itu, "Ya ada hubungannya lah. Kalau kita kesana kita bisa fokus" jawabnya dengan nada dan bibir yang tersenyum mesum.


"Fokus apa?"


Rey kemudian mendekat dan berbisik ke arah telinga istrinya untuk menggoda, "Fokus buat anak" ucapnya sudah menggigit telinga Grace dan mendapat pukulan di paha dari istrinya.


Selanjutnya