Grace

Grace
Berdua



Sabtu paginya tiba, Grace yang merencanakan ke pantai berdua bersama Rey, namun mereka baru menyadari di saat pagi hari tepat di jam 6 pagi wanita itu bangun.


Mereka berdua sama-sama dilanda kesibukan satu minggu ini, membuat lupa akan rencana yang telah mereka sepakati di minggu sebelumnya.


"Kak, bangun." Grace mengguncang lengan Rey yang masih tertidur di sebelahnya.


"hm... masih pagi." sambung lelaki itu dengan suara serak khas bangun tidur, kemudian membalikkan punggungnya berlawanan membelakangi Grace.


Grace berpindah posisi, wanita itu masuk ke dalam pelukan sang suami


Menusuk-nusuk dada Rey supaya bangun.


"Kenapa sih?" tanya Rey yang telah membuka matanya memandang Grace yang terlihat memanyunkan bibirnya.


Grace berdecak dengan sebalnya, pria itu juga lupa dengan janji mereka minggu kemarin yang akan ke pantai bersama.


"Katanya mau ke pantai hari ini." ucapnya dengan memeluk pria itu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.


Rey menepuk jidatnya, "Oh iya, lupa." jawab Rey dengan santai dan polosnya malah semakin mempererat pelukan mereka di pagi hari. Malas untuk beranjak dari tempat tidur.


Mendengar perkataan suaminya yang menjengkelkan itu membuat Grace seketika menggigit leher Rey dengan gemas, supaya lelaki itu jera karena menjawab dengan entengnya.


"Aduh sakit.. Grace." Rey melepasakan pelukan mereka namun tidak membiarkan wanita itu menjauh.


"Biarin, biar tahu rasa kamu." jawab Grace dengan jengkel, kemudian segera bangkit dari posisi tidurnya dan segera duduk.


"Kamu kok senang banget sih gigit Suami." Rey juga beranjak dan ikut duduk di sebelah sang istri memeluk pinggang wanita itu kemudian dengan membalas mengigit leher Grace hingga memerah.


Grace berteriak dengan kencang, suaranya memenuhi ruangan kamar mereka berdua.


"Kak!" teriaknya dengan mengelus leher yang barusan digigit oleh Rey yang sudah tertawa terbahak-bahak di sebelahnya.


"Sakit tahu, aku tadi nggak sekuat itu gigitnya." Grace memukul lengan Rey dengan kencangnya sehingga lelaki itu mengaduh kesakitan namun masih tertawa juga melihat keganasan sang istri di pagi hari.


"Siapa suruh kamu gigit aku." ungkapnya dengan nada yang menjengkelkan. "Kamu juga sering cakar punggung aku di malam hari, tapi aku nggak pernah balas tuh." Rey berbicara dengan menaik turunkan alisnya, wajah mesumnya sudah kelihatan untuk kembali menjahili Grace.


Grace semakin malu, wanita itu menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ingin rasanya dia bersembunyi di balik goa atau di manapun juga. Dia malu sungguh-sungguh malu mendengar perkataan tersebut.


Rey semakin tertawa dengan kencangnya, "Kamu malu ya." ucapnya dengan menurunkan tangan sang istri secara paksa, namun wajahnya ditutup kembali oleh Grace.


"Buka dong, aku mau lihat muka kamu." Rey berkata dengan senyum yang masih sumringah.


"Nggak." ucap Grace dibalik telapak tangan miliknya.


Rey pun mengalah, tidak ingin lagi menjahili Grace yang masih malu-malu dalam pernikahan mereka. "Iya.. udah kamu nggak usah malu sama suami sendiri juga." jawabnya masih berusaha melepaskan tangan yang menutupi wajah cantik wanita itu. Kali ini Grace tidak menolak, dia membiarkan saja wajahnya di pandangi oleh Rey dengan seriusnya dan membuat suasana di antara mereka berdua menjadi hening. Grace memahami binar mata sang suami yang mulai berubah dan menunjukkan sorot keinginan hasrat terpendam.


"Ayo, ke pantai, Kak." ajaknya lagi memecah keheningan di antara mereka.


"Ayo." jawab Rey namun tidak kunjung beranjak juga dari tempat tidur.


"Ya sudah aku mandi duluan." Grace berusaha beranjak dari tempat tidur, namun sayang tiba-tiba pergelangan tangannya di tarik oleh Rey sehingga mengakibatkan wanita itu kembali berbaring di atas tempat tidur beserta Rey yang kini berada diatasnya.


Rey tersenyum merapikan rambut istrinya yang berantakan, "Kita olahraga sebentar, baru ke pantai." ucapnya mulai melucuti pakaian sang istri yang hanya bisa pasrah dibawah tubuhnya.


****


Beralih pada Wenny, di ujung sana wanita itu sudah berpakaian rapi dan berdandan biasa saja untuk menemui atasannya yang tiba-tiba ingin mengajak pergi di Sabtu pagi yang ceria ini.


Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07.30, Wenny memutuskan untuk sarapan sebentar sebelum si Boss yang akan menjemputnya.


"Tumben, anak Mama jam segini sudah bangun. Biasanya masih malas-malasan." Retno sang Mama menyindir Wenny secara halus ketika dia sudah duduk di kursi meja makan.


"Iya Ma. Sebentar lagi Pak Rezi jemput." balasnya sambil mengoles roti tawar yang tersedia di atas meja.


Retno tersenyum maklum, "Wah sepertinya sebentar lagi Mama punya menantu nih." ucapnya menyodorkan segelas susu ke hadapan Wenny.


"Nggak usah mikir yang aneh-aneh Ma. Cuma mau pergi buat jalan doang kok. Nggak ada yang lain."


"Nggak apa-apa Wen, Mama berharap aja udah seneng kok." Retno masih tersenyum menatap putri cantiknya itu.


Wenny hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah laku Sang Mama, tak lama setelah itu bunyi klakson mobil terdengar dari luar. Wenny dengan cepat mengetahui kalau suara mobil tersebut adalah milik atasannya.


Berniat untuk segera menghampiri Rezi, seketika itu juga Wenny mendadak berhenti karena Rezi sudah memasuki rumahnya lengkap dengan senyum yang pria itu arahkan pada Sang Mama.


"Pagi Tante." sapanya dengan mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Pagi.. bagaimana kabar Mama kamu Nak?"


"Baik Tante, beliau sehat. Tadi kata Mama, lain kali dia mau ngajak Tante masak bersama." ucap Rezi yang mengingat pesan Sang Mama sebelum berangkat menjemput Wenny.


" Benarkah?" tanya Retno dengan antusiasnya.


"Iya Tante."


"Wah seru juga kalau keluarga kita bisa berkumpul makan bareng keluarga kamu ya. serasa benar-benar keluarga." Retno tertawa penuh arti supaya Rezi menyadari maksudnya.


"Haha... Mama bisa aja. Haha" katanya.


"Ma kami pamit dulu." ucap Wenny lagi yang berjalan mendahului mereka untuk ke depan agar pembicaraan mereka segera dihentikan.


"Tante saya permisi dulu." Rezi berpamitan kepada calon mertuanya dengan sopan santun.


"Iya.. jagain anak Tante ya." ucapnya masih dengan senyum penuh maksud.


"Baik Tante."


*****


Di dalam mobil tidak ada yang ingin mengobrol hanya suara radio mobil yang terdengar memenuhi pendengaran mereka.


"Kamu mau kemana?" tanya Rezi tiba-tiba setelah mereka lama tidak ada yang bersuara.


Sejenak Wenny menolehkan kepala ke arah Rezi, "Memangnya kemarin bapak berniat mau mengajak saya kemana?" Wenny bertanya balik, dia justru heran yang mengajak siapa yang bertanya siapa. Aneh.


"Kamu mau ke Dufan?" tanyanya lagi memastikan apakah wanita itu mau diajak kesana.


Membayangkan Dufan, Wenny langsung mempunyai ide bagaimana menjahili atasannya itu. "Awas aja Lo. kuat nggak Lo ngadepin Gue." Wenny berbicara sendiri dalam hatinya dengan bibir yang tersungging.


"Boleh Pak." jawabnya


"Oke"


"Oh iya bukannya tempat itu buka beberapa jam lagi ya Pak?"


"Kita berkendara lambat saja. Paling sampai disana sudah dibuka." jawab Rezi dengan santainya.


" Siap-siap aja Lo." Batin Wenny


Ternyata benar dugaan Rezi, sesampainya mereka disana tempat tersebut sudah dibuka untuk pengambilan tiket. Terlihat dari beberapa pengunjung yang sudah mengantri tiket untuk masuk wahana.


Memasuki tempat tersebut di hari libur seperti ini, banyak pengunjung yang mengunjungi tempat itu. Membuat Rezi menggenggam tangan Wenny dan menautkan jemari mereka berdua.


"Saya bisa jalan sendiri Pak." Wenny melepaskan tautan tangan yang terjalin tersebut.


"Kamu nggak lihat banyak orang disini. Nanti kamu hilang. Saya tidak suka dibantah." ucap Rezi kembali menggenggam tangan Wenny.


"Kamu mau naik apa dulu." tanya Rezi lagi setelah mereka melihat beberapa wahana yang sudah dibuka.


"Tornado." jawab Wenny sengaja.


"Syukurin Lo. Awas aja Lo teriak-teriak minta turun, secara kan Lo anak Mami banget." Wenny kembali ingin menjahili atasannya yang terkenal cupu itu dulu.


Tidak disangka Rezi menuruti keinginannya, mengantri untuk menaiki wahana yang diikuti Wenny yang berada di belakang pria itu.


"Bapak yakin sanggup naik ini. Jangan pingsan loh ya Pak." ucapnya dari belakang dan mendapat anggukan kepala dari Rezi.


Tibalah mereka menaiki wahana yang terkenal ekstrim tersebut, Wenny berteriak-teriak kencang dari atas ketika wahana tersebut mempermainkan tubuh mereka kesana dan kemari. Sementara Rezi yang disangka oleh wanita itu akan ketakutan dari dirinya hanya diam saja dan menikmati wahana itu dengan santainya. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


Seusai menaiki tornado, Wenny tidak habis akal untuk kembali menjahili Rezi. Dia menaiki permainan yang benar-benar menguji adrenalin mereka mulai dari Histeria, Kicir-Kicir, halilintar dll.


Namun hal yang sama dia dapati, pria itu masih sehat dan bugar, wajahnya pun terlihat biasa saja berbanding terbalik dengan Wenny yang masih mengatur napasnya akibat permainan mereka yang naiki barusan.


Akhirnya Wenny menyerah untuk menjahili pria itu, " Setelah ini mau naik apa lagi?" tanya Rezi yang menoleh ke arah Wenny ketika mereka sudah melihat daerah sekeliling.


"Lihat istana boneka saja Pak." ucapnya dengan lesu. Gagal sudah niatnya menjahili pria itu.


Rezi pun menuruti untuk melihat istana boneka walaupun dia sama sekali tidak tertarik untuk melihat hal tersebut, tetapi dia tetap menuruti permintaan gadis yang dia cintai ini.


Saat mereka sudah berada di perahu untuk melihat boneka yang dipertunjukkan di area tersebut. Rezi memegang dagu Wenny yang fokus menatap boneka menjadi fokus kearahnya, "Wen, kalau kita hanya berdua. Kamu tidak usah panggil Saya secara formal, saya tidak suka mendengarnya." ungkap pria itu yang sedari tadi risih dengan panggilan Wenny terhadapnya.


"Terus mau dipanggil apa?" tanya Wenny, tangannya langsung menepis tangan Rezi yang masih memegang dagunya.


"Panggil seperti kamu memanggil aku dulu." ucap pria itu lagi dengan tersenyum dengan manisnya ke arah Wenny.


Selanjutnya


*****


*****


*****


Selamat Hari Raya Idul Adha ya bagi yang merayakan dan selamat berlibur juga bagi readers semuanya.


Maafkeun kalau Author terkadang mulutnya suka nyablak ya, hehehehe. Dimaklumi saja manusia memang penuh dengan kesalahan dan dosa wkwkkwk.


Salam sayang dari Author.