Grace

Grace
Alan



"Gimana, sama proposal gue apa ada yang kurang menurut, Lo?"


Tanya Rey kepada seorang lelaki yang berada di hadapan nya ini. Saat ini Rey mengajukan proposal perusahaan Ayah nya untuk tahap pengembangan dan kemajuan perusahaan milik Ayah nya tersebut.


Dan mereka memilih bertemu di salah satu Restaurant di kota tersebut untuk membahas proyek ke depan nya.


"Oke sih, menurut gue. Ya udah, gue gabung sama proyek,Lo. Masalah keuntungan nya bagaimana,, bisa kita bicarakan ke depan nya"


Ucap Lelaki itu yang tak lain adalah Teman satu kuliah Rey dulu.


Saat ini teman nya tersebut membuka beberapa cabang perusahaan nya di salah satu kota itu. Dan Rey berinisiatif untuk mengajak lelaki itu untuk bergabung dengan proyek milik nya nanti.


"Oh, Iya Rey. Sorry nggak bisa datang hadir di acara pertunangan Lo waktu itu. Hari itu gue pas banget lagi di luar kota. Jadi ya Lo tau sendiri lah gimana keadaan nya"


"Santai bro, gue maklum dengan keadaan Lo"


Ucap Rey kemudian sambil menyesap kopi yang lelaki itu pesan.


"Nggak nyangka gue Lo bisa tunangan sama Grace"


Ucap lelaki itu dengan senyum yang terlihat menampilkan guratan kesedihan sekilas.


"Ya begitulah"


Ucap Rey yang seolah olah menghindar untuk membicarakan masalah pribadi nya tersebut.


Tetapi lelaki di hadapan nya ini sepertinya belum puas mendengar cerita bagaimana sahabat nya ini akhirnya bisa bertunangan dengan wanita itu.


"Secara gue tau banget dulu Lo pacaran sama Mitha bagaimana waktu kuliah dulu, gue sedikit syok bro, denger kabar Lo yang berpindah haluan "


Ucap lelaki itu lagi memancing berita yang ingin dia dengar dari lelaki di hadapan nya ini.


"Jodoh siapa yang tau , Lan"


Ucap Rey lagi dengan raut wajah yang terlihat santai sambil mulai menghabiskan kopi milik nya.


Terlihat lelaki di hadapannya ini hanya menganggukkan kepala nya saja. Sepertinya lelaki ini mengerti Rey seolah olah menghindar untuk membahas pertunangan nya itu dengan wanita tersebut.


*****


"Kak, Alan?"


Ucap Grace yang melihat kakak satu jurusan nya itu dulu sewaktu kuliah sedang berdiri di Lobby kantor nya.


"Eh, Grace"


Ucap lelaki yang bernama Alan itu membalas ucapan wanita tersebut dengan menampilkan senyum nya yang lebar.


"Kok bisa ketemu disini sih?"


Ucap Grace sambil memiringkan kepala nya tanda heran kenapa bisa bertemu lelaki ini di kantor miliknya.


"Tadi ada janji ketemu Rey di Restaurant depan, bicarain proyek nya kita. Terus ini mau ada acara lagi entar malam bareng Rey jadi sekalian nunggu Rey di sini. Dia lagi ngambil tas nya di atas."


Ucap Alan menjelaskan kepada wanita itu.


"Palingan entar lagi dia turun"


Ucap lelaki itu lagi.


Dan seperti yang di sebutkan lelaki itu tadi, tampak lah Rey yang sudah turun menuju Lobby kantor tersebut untuk pulang bersama sahabat nya itu.


"Nah, itu dia"


Ucap Alan ketika Rey melangkahkan kaki menuju mereka berdua.


"Oh, iya"


Ucap Grace yang melihat Rey mendekat ke arah mereka.


"Seperti biasanya, kamu makin cantik aja Grace"


Puji lelaki itu terhadap wanita di hadapan nya ini


Ucap Grace lagi sambil tertawa membalas ucapan lelaki itu.


"Ah bisa aja kamu, buat aku, cuma kamu kok yang paling cantik Grace, percaya deh."


Ucap lelaki itu sambil terus tersenyum ke arah wanita itu.


Dan sang wanita hanya tertawa mendengar gombalan yang sudah biasa wanita itu dengar sejak dari mereka kuliah dulu. Alan selalu mendekati wanita itu dulu sewaktu mereka masih kuliah, tapi sayang nya wanita itu seolah olah menutup pintu hati nya rapat rapat untuk di dekati oleh pria lain. Tidak memberi kesempatan terhadap pria manapun untuk mengambil hati nya.


Tanpa mereka berdua sadari , tampak seorang pria yang berdiri di dekat mereka sedari tadi sambil memandang interaksi kedua orang tersebut.


Terlihat di mata pria tersebut, sahabat nya yang merayu si wanita , dan si wanita yang tersenyum dan tertawa secara bebas tanpa ada nya paksaan mendengar ucapan dari lawan bicara nya itu.


Pria itu kemudian berfikir, selama ini ketika sedang bersama nya si wanita itu tidak pernah tertawa selebar itu. Yang di tampilkan wanita itu adalah sifat malu - malu nya selalu, dan bicara nya pun hanya sedikit saja, dan lebih banyak menundukkan kepala ketika selalu bersama nya.


Tetapi kenapa ketika bersama sahabat nya itu , wanita ini tidak malu - malu untuk tertawa kencang dan berbicara sangat banyak untuk membalas ucapan yang menjadi lawan bicara nya.


Lelaki itu kemudian mengingat kalau senyum dan tawa itu sudah lama tidak dia lihat pada wanita itu sejak mereka kuliah dulu. Dan ini kali pertama dia melihat wanita itu tersenyum dan tertawa secara bersamaan tanpa ada nya rasa malu - malu.


Ada sedikit rasa tidak suka yang timbul di dalam hati pria tersebut melihat interaksi ke dua orang yang berada di depan nya ini. Kenapa wanita ini memperlakukan dia dan lelaki itu berbeda ?


Fikir nya dalam hati.


'Toh, dia juga lebih pantas menerima tawa dan senyum itu daripada orang lain yang bisa membuat nya tertawa dan tersenyum sepuas itu.'


Ucap pria itu dalam hati nya


"Hmm"


Ucap Rey sambil berdehem, untuk menghentikan pembicaraan kedua orang di hadapan nya ini


"Ehh, Lo udah di sini"


Ucap Alan yang melihat sahabat nya itu sudah berdiri di depan mereka berdua


Dan Rey hanya menganggukkan kepala nya.


"Adek Grace, kita berangkat keluar dulu ya"


Ucap Alan sambil menaik turunkan alis nya terhadap wanita itu.


Rey yang memandang hal itu pun merasa tidak suka kalau tunangan nya di goda secara langsung di hadapan nya.


"Haha.. iya kak"


Ucap Grace yang masih tertawa


"Entar kalau Rey lagi sibuk dan nggak ada waktu buat anterin kamu kemana pun itu, kamu hubungi aku aja. Aku siap mengantarkan tuan Puteri Grace kemana pun"


Ucap pria itu lagi sambil merayu dan menggombal khas dirinya.


"Oke, deh. Siap"


Ucap Grace yang sambil bercanda kemudian mengacungkkan jempol nya ke atas masih tertawa membalas gombalan pria itu.


"Yess"


Ucap Alan lagi sambil menaikkan turunkan tangan nya tanda senang mendengar respon dari gombalan nya itu.


Rey yang sudah mulai jengkel mendengar interaksi dari kedua orang tersebut segera menyudahi pembicaraan mereka sebelum kemudian berkata.


"Nggak boleh, kalau kamu mau pergi, kamu bilang ke aku biar aku antar"


Ucap Rey sambil mendahului mereka berdua dan pria itu sadar kalau sahabat nya itu pun belum mengikuti langkah nya untuk keluar dari lobby kantor tersebut.


"Ayo, Lan. Ngapain Lo masih di situ, Lo mau nginep disini ?"


Ucap lelaki itu yang terdengar sedikit ketus tidak seperti biasanya.


*******


Selanjutnya