
Rey yang merasa lelah akibat perjalanan dari Bandung, tampak masih tertidur pulas. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Merasa sungkan pada Sang Ayah, Grace pun keluar dari kamarnya untuk menyiapkan kebutuhan Gilang di pagi hari.
Ya, seperti hari biasa pada umumnya. Gilang dan Glenn di pagi hari akan bekerja. Meskipun lebih kebanyakan Glenn yang menghandle perusahaan tersebut. Gilang masih sesekali datang ke kantor mereka untuk mengawasi jalannya operasional kantor.
"Pagi Ayah," Sapa Grace saat memasuki kamar Sang Ayah. Yang kali ini tengah memasang simpul dasi.
"Pagi." Balas Gilang dengan senyumnya pada Putri sulungnya itu.
"Sini Grace bantuin pasang dasi," Grace mengambil alih pekerjaan Ayahnya barusan dan memulai memasangkan dasi pada leher Gilang.
"Suami Kamu sudah pulang Grace?" tanya Gilang, karena mendapat kabar dari bi Imah barusan yang memberitahu kalau menantunya sudah pulang tengah malam.
Grace menganggukkan kepalanya dengan semangat, "Sudah Ayah. Masih tidur sepertinya dia kecapekan juga " Jawab Grace masih berkutat pada simpul dasi Ayahnya.
Gilang hanya manggut-manggut saja.
"Ayah jangan terlalu lelah, kalau nanti di kantor sudah capek, Ayah langsung pulang ya." Grace menasihati Ayahnya itu yang masih terlihat gila kerja.
"Hm.." jawab Gilang seadanya.
"Kalian nggak ada rencana beli rumah Grace?" tanya Gilang berhati-hati. Secara selama ini pernikahan mereka sudah satu tahun tetapi Rey sepertinya belum mempersiapkan hal tersebut.
Terbukti mereka saja masih tinggal di apartemen padahal sebentar lagi punya anak.
"Grace belum tahu Ayah, Kak Rey belum pernah bahas masalah ini soalnya." Ucap Grace.
"Kalian juga harus punya rumah Nak. Sebentar lagi kan cucu Ayah mau dateng." Kata Gilang dengan sumringah.
"Kalau Rey belum punya tabungan banyak, Ayah bisa bantu kok. Asal keamanan kalian terjaga." Gilang lagi-lagi memberi saran.
Grace menepuk nepuk bahu Ayahnya, seolah hal tersebut tidak usah dipikirkan terlalu jauh.
"Ayah tenang aja, duitnya Kak Rey itu banyak Yah. Grace rasa cukup kok beli rumah. Sepertinya memang dia lupa kalau berpikir ke arah sana." Grace menuntun Ayahnya itu untuk keluar kamar sambil membawa tas kantor Gilang.
"Iya Ayah tahu, tapi apa tidak apa-apa kalian terus-terusan tinggal di apartemen Nak?"
"Grace nyaman kok Yah. Asal dimana ada Suami Grace, disitu juga Grace bahagia kok." ucap Grace menenangkan Sang Ayah.
"Ya udah kalau ada apa-apa Kamu kasih tahu Ayah." Kini mereka telah sampai di meja makan dan sudah disambut oleh Glenn yang memulai acara sarapannya duluan.
"Iya Ayah. Udah nggak usah terlalu pikirin Grace." Jawab Grace mempersilahkan Ayahnya duduk duluan.
"Mas Rey belum balik juga Mba?" tanya Glenn karena sudah beberapa hari ini Mbaknya itu menginap di rumah mereka.
"Sudah tadi jam 2, dia masih tidur. Kecapekan sepertinya." Jelas Grace kemudian dan menyuruh bi Imah untuk membuatkannya susu hamil.
"Ohh." Glenn membulatkan mulutnya.
"Yah, tau nggak sih kalau Mas Rey itu sekarang direktur?" Glenn yang bertanya pada Ayahnya. Lelaki itu juga mendapatkan informasi tersebut akhir-akhir ini.
"Benarkah?" kata Gilang, ternyata lelaki paruh baya itu belum mendengar kabar mengenai menantunya.
Glenn menganggukkan kepalanya kuat-kuat. Sementara Istri dari orang yang dibicarakan mereka hanya mendengar percakapan Ayah dan Anak tersebut.
"Sepertinya Ayah tidak salah menjodohkan Kamu dengan Rey ya Grace." Gilang terkekeh kalau mengingat tingkah lakunya itu dulu.
Ayah nggak tahu aja tingkah Suami Aku itu akhir-akhir ini. Batin Grace
"Iya Mbak. Bener kata Ayah hidup Lo enak banget ya sekarang. Udah dapet suami ganteng terus direktur muda lagi." Timpal Glenn berbicara seperti Sang Ayah.
Grace tidak menjawab. Wanita itu hanya mendengus saja.
Kalau di dengar Kak Rey bisa besar kepala dia dipuji seperti itu. Untung aja dia lagi tidur. Batinnya lagi.
"Sudah. Ayah buruan sarapan, nanti telat lagi ke kantornya." Grace menghentikan obrolan mengenai Suaminya itu.
****
****
"Kak bangun."
Ini sudah jam 8 lewat, tetapi si malas Rey belum kunjung juga beranjak bangun.
Memang ya Suaminya ini sangat susah sekali di bangunin.
Rey tampak menggeliat kecil.
"Hmm." Ucapnya malas, namun tak membuka mata.
Grace berdecak. Inilah kebiasaannya setelah menjadi seorang Istri Rey Aditama. Membangunkan Sang Suami yang susah sekali.
Cara Grace pun berhasil. Tampak Rey menggeliat kegelian. Lelaki itu terkekeh saja kemudian menarik Sang Istri untuk bergabung bersamanya.
Sontak Grace menjerit saat ditarik seperti itu oleh Rey.
Dengan gerakan cepat, Rey menutup mulut Istrinya itu supaya jeritan Grace tidak terdengar.
"Jangan teriak-teriak. Nanti Ayah mikir yang lain-lain lagi." Kata Rey namun lelaki itu mengatakannya sambil tertawa.
Grace langsung memukul dada bidang prianya itu dan berdecak malas.
" Ayah dan Glenn udah berangkat kantor. Kamunya aja yang masih malas-malasan disini." Ucap Grace. Namun perkataan tidak sesuai dengan perbuatan.
Grace malah memeluk Rey dan masuk ke dalam pelukan Sang Suami dan menghirup aroma tubuh itu dalam-dalam.
"Katanya suruh Aku bangun? ini kenapa masih di peluk-peluk?" tanya lelaki itu namun tak ayal membalas pelukan Sang Istri juga.
"Kamu nggak suka, Aku peluk. Begitu?"
Oke. Daripada membuat mood Grace memburuk lebih baik Rey mengalah saja.
"Sensitif banget sih Ibu hamil," Rey mencubit dengan gemas hidung Grace dan ditepis oleh Grace saat itu juga.
"Aku usah cubit-cubit deh makin pesek nanti hidung Aku." Grace menggerutu dengan mengerucutkan bibirnya.
Melihat Reaksi Sang Istri, Rey tidak membiarkan bibir itu lolos begitu saja.
Lelaki itu langsung menyambar bibir Sang Istri dan mencecapnya habis-habisan.
Saat dirasa pasokan udara di dada mulai menipis, Grace memukul dada Rey supaya menghentikan aksi lelaki itu.
"Kamu mau buat Aku mati... " ucapnya dengan napas yang masih tersengal akibat ulah Rey barusan.
"Jangan dong, Aku nggak mau jadi duda keren." Sambung Rey dengan menjengkelkan. Tangan masih setia memeluk pinggang si wanita.
"Helleh alasan Kamu aja itu," kata Grace.
"Ya udah kalau nggak percaya." Rey membalas memeluk Grace dengan menumpukan kepalanya di dada Sang Istri.
Hening yang terjadi diantara keduanya sesaat sebelum Sang Suami merusak suasana.
"Grace?" tanya Rey
Grace pun menurunkan pandangannya ke arah Rey.
"Hmm?" jawabnya.
"Jantung Kamu memang selalu berdetak cepat begini ya," kata Rey dengan menjengkelkan.
Istrinya ini dari awal menikah hingga sekarang masih saja degup jantungnya bertalu-talu. Padahal mereka menikah sudah satu tahun.
Membuat Rey gemas seketika.
Grace memukul lengan Rey. Merasa ketahuan dan tidak bisa menyembunyikan degup jantung yang masih sama ketika wanita itu jatuh cinta pada Suaminya.
"Pakai ditanya lagi. Kamu ngeselin tau nggak." Grace melepaskan pelukan mereka.
Merasa malu karena ketahuan.
Rey tertawa dengan menjengkelkannya, kemudian menaik-turunkan alisnya seperti lelaki penggoda.
"Apaan?" tanya Grace masih dengan malu akibat ketahuan.
"Mandi bareng?" alis masih naik turun
Grace menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Kamu aja sana mandi sendiri." Grace berniat turun dari ranjang. Namun sejurus kemudian wanita itu sudah berada di gendongan Rey.
Terdengar jeritan kecil lolos dari bibir Grace karena diangkat seperti itu.
"Kamu apa-apaan sih Kak?" tanyanya.
Rey tidak menjawab, malah lelaki itu berjalan menuju kamar mandi Grace.
"Mandi," jawabnya dengan menjengkelkan sambil membawa Sang Istri untuk mandi bersama-sama.
****
****