
Melihat Sang Suami yang berjalan terus dengan mengacuhkan dirinya, seketika itu juga Grace mengikuti rombongan Rey. Wanita itu mengambil beberapa meter jauh di belakang rombongan.
Ternyata mereka semua berjalan menuju parkiran mobil masing-masing.
"Mereka mau kemana?" Grace bertanya lirih pada diri sendiri, ketika melihat rombongan tersebut sudah berpencar menuju mobil masing-masing dan memasukinya.
Grace kemudian melihat Rey, yang ternyata hendak pergi juga, tidak tahu kemana. Dan yang membuat dirinya semakin jengkel, Si Wanita centil itu satu mobil dengan Sang Suami.
Mereka hanya berdua, tidak ada Alan maupun rekan yang lain mendampingi mereka di dalam mobil.
Saat mobil Rey lewat untuk menuju jalan keluar, Grace dengan sengaja melambaikan tangannya ke arah mobil Sang Suami. Namun apa mau dikata, Rey melewatinya begitu saja.
"Kak." Teriak Grace saat mobil Rey melintas di depannya. Namun sayang, Rey terus berpacu meninggalkan area parkiran tanpa melihat keadaan Grace yang sedang menunggu.
"Mas, itu bukannya Istri Kamu?" tanya Sasa, di saat mereka melewati Grace yang masih melambaikan tangan.
Rey tidak menjawab pertanyaan tersebut, dia terlalu sibuk dan fokus untuk menyetir. Pandangannya menerawang ke depan, tidak tahu apa isi pikirannya.
Sementara itu, Grace sudah menguraikan air matanya sedari tadi karena merasa diacuhkan oleh Suaminya.
"Sebegitunya, Kamu Kak." ucapnya terisak dengan menundukkan pandangan ke bawah, takut ada yang melihat dia tengah menangis di area tersebut.
Grace menggenggam erat, rantangan yang dia bawa.
Hancur sudah ekspektasinya dari pagi tadi. Niat ingin makan siang bersama walaupun Sang Suami masih jutek, tak apa Grace masih bisa menerima. Tetapi kalau seperti ini dia justru bingung harus bagaimana menghadapinya.
Tekanan dari Sang Mertua, ditambah sikap Rey yang sudah mulai berubah terhadapnya.
Grace justru mengingat, perjanjian mereka dikala sebelum menikah.
"Kita jalani pernikahan ini, aku akan membuka hati ku untuk menerima mu dan pernikahan ini. Tetapi jika selama pernikahan ini memang tidak ada rasa mencintai di antara kita berdua. Aku akan melepas mu untuk kehidupan mu yang lebih baik ke depan nya dan aku harap kau juga bisa melepas ku, Grace"
Lintasan memori ucapan dari Rey, yang mengatakan akan melepaskannya dan begitu juga sebaliknya, terngiang-ngiang di pikiran wanita itu.
Apakah ini memang akhir dari cerita cinta mereka?
Apakah tidak ada lagi kesempatan untuk memperjuangkan?
Apakah harus sampai disini, tanpa meluruskan kesalahpahaman?
Ahhh. Grace baru mengingat. Selama satu tahun masa pernikahan mereka. Hanya dia saja yang berjuang.
Cuma dia saja yang pernah mengatakan cinta.
Grace tidak pernah menerima ungkapan cinta dari Suaminya itu.
Selama ini juga Grace tidak mengetahui apakah perasaan Rey terhadapnya memang tulus atau tidak selama mereka menjalani pernikahan.
Tetapi mengingat kecemburuan lelaki itu dan sifat posesif terhadap dirinya. Di kala Reno mendekati Grace, apakah itu bisa dikatakan sebagai tanda cinta?
Ya, pernikahan yang mereka jalani seperti berjalan di lapisan es yang sangat tipis. Tidak tahu kapan mereka akan tenggelam di dalamnya.
Memikirkan itu semua membuat Grace semakin pusing, sejenak dia menyentuh dan memijit kepalanya.
Rasa sakit di kepala yang tiba-tiba menghantam, membuatnya ingin pingsan di tempat. Merasa tidak ingin menjadi objek perhatian, Grace memijit kepala dan menghembuskan napasnya perlahan.
Setelah memijit kepala dan di rasa sudah mendingan, Grace segera berlalu menuju mobil milik wanita itu.
Menetralkan rasa pusing bercampur mual ketika mencium pewangi mobil, membuat Grace semakin kelimpungan.
Dia ingin muntah...
Merasa tidak tahan lagi....
Seketika itu juga Grace, mengambil bekas bungkusan plastik makanan yang ada di dalam dashboard mobilnya.
Dia muntah sejadi-jadinya di dalam mobil tersebut, air matanya senantiasa mengalir ketika wanita itu muntah. Mengeluarkan isi makanan yang berada di dalam perut.
Selesai muntah, Grace mengelap mulutnya. Dia merasa lemas sekali, tidak mempunyai tenaga sedikitpun. Bahkan untuk berpikir saja membuatnya merasa tidak sanggup.
Wanita itu menumpukan kepalanya di setir mobil. Tangannya gemetar memegang bekas muntahan yang belum dia buang di tempat sampah.
Grace mengistirahatkan dirinya sejenak, merasa tubuhnya mulai membaik. Kemudian wanita itu berjalan menuju toilet perusahaan tersebut untuk membersihkan diri.
****
Wanita itu pun memanaskan kembali masakannya yang belum sempat di makan oleh dirinya dan Sang Suami.
Grace tidak mau lagi berpikiran jauh, yang hanya ada di pikirannya saat ini adalah makan dan makan. Dia tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi sebelumnya.
Wanita itu sudah lelah dengan menangis.
Setelah memanaskan sup ayam, Grace memakan dengan lahap. Seperti orang yang tidak pernah makan sebelumnya.
Biasanya wanita itu makan dengan anggun dan kalem. Karena sudah menjadi kebiasaan Gilang di keluarga mereka, kalau makan harus menikmati dan pelan-pelan.
Tetapi sekarang, berbanding terbalik. Grace makan dengan gaya yang sangat rakus. Menghabiskan sup ayam hasil masakannya tadi pagi. Yang menurut wanita itu, entah mengapa sangat enak sekali.
Entahlah, mungkin karena efek dia muntah di kantor tadi. Dia menjadi sangat kelaparan dan menghabiskan makanan apa saja yang berada di depannya.
Mungkin saja karena efek sedari pagi hingga sekarang Grace belum mengisi perutnya, membuat nafsu makanannya meningkat drastis.
Bel apartemen mereka pun berbunyi, saat ini Grace tengah membersikan piring yang kotor bekas makan siangnya tadi.
Wanita itu pun segera membuka pintu apartemen mereka dan mendapati tamu yang tak lain adalah Sang Mertua.
Menampilkan Anita yang bersedekap dada, sambil membawa amplop cokelat. Yang Grace tidak ketahui isinya apa.
"Mama," sapa Grace lirih ketika melihat Anita sudah di depan pintu. Dengan gaya khas sombongnya dan tak lupa menampilkan wajah jutek.
Bukannya menjawab sapaan dari Grace, Anita malah melangkah masuk apartemen milik menantunya itu tanpa di persilahkan masuk terlebih dahulu.
"Ada apa, Ma?" tanya Grace saat mereka sudah di dalam apartemen, dan Anita sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Kak Rey, lagi bekerja Ma." ucap Grace memberitahukan kepada Mertuanya itu.
"Oh..." jawab Anita dengan ketus. Padahal dia juga tahu saat ini putranya memang masih bekerja dan tidak di dalam rumah.
"Grace buatkan minum dulu ya, Ma." kata Grace yang hendak melangkahkan kakinya.
"Tidak usah, Saya cuman sebentar disini." ucapnya dengan ketus sambil menyilangkan kaki.
Grace menganggukkan kepala mengiyakan, wanita itu pun duduk dengan canggungnya.
Kalau dulu sebelum menikah dengan Rey, Anita masih bersikap hangat padanya. Tetapi sekarang sangat berbeda. Membuat Grace bingung membicarakan topik apa pada mertuanya ini.
"Kamu, sudah resign?" tanya Anita.
"Iya, Ma." jawab Grace, tak lupa menampilkan senyuman palsu di wajahnya.
"Oh..."
"Saya kesini mau menyerahkan ini." Anita menyodorkan amplop cokelat yang sedari tadi dia pegang ke hadapan Grace, menantunya.
"Apa ini, Ma?" tanya Grace bingung.
"Buka saja, tidak usah banyak tanya." jawab Anita dengan singkat.
Grace pun membuka isian amplop tersebut, dia langsung membelalakkan mata dan terkejut ketika membaca judul dari surat tersebut.
Grace syok melihat surat gugatan perceraian dan panggilan sidang cerai yang bertuliskan nama Rey dan dirinya disana.
"Itu dari, Rey." kata Anita dengan angkuhnya.😔😔
*
*
*
*
*
Halo, Readers Sayang. Berhubung Author belum terlalu aktif di IG, untuk setiap pemberitahuan pengumuman update atau tidak updatenya, Author umumin di Grup Chat Author, ya. Silahkan bergabung disana dengan menuliskan alasan bergabung. Nanti adminnya akan verifikasi.
Terima kasih ♥️