Grace

Grace
My First Love



"Terserah ayah saja, Grace ngikut bagaimana baik nya aja"


Ucapku kemudian


"Baiklah, kalau begitu kita percepat acara nya akhir bulan ini"


Putus ayah ku kemudian.


Setelah ayah mengatakan hal tersebut, Rey langsung berpamitan untuk pulang


"Om, kalau begitu saya pamit untuk kembali ke kantor. Saya juga harus mempelajari dan menganalisa dokumen ini di kantor Om."


Ucap Rey lebih ke ayah ku.


"Ooh baiklah nak, hati -hati di jalan"


Balas ayah ku kemudian.


"Grace, antar calon suami mu , ke pintu depan"


Ucap ayah ku lagi lebih ke pada ku


"Baik , yahh"


Ucapku sambil melangkah ke pintu luar dan mendahului Rey berjalan.


Aku tidak memandang wajah nya selama dia melangkah berjalan ke pintu keluar.


Aku hanya menundukkan kepala ku atau memandang taman di depan luar rumah kami.


"Saya pamit dulu"


Ucapnya tiba tiba yang tidak aku sadari dia sudah berada tepat di samping ku


"Baiklah pak"


Ucap ku sekena nya


"Tidak ada yang ingin kau sampaikan ?"


Tanya nya kemudian


"Tidak ada , pak. Hati hati di jalan


saya masuk dulu "


Ucapku sambil melangkah masuk ke rumah.


Aku masuk ke dalam rumah kembali tanpa melihat ekspresi wajah nya.


Dan tanpa melihat nya ke luar dari pekarangan rumah kami.


Sejak pengakuan ku beberapa bulan yang lalu bahwa aku Menyukai nya, dia sepertinya menghindar dari ku.


Dan aku cukup untuk tahu diri bahwa dia sangat terbebani dengan perasaan ku.


Aku memutuskan untuk tidak terlalu agresif lagi atau bersifat manja lagi padanya.


Karena bagaimana pun juga semua yang terjadi dalam hubungan nya bersama Mitha yang kandas, aku turut andil di dalam nya.


Karena aku seperti menyetujui tawaran ayah untuk menikah dengan nya.


Dan aku berusaha untuk tidak menolak.


Bagaimana pun juga, jauh di dalam lubuk hati ku.


Aku merasa bersalah pada nya, dan aku tidak mengharapkan hal lebih tentang hubungan kami ini.


"Lohh, ayah katanya tadi udah makan, kok ini baru makan ?"


Tanya ku sambil ikut duduk di meja makan bersama ayah yang ternyata sudah ada di meja makan.


"Iya, tiba tiba Ayah lapar lagi Grace,"


Kata Ayah ku kemudian


"Yahh, kurangin makan yang buat ginjal ayah bekerja terlalu berlebihan ya yah"


Ucap ku lagi


"Iya, ayah tau Grace, kamu kan tau sendiri kalau ayah selama ini konsumsi makanan sehat yang hanya di anjurkan dokter"


Kata Ayah ku lagi


"Bagaimana pun juga ayah , ingin panjang umur dan melihat kamu punya anak dan ayah punya cucu-cucu yang lucu"


Timpal nya lagi.


"Ayah akan panjang umur tenang aja, sampai aku punya cucu juga ayah masih bisa gendong cucu aku, yahh"


Ucap ku lebih mengarah itu adalah doa untuk Ayah ku.


Ayah terkekeh mendengar perkataan ku


"Kamu bisa aja "


Kata Ayah


"Kapan jadwal ayah cuci darah lagi?"


Tanya ku mengingatkan ayah


Ayah ku punya riwayat penyakit ginjal yang mengharuskan dia untuk cuci darah sekali dalam dua Minggu.


Cuci darah ini sudah dia jalani semenjak aku masih duduk di bangku perkuliahan.


Mungkin sudah sekitar 7 tahun dia menjalani cuci darah.


Terkadang aku sangat kasihan sekali melihat wajah nya yang pucat , atau tenaga nya yang tidak sekuat dulu lagi.


Oleh karena itu apapun yang ayah katakan aku selalu menuruti perkataan nya.


Setidaknya meskipun aku belum bisa berbuat banyak atau membanggakan ayah.


"Hmmm hari senin depan, ayah sudah buat schedule sama dr. Tristan"


Kata ayah ku membalas ucapan ku


"Ingat loh yahh, ayah nggak boleh capek lagi dan urusan perusahaan biar aku yang tangani sama Kak Rey dulu"


Ucap ku kemudian


"Iya Grace, gimana ayah nggak ngurusin kantor kalau cuma Rey yang kerja.


Ayah tau pencapaian mu juga belum maksimal buat nanganin proyek proyek sebelumnya. Ayah kan jadi kasihan sama Rey". Kata ayah ku lebih mengarah ke sindiran.


Mendengar perkataan ayah tanpa sadar aku mengerucutkan bibir ku, mendengar perkataan dan sindiran halus nya.


"Kalau itu kan, aku masih belum banyak mengerti yah, tentang nanganin proyek,


lagi pula aku baru belajar ngurusin kantor"


Ucapku membela


"Iya iya Grace anak ayah yang cantik dan baik hati ini masih harus banyak belajar. Makanya ayah suruh si Glen, ambil pendidikan tinggi tinggi supaya bisa gantikan ayah".Ucapnya kemudian


"Yah, suruh Glen cepat balik ke Indo dong, aku kan juga kangen pengen jahilin dia"


Ucapku jadi kangen dengan anak yang satu itu


"Sabar, Grace dia lagi fokus sama kuliah nya, kamu tenang aja bentar lagi juga dia bisa raih gelar doktor nya"


Kata ayah ku kemudian


"Glen, datangkan yah, di acara pertunangan aku?"


Tanya ku berharap


"Ayah sudah menelfon nya tadi, tapi dia lihat situasi dan kondisi disana dulu, kemungkinan besar dia datang dan balik ke indo"


Kata Ayah ku


"Yeayyy"


Balas ku


Hening.....


"Grace?"


Ucap ayah ku memecah keheningan


"Iya yah?"


Ucap ku membalas ucapan nya yang aku masih fokus dengan hp ku.


"Grace, bahagia kan, nak dengan pertunangan ini?"


Ucap ayah ku tiba tiba.


Aku langsung beralih menatap ayah ku dan meletakkan hp ku kembali


"Grace bahagia kok yah"


Ucapku sambil menunduk kan kepala ku.


"Ayah hanya ingin ada yang menjaga dan melindungi mu Grace.


Kan nggak selamanya ayah bisa jaga putri ayah yang cantik ini."


Kata ayah ku yang membuat dadaku sesak dan ingin menangis.


"Kok ayah ngomong nya gitu sih, kalau Grace nikah dan punya anak juga ayah tetap bisa jaga aku kok"


Ucap ku parau seperti menahan air mata


Aku mendengar kekehan ayah ku sekilas mendengar perkataan ku.


"Ayah juga udah tua nak, nggak selamanya ayah bisa jaga kamu, kamu juga umur sudah 27 tahun. Sudah seharusnya bukan ayah lagi yang menjaga kamu"


Ucap nya sambil memandang wajah ku lekat.


"Nggak, ayah masih kuat dan masih keliatan muda kok, ayah juga belum menginjak umur 60 tahun juga yahh.


Ayah pasti panjang umur dan kuat gendong cucu-cucu nya ayah nanti"


Ucap ku yang hampir menangis


"Maaf yaa nak, kalau selama ini Grace dan Glen tidak pernah punya sosok figur pengganti seorang ibu, ayah juga tau ada dimana saat nya kalian butuh figur seorang ibu"


Ucap nya


"Ayah saja sudah cukup buat kami selama ini.


Pokoknya ayah yang terbaik buat kami."


Ucapku


"Kamu harus selalu bahagia yaa nak, ayah doakan selalu yang terbaik dan kebahagiaan buat putri ayah yang cantik ini.


Ucap Ayah ku lagi


"Amin ayah, Tuhan pasti denger doa ayah, dan putri ayah yang cantik ini selalu menyayangi ayah yang rupawan ini".


Ucapku.


Dan kami pun tertawa..


Bagaimana pun aku menyadari kalau Cinta pertama seorang putri itu adalah figur Ayah nya sendiri.


Dad, You are my first love ♥️


Selanjutnya