
Sambil berdiri aku memandang ke arah luar jendela kamarku pagi ini. Hari ini tepatnya aku akan menikah dengan gadis yang tidak aku cintai dan sudah menganggapnya hanya sebagai seorang adik saja selama ini. Aku masih tidak menyangka aku bisa berakhir untuk menikah dengannya.
Subuh tadi Mama, membangunkan aku untuk segera bersiap-siap, bukannya malah bersiap-siap aku justru mengulur-ngulur waktuku. Sempat aku melihat petugas salon yang sudah datang untuk merias Mama dan Laura hari ini. Namun aku memutuskan untuk kembali lagi ke kamar tanpa melakukan persiapan apapun.
"Ya ampun Rey, kok belum mandi sih kamu?" Ucap Nita yang sudah masuk ke kamar Rey sambil memberikan jas yang akan putranya kenakan nanti di saat acara pernikahan.
"Iya Ma, ini mau mandi" Jawab Rey sambil menghela nafasnya lalu beranjak duduk di atas ranjang miliknya.
Nita yang mengerti kondisi hati anaknya itu pun langsung mengerti dengan sikap Rey yang menghela nafasnya kasar.
"Mama tahu kamu masih belum menerima pernikahan kalian, tapi Rey mungkin inilah yang terbaik buat kalian" Ucap Nita sambil menepuk bahu putranya yang sudah duduk di atas ranjang kamar miliknya.
"Kamu harus bisa belajar menerima Grace ya Nak. Kalian kan sudah mengenal satu sama lain sejak kecil. Mama yakin pasti suatu saat nanti kamu bisa menerima dia sebagai istrimu." Masih memegang bahu milik putranya.
"Selama Mama kenal Grace, dia anaknya penurut dan mudah untuk diajari, dia juga anak yang baik dan sopan. Meskipun Mama masih tidak suka dengan sifat manjanya. Kamu ajari dia pelan-pelan saja untuk tidak terus bergantung denganmu, suatu saat pasti dia akan mengerti". Ucap Nita lagi yang memberi nasehat pada putranya tersebut.
Rey yang hanya sedari tadi diam mendengarkan nasihat dari Mamanya itu pun hanya diam dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kamu masih belum bisa melupakan, Mitha?". Ucap sang Ibu lagi.
"Ya belumlah , Ma. Secara kita udah 8 tahun pacaran. Nggak mungkinlah aku lupain dia secepat itu". Ucap Rey kali ini yang memilih untuk mengeluarkan isi hatinya.
"Kamu undang dia nanti di acara?" Tanya Nita lagi.
"Nggaklah Ma, aku mana sanggup liat wajahnya kalau dia datang, nanti yang ada aku malah jadinya nikah sama dia bukan sama Grace". Ucap Rey
Dan sang Ibu pun hanya terkekeh mendengar ucapan dari putra sulungnya
"Sampai segitunya kamu suka sama dia". Ucap Nita yang masih terkekeh dengan ucapan Rey yang menurutnya nekat.
Rey pun hanya berdecak mendengar respon dari Ibunya dengan jawabannya tadi.
"Ck, ya Mama tau sendirilah". Jawab Rey lagi dengan raut wajahnya yang tidak suka.
"Sudah mandi sana, 30 menit lagi Mama kesini dan kamu udah harus siap ya Rey." Ucap Nita sambil menepuk pundak putranya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar milik Rey.
Dan lelaki itu pun hanya menatap punggung ibunya yang keluar dari kamar tersebut sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi dengan langkah yang malas.
**
Setelah selesai dan melakukan beberapa persiapan, Mama masuk lagi ke kamarku untuk memastikan keadaan.
"Nah gitu dong, anak Mama ganteng banget hari ini". Ucap Nita sambil melangkahkan kaki menuju ke arah Rey yang sibuk memasangkan dasi.
"Aku, emang ganteng dari dulu Ma". Jawab Rey sambil melepaskan tangannya dari ikatan dasi yang lelaki itu pasang tadi.
"Sini Mama bantuin kamu pasang dasinya biar cepat". Ucap Nita yang sudah menegang dasi milik putranya.
"Kamu udah beresin baju kamu ke dalam koper?". Tanya Nita lagi sambil masih sibuk dengan memasangkan dasi.
"Loh, emang aku langsung di usir Ma?" Ucap Rey sambil keheranan mendengar perkataan Mamanya.
"Kamu ini gimana sih Rey, kan kamu malam ini selesai acara resepsi mau menginap langsung di hotel. Kamu emang mau tidur pakai baju beginian nanti malam pertama? Nggak malu sama istrimu nantinya?". Ucap Nita yang mengingatkan putranya itu sambil tertawa penuh maksud.
"Mama nggak usah mulai deh, bantuin aku Ma, masukin baju ke dalam koper" Ucap Rey yang sudah melangkahkan kakinya untuk menurunkan koper miliknya di atas lemari.
"Ya sudah sini cepat kopernya" Ucap Nita yang membuka lemari pakaian Rey dan membantu putranya untuk memasukkan baju kedalam koper tersebut.
Sambil membantu menyusun baju milik Rey, Nita berkata pada lelaki itu "Kalian nggak usah nunda dulu ya Rey". Ucap Nita sambil menyusun baju.
Sang anak pun hanya keheranan mendengar ucapan dari ibunya tersebut. "Nunda apaan Ma?" Jawab Rey.
"Ck, kamu ini nggak peka banget sih Rey, maksud Mama, ya punya anaklah, kalian jangan nunda. Mama dan Papa udah tua juga. Kami kan juga mau segera gendong cucu pertama." Ucap Anita yang mendengar pertanyaan balik dari anaknya.
"Kalau punya anak cepat, itu tergantung dari Tuhan lah Ma" Ucap Rey seadanya saja yang memilih menghindar masalah anak.
"Tapi kalian kan bisa usaha terus biar nggak nunda, pasti cepet dikasih deh" Ucap Nita lagi.
"Mama aja dulu hamil kamu waktu usia pernikahan Mama dan Papa masih menginjak 2 bulan, kamu udah hadir di perut Mama". Ucap Nita yang sangat antusias membahas cucu.
"Kita lihat kedepannya lah Ma, gimana". Jawab Rey malah terdengar malas untuk membahas.
"Iya-iya, Mama ngerti" Ucap Nita kali ini yang sudah selesai membereskan baju milik putranya ke dalam koper.
****
Setelah beberapa lama keluarga kami yang sampai duluan untuk menunggu, di dalam gedung acara pernikahan. Aku melihat keluarga Grace sudah datang untuk memasuki gedung ini.
Dia di gandeng oleh Ayahnya sementara Glenn adiknya berada dibelakang mereka. Dan aku ketika melihat penampilannya memasuki gedung tempat berlangsungnya pernikahan kami ini tidak memungkiri kalau gadis itu sangat cantik dan terlihat sangat bahagia hari ini.
Ya, mungkin dia kelihatan sangat bahagia karena bisa menikahi pria yang dicintainya.
Sampai aku tidak sadar kalau Grace dan Ayahnya sudah berada di dekatku untuk melangsungkan pernikahan terpaksa ini.
SAH....
Ucap orang-orang di sekitarku, setelah aku mengucapkan janji sehidup - semati untuk kami berdua. Kemudian aku mengambil tangan wanita yang sudah menjadi istriku itu untuk melingkarkan cincin di jarinya.
Aku merasakan kalau tangan miliknya sangat dingin dan gemetaran sekali. Sepertinya wanita ini sangat gugup, terlihat kontras dengan diriku yang kelihatan santai mengucapkan janji pernikahan tadi. Kemudian Grace langsung mengambil tanganku dan menundukkan kepalanya tanda penghormatan kepadaku sebagai suaminya. Hatiku langsung terenyuh ketika dia melakukan itu, saat itulah aku baru sadar kalau aku sudah resmi menjadi suami dari gadis yang sudah aku kenal sejak kecil ini.
"Selamat ya Grace, kamu sudah menjadi keluarga kami" Ucap Mama yang langsung memeluk menantunya itu setelah mendengar nasihat dari pemuka agama di depan kami.
"Terimakasih Tante". Jawab Grace sambil membalas pelukan dari mertuanya.
"Eitss....tidak panggil Tante lagi tapi Mama" Ucap Nita yang mengoreksi panggilan menantunya.
"Iya Ma" Ucap Grace sambil tersenyum bahagia.
"Selamat ya Nak, jadilah seorang kepala rumah tangga yang baik". Ucap Papa
"Baik, Pa"
"Titip putri Ayah ya, Nak. Ayah percayakan dia padamu". Ucap Gilang Ayahnya Grace.
"Iya, Yah". Ucap Rey
****
Kemudian setelah itu kami langsung mengadakan acara resepsi pernikahan kami di hotel milik Ayah mertuaku itu tentunya.
Kami berdua sudah berdiri di panggung pelaminan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Kak, entar kalau salam tamu harus senyum. Oke! Aku tidak menerima bantahan" Ucap gadis itu tiba- tiba setelah kami berdua sudah di atas panggung.
Aku hanya menganggukkan kepalaku mendengar ucapannya yang tiba-tiba menurutku. Berani sekali dia fikirku dalam hati.
Tampaklah Wenny dan Siska beserta suaminya yang maju duluan untuk menyalami kami berdua.
"Selamat ya Kak Rey dan Grace". Ucap mereka berdua.
"Terimakasih" Ucapku membalas uluran tangan mereka.
"Selamat, Bro". Ucap Raka
"Thanks, bro". Sambil membalas uluran tangan.
Kali ini terlihat Alan yang naik menuju panggung untuk menyalami kami berdua.
"Adek Grace, selamat ya semoga bahagia". Ucap Alan yang terdengar ditelinga ku seperti meledek.
"Iya, Kak, terimakasih"
"Selamat Bro, gue nggak akan segan-segan ngerayu dia kalau Lo buat dia sampai kecewa. Ucapnya sambil terkekeh ketika bersalaman denganku.
"Hm, thanks bro. Sana Lo turun". Ucapku mendengar ucapan selamat yang aneh itu darinya.
"Gini nih, undangan itu biasanya dilayani. Ehh elo malah ngusir gue." Ucapnya lagi
"Terserah Lo juga mau ngapain habis ini, Lo nggak liat udah antri dibelakang"
" Oh, iya ya. Bye.. bye adek Grace" Ucap Alan sambil mengedipkan matanya.
"Dasar genit lo emang" Ucapku.
Dan kami berdua disibukkan untuk menyalami undangan tamu yang tidak tahu berapa ratusan orang datangnya di acara pernikahan. Sekilas aku melirik wajah Grace yang tampak kelihatan sangat lelah dan mulai jenuh di acara resepsi.
Tidak tega dengan melihat wajahnya yang seperti itu dan ku kira ini juga sudah mulai terlalu malam untuk menyambut tamu yang sudah sepi di dalam gedung. Aku mengajak Grace menyudahi acara menyalami tamu dan izin ke orang tua kami untuk pamit naik ke kamar hotel tersebut guna mengistirahatkan diri. Saat membuka pintu kamar hotel yang sudah dipesan oleh keluargaku sebelumnya. Aku masuk ke dalam kamar dan menyadari kalau Grace tidak ikut masuk mengikuti langkah kakiku.
"Ada apa dengan wanita ini" Pikirku.
"Grace, ayo masuk" Ucapku yang sambil berjalan kembali ke arahnya.
"Eh, iya kak" Ucap Grace dengan gugup untuk masuk ke dalam kamar hotel.
Aku mendengar suara gugupnya yang membalas ucapanku, dia terlihat sangat menggemaskan sekali menurutku kalau dalam keadaan dengan tingkah malu-malunya dan berjalan masuk menuju kamar kami berdua.
'Kemana sifat wanita yang akhir-akhir ini sangat berani dan terkesan agresif sebelum kami melangsungkan pernikahan, kenapa sekarang wanita ini sangat menggemaskan?'
Ucapku dalam hati melihat tingkah lakunya.