Grace

Grace
Drama si Wanita Centil



"Wah, Istri Kamu?" tanya Herlambang, raut wajahnya terlihat penuh dengan keterkejutan.


"Saya kira Kamu, masih single Rey," jawab Herlambang, kemudian menoleh menatap Anita yang duduk berhadapan dengannya.


"Saya sudah menikah, Om." ungkap Rey, tangannya masih setia di pinggang Grace saat ini.


Grace tersenyum ke arah Pria paruh baya beserta wanita yang berada di sebelahnya itu.


Namun, hanya pria paruh baya itu yang membalas senyuman dari Grace. Sedangkan si wanita disebelahnya sibuk memalingkan wajah ke sembarang arah.


"Duduk Rey, Grace silahkan duduk Nak," kali ini Farhan yang mempersilahkan putra dan menantunya itu untuk duduk di sofa.


Grace masih mencoba memahami situasi saat ini, kira-kira siapa keluarga yang menjadi tamu dari Mertuanya. Grace bertanya-tanya dalam hatinya.


"Grace menantu Saya, Pak Herlambang. Ayahnya pemilik Wijaya Corporation." Farhan mulai memperkenalkan Grace saat mereka sudah mulai untuk duduk.


"Oh, Saya tahu perusahaan itu. Bukankah perusahaan tersebut bergerak di bidang Property dan perhotelan?" tanya Herlambang merasa familiar mendengar perusahaan Ayah Grace.


"Iya, Om." Grace membenarkan perkataan tersebut dengan gaya yang kalem dan santun.


Sementara Rey hanya sibuk mendengarkan saja, lelaki itu tampak tidak mempunyai niat untuk berada di perkumpulan tersebut.


"Mas Rey, bagaimana pengajuan saya kemarin?" tiba-tiba wanita yang Grace tidak ketahui namanya tersebut, berbicara dengan gaya centil terhadap Suaminya.


"Oh, sudah Saya bicarakan dengan rekan Saya, Alan. Nanti Saya info lebih lanjut." balas Rey seadanya.


Mas?


Perempuan centil ini memanggil Suaminya dengan panggilan 'Mas'. Dari sekali lihat saja Grace mengetahui kalau wanita itu menyukai Suaminya.


Terlihat dari gaya bicara dan dandanan yang maksimal saat berkunjung seperti sekarang ini. Baju dengan belahan dada yang sedikit terbuka serta rok yang membelah dari samping, memperlihatkan sedikit paha si Wanita dengan terbuka.


Melihat pakaian kekurangan bahan, milik wanita yang Grace tidak ketahui namanya itu. Membuat Grace melirik dari ujung kaki sampai ujung kepala wanita tersebut.


"Gue juga seksi kali. Punya Gue juga nggak kalah besar. Terus kulit Gue juga nggak kalah mulus dengan nih anak. Tubuh Gue juga lebih bagus, suka banget pamerin badan. Buat apaan coba, Ckk." Grace mendecak sebal serta menggerutu dalam hati setelah menilai penampilan si wanita menyebalkan.


Melihat Grace yang sedari tadi menatap putrinya itu, membuat Herlambang berdehem sejenak sebelum memperkenalkan, "Ini anak Saya, namanya Sasa. Dia baru kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan kuliahnya." ucap Herlambang memperkenalkan putrinya tersebut.


"Eh. Iya Om." Grace tersenyum sungkan setelah ketahuan melirik putrinya itu.


"Grace." sapa Grace sambil menganggukkan kepala sedikit ke arah si wanita yang berada dihadapannya.


"Sasa." Wanita itu menjawab dengan ketus, sembari menyilangkan kaki supaya terlihat paha mulusnya. Membuat Grace jengah melihatnya.


"Oh, dari luar negeri. Pantes dandanan seperti itu." Grace berbicara dalam hati setelah sapaan mereka berdua.


Sejenak Grace melirik ke arah Rey yang duduk di dekatnya, dia langsung tersenyum senang karena melihat Sang Suami lagi sibuk melihat handphone seperti mengacuhkan obrolan tersebut.


Selebihnya, Grace jadi mengetahui kalau tamu dari Sang Mertuanya ini datang berkunjung hanya untuk membahas pekerjaan dan sekedar sapa menyapa saja.


Mendengar obrolan mereka, Grace menyimpulkan ternyata pak Herlambang adalah teman dari Ibu Mertuanya. Grace juga jadi mengetahui kalau tamu tersebut mempunyai perusahaan retail dan pembangunan mall yang cukup besar.


Melihat interaksi dari Farhan dan Herlambang, beserta Rey yang terkadang ikut dalam obrolan pekerjaan tersebut. Membuat Grace bosan, dia justru bingung dengan membahas pekerjaan dan pekerjaan terus apakah mereka tidak bosan. Kan di saat weekend seperti ini harusnya mereka berkumpul dengan keluarga dan membicarakan mengenai hal selain pekerjaan.


Ayahnya saja jika di dalam rumah saat libur seperti ini tidak pernah membahas pekerjaan.


Grace tenggelam dalam lamunannya, dan tiba-tiba saja Anita berdiri dari tempat duduknya menarik wanita yang bernama Sasa itu dengan lembut untuk masuk ke dalam dapur milik mereka.


Fix, Mama Mertuanya sudah terang-terangan menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap Grace.


Grace mengikuti langkah kaki Sang Mertua dan si Wanita. Setelah sampai di dapur, Grace melihat ternyata mereka sedang bersiap untuk membuat camilan.


"Ada yang bisa Grace bantu, Ma.?" tanya Grace saat langkah kakinya mendekat kepada dua wanita yang berbeda usia tersebut


"Tidak ada, Kamu duduk disana saja." jawab Anita masih dengan ketus. Tanpa memandang Grace yang berada di sebelah mereka.


"Tante, kue kering yang aku bawa khusus buat Tante mana?" ucap si wanita centil.


"Oh, ada di lemari itu." tunjuk Anita.


"Grace bisa kamu ambilkan di dalam lemari kue nya?." tanya Nita lagi ketika melihat Grace masih setia berdiri dekat mereka.


"Eh, bisa Ma." jawab Grace dengan sigapnya. Sambil melangkah menuju lemari penyimpanan di dapur.


Karena letak si kue yang lumayan tinggi. Membuat Grace susah untuk menjangkaunya. Wanita itu sedikit berjinjit menggapai kemasan kue kering tersebut.


"Mau ambil apa?" tanya Sang Suami yang tiba-tiba sudah berada di belakang Grace saat ini.


Sontak Grace melihat ke belakang setelah mendengar suara yang sangat familiar itu di telinganya.


"Ambil kemasan itu, Kak." jawabnya dengan menunjuk bungkus kue.


Rey pun langsung mengambil bungkusan yang ditunjuk Istrinya itu, kemudian menyerahkannya pada Grace.


Mereka tidak melihat sepasang mata yang cemburu dan satu pasang mata lagi melihat dengan tidak suka.


"Aku hanya haus saja, Ma." jawab Rey santai.


Dengan gaya yang cekatan, si wanita centil memberikan air putih kepada Rey sambil tersenyum manis.


"Ini Mas. Harusnya Kamu tunggu di depan saja." kata si Wanita centil sembari menyodorkan air putih.


"Terima kasih." jawab Rey setelah menerima air putih tersebut.


Grace memutar bola matanya malas, melihat tingkah laku si Wanita yang tidak tahu diri ini.


Sepertinya si Wanita sudah terang-terangan mendekati Sang Suami.


"Kamu tunggu di depan aja, Kak." ucap Grace kemudian karena merasa jengkel dengan sikap wanita itu dan mendapat anggukan dari Rey.


"Iya" jawab Rey sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang tamu kembali.


Melihat teh yang sudah selesai disuguhkan Anita, Grace kemudian mengambil nampan yang berisi teh tersebut untuk dia bawa ke depan.


"Biar Grace aja Ma, yang bawa." kata Grace yang sudah mengangkat nampan yang berisi teh panas.


"Hm."


Tetapi dengan tidak di duga oleh Grace, si Wanita centil yang bernama Sasa itu mendekat kearahnya.


"Aku aja yang bawa." ucap si Wanita centil dengan dingin hampir merebut nampan.


"Sudah tidak apa-apa biar Saya saja." kata Grace lagi.


"Aku aja." balas Sang Wanita tidak mau kalah.


"Ya sudah." akhirnya Grace mengalah.


Namun tanpa Grace sadari ketika dia merasa nampan tersebut sudah berada di tangan Sasa dengan aman, nampan tersebut pun jatuh ke arah Sasa secara tiba-tiba.


"Auw.. auw." Sasa meringis kesakitan sambil mengibas rok yang wanita itu gunakan.


Rey yang mendengar jeritan tersebut, seketika itu juga mendekati Istrinya.


"Tante sakit... hiks.... hiks." Sasa mulai menangis karena tumpahan air panas.


"Astaga, Grace." ucap Anita menghardik lengan Grace dengan kasar.


"Bawa ini aja kamu nggak becus, gimana sih." bentak Anita, dirinya langsung melihat kondisi Sasa yang menangis dengan lebay.


"Maaf, Ma. Aku tadi sudah kasih dengan benar nampannya, tapi memang tangan Sasa..."


"Sudah.... sudah cukup. Saya tidak mau dengar pembelaan Kamu. Bawa nampan aja nggak becus, apalagi ngurus rumah tangga." jawab Anita memotong pembelaan Grace barusan.


"Huhuhu... huhuhu, Tante panas. Mas Rey, dress aku basah jadinya," ucap Sasa sudah mengeluarkan air mata sambil mendekati Rey yang berada di sebelah Ibunya mencari perhatian. Wanita itu menggelayuti lengan Rey dengan manja, tapi sayangnya ditepis kasar oleh lelaki itu.


"Ma,." kata Rey, suaranya terdengar hampir marah karena mendengar perkataan yang keluar dari Ibunya.


"Bela aja terus Istri Kamu yang nggak becus ini." jawab Anita sambil berdecak, membuat Grace menundukkan kepala.


Melihat kaki Istrinya yang memerah, membuat Rey mendekati Grace seketika.


"Sakit? Kamu nggak apa-apa?" tanya Rey pada Istrinya, dia langsung berlutut untuk melihat kondisi kaki Sang Istri yang menunjukkan tanda melepuh.


"Nggak apa-apa, Kak." jawab Grace, padahal kakinya terasa perih dan panas.


"Rey, Kamu gimana sih. Sasa yang justru kesakitan. Kok kamu bisa-bisanya, nanya keadaan Istri Kamu." bentak Anita melihat tingkah laku anaknya itu.


Rey kemudian berdiri, sekilas dia melirik pakaian yang digunakan oleh Sasa. Memang tampak basah dan pastinya Wanita itu lebih parah dari kondisi Grace.


"Sasa, Kamu pinjam baju Laura saja untuk ganti pakaian Kamu. Sekalian minta obat salep padanya." jawab Rey setelah melihat kondisi Sasa.


"Ayo, kita obati kaki Kamu." ucap Rey lagi, menarik tangan Grace dan membawa Istrinya itu ke dalam kamar miliknya dulu.


Grace tersenyum samar, ternyata Rey lebih mementingkan dirinya. Kemudian dia menoleh sejenak ke arah Sasa yang berada di belakang mereka.


Masih dengan tersenyum ke arah Sasa, seolah-olah dari senyuman itu Grace memberitahu pada si Wanita centil tersebut. Bahwa lelaki yang menggandeng tangannya ini adalah miliknya.


Tidak ada celah bagi seorang wanita seperti dirinya untuk bisa mengambil hati Sang Suami. 😏


*


*


*


Tisu dan batu tahan dulu, belum Author keluarin cerita yang menguras emosinya wkwkwkkwk.


Kasihan sama para readers nya, udah di buat jantungan kemarin 😜😜