
Flashback on
"Santi!" teriak Anita, ketika Santi melangkah hendak ke kantin untuk makan siang.
"Kamu mau ke kantin, kok nggak tungguin Aku?" Anita merangkulkan lengannya di bahu Santi.
"Eh, maaf. Aku sudah lapar sekali, Nit." Santi memperlihatkan wajah sungkan karena melupakan teman satu kelasnya itu untuk ke kantin.
"Santai aja San, Aku cuma bercanda." Anita terkekeh karena melihat rasa sungkan di raut wajah Santi saat ini.
Mereka berdua pun berjalan menuju kantin sekolah di SMA tersebut.
"Kamu mau makan apa San?" tanya Anita di sela-sela perjalanan mereka menuju kantin.
Sejenak Santi berpikir sambil memandangi stand-stand penjual makanan di Sekolah itu.
"Hm.... Soto aja, deh." putusnya kemudian.
"Kamu mau makan apa?" tanya Santi kepada Anita.
"Aku makan lontong sayur aja buat makan siang." jawab Anita.
"Kita duduk di tempat itu aja ya, San." ucap Anita lagi sambil menunjuk tempat duduk di kantin tersebut.
Santi menganggukkan kepalanya tanda setuju , dengan pemilihan tempat duduk dari Anita.
"Aku pesan soto aku dulu." kata Santi, sebelum berlalu dan menuju stand penjual soto di kantin.
"Iya, Aku juga mau pesan lontong sayur. Kalau Kamu sudah selesai pesan langsung kesana saja ya , San." ucap Anita lagi mengingatkan.
"Iya." Santi menganggukkan kepalanya sebelum berlalu untuk memesan makan siang wanita itu.
Saat mereka berdua tengah menunggu pesanan mereka tiba. Anita pun berbicara kepada teman sekelasnya itu.
"Eh, San. Udah setahun kita sekolah disini, Kamu belum suka sama seseorang?" tanyanya sambil menopang dagu dengan melihat area sekitar kantin.
Santi mengerutkan dahi, "Suka? maksud Kamu suka sama cowok di sekolah ini?" tanya Santi kembali.
"Hm." Anita menganggukkan kepalanya dengan antusias. Dia ingin mendengar cerita cinta dari Santi.
Santi adalah salah satu anak terkaya yang berada di kota mereka. Meskipun dia anak yang kaya, dia tetap mau berteman dengan anak sekolah lainnya, dan tidak memikirkan status anak sekolah tersebut.
Termasuk Anita. Ya, meskipun bisa dikatakan keluarga Anita bukan tergolong orang berada maupun kelas bawah, Santi tetap mau berteman dengannya.
"Nggak ada, Aku fokus sama sekolah kita aja, Nit." Santi menggelengkan kepalanya, tanda belum memiliki rasa pada lawan jenis yang berada di sekolahnya itu.
"Kamu anak yang patuh banget sih, sekali-kali Kita harus merasakan cinta di masa muda kita ini, San." Anita terkekeh, karena mempunyai teman yang hidupnya lurus-lurus saja.
Santi pun memilih tidak menjawab, Dia hanya sibuk memandangi stand penjual soto karena dia merasa pesanannya lama sekali datang.
"Emang, Kamu sudah mulai menyukai seseorang?" tanya Santi kemudian.
Anita menganggukkan kepala, "Dia orangnya ganteng, San." ucapnya bersemangat.
"Dia di sekolah ini?" tanya Santi lagi dengan penasaran.
Anita terkekeh dengan sikap malu-malu sambil menganggukkan kepala.
"Iya," ucapnya kemudian.
"Dia salah satu murid yang pintar di sekolah kita." kata Anita, yang mulai menceritakan ciri-ciri lelaki yang dia sukai.
"Oh ya?" tanya Santi dengan antusiasnya.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba pesanan mereka berdua pun datang.
"Iya, hehehe." Anita terkekeh mulai memakan lontong sayur yang dia pesan.
"Terus.... terus?" tanya Santi menatap lurus ke arah Anita. Masih ingin mendengarkan cerita lebih lanjut.
"Iya terus nggak ada, San." jawabnya.
"Kamu udah bilang suka ke Dia?"
Anita menggelengkan kepala, "Nggak lah San, Aku malu. Ya kali, cewek yang ngungkapin duluan. Lagian sepertinya dia nggak kenal Aku deh." jawabnya dengan nada yang sedih.
"Emang siapa sih orangnya, Aku kenal nggak?"
"Ada deh," ucap Anita merahasiakan status lelaki tersebut.
***
Saat mereka tengah asyik dengan makan siang yang telah di pesan, muncullah dua orang lelaki, menghampiri kursi mereka berdua.
"Hai, Kita boleh gabung, nggak? Soalnya kursinya sudah penuh." tanya seorang lelaki itu, dengan menatap Anita dan Santi.
Sejenak Santi melihat keadaan sekeliling kantin yang memang terasa penuh oleh sekumpulan murid lainnya.
"Terima kasih," jawab seseorang itu lagi, dengan tersenyum ke arah Santi.
Anita melirik lelaki yang kini berada di hadapannya itu. Dia sungguh terkejut dengan kondisi yang saat ini sedang terjadi.
Tanpa diduga, jantungnya berdebar kencang.
"Kalian kelas berapa?" tanya seorang lelaki lain, di sela-sela mereka makan.
"Kelas Sebelas," jawab Santi.
"Oh, Kita sama dong. Perkenalkan Aku, Farhan." ucap lelaki yang bernama Farhan itu, menyodorkan tangannya untuk berjabatan dengan Santi.
"Santi."
"Nama Kamu siapa?" tanya Farhan pada wanita di sebelahnya.
"Anita," jawab Anita menganggukkan kepala sekilas ke arah Farhan.
"Oh iya, kenalin ini teman Aku. Gilang," jawab lelaki itu lagi memperkenalkan lelaki yang tadi mengikuti dirinya untuk bergabung duduk.
Gilang hanya tersenyum ramah saja kepada kedua wanita tersebut.
Anita yang sedari tadi hanya sibuk memperhatikan, tiba-tiba menyodorkan tangannya secara sengaja ke arah Gilang.
"Anita," katanya memperkenalkan diri ke arah Gilang dan di balas senyuman oleh si empunya nama.
"Gilang," balasnya kemudian. Setelah itu lelaki itupun menyodorkan tangannya ke arah Santi yang duduk di sebelahnya.
"Gilang Wijaya," katanya lagi memperkenalkan.
Santi terkekeh dengan acara perkenalan yang sedari tadi berputar-putar tersebut.
"Santi Cynthia," jawabnya sambil membalas uluran tangan Gilang.
Anita melihat interaksi dari Gilang dan temannya itu. Saat melihat senyuman dan sifat ceria lelaki itu pada temannya, ada sedikit rasa sakit hati yang kini tengah melanda.
Anita hanya diam, menyembunyikan rasa yang terpendam dan mungkin lelaki itu pun tidak mengetahui kalau dia mempunyai rasa terhadapnya.
***
Setelah acara perkenalan singkat tersebut, Anita pun mulai menghindari Santi sebagai temannya.
Awalnya, Santi mendekati Anita dan menanyakan ada apa dengannya?
Tetapi Anita hanya cuek saja dan memilih menghiraukan keberadaan Santi.
Lama-lama, Santi pun mulai jenuh dengan sikap temannya itu. Dia tidak lagi mencoba untuk dekat dengan Anita maupun mengobrol sekilas dengan Anita.
Entahlah apa yang terjadi pada Anita, dia tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Santi lebih memilih sibuk dengan pelajaran dan ujian yang sebentar lagi akan diadakan.
Hingga tahun demi tahun berganti, akhirnya Anita mendengar kabar, kalau Santi dan Gilang akan segera menikah.
Waktu dia mendengar kabar tersebut, Anita sudah menikah dengan teman SMA nya yang bernama Farhan.
Ya, saat ini dia tengah mengandung anak pertama dari pernikahan mereka.
Mendengar kabar tersebut, Anita pun berpikir harus segera melupakan dan menyingkirkan rasa untuk lelaki yang akan sebentar lagi menikah itu.
Dia hanya harus fokus pada rumah tangga, dan anak-anaknya.
Toh, pernikahan mereka juga bahagia. Suaminya pun tidak mengetahui rasa yang pernah ada itu di dalam dirinya untuk lelaki tersebut.
Anita mengelus perutnya dengan sayang.
"Mama akan lakukan apapun demi membuat kamu bahagia, Nak." ucapnya sambil mengelus-elus perut dan berbicara pada bayinya.
Flashback off
***
Anita menatap lurus ke depan setelah mengingat kenangan yang selama ini dia simpan dan tutup dengan rapat.
Ya, saat ini wanita itu tengah berada di parkiran mobil apartemen milik putranya.
Mama dari Rey itu pun, memegang dengan erat amplop cokelat dan menatap lurus ke depan. Setelah perenungan singkatnya, mengingat masa muda.
"Maafin, Aku San. Aku tidak ingin keluarga Ku tidak mempunyai keturunan. Cukup selama ini Aku yang mengalah, Aku tidak ingin lagi mengalah denganmu," ucapnya dengan membuka pintu mobil dan berjalan menuju apartemen Rey.
*
*
*
Jangan lupa poin atau koin yakk, biar Author semangat update 😜