
Di pagi hari Grace sudah disibukkan dengan acara masak memasakna. Entah mengapa akhir-akhir ini wanita itu sangat menyukai sekali dengan memasak. Meskipun rasa masakannya biasa saja, dia tetap memasak apa yang ingin dia masak hari ini.
Ya walaupun tak jarang masakan tersebut tidak habis atau tiba-tiba saja selera makan Grace menjadi tidak ingin lagi untuk memakan hasil masakannya.
Alhasil, suaminya lah yang menjadi korban untuk memakan apa yang sudah di masak oleh sang Istri tercinta.
Rey tidak mengeluh ini dan itu, asal ibu hamil itu tidak kecapekan dengan rutinitas dan aktivitas nya sehari-hari. Rey tidak mempermasalahkan sama sekali.
"Apaan nih, Sayang?" tanya Rey menatap masakan Grace di pagi hari.
Terlihat aneh. Ya itulah pemikiran Rey saat ini di benaknya.
Bagaimana tidak, wanita itu memasak telur mata sapi dengan topping parutan keju ditambah messes diatas telur tersebut.
Rey mengernyitkan dahinya. Apakah rasanya enak?
Tidak tega juga dia kalau tidak memakan hasil masakan Sang Istri.
Pastinya Grace akan cemberut seharian dan susah untuk di bujuk rayu.
Ya, wanita hamil itu sangat sensitif sekali beberapa minggu ini.
"Telur mata sapi," ucap Grace dengan singkat. Sambil memandang dengan wajah berbinar ke arah Rey agar segera mencoba sarapannya hari ini.
"Cobain, Kak." Katanya lagi dengan antusias. Tidak sabar mendengar tanggapan Rey.
Bukannya malah langsung memakan sarapan miliknya. Rey malah bertanya balik.
"Loh Kamu nggak makan?" tanyanya karena Sang Istri hanya memegang segelas susu hamilnya saja.
Tidak ada piring dan sarapan yang sama berada di hadapan wanita itu.
Grace menggelengkan kepalanya.
"Tiba-tiba aku mual, ngeliat masakan aku. Tapi aku pengen ngeliat kamu makan masakan aku." Ucapnya sendu dengan raut wajah seolah-olah tanpa dosa.
Rey pun menghela napasnya.
Dia tuh udah biasa dibeginiin. Menghadapi tingkah laku Grace yang aneh di tambah dengan kejahilan wanita itu terkadang.
Membuat tingkat kesabaran Rey sangat sangat teruji.
"Ya udah," Rey pasrah. Memotong telur tersebut menggunakan garpu secara perlahan seperti mengulur waktu supaya makanan itu tidak masuk ke mulutnya.
Melihat ekspresi Grace yang sangat sumringah melihat Rey seperti itu. Membuat Rey menjadi tidak tega untuk segera memasukkan sarapan yang terlihat aneh itu secara cepat ke mulutnya.
lumayan juga. Pikir Rey dalam hatinya.
"Bagaimana Kak?" tanya sang ratu tidak sabaran.
Rey menganggukkan kepalanya, mencoba untuk memahami rasa di lidah seperti koki juru masak yang ingin mengomentari hasil masakan bawahannya.
"Enak." Jawab Rey dengan singkat dan jelas.
Seketika itu juga Grace bertepuk tangan dengan riang. Seperti seseorang yang mendapatkan hadiahnya.
"Kalau enak, kamu mau nambah lagi Kak? biar aku buatin." Grace berucap sembari ingin beranjak dari tempat duduknya.
Mendengar ungkapan sang Istri, dengan kecepatan motogp, tangan Rey sudah berhasil mencegat sang istri.
"Nggak usah, aku udah kenyang kok Sayang. Aku juga buru-buru." Elak lelaki itu, supaya Grace tidak usah repot-repot memasaknya lagi.
"Ya udah deh. Tapi nanti malam aku buatin lagi ya." Memaklumi Sang Suami yang memang sudah seharusnya berangkat untuk bekerja.
Rey hanya bisa tertawa hambar. Seperti ini kah rasanya menghadapi istri yang tengah hamil muda? pikirnya.
"Aku berangkat," kata Rey ketika mereka sudah berada di dekat pintu.
"Jangan lupa jemput aku di kantornya Papa ya Kak." Grace mengingatkan lagi.
Hari ini wanita itu sangat ingin sekali melihat wajah Glenn, adiknya. Ingin mencubit pipi Glenn. Rasanya membuat Grace tidak sabaran bertemu sang adik.
Rey menganggukkan kepalanya sebelum keluar, "Wenny sudah di jalan kan?" tanya pria itu memastikan keamanan sang istri.
"Iya. Sebentar lagi dia jemput aku." Jawab Grace. Karena memang Wenny sengaja menjemput sahabatnya itu.
"Ya udah, jangan kecapekan." Lagi-lagi Rey mengingatkan.
Setelah mengucapkan kata tersebut, Grace pun bersiap untuk segera berangkat menuju kantor milik Sang Ayah.
****
****
"Glenn...." teriak Grace ketika membuka pintu ruangan Glenn dengan barbar. Seperti wanita yang sudah lama tidak jumpa dengan adiknya.
Mendengar teriakan Grace, sejenak Glenn berjingkat karena terkejut. Sejak kapan mbak nya ini menjadi wanita yang heboh. Pikir lelaki itu.
"Tumben banget Lo kesini Mbak?" tanya Glenn dengan curiga karena melihat cengiran Grace yang aneh menurutnya.
"Hehehe..." jawab Grace masih dengan menyengir tidak jelas.
"Apaan?" tanya Glenn lagi menautkan alisnya. Tanda-tanda dia sudah mulai curiga melihat gelagat Grace.
"Gue lagi ngidam, Glenn." Ucapnya dengan membuat wajah polos di hadapan Glenn.
"Aduhh.... mbak. Sakit pipi Gue." Glenn mengusap pipinya yang sakit karena Grace dengan tiba-tiba mencubit pipi milik adiknya itu tanpa aba-aba.
"Gue pengen banget cubit pipi Lo, dek." Ucap Grace lagi, ingin kembali mencubit pipi Glenn yang sontak menghindar.
"Kagak. Sakit Mbak." Keluhnya sambil mengusap pipi. Berusaha menjauh dari Grace yang seperti predator mengincar mangsa.
"Sekali lagi ya?" pinta Grace dengan wajah yang memelas.
Tidak tega dengan raut wajah Grace yang seperti itu. Akhirnya Glenn pun mengalah.
"Demi ponakan Gue ini." Ucap Glenn.
"Tapi jangan kenceng kenceng cubitnya." Peringat Glenn lagi.
"Iiihhhhh." Kata Grace dengan gemas ketika mencubit pipi Glenn tanpa belas kasihan. Menimbulkan bekas merah di pipi lelaki tersebut.
Glenn bisa apa selain pasrah menuruti permintaan ibu hamil yang tengah mengidam. Yang menurutnya memang benar atau tidak dengan permintaan yang aneh-aneh.
"Bye... bye Glenn." Kata Grace berlalu, setelah puas dengan mencubit pipi Glenn. Wanita itu pun melengos keluar dengan wajah tanpa dosa. Tidak menghiraukan lelaki tampan yang pipinya kelihatan merah akibat ulah dari Grace.
Grace pun hendak menuju ruangan Wenny, setelah puas bermain dengan Glenn sebentar.
Sebelum wanita itu melangkah menuju lift. Tiba-tiba suara lelaki yang familiar menyapanya.
"Grace?" sapa lelaki itu yang melihat Grace dan mengamati bentuk tubuhnya.
"Eh.. Iya Ren." Grace menyapa kembali.
Ya, lelaki itu adalah Reno. Setelah sekian lama mereka tidak berjumpa. Reno terlihat sangat terkejut melihat penampilan Grace yang sekarang. Ditambah perut wanita itu yang sudah mulai membuncit.
Orang lain yang melihat dengan sekilas pun mengetahui kalau Grace saat ini tengah mengandung.
"Udah lama nggak jumpa," Kata Reno lagi yang berdiri di sebelah Grace. Sama-sama menanti lift untuk terbuka.
"Iya Ren. Kamu apa kabar?" tanya Grace yang menatap ke arah Reno.
"Seperti yang kamu lihat." ujar Reno sambil melirik perut wanita itu.
Grace yang merasa ditatap ke arah perutnya pun sontak melihat kebawah.
"Sudah 5 bulan Ren." Ucap Grace memberitahu dengan mengelus perutnya dengan sayang.
Sejenak Reno hanya membalas dengan anggukan kepala. "Mau kemana?" tanya Reno saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Mau ke ruangan Wenny,"
Dengan cepat Reno pun menekan tombol angka yang menunjukkan ruangan Wenny berada.
Selama beberapa saat hening diantara mereka berdua. Bagaimana tidak hanya ada Grace dan Reno yang berada di dalam lift tersebut.
"Selamat ya Grace," ucap Reno dengan tiba-tiba.
"Eh... iya Ren. Terimakasih." Kata Grace dengan tersenyum ke arah lelaki itu.
Grace dapat melihat raut wajah yang sendu bercampur kesedihan disana. Menandakan lelaki itu memang benar-benar tidak ada harapan lagi dengan cintanya.
"Semoga Kamu dan calon anak kamu.. sehat sehat terus." Ungkap Pria itu lagi.
"Amin."
"Hmm.... Grace?"
Grace pun menatap Reno dengan serius. Menunggu apa yang akan dikatakannya.
"Sebentar lagi, aku kembali ke luar negeri. Mungkin juga akan resign dari sini." kata Reno memberitahu Grace rencananya di masa mendatang.
"Kenapa begitu tiba-tiba sekali." Jawab Grace sembari melangkah keluar karena lift sudah terbuka.
Reno pun mengikuti Grace keluar dari lift tersebut. Hanya untuk berbicara dengan wanita yang masih dia cintai ini.
"Aku mau fokus kembangin bisnis aku disana. Lagi pula ....." ucap Reno ragu mengatakan kalimatnya.
"Lagipula apa?" tanya Grace.
"Lagipula, wanita yang ingin aku perjuangkan sudah tidak bisa untuk diperjuangkan lagi." jawab Reno dengan kalimat seperti untuk Grace.
Grace pun memahami kalau perkataan tersebut untuknya. Tetapi wanita itu hanya mencoba untuk selalu mendoakan agar lelaki itu bisa segera melupakannya.
"Semoga disana, Kamu segera mendapatkan impian dan wanita yang lebih baik ya Ren." ucap Grace, menepuk pundak Reno dengan lembut. Sekedar untuk memberi kekuatan agar lelaki itu tetap semangat.
"Aku harap begitu." kata Reno dengan singkat.
"Semoga kamu selalu bahagia ya." kata Reno lagi sembari memasuki lift kembali.
Sebelum pintu lift itu benar-benar menutup, Grace dapat melihat senyuman Reno kepadanya.
Ya, senyuman itu menampilkan senyuman yang tulus dan sorot mata yang tidak pernah berubah untuknya.
Sorot mata penuh cinta....
***
***